Puasa dan Akhlak Rasulullah

oleh -1350 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfakir Ahmad Rafiuddin

Esensi dari puasa Ramadhan, ketika hidup manusia sudah memancangkan diri agar tidak terbelenggu oleh ketamakan dan keserakahan. Dalam jiwa semacam itu, egoisme tidak akan dibiarkan tumbuh dalam imunitas jiwa dan rohani yang sudah kokoh. Sebab, manusia sudah lulus dalam pelatihan diri agar terhindar dari sifat-sifat egoistis. Sehingga, ia tahan dari segala godaan melakukan korupsi dan kebohongan, meskipun kesempatan untuk melakukannya terhampar di depan mata.

Terkait dengan itu, sastrawan Bertold Brecht pernah menulis karya genuine tentang “Jatuh Bangunnya Kota Mahagonny”, ketika orang-orang metropolis terjebak dalam keserakahan masif, hingga tak saling peduli antara satu dengan yang lainnya. Brecht akhirnya berkesimpulan bahwa ada kemenangan yang sebenarnya adalah kekalahan, dan ada kebangkitan yang sebenarnya adalah kejatuhan. Kota Mahagonny laiknya kota-kota di sekitar kita yang terjebak arus globalisme keserakahan. Ada gedung-gedung megah meskipun dibangun di atas rawa-rawa lumpur yang kelak akan mengorbankan para penghuninya. Ada perkantoran yang pondasinya didirikan di atas pembuangan sampah.

Dengan puasa Ramadan, hendaknya kita memetik hikmah dan pelajaran berharga, agar kita berjuang dan meraih kemenangan sejati, hingga terhindar dari segala sifat-sifat serakah yang konsumeristik. Mari kita memancangkan pondasi keimanan yang kokoh, sehingga bangsa ini terhindar dari kultur konsumerisme yang digerakkan prinsip keserakahan yang telah menipu kita semua.

Akhlak Rasulullah

Ketika pasar-pasar diramaikan oleh para pengunjung dan konsumen yang sibuk memilih pakaian terbaik untuk perayaan Idul Fitri, selayaknya kita berkaca pada kepribadian Rasulullah dalam menyikapi pakaian. Nilai kefitrian kita yang mengandung arti ‘bersih’ dan ‘suci’ seakan jauh dari pemaknaan rohani, bahwa berpuasa sebulan penuh dapat membawa seorang hamba kepada hati dan qolbu yang mengalami metamorfosis kepada nilai-nilai kebaikan dan kesantunan.

Baju taqwa yang ditegaskan dalam Alquran benar-benar dihayati dalam jiwa Rasulullah, hingga nampak bertolak-belakang pemaknaannya dengan baju luar yang melekat di badan, yang mudah menggelincirkan manusia pada sikap ujub dan riya. Sedangkan Rasul sangat berhati-hati (wara) apabila dirinya kelihatan lebih mentereng daripada para sahabat. Bahkan, ketika kedatangan para kepala suku dari pedalaman Arab, para tamu terkaget-kaget menyaksikan Rasulullah duduk sama tinggi bersama mereka. Dalam bayangan mereka, sosok Rasulullah Sang Nabi akhir zaman itu akan menyambut mereka dengan mengenakan mahkota mewah, duduk di atas singgasana laiknya para raja-raja besar. Tetapi, dugaan mereka meleset, karena Rasul justru berpakaian sederhana, duduk bersila bersama mereka.   

Selain itu, di samping penyantun, pemaaf, dan dermawan, dalam kepribadian Rasul tebersit jiwa kejujuran dan kesederhanaan hidup. Hal inilah yang membuat para ulama membedakan antara membaca Alquran dengan menjiwai atau mentadabburi Alquran. Pada yang kedua itu sudah terkandung makna filosofis tentang penghayatan dari massage Alquran yang teraplikasi dalam tingkahlaku dan amal perbuatan. Jadi, bukan semata-mata tadarus secara seremonial, atau mengaji Alquran secara lateral dan harfiah belaka.

Untuk itu, tidak selayaknya kita berfokus pada soal pahala dan ganjaran membaca Alquran, dengan mengabaikan penafsiran luhur dan mendalam yang dapat diaplikasikan dalam tingkahlaku dan karakter bangsa. Bukankah dengan begitu seakan ada pemisahan antara keselamatan hidup di dunia dengan di akhirat kelak? Bukankah keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia ini identik dengan keselamatan hidup di akhirat juga?

Terkait dengan itu, Gus Dur pernah menyoal tentang sasaran apa yang hendak dicapai, jika seusai Ramadhan dan lebaran, tetap terjadi saling gontok-gontokan antar penganut agama dan kepercayaan lain. Untuk itu, kita harus senantiasa menjaga NKRI dan kebhinekaan, serta penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Kiranya tepat apa yang disampaikan orang-orang bijak bahwa ayat-ayat suci Alquran hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang jiwa dan pikirannya jernih. Ia akan sulit ditangkap bagi jiwa-jiwa kotor yang terselimuti kabut hawa nafsu, kedengkian dan keangkuhan diri.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa jiwa-jiwa yang merdeka, bersih dan lapang, akan mudah terhubung dengan ayat ayat Tuhan. Inilah yang dimaksud dari relevansi akhlak Rasulullah yang dapat mengaplikasikan ayat-ayat Alquran secara kontekstual. Untuk itu, prinsip hidup orang yang baik dan manusiawi, juga selaras dengan nilai-nilai Qurani, apapun bangsa dan agamanya. ***

Penulis adalah Pengasuh pondok pesantren Nurul Falah (Tebuireng 09) di kabupaten Lebak, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.