“Playing Victim” dan Krisis Keberanian menjadi Diri Sendiri

oleh -200 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Florentinus Longan

Perkembangan teknologi dan media sosial sebenarnya hadir sebagai ruang komunikasi yang membantu manusia memperoleh informasi dan memahami berbagai fenomena sosial terbaru. Namun, seiring perkembangan zaman, media sosial justru menjadi panggung pembentukan citra diri. Banyak orang tidak lagi menggunakan media sosial hanya sebagai ruang untuk mencari atau memperbarui informasi, tetapi mulai membangun identitas tertentu demi mendapatkan perhatian, keuntungan pribadi, dan pengakuan sosial.

Salah satu fenomena sosial yang semakin marak terjadi ialah perilaku playing victim. Fenomena playing victim muncul ketika seseorang menempatkan dirinya sebagai korban untuk memperoleh simpati, pembelaan, atau perhatian dari orang lain.

Di media sosial, perilaku ini dapat terlihat melalui unggahan yang berisi keluhan berlebihan, sindiran yang mengarahkan kesalahan kepada orang lain, atau narasi penderitaan yang sengaja dibangun agar memperoleh dukungan publik. Akibatnya, seseorang lebih sibuk mencari simpati daripada menyelesaikan persoalan secara dewasa.

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar drama media sosial. Perilaku playing victim sering kali lahir dari krisis keberanian untuk menerima diri sendiri. Banyak orang merasa tidak cukup dihargai, tidak diterima, atau takut dianggap gagal. Akibatnya, posisi sebagai “korban” menjadi tempat paling aman untuk menghindari kritik dan tanggung jawab.

Pemikiran Alfred Adler membantu kita memahami persoalan ini. Adler mengatakan bahwa setiap manusia memiliki rasa inferior atau rasa rendah diri. Perasaan ini merupakan bagian normal dari kehidupan manusia. Namun, masalah muncul ketika rasa inferior tersebut tidak diolah secara sehat. Seseorang kemudian mencari cara untuk menutupi kelemahannya, salah satunya dengan mencari perhatian dan pengakuan melalui penderitaan.

Dalam konteks media sosial, perilaku playing victim sering menjadi bentuk kompensasi psikologis. Seseorang merasa lebih bernilai ketika mendapatkan simpati dari banyak orang. Semakin banyak dukungan dan pembelaan yang diterima, semakin besar pula rasa diterima secara sosial. Sayangnya, hal ini dapat membuat seseorang terjebak dalam identitas sebagai korban dan kehilangan keberanian untuk bertumbuh.

Media sosial memperparah situasi tersebut karena dunia digital bekerja berdasarkan perhatian. Konten yang dramatis, emosional, dan penuh konflik lebih mudah mendapatkan respons publik. Akibatnya, banyak orang secara sadar maupun tidak sadar membangun citra penderitaan demi memperoleh validasi sosial. Dalam situasi seperti ini, kejujuran terhadap diri sendiri perlahan tergantikan oleh kebutuhan akan pengakuan.

Fenomena playing victim juga berdampak buruk terhadap relasi sosial. Orang yang terus-menerus memosisikan diri sebagai korban cenderung sulit menerima kritik, mudah menyalahkan orang lain, dan membangun hubungan yang manipulatif. Relasi tidak lagi dibangun atas dasar keterbukaan dan tanggung jawab, melainkan atas dasar rasa kasihan dan pembelaan emosional.

Karena itu, manusia modern perlu belajar kembali tentang keberanian menjadi diri sendiri. Mengakui kesalahan bukanlah kelemahan, melainkan tanda kedewasaan. Tidak semua penderitaan harus dipublikasikan, dan tidak semua persoalan harus dijadikan alat mencari perhatian. Media sosial seharusnya menjadi ruang membangun komunikasi yang sehat, bukan tempat mempertontonkan luka demi validasi

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widiya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.