Oleh: Hafis Azhari
Banyak orang di era distraksi informasi ini, yang berlaku tidak jujur karena takut kehilangan pamor dan penilaian orang lain. Mereka sibuk memperjuangkan kebanggaan versi dirinya. Mereka terampil menutupi diri dengan tameng dan penjagaan ketat, lantaran terlampau menghamba pada sorotan-sorotan publik.
Sulit kita menjumpai orang yang berjuang agar dicintai Allah dalam diam dan keheningan. Kebanyakan orang cenderung takut dan khawatir tak memiliki karya-karya yang mendapat sebutan “luar biasa” dari kolega dan teman-temannya. Dada mereka sempit karena apa yang mereka ucapkan tak pernah dianggap indah dan unik. Mereka seakan dikejar oleh pencapaian yang bersifat duniawi, demi untuk mendapat sanjungan penduduk bumi semata.
Ketahuilah, bahwa dicintai Allah dalam diam dan sujud itu lebih utama dari kebanggaan prestasi di hadapan manusia. Allah tidak menyuruh kita untuk sibuk mengejar target dan pencapaian duniawi. Bahkan, tak mempersoalkan seberapa banyak teman yang memuji prestasi dan popularitas. Tetapi, justru ketika sang hamba memilih hidup dalam kesunyian untuk senantiasa dekat dan akrab dengan kasih sayang-Nya.
Di dunia yang sarat kebisingan dan kegaduhan ini, memilih hidup dalam kesendirian akan mendewasakan keimanan dan meningkatkan kualitas keilmuan manusia. Kebanyakan orang memilih berlari cepat hingga mengabaikan kenyamanan agar rehat dan istirahat demi ketenangan batin dan kalbunya. Tidak jarang yang hatinya belum siap menerima kebenaran lantaran tergopoh-gopoh agar segera mencapai target dan tujuan. Seakan mereka memaksakan kehendak agar selaras dengan kehendak Tuhan. Padahal, manusia hanya hamba yang bersifat lemah dan terbatas, bahkan tak kuasa menarik nafas jika Tuhan menghendaki untuk menghembuskan yang terakhir kalinya saat ini juga.
Apa yang bisa dibanggakan dari prestasi dan pencapaian kesuksesan, jika hati manusia belum siap untuk menerima kebaikan dan kebenaran ilahi? Apa yang dibanggakan dari harta dan kekuasaan, jika manusia belum menggeluti ilmunya, hingga terampil mensyukurinya? Sungguh, jiwa-jiwa yang belum selesai dengan dirinya akan sulit mencapai hasil akhir dengan damai dan selamat. Akan tetapi, prestasi duniawi itu justru akan mencelakakan dan menghinakannya di kemudian hari.
Biarlah langkah kita dianggap lambat di tengah kebisingan dan kesemrawutan untuk berebut mencapai garis akhir. Biarlah mereka bilang, bahwa orang yang sabar tidak bakal keduman. Meskipun hakikatnya, tidaklah ada kata terlambat jika manusia terus melangkah ke depan, serta melibatkan Tuhan dalam setiap tarikan nafas dan setiap gerak langkahnya.
Betapa banyak orang yang takut dilupakan, hingga mereka menghabiskan waktu dan segala upaya agar selalu dilihat dan disanjung, sampai mereka merasa capek dan lelah sendiri. Sesungguhnya, jiwa-jiwa yang terlampau sibuk meraih gelar dan kedudukan tinggi, akan mudah lupa diri, karena mereka terlampau fokus untuk menjadi siapa yang mereka kagumi, meskipun hanya prestise semu yang bakal ditinggal mati.
Mereka akan lupa melepas topeng-topengnya, hingga topeng yang melekat dalam dirinya dikira adalah jati dirinya. Padahal, setiap kita sejatinya adalah milik Allah, dari Allah, dan akan berpulang ke pangkuan-Nya. Kedudukan yang kita raih di dunia ini, hakikatnya dicapai dan dilancarkan, hanya jika Allah menghendaki jalannya.
Kenapa kebanyakan manusia merasa kecewa dengan masa lalu, serta cemas dengan masa depan? Padahal, jika kita merasa cukup di hadapan Sang Pemberi rizki, maka ketidakcukupan hidup di dunia takkan berarti, juga akan mengecil dengan sendirinya. Untuk apa kita mencari hebat di hadapan manusia, jika hati kita merasa kosong di hadapan Tuhan.
Saat ini, kebanyakan manusia menyibukkan harga dirinya agar bergantung pada pencapaian dan penilaian manusia lain. Ketakutan untuk hidup tak berarti meniscayakan dirinya pada kebutuhan untuk serba diakui, hingga pujian dan sanjungan menjadi candu. Mereka cenderung memaksakan selera hidupnya agar menuruti selera orang lain, hingga tak kuasa menahan diri agar tidak menjadi pusat perhatian.
Ketahuilah, bahwa Tuhan seringkali menahan ambisi dan obsesi duniawi, dengan cara menunda atau tidak mengabulkan permintaan dan kehendak manusia, oleh karena cinta dan kasih sayang-Nya kepada kita. Di hadapan-Nya, segala prestasi duniawi yang dibanggakan, pada akhirnya hanyalah belenggu yang memenjarakan hidup manusia sendiri.
Kita tidak diperintahkan untuk menjadi spesial dan istimewa, hingga merasa berhak untuk bersikap angkuh dan bangga diri di hadapan manusia. Seringkali manusia lupa diri, hingga menganggap remeh kemuliaannya dalam pandangan Tuhan. Pilihan hidup yang menyesatkan itu adalah godaan hawa nafsu yang menyenangkan dalam waktu sekejap, namun akan membuat pelakunya merana dan nelangsa di kemudian hari.
Sesungguhnya, sifat pamer dan riya termasuk jenis perbuatan syirik yang halus, tak kasatmata, bagaikan semut hitam yang melata di atas batu di kegelapan malam. Justru yang diperintahkan adalah amalan yang menyelamatkan, perbuatan baik yang konstan dan istiqomah. Meskipun tidak bersinar di mata manusia, namun membuat kita mulia dalam pandangan para penduduk langit.
Allah Maha Menerima amal-amal tersembunyi dari hamba-hamba yang dicintai-Nya. Biarpun mereka tak pernah dikenal, karena hakikat nilai dirinya bukan diukur dari seberapa banyak orang tahu, tetapi dari kecintaan Sang Khalik kepada hamba-hamba-Nya. Mereka tetap konsisten menjaga kesabarannya, dalam sujud di atas sejadahnya, meskipun hanya disaksikan lantai, atap dan tembok kamar di waktu sepertiga malam.
Wahai hamba-hamba kekasih Allah, tak usah khawatir dengan prestasi dan pencapaianmu yang tidak seberapa. Rizkimu juga kadang dibatasi oleh-Nya. Sesekali, Anda dibuat terpana menyaksikan orang-orang di atas dengan prestasinya yang gemilang. Tetapi, semua itu hanyalah kedudukan yang bersifat nisbi, sekejap mata, dan Allah tidak menilai berdasarkan jumlah angka dan setumpuk prestasi yang dibanggakan. Juga bukan pada keindahan fisik dan rupa, tetapi Dia mendengar setiap bisikan tersembunyi dari hati-hati kalian.
Sepintar apapun manusia membisikkan rahasia bersama sahabatnya, Tuhan adalah Yang ketiganya, dan sepandai apapun rahasia itu disimpan oleh ketiganya, maka Tuhan adalah Yang keempatnya. Kelak, kita semua akan diperlihatkan pada kesia-siaan pencapaian hidup di alam dunia yang fana ini. Kita akan sadar dengan adanya belenggu dan beragam ilusi, senda gurau dan permainan yang menipu. Semuanya tak bernilai, dan tak ada yang patut dibanggakan.
Betapa banyak orang berambisi ingin membangun rumah yang megah, padahal bangunan mentereng itu sama sekali tak dapat memberinya kehangatan. Betapa banyak orang yang sibuk membeli tempat tidur yang empuk, padahal yang terpenting bagaimana mereka dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman. Sungguh, kehidupan yang tenang dan sederhana, justru lebih mendatangkan kebahagiaan, ketimbang mengejar target kesuksesan duniawi, yang selalu disertai kegelisahan yang menyertainya.
Untuk itu, setinggi apapun kuasamu, dan sebanyak apapun harta kekayaanmu, pada akhirnya hanya secarik kain kafan yang menemanimu di alam kubur. Seluas apapun hektaran lahan tanah dimiliki, pada akhirnya cukup hanya sepanjang dua kali satu meter untuk mengubur jasad-jasad kalian.
Sesungguhnya, prestasi yang bermakna di mata Tuhan adalah jiwa-jiwa yang tenang dan damai, berpulang ke haribaan-Nya dengan husnul khatimah, kemudian disambut para penduduk langit dengan pesona senyum yang membahagiakan. ***
Penulis adalah Peneliti program historical memory, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia







