Pertemuan Hati Alumni Tebuireng

oleh -1573 Dilihat
banner 468x60

Oleh: KH Ahmad Rafiuddin

Bersama puluhan rombongan Tebuireng 09 Banten, kami berangkat dari Rangkasbitung untuk menghadiri acara Temu Alumni Nasional (Halal Bihalal) di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timut. Acara puncak diadakan pada hari Sabtu, 26 April 2025 dan dihadiri oleh ribuan masyarakat Indonesia dari seluruh penjuru tanah air, khususnya para alumni pesantren rintisan seorang kiai dan ulama besar perintis kemerdekaan RI, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Secara pribadi, saya sebagai perintis dan pengasuh pesantren Tebuireng 09 Banten, sepakat dengan pernyataan KH Abdul Hakim Mahfudz, selaku pengasuh pesantren Tebuireng Pusat, yang dengan tegas menyatakan bahwa pertemuan alumni Tebuireng harus dijadikan ajang silaturahmi dan pertemuah hati, dan bukan semata-mata pertemuan fisik belaka.

Dalam pertemuan hati, sudah tak ada lagi persoalan jarak dan waktu. Sebab, ketika kita jauh dalam soal jarak, namun jika hati menjadi satu, maka secara ruhani maupun ideologis sebenarnya kita berdekatan dan saling berdampingan. Tetapi sebaliknya, di era medsos ini, betapa banyak keluarga dan saudara tetangga di dekatnya, tinggal di sekitar kampung halaman, namun jika hatinya jauh, maka sebenarnya mereka berjauhan, baik dari hal ide, gagasan maupun hati nurani.

Inti dari silaturahmi

Esensi dari nilai-nilai silaturahmi ini penting untuk dikemukakan di era gegap-gempita masyarakat yang saling bersaing dalam ajang penampilan fisik, tetapi kurang mengutamakan persaingan di jalan kebaikan maupun spiritualitas. Untuk itu, pola pikir yang adaptif terhadap perkembangan zaman, seperti yang diteladani Syekh Hasyim Asy’ari patut dicamkan, agar kita dapat berkarya seoptimal mungkin bagi kemanfaatan dan kemaslahatan umat, apapun agama, bangsa maupun ideologinya.

Hendaknya para alumni Tebuireng tidak memahami makna perjuangan secara saklek dan sempit, tetapi makna perjuangan harus terus dikembangkan untuk upaya pergulatan pola-pikir, pengabdian, serta keberanian melakukan perubahan pola pikir dan paradigma. Makna silaturahmi dan perjuangan yang dicanangkan para pendahulunya disesuaikan dalam konteks saat ini.

Demikian pula yang ditegaskan oleh Kiai Abdul Hakim saat bersilaturahmi di Bangkalan beberapa waktu lalu, agar para santri dan alumni pesantren Bangkalan hendaknya mengambil teladan mulia dari jejak-langkah Syeikh Kholil, bahwa seorang kiai dan ulama harus mampu menyerap dan memberi solusi yang terbaik, selaras dengan problematika di zamannya.

Untuk itu, tidak cukup hanya berkutat dalam soal “ngaji” dan belajar agama saja, karena ulama-ulama terdahulu selalu aktif sebagai penggerak-penggerak perubahan zaman, bahkan menjadi pemikir dan perintis kemerdekaan RI sebagaimana Syekh Hasyim Asy’ari.

Makna kemerdekaan

Di era milenial ini, banyak orang yang mengartikan makna kesuksesan dan kemandirian secara sepihak, seolah-olah kesuksesan itu ketika manusia mampu memenangkan persaingan fisik dengan kesanggupan mematahkan lawan yang harus dikalahkan, baik secara ekonomi, politik, hingga persoalan olahraga dan kesenian. Padahal, secara keagamaan, hakikat kesuksesan dipergilirkan sebagaimana kaya dan miskin, sehat dan sakit, maupun lapang dan sempit.

Untuk itu, saya tegaskan dalam buku “Marwah Pesantren” (2024) bahwa di lingkungan pesantren, bahwa yang penting menjadi modal bagi kekuatan mental para santri adalah kesiapan menghadapi menang maupun kalah. Manusia harus berjiwa besar dan tenang ketika menghadapi kekalahan (sempit) juga harus rendah hati dan legawa jika meraih dan memperoleh kemenangan (lapang).

Saya alumni pesantren Tebuireng di era 1990-an, merasa bangga bisa ikut serta menghadiri ajang silaturahmi. Dihadiri pula oleh rombongan pengurus Tebuireng 09 Banten, yang dipimpin oleh Aziz Nawawi, yang merupakan cicit dari ulama besar Syekh Nawawi Al-Bantani. Kami menyaksikan langsung acara yang menjadi tonggak penguatan jaringan alumni, pengembangan potensi, dan kontribusi pembangunan kolektif dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan mengusung semangat “barsatu berkarya dan bermanfaat” hendaknya para alumni Tebuireng mampu mengambil hikmah serta berperan aktif dalam membangun bangsa, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai religiusitas yang menjadi satu-kesatuan dengan nilai-nilai luhur pesantren, serta memperjuangkan kemandirian dalam arti yang sebenar-benarnya. ***

Penulis adalah Pengasuh pondok pesantren Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.