Hiperrealitas: Tantangan bagi Keotentikan Diri Manusia

oleh -792 Dilihat
banner 468x60


Perkembangan teknologi dewasa ini semakin “menggila” dan merambah ke segala kehidupan manusia. Kemajuan-kemajuan dalam bidang teknologi patut dianjungi jempol karena dapat membantu dan mempermudah manusia dalam melakukan pekerjaan. Misalnya saja chatgpt yang dapat membantu siswa dalam mengerjakan tugas, atau handphone dengan kamera yang bagus yang dapat merubah wajah seseorang menjadi lebih bagus, atau aplikasi-aplikasi yang menawarkan produk-produk menarik yang membuat orang tertarik untuk membelinya, dan masih banyak hal baik yang manusia dapatkan dari kemajuan teknologi saat ini. Di balik semua manfaat tersebut, teknologi juga membentuk cara pandang dan pengalaman manusia terhadap dunia secara drastis. Namun ada satu problem yang dibawa oleh perkembangan teknologi saat ini yakni manusia hidup dalam hiperrealitas, suatu keadaan di mana manusia meninggalkan keotentikan diri.

Hiperrealitas merupakan sebuah konsep yang ditemukan oleh Jean Baudrillard, seorang filsuf asal Prancis. Hiperrealitas adalah sebuah keadaan di mana realitas berbaur dengan ilusi sehingga kita sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Percampuran antara realitas dan representasi tersebut akan menciptakan satu kenyataan yang lebih nyata dari kenyataan yang sebenarnya. Hiperrealitas merupakan suatu keadaan di mana yang fiktif menjadi nyata lebih dari kenyataan yang sebenarnya, yang palsu menjadi lebih asli dari yang sebenarnya asli, dan yang sifatnya menipu lebih jujur dari kejujuran itu sendiri. Dalam dunia hiperrealitas, simulasi bukan hanya meniru realitas, tetapi menggantikannya secara perlahan tanpa kita sadari. Akibatnya, manusia mulai hidup dalam konstruksi-konstruksi simbolik yang mengaburkan batas antara kenyataan dan kepalsuan.

Dalam dunia kontemporer saat ini media sosial dan teknologi mempunyai peranan besar bagi kehidupan manusia dan manusia hidup dalam simulasi-simulasi yang lebih kuat perannya dari pada realitas yang sebenarnya. Dalam hiperrealitas, tanda dan simbol sangat dominan dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga perlahan menggantikan pengalaman kita yang nyata. Misalnya dalam media sosial kita dapat menemukan konten-konten yang menampilkan kehidupan mewah, makanan yang enak, atau kehidupan yang penuh kebahagiaan, walaupun apa yang mereka tampilkan kepada kita mungkin saja bukanlah apa yang sebenarnya mereka alami. Contoh lain dapat kita temukan dalam iklan-iklan. Misalnya ada sebuah iklan tentang sebuah produk sabun mandi. Dalam iklan itu kita melihat ketika orang menggunakan sabun tersebut kulitnya menjadi cerah dan menjadi putih. Di sini dunia fiksi seolah-olah menjadi nyata bagi kita. Pengalaman yang kita lihat di televisi atau di media sosial seakan-akan menjadi lebih nyata dari kenyataan yang sebenarnya karena kita sering terekspos kepada hal-hal tersebut.

Hiperrealitas menjadi satu tantangan bagi keotentikan diri manusia saat ini. Manusia dihadapkan pada banyak versi diri yang dihadirkan dalam dunia. Misalnya saja dalam dunia maya, saya bisa membuat diri saya menjadi lebih ganteng atau lebih cantik dengan bantuan kamera yang kualitasnya bagus, atau membuat warna kulit saya dari coklat menjadi putih lewat aplikasi-aplikasi yang tersedia. Ketika saya membagikannya ke media sosial, orang akan mengenal saya sebagai yang ganteng atau cantik, dan yang putih walaupun dalam kenyataan yang sebenarnya tidaklah demikian. Saya merekayasa diri saya sedemikian rupa sehingga apa yang saya tampilkan bukanlah saya yang sesungguhnya. Tetapi hal ini dapat menjadi jebakan yang dapat mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan standar buatan yang tidak terjangkau. Akibatnya kita terjebak untuk membentuk citra yang sempurna sesuai dengan hiperrealitas yang dibuat oleh media. Keotentikan diri kita yang sesungguhnya menjadi kabur karena kita lebih banyak berada dalam hiperrealitas.

Untuk dapat menemukan kembali keotentikan diri, kita harus bisa keluar dari jebakan hiperrealitas di mana media sosial dan teknologi mempunyai peran yang besar. Pertama, kita perlu menyadari bahwa apa yang ditampilkan oleh media seperti iklan atau penjualan produk-produk lainnya, semuanya sudah diperindah dan disimulasi sedemikian mungkin untuk menarik perhatian kita dan karena itu kita perlu kritis dalam melihat hal-hal itu. Kedua, membatasi diri dalam menggunakan media sosial yang dapat membantu kita lebih fokus pada dunia nyata dari pada dunia maya. Keseringan menggunakan media sosial dapat membuat kita hidup dalam dunia yang tidak realistis. Dengan membatasi paparan terhadap dunia maya, kita memberi ruang bagi diri untuk lebih hadir secara utuh dalam relasi nyata dan pengalaman hidup sehari-hari yang membentuk identitas kita yang sejati.

Ketiga, mengurangi gaya hidup konsumtif. Kadang kita membeli sebuah barang bukan karena kita benar-benar membutuhkannya tetapi karena ingin mengikuti trend atau karena kita melihat barang itu bagus dan menarik. Misalnya kita mempunyai heandphone satu tetapi karena ingin terlihat sebagai orang berada kita lalu membeli lagi dua heandphone walaupun dalam realitasnya kita hanya membutuhnya satu saja. Keempat, berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Hiperrealitas mendorong kita untuk membandingkan diri dengan orang lain baik dalam hal materi, gaya hidup, maupun penampilan. Kita perlu berhenti dari kebiasaan ini dan berusaha untuk menemukan keotentikan diri yang sejati. Kita perlu menanamkan dalam diri bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang dimiliki atau seberapa mewah gaya hidup yang dijalani, melainkan oleh keaslian hidup dan kesetiaan pada jati diri.

Beberapa langkah tersebut kiranya bisa membantu kita untuk keluar dari lingkaran hiperrealitas dan menghantar kita untuk kembali menemukan keotentikan diri yang sesungguhnya ditengah derasnya pengaruh media sosial dan teknologi. Dengan demikian, manusia perlu kembali pada kesadaran akan jati diri yang sejati, yang tidak ditentukan oleh citra digital atau persepsi orang lain, melainkan oleh nilai-nilai yang otentik dari dalam dirinya sendiri. Hanya dengan cara ini, kehadiran manusia di tengah dunia modern dapat tetap bermakna dan berakar pada realitas yang sesungguhnya.

Oleh: Remigius Taek, Anggota Komunitas Pikiran Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.