Oleh: Hafis Azhari
Ketika menulis novel, saya tak terlalu memusingkan seperti apa tulisan saya, atau aliran apa yang hendak saya tulis. Saya hanya menyusun kerangka awal dari sebuah cerita, semacam desain yang masih kosong dan belum membentuk suatu rangkuman yang dirancang terlebih dahulu. Tetapi, sebelumnya saya harus menguasai tema dalam pikiran, karakter dan ideologi para tokoh, sampai akhirnya saya mulai menuliskannya dalam bentuk cerita.
Mungkin teladan yang paling menarik dari penulis Rusia adalah Anton Chekhov, dengan gaya penulisannya yang unik dan sulit untuk ditiru. Seakan ia menguasai teknik penulisan yang dirahasiakan, tanpa mempedulikan plot, tetapi sanggup membangun cerita unik dengan struktur yang sangat minimalis. Berbeda dengan Maupassant maupun Tolstoy yang tidak memiliki pengalaman yang cukup lama di dunia jurnalistik.
Chekhov seakan mempersiapkan tema unik yang ingin digarap dalam sebuah cerita. Misalnya, dia menjumpai beberapa militer berseragam, lalu mereka berdebat tentang suatu masalah yang sebenarnya mudah diselesaikan bagi orang yang berpikir waras, dan dengan akal sehat. Tetapi, para militer itu justru bertengkar, debat kusir, bahkan saling baku hantam disebabkan sesuatu yang sebenarnya mudah dicarikan solusinya.
Saya mencoba menerapkan gaya Chekhov dalam novel Perasaan Orang Banten, khususnya tentang para politisi kampung yang sebenarnya tak paham tentang seluk-beluk dunia politik. Namun, karena mereka dari kalangan keluarga tuan tanah, mereka rela mengorbankan harta kekayaannya untuk membayar para konstituen dan memborong suara. Nasib para politikus itu, baik yang berhaluan kiri maupun yang ultra kanan, tak ubahnya seperti para penggali lubang yang dalam batas tempo tertentu, cepat atau lama, akan menjebloskan dirinya lantaran keilmuannya yang dangkal.
Kadang inspirasi dari Chekhov, saya padukan dengan gaya prosa Afrika dan Timur Tengah, khususnya Naguib Mahfouz, Gurnah maupun Taha Husain. Naguib pernah menjalankan studi filsafat di masa kuliahnya, hingga mampu menggambarkan orang-orang pedalaman Mesir yang konservatif melalui teropong lensa pemahaman Islam kontekstual. Ia memahami peran dan fungsi para jamaah masjid yang ortodoks, tak ubahnya kesatuan-kesatuan militer dengan kepatuhan buta, tanpa menyadari apa-apa yang diperintahkan sang mursyid atau komandan militernya.
Studi filsafat
Saya sendiri pernah mendalami studi filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, serta dikelilingi orang-orang yang benar-benar fokus dan serius dalam membaca dan menulis. Saya menghabiskan banyak waktu untuk menciptakan dan menulis cerita. Dan ketika beranjak di usia 30-an, saya semakin menyadari bahwa kebiasaan ini menjadi semacam “panggilan jiwa” di mana saya harus mengabdikan diri berdakwah menyampaikan nilai-nilai kebajikan melalui karya sastra.
Penulis lain yang saya kagumi, dan sempat mendalami studi filsafat adalah Elie Wiesel. Penulis jenius berdarah Yahudi itu mengaku banyak terinspirasi dari sang maestro sastra dunia William Shakespeare. Lalu, apa yang membuat karya-karya mereka begitu indah dan menarik? Proses kreatif apa yang menjadi kesukaan dan kegemaran mereka? Tak lain dan tak bukan, bahwa setiap penulis besar pada umumnya menyukai keheningan dan kesunyian sebagai bahan bakar kreativitas mereka.
Di samping itu, saya juga telah mengenal banyak penulis dan penyair dalam negeri ketika sering mengunjungi pusat kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM), karena jarak yang tak begitu jauh dari kampus saya. Tetapi kemudian, saya merasa kehilangan respek pada sebagian mereka yang suka bergerombol, lalu mengadakan konfrontasi serius dalam kasus “Prahara Budaya” di tahun 1996, di saat kekuasaan Orde Baru sedang menunjukkan taring kekuasaannya.
Apa yang mereka perdebatkan kala itu, tak lebih dari sikap sentimen dan sinisme, lantaran persaingan pundi-pundi yang diakibatkan oligarki perbukuan dan penerbitan yang banyak didikte oleh kepentingan penguasa. Itulah yang membuat saya mengurungkan niat untuk menerbitkan novel pertama saya yang berjudul “Satu dari Jutaan Anak Indonesia”, sampai kemudian bergelut dengan perubahan dan transformasi spiritual yang membuat saya semakin meyakini, bahwa karya-karya absurd saya di masa lalu, memang tidak layak dan tidak sepantasnya untuk dipublikasikan.
Jika pertimbangan saya semata-mata soal ekonomi dan kemegahan seorang penulis (sastrawan), kemungkinan besar saya akan mengajukannya ke penerbit sejak era kejatuhan Orde Baru. Tetapi, soal menulis kreatif atau kebebasan berekspresi tentu akan berbeda motifnya dengan upaya mendidik dan mendewasakan rakyat Indonesia. Untuk kepentingan terakhir ini, tentu dibutuhkan kematangan ideologi, bahkan kedewasaan iman yang melampaui sekat-sekat formalitas agama, yang cenderung primordial dianut oleh kebanyakan masyarakat kita.
Penulis milenial
Ketika saya meluncurkan novel Perasaan Orang Banten, yang dihadiri oleh banyak penulis profesional di beberapa tempat, saya menyadari posisi saya sebagai penulis baru yang kurang dikenal. Tidak ada tur khusus yang direncanakan, dan publisitasnya juga sangat terbatas. Kemudian, novel itu mulai mendapat perhatian kritis, dan banyak diulas oleh para penulis milenial, baik di media cetak maupun online.
Saya mengapresiasi tinjauan analisis mereka, dan sedikit dari kritik sastra itu yang sempat saya respon dan tanggapi. Saya bahkan tak sempat memikirkan, apakah novel saya itu akan laku di pasaran ataukah tidak. Di beberapa kampus di Banten dan Jakarta, semakin muncul berbagai versi dalam bentuk copy, dan saya tak mempedulikan soal itu. Bagi saya, ketika karya saya banyak dibaca orang, justru motif saya untuk menyampaikan dakwah kebenaran semakin tersampaikan. Sebagai seorang muslim, sejak kecil saya telah diajarkan orang tua dan leluhur agar rajin berderma (sedekah), dan ketika menuntut ilmu dijadikan barang dagangan, justru bukan kualitas ilmunya yang menurun, tetapi soal kualitas keikhlasan mereka yang menyebarkan ilmu tersebut.
Terkait dengan itu, tentu saya memiliki visi dan semangat yang berbeda dengan kebanyakan penulis dan sastrawan Indonesia. Bagi saya, mengikuti dan menelusuri keunikan perkembangan bahasa, adalah kenikmatan tersendiri. Hal ini selalu menjadi fokus hidup saya sebagai pembaca dan penulis, sekaligus pendengar setia dari segala perkembangan ilmu dan transformasi spiritual.
Perkara makan dari mana, serta bagaimana mempertahankan dapur agar tetap ngebul, saya bisa mengusahakannya dengan cara-cara tersendiri, tanpa harus menyingkirkan atau menyikut kiri-kanan, sehingga menimbulkan adanya penulis lain yang terkorbankan.
Bicara soal perkembangan dan pesatnya para penulis milenial, memang banyak hikmah pelajaran yang saya ambil dari kreativitas mereka. Sungguh menyenangkan berbagi ilmu dengan mereka. Saya dapat melihat konteks yang lebih luas tentang bagaimana cara mereka berpikir, bahkan tentang prioritas tujuan mereka dalam mengarungi kehidupan di tengah jagat semesta yang unik dan super kompleks ini. (*)
Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.







