Penguasa dan “Post Power Syndrome”

oleh -1278 Dilihat
banner 468x60


Oleh: Alim Witjaksono

Para psikiater di Rumah Sakit Jiwa seumumnya mendiagnosa penderita skizofrenia melalui fitur-fitur kebahasaan. Bagi mereka, bahasa merupakan alat utama resepsi dan ekspresi. Melalui bahasa, seorang pasien mengumpulkan simbol-simbol sekaligus mengungkapkan gagasannya. Ia dapat dideteksi memiliki kecenderungan menilai sesuatu secara biner. Obyek yang tak tampak oleh penderita skizofrenia dianggap sebagai sesuatu yang asing, bahkan jahat dan cenderung mencelakakan dirinya.

Pikiran yang menjurus kepada tindakan anarkis, membuat penderita skizofrenia akut, tidak lagi mampu melihat segala sesuatu secara obyektif, bahwa realitas kehidupan ini begitu kompleks, dinamis, bahkan kadang paradoksal. Segala sesuatu seakan sudah final baginya, statis, dan dalam terminologi Islam, seakan-akan “pintu ijtihad” sudah tertutup. Apa yang dianggap paling sah dan legitimate adalah penafsirannya, atau penafsiran dari orang yang dianggap guru sucinya.

Perspektif tunggal seperti itu membuat seorang penderita skizofrenia mudah terjerumus kepada aksi-aksi anarkis bahkan terorisme. Di samping mudah terhasut dan terbawa arus, dari dalam dirinya sudah terpateri suatu pandangan yang bersifat hitam-putih belaka. Terhadap obyek yang dicintainya, ia cenderung memuji bahkan mengultuskan secara berlebihan. Sementara itu, terhadap objek yang tak disukainya, hujatan dan caci-maki terus-menerus berhamburan.

Tentu saja penyakit sosial ini cukup membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi kalangan awam yang tak terdidik, kecenderungan pada tindakan teror akan mudah diatasi. Tetapi, bagi kaum terdidik, perpaduan antara sentimen identitas diri dengan gelembung kebenaran yang semakin membesar di pikirannya, inilah yang bisa menimbulkan bom waktu yang mesti diantisipasi oleh semua pihak, baik para pendidik di tingkat rumah-tangga, hingga teladan yang baik dari pihak pemerintah kita.

Karakter penderita

Tembok-tembok imajiner dibangun sedemikian kuat dalam pikiran para penderita skizofrenia. Mereka seakan menciptakan gelembung kebenaran yang ada dalam penafsirannya semata. Gelembung kebenaran yang terus membesar identik dengan perspektif tunggal yang dipelihara, hingga membuat penderitanya hanya concern pada fakta dan argumentasi yang mendukung hipotesisnya.

Fakta-fakta yang berlaku di alam semesta justru didesak agar selaras dengan argumentasinya. Dari waktu ke waktu mereka semakin yakin bahwa hanya argumentasinya-lah yang paling benar. Kondisi itu kemudian melahirkan mentalitas pascakebenaran (post truth). Mereka tidak lagi memedulikan kualitas kebenaran dari sebuah informasi apapun, karena yang dikehendakinya bukan lagi kebenaran melainkan pembenaran.

Dijelaskan oleh para pakar neurosains, bahwa penderita skizofrenia tidak mahir dalam membanding dan mengukur realitas yang ada di pikirannya dengan fakta yang ada di lapangan. Otak bagian depannya (korteks prefrontal) kurang bekerja secara optimal. Pikiran mereka seakan diseting hanya untuk menerima fakta yang sesuai dengan sikap dan tindakannya, betapa pun rendah kualitasnya. Pada saat yang sama, pikiran itu mengembangkan mekanisme pertahanan diri, untuk menolak fakta lain yang mengancam pendapatnya, betapa pun validnya realitas dari fakta tersebut.

Dalam satu-dua dekade ini, gejala skizofrenia massal seakan merebak di tengah momentum pemilihan umum, baik dalam gejala ringan sampai yang berat-berat. Menurut Taufiq Pasiak, selaku dosen kedokteran Universitas Sam Ratulangi, sistem perpolitikan kita telah menciptakan delusi paranoia bagaikan merebaknya wabah dalam skala massif. Hal tersebut dapat dibuktikan dari performa gaya bahasa yang dipakai masyarakat melalui media sosial. Pikiran dan perasaan mereka seakan melompat-lompat dari gatra satu ke dimensi yang lebih buruk dengan frekuensi yang amat rendah. Berita dan informasi apa pun yang diserap masyarakat hanya dikelola untuk memperkuat asumsinya semata.

Post-power syndrome

Beda dengan skizofrenia yang tercermin dalam novel Pikiran Orang Indonesia (baca Kompas.id: “Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra”). Tetapi, penderita post power syndrome sejenis penyakit dan gejala kejiwaan yang membuat penderitanya serba takut dihantui oleh masa tua dan masa akhir kesuksesan dalam perjalanan hidupnya. Ini tergambar jelas dalam film peraih Academy Award, “Birdman” (2016) yang diperankan oleh Michael Keaton. Film tersebut menyindir orang-orang terkenal yang berpretensi bahkan berilusi pada keabadian hidup. Ia mengajarkan, bahwa di era transformasi ini sudah bukan zamannya mengumbar propaganda kepahlawanan kosong. Para politisi maupun selebritas dituntut pertanggungjawabannya agar bersikap jujur kepada diri sendiri. Bukan zamannya lagi bicara kebanggaan diri, heroisme dan keangkuhan kekuasaan yang diumbar dalam beragam pencitraan yang dipublikasikan.

Tema inilah yang terang-terangan diungkap dalam film “Birdman”, yakni keterpurukan hari-hari seorang Superman, Batman atau Spiderman, yang seringkali dibanggakan selaku superhero dalam pentas perfilman Hollywood (Los Angeles). Film Birdman diangkat dari biografi kehidupan Riggan Thomson yang pernah mengalami puncak kejayaan saat menjadi seniman terkenal pada seni pertunjukan di Broadway. Tetapi kemudian, di usia senjanya menderita post-power syndrome, seakan menghindar dari ruang-waktu yang terus berproses menuju suatu kehidupan duniawi yang fana dan nisbi ini.

Birdman lebih mendekati pengungkapan gaya prosa Dostoyevski, Maxim Gorky maupun Franz Kafka dalam menelusuri relung-relung batin manusia hiper modern. Suatu deformasi jiwa yang tak bisa menghindar dari segala keangkuhan dan kebanggaan diri. Bagaikan sikap frustasi seorang politisi yang sudah uzur dan pernah mengalami kejayaan di masa muda, dibayang-bayangi oleh popularitas yang pernah disandangnya. Sampai kemudian membuatnya bertindak dan berulah tidak masuk akal, gegabah tak rasional, sebagaimana anak balita yang nekat melakukan sesuatu tanpa dapat mengukur risiko.

Kini, sang superhero alias jawara itu dipaksa untuk menerima dan menghadapi realitas hidup di masa tuanya. Seakan memaksa masyarakat hiper modern agar mengadakan rethinking, berpikir mendalam serta meninjau kembali identitas kemanusiaan, bahkan keangkuhan diri yang selama ini dibangga-banggakan.

Hal ini mengingatkan kita pada pernyataan Pearl S Buck yang pernah menggugat: “Mengapa bangsa-bangsa Asia begitu mudah percaya pada ajaran yang didakwahkan oleh para politisi dan penguasa Eropa dan Amerika? Bukankah tidak sedikit dari orang-orang seperti kami, para eksplorator Barat yang merasakan keterpurukan manusia-manusia Faust sebagai pahlawan dan ksatria menyedihkan, dengan hati dan jiwa-jiwa muram dan gersang?”

Dalam film Birdman juga tercermin tentang keterpurukan manusia-manusia post-industrial yang menganut ajaran Doktor Faust yang gila popularitas dan kekuasaan. Di situ telah disingkap secara gamlang, bahwa hakikat kesuksesan duniawi, harus memberi nilai pada kebahagiaan dan ketentraman batin, dan bukan hanya kesenangan yang instan dan sesaat belaka. (*)

Penulis adalah Pengamat sosial kemasyarakatan, juga aktif menulis esai dan prosa di berbagai media daring dan luring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.