Oleh: Febrianto Burak
Pendidikan merupakan usaha dasar dan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar dapat mengembangkan potensi yang ada dalam seseorang. Seorang Ilmuan sekalian tokoh penting dalam pendidikan, berargumen bahwa pendidikan harus melibatkan pengalaman nyata, bukan hanya transfer pengetahuan untuk mengembangkan potensi pengetahuan individu. Pengetahuan individu hanya memanfaatkan rasional untuk bekerja sebagai pribadi yang bernilai dan pribadi yang bajik intelektual.
Di era modern atau era teknologi pendidikan menjadi kebutuhan pokok bagi setiap individu agar dapat menambah nilai dan makna untuk kehidupannya sebagai orang berpendidikan demi memperjuangkan jasa masa depannya. Pendidikan bukan hanya kematangan diri dalam intelektual dan kreativitas tetapi bagaimana individu melihat pendidikan sebagai modal dan penopang masa depan akan datang untuk dunia yang terus berubah dan terus instan ini. Orang berpendidikan, orang kaya akan segala kreativitas dalam diri dalam segala perjuangan dan usaha demi mencapai kesejahteraan. Karena pendidikan yang matang akan semakin tinggi pula nilai hidup setiap hari.
Kebajikan Intelektual Dalam Pendidikan
Secara kodrati, manusia memiliki daya intelektual yang membedakannya dengan makluk ciptaan lainnya. Setiap tingkah lakunyapun terinspirasi oleh daya inteleknya. Semua yang dipikirkan menjadi prinsip kehidupannya yang kongkret dalam masyarakat. Seseorang dapat dikatakan baik atau buruk dilihat dari inteleknya atau diuji dalam kehidupannya supaya dapat menemukan baik, buruknya dari pribadi itu.
Objek tunggal akal budi praktis yaitu kebaikan dan kejahatan. Karena kebaikan dan keburukan seseorang mengarah pada tindakan bukan sensorik seseorang dalam hidup. Pencapaian sebuah kebenaran dalam kehendak adalah fungsi bagian intelektual secara keseluruhan. Namun, dalam kegiatan intelektual yang terkait dengan tindakan, keadaan baik adalah kebenaran dalam keserasian dengan kehendak yang tepat. Kekhasan yang dimiliki seseorang manusia yaitu kemampuannya untuk dapat berpikir dan bernalar.
Rasionalitas mengungkap kebenaran rasionalitasnya. Rasionalitas yang tepat mampu menopang kehidupannya untuk selalu merasakan kebahagiaan dan juga dapat menjadi pribadi yang baik dan pribadi yang unggul. Seperti yang diungkapkan di atas bahwa, nilai kebajikan seseorang tidak tertuang dalam ilmu pengetahuan atau seberapa besar informasi yang didapati, tetapi juga terletak pada pencapain suatu harapan atau tujuan utama. Karena pikiran sendiri tidak menggerakan sesuatupun, hanya pikiran yang diarahkan kepada suatu tujuan. Nilai kebijaksanaan merupakan pencapaian akhir dalam daya intelektual.
Konsep Pembelajaran Dalam Pendidikan
Dengan demikian, belajar merupakan suatu proses yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku karena adanya reaksi terhadap situasi tertentu atau proses yang terjadi secara internal di dalam diri seseorang. Perubahan tersebut tidak terjadi karena adanya warisan genetik atau respons secara alamiah, kedewasaan atau keadaan organisme yang bersifat temporer tetapi dengan keterampilan yang didapat melalui pembelajaran. Dari segi pendidikan, apabila seseorang telah belajar maka akan berubah kesiapannya dalam menanggapi lingkungannya. Belajar adalah aktif dan merupakan fungsi dari situasi di sekitar individu yang belajar serta diarahkan oleh tujuan yang terdiri dari bertingkah laku, yang menimbulkan adanya pengalaman-pengalaman dan keinginan untuk memahami sesuatu. Belajar adalah bagaimana seseorang berubah sebagai akibat dari pengalaman.
Intelektual di Era Teknologi
Dewasa ini dunia telah berhasil menciptakan terobosan baru di bidang ilmu pengetahuan. Kehidupan manusia dipermudah atau boleh dibilang diperinstan. Perubahan yang ada seolah-olah memper-instan-kan semua aspek kehidupan manusia, bahkan juga kemampuan kodratinya untuk bernalar. Namun hal ini bukan suatu hal yang mengagetkan bagi kehidupan manusia karena sudah terbawa dalam arus perkembangan saat ini.
Kemajuan teknologi dalam berbagai aspek berhasil menerobos sekat-sekat peradaban manusia serentak daya pikir kreatif seseorang. Implikasinya jelas, kreatif hampir pasti dapat dirampas dan nalar disibukkan dengan mencerna, memilah kebenaran atas kekayaan informasi. Kebenaran itu mutlak atau absolut ketika dipahami secara tepat dan benar oleh setiap pribadi. Asumsinya adalah semua yang dipikirkan menjadi sebuah kebenaran.
Admosfer manusia milenial selalu berpaut pada kerangka kebenaran di tengah dunia. Akan tetapi kebenaran hampir pasti tenggelam dalam situasi tampa adanya kebenaran. Seorang ilmuan selalu menyoroti pentingnya pengalaman belajar dan metode aktif serta laboratorium kehidupan demokratis yang menanamkan nilai-nilai intelektual yang bermanfaat dan berguna dalam kehidupan hari-hari belajar.
Namun dengan hadirnya media sosial dalam pendidikan sangat membawa pengaruh terhadap belajar seseorang. Kecanggihan produk teknologi ini kerap menelantarkan kreativitas berpikir dan menenggelamkan daya pikir kritis dalam diri setiap pelajar yang sedang belajar. Persoalan-persoalan ini terjadi bertajuk pada pengabaian kreativitas dan daya pikir, minat baca yang rendah dan juga tantangan mental yang akut dan eksesif dalam diri seseorang.
Pada zaman global sekarang orang lebih memilih membaca dan mencari pengetahuan di internet dari pada harus duduk berjam-jam di hadapan sebuah buku tua. Pada pelajar sekarang lebih tergiur untuk meng-update sensasi di media sosial (fecebook, whatsapp, dan lain sebagainya). Sehingga dunia sekarang lebih terkesan sangat individualistik, hanya saya dan internet. Manusia telah menjadi objek ciptaan sendiri. Manusia menciptakan dengan pikiran kreatisnya kemudian manusia juga turut diperdayai ciptaan itu.
Sadar bahwa manusia adalah makluk yang berpikir dan bernalar secara rasional, namun kreatif manusia sendiri mendangkalkan kembali pikiran itu dengan menggunakan internet yang secara tidak tepat. Ungkapan seorang rasionalitas modern Rene Dercartes sebagai bapak filsafat modern “cogito ergo sum” saya berpikir maka saya ada, itu tidak digunakan dengan baik lagi karena sudah jatuh dalam dunia modernisme atau globalisasi dunia saat ini. Padahal akal budi menjadi prioritas sepanjang abad modern ini.
Namun di hadapan persoalan milenial sekarang ini menimbulkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Mampukah akal budi dijunjung tingggi? Masih relevankan akal budi dipakai untuk mencapai kebenaran mutlak?. Kualitas intelektual seseorang mencerminkan keutamaan diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Nilai kebenaran yang ditampilkan mengumpan kesadaran, apa lagi mahasiswa sebagi agen intelektual yang selalu dihadapkan di zaman ini. Realitas milenial telah mengobrak-abrik daya pikir mahasiswa. Mahasiswa enggan melihat hal-hal prinsipil yang cenderung dibutakan oleh kebenaran-kebenaran semu dalam media sosial.
Mahasiswa selalu mengabaikan nilai kebenaran, yang terpenting saya tidak ketinggalan informasi itu. Dengan kemandekan pemikiran seperti ini yang membuat kepribadian mahasiswa mulai terkungkung oleh daya pikirnya sendiri. Padahal mahasiswa menjadi agen penting dalam pembedayaan daya pikir kreatif dan inovatif. Nilai kebajikan seseorang tidak tertuang dalam ilmu pengetahuan atau seberapa besar informasi yang didapati, tetapi juga terletak pada pencapain suatu harapan atau tujuan utama. Karena pikiran sendiri tidak menggerakan sesuatupun, hanya pikiran yang diarahkan kepada suatu tujuan. Nilai kebijaksanaan merupakan pencapaian akhir dalam daya intelektual.
Belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan perilaku seseorang yang relatif tetap dan yang akan terus terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman seseorang. Belajar suatu usaha yang dilakukan oleh individu secara sengaja maupun tidak dalam kehidupan agar dapat memperoleh nilai mutu dalam kehidupan karena melalui latihan atau pengalaman yang menyangkut berbagai aspek kognitif, afektif, psikomotorik dapat melibatkan interaksi antar individu dengan individu maupun individu dengan lingkungan untuk mencapai tujuan tertentu sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku secara permanen yang dapat meningkatkan kualitas diri dari individu tersebut.
Dalam pembelajaran selalu saja ada hal yang membuat orang untuk memiliki penasaran dalam kehidupan untuk ingin mengetahui hal baru. Maka dengan ini dapat kita definisi pembelajaran ini dalam tiga unsur yaitu:
- Belajar adalah perubahan tingkah laku dalam kehidupan
- Perubahan tersebut terjadi karena latihan atau pengalaman.
- Perubahan yang terjadi pada tingkah laku karena unsur kedewasaan. Perubahan tersebut harus relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang lama.
Dengan demikian, belajar merupakan suatu proses yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku karena adanya reaksi terhadap situasi tertentu atau proses yang terjadi secara internal di dalam diri seseorang. Perubahan tersebut tidak terjadi karena adanya warisan genetik atau respons secara alamiah, kedewasaaan atau keadaan organisme yang bersifat temporer tetapi dengan ketrampilan yang didapat melalui pembelajaran.
Dari segi pendidikan, apabila seseorang telah belajar maka akan berubah kesiapannya dalam menanggapi lingkungannya. Belajar adalah aktif dan merupakan fungsi dari situasi di sekitar individu yang belajar serta diarahkan oleh tujuan yang terdiri dari bertingkah laku, yang menimbulkan adanya pengalaman-pengalaman dan keinginan untuk memahami sesuatu. Belajar adalah bagaimana seseorang berubah sebagai akibat dari pengalaman.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang







