Pawai Paskah Kota Kupang: Antara Iman dan Eksibisi

oleh -240 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Agustinus Saka Tmaneak

Paskah merupakan perayaan terbesar dan inti penghayatan iman orang Kristen. Paskah menjadi puncak dari sejarah keselamatan yang dimulai sejak awal penciptaan. Yesus Kristus menjadi kepenuhan dari rangkaian peristiwa bagaimana karya penyelamatan Allah kepada manusia. Sejak awal semula, Allah telah memikirkan semua ini dengan merancang rencana keselamatan yang telah dimulai terlebih dahulu dari perjalanan bangsa Israel sampai keluarnya dari perbudakan Mesir dan mengalami Kepenuhan pada Yesus Kristus.

Setiap tahunnya, Kota Kupang bertransformasi menjadi panggung raksasa yang merayakan kemenangan atas maut melalui pawai Paskah yang megah dan penuh warna. Fenomena ini bukan sekadar rutinitas kalender gerejawi, melainkan telah bergeser menjadi sebuah hajatan kultural yang menyedot perhatian ribuan pasang mata, baik dari penduduk lokal maupun wisatawan. Namun, di balik kerlap-kerlip lampu hias dan dentuman musik rohani yang membahana di sepanjang jalan protokol, muncul sebuah pertanyaan mendasar mengenai esensi dari perayaan tersebut.

Paskah sendiri merupakan peritiwa untuk mengenang kisah sengsara Yesus Kristus. Apakah deretan mobil hias yang menghabiskan biaya jutaan rupiah ini merupakan manifestasi murni dari iman yang meluap, ataukah kita sedang terjebak dalam arus eksibisi visual yang mengedepankan kulit luar daripada isi? Persimpangan antara spiritualitas yang sunyi dan perayaan yang bising ini menjadi titik krusial untuk direfleksikan kembali. Kita melihat bagaimana simbol-simbol suci seperti salib dan mahkota duri kini bersanding dengan sponsor komersial dan ambisi untuk tampil paling megah di antara paroki lainnya.

Estetika jalanan ini memang memukau, namun ia membawa risiko besar yaitu pendangkalan makna Paskah itu sendiri, di mana pengorbanan Kristus yang seharusnya dihayati dengan kerendahan hati justru dikemas dalam balutan kemewahan yang terkadang terasa sangat kontradiktif dengan narasi kesederhanaan palungan dan penderitaan di bukit Golgota yang menjadi inti dari kepercayaan tersebut.

Penulis mengutip apa yang dijelaskan oleh RD. Patris Alegro dalam akun tiktoknya; Paskah berjalan atau iman yang tergelincir? “Ada satu ironi yang terlalu sering luput disadari, mereka yang paling lantang menolak tradisi manusia justru paling rajin menciptakan tradisinya sendiri tanpa meyadari dasar atau fondasi atau tanpa pertanggungjawaban teologis yang memadai. Pawai paskah di Kupang adalah contoh telanjang dari gejala yang di satu sisi simbol Katolik dituding sebagai berhala karena dianggap tambahan. Di sisi lain obor dinyalakan, kostum dipakai, drama dipentaskan, dan jalanan dijadikan alat alternatif” demikian kata RD. Patris.

Pergeseran makna ini semakin terlihat jelas ketika kita membedah motivasi di balik partisipasi kelompok-kelompok pemuda dan jemaat dalam mempersiapkan atribut pawai. Seringkali, energi yang dicurahkan untuk membangun replika kubur kosong atau kapal-kapal besar jauh melampaui energi untuk melakukan aksi sosial nyata yang menyentuh akar rumput. Di sini, eksibisi mengambil alih panggung utama, di mana pengakuan publik atas kreativitas visual dianggap lebih bergengsi daripada transformasi batiniah yang menjadi tujuan utama masa Prapaskah.

Pawai yang awalnya diniatkan sebagai kesaksian iman di ruang publik, perlahan-lahan berubah menjadi ajang kompetisi terselubung antarwilayah. Sikap gengsi ini mengorbankan banyak hal. Baim itu manusia maupun alat dan bahan lainnya. Contohnya manusia, yang memerankan Adam dan Hawa. Itu menjadi bahan tontonan semua orang. Tidak melakukan hal tersebut maka daerah atau kelompoknya tidak akan juara. Kita menyaksikan bagaimana “iman” diparadekan di atas aspal dengan kecepatan sepuluh kilometer per jam, sementara di sisi jalan, masyarakat yang menonton mungkin lebih terpukau oleh teknik pencahayaan daripada pesan penebusan yang dibawa. Apa yang dibawakan dalam pwai terutam di atas oto itu bukan pewartaan tentang Tuhan melainkan itu hanya melambangkan hal duniawi bahkan itu menjadi bahan lelucon nbanyak orang.

Fenomena ini menciptakan paradoks; di satu sisi kita ingin mewartakan kabar baik kepada dunia, namun di sisi lain kita justru menciptakan dinding kebisingan dan kemacetan yang mungkin saja mengganggu hak-hak publik lainnya. Bukan iman yang diwartakan malainkan itu hanya sebuah eksebisi yang dipertontonkan bagi masyarakat sekitarnya. Apakah Tuhan lebih dimuliakan melalui cahaya neon yang menyilaukan atau melalui kesunyian doa yang menghasilkan perubahan karakter pada umat-Nya? Pertanyaan ini seringkali tenggelam dalam riuhnya tepuk tangan penonton yang memadati trotoar Kota Kupang setiap malam perayaan tersebut berlangsung.

Lebih jauh lagi, aspek ekonomi dari pawai Paskah ini mengundang kritik tajam mengenai prioritas pengelolaan sumber daya gereja dan jemaat. Bayangkan berapa besar akumulasi dana yang habis terbakar untuk bahan bakar, sewa pengeras suara, dekorasi styrofoam yang sekali pakai, dan kostum-kostum mewah yang hanya bertahan selama beberapa jam di jalan raya. Bahhkan dalam pawai paskah tersebut ada mobil yang sempat terbakar yaitu Mobil Gereja Zaitun Tenau. Itu sudah termasuk pemborosan perekonomian dan kehilangan suatu barang. Jika dana tersebut dialihkan untuk beasiswa pendidikan anak-anak panti asuhan atau pemberdayaan ekonomi jemaat yang masih berada di bawah garis kemiskinan di pelosok NTT, dampaknya tentu akan jauh lebih permanen dan mencerminkan kasih Kristus secara konkret. Yang dipikrkan adalah hanya untuk menyenangkan hati banyak orang di kota tanpa memikirkan mereka yang berada di pelosok. Istilah yang sering muncul adalah “Bahagia di atas Penderitaan Orang Lain”.

Namun, daya tarik eksibisi jalanan memiliki magnet yang sulit ditolak; ada kepuasan psikologis ketika sebuah kelompok berhasil menjadi pusat perhatian. Yang dipertontonkan di pawai paskah itu hanyalah hal-hal duniawi. Banyak orang berkata; itu tergantung pandangan orang masing-masing. Angagapan seperti inilah yang membuat masyarakat untuk tidak berkembang dan hanya memiliki pikiran yang tumpul. Yang kita ketahui zaman sekarang ini dan banyak yang sering kali terjadi itu banyak orang itu hanya memikirkan hal-hal duniawi tanpa memperhatikan makna dari paskah yang sebenarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa struktur religiusitas kita masih sangat bergantung pada pengakuan indrawi. Kita merasa telah berpaskah ketika sudah turun ke jalan dengan atribut lengkap, padahal Paskah sejati seharusnya terjadi di ruang-ruang gelap kehidupan manusia di rumah sakit, di penjara, dan di meja makan keluarga yang sedang retak. Jalan raya memang menawarkan panggung, tetapi jalan raya tidak pernah memberikan ruang untuk kontemplasi yang mendalam karena sifatnya yang transien dan penuh distraksi. Ketika yang lain melakukan pawai paskah itu sudah memberikan kesenangan. Namun, coba pikirkan mereka yang sedang berada dalam rumah sakit, di penjara atau mereka yang mengalami hidup tidak berkecukupan. Sebagai pengikut Tuhan, masyarakat harus jeli untuk melihat hal tersebut dan merubahnya menuju hal yang lebih bermakna terutama dalam penghayatan terhadap hari raya paskah sendiri.

Dampak sosial dari fenomena ini juga mencakup bagaimana ruang publik di Kota Kupang dikelola selama musim perayaan. Penutupan jalan utama dan pengalihan arus lalu lintas yang masif seringkali menciptakan kekacauan yang berdampak pada produktivitas masyarakat luas. Di sinilah letak ujian toleransi dan etika bermasyarakat; apakah atas nama ekspresi keagamaan, kita berhak memonopoli ruang bersama secara berlebihan? Kritik ini bukan bertujuan untuk melarang ekspresi iman di ruang publik, melainkan menuntut adanya proporsionalitas. Iman yang sejati seharusnya membawa ketertiban dan kedamaian, bukan justru menjadi beban bagi sesama warga kota.

Memang toleransi itu perlu untuk diterapkan di dalam suatu masyarakat. Namun setiap masyarakat itu mempunyai kebutuhan masing-masing. Dengan adanya pawai paskah tersebut, aktivitas sesama warga itu bisa terhambat. Ketika pawai berubah menjadi ajang hura-hura yang menyisakan tumpukan sampah di sepanjang rute yang dilalui, kita patut bertanya: di manakah nilai kebersihan dan tanggung jawab sebagai penatalayan bumi yang sering dikhotbahkan di mimbar? Apa yang dikotbahkan di dalam Gereja atau GMIT itu tidaklah diterapkan dalam kehidupan setiap hari. Masyarakat saat ini memelihari sikap acuh atak acuh. Mereka tidak peduli apa yang akan terjadi ke depanya tetapi hanya lebih peduli terhadap kebahagiannya.

Eksibisi yang mengabaikan etika lingkungan dan kenyamanan sosial adalah bentuk narsisme religius yang perlu dikoreksi. Kita perlu belajar bahwa kemuliaan Tuhan tidak berkurang sedikitpun meskipun tanpa parade yang menutup jalan, sebab kehadiran-Nya lebih nyata dalam keteraturan dan penghormatan terhadap sesama manusia yang juga merupakan citra Allah. Apa yang diajarkan oleh Tuhan, Ia langsung menerapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai contoh agar masyarakat bisa melakukan seperti apa yang Ia lakukan. Secara psikologis, pawai Paskah di Kupang telah menjadi bagian dari identitas komunal yang sulit dipisahkan, namun identitas ini perlu dievaluasi agar tidak menjadi sekadar topeng keagamaan.

Ada kecenderungan bahwa semakin megah sebuah pawai, semakin dianggap kuat iman suatu kelompok. Logika ini sangat berbahaya karena mengukur kedalaman spiritualitas dengan parameter material. Pemuda-pemuda yang terlibat dalam pawai seringkali terjebak dalam euforia sesaat; mereka semangat dalam keramaian jalan raya, namun kehilangan gairah dalam pelayanan yang sunyi dan rutin di dalam gereja. Bahkan setelah adanya pawai paskah ini juga tidak akan merubah para pemuda menuju hal yang baik. Sebab dalam pawai tersebut tidak ada penghayatan yang dilakukan dan semuanya itu hanya penuh dengan seremonial tanpa memperhatikan makna paskah yang sebenarnya.

Eksibisi ini memberikan pemuasan instan terhadap kebutuhan akan eksistensi diri di era media sosial, di mana setiap momen pawai segera diunggah untuk mendapatkan apresiasi digital. Hal ini menggeser fokus dari Tuhan sebagai objek penyembahan menjadi “diri sendiri” sebagai objek tontonan. Kita perlu menarik rem darurat sebelum tradisi ini benar-benar kehilangan ruhnya dan hanya menjadi festival budaya sekuler yang menggunakan atribut agama. Paskah harus tetap menjadi momen untuk merenungkan kehampaan diri di hadapan kebesaran Tuhan, bukan justru mengisi kehampaan tersebut dengan kebisingan duniawi yang seringkali melelahkan fisik namun mengeringkan jiwa.

Tantangan bagi gereja dan masyarakat di Kota Kupang adalah bagaimana mentransformasi pawai Paskah dari sekadar eksibisi jalanan menjadi sebuah ziarah iman yang bermakna. Para tokoh Gereja atau agama harus mengambil peran dalam bagian ini, agar makna dari paskah itu tidak boleh mengalami pergeseran di zaman yang akan mendatang. Paskah sendiri itu merupakan peristiwa untuk mengenang kisah sengsara Yesus Kristus. Dibutuhkan keberanian untuk menyederhanakan perayaan tanpa mengurangi rasa hormat, serta mengalihkan energi kreativitas dari benda mati (mobil yang di dekor dengan memasang lighting) ke benda hidup (manusia itu sendiri yang diperalat). Kritik terhadap fenomena ini bukanlah bentuk kebencian terhadap tradisi, melainkan wujud kasih agar tradisi tersebut tetap memiliki daya tawar spiritual yang kuat di tengah zaman yang semakin materialistik.

Apa yang dikatakan oleh para pemerintah tentang toleransi itu sangatlah benar. Namun, harus diperhatikan agar dunia modernitas ini tidak boleh mendominasi, dan mempengaruhi manusia untuk meninggalkan makna paskah yang sebenarnya. Jika kita mampu menyeimbangkan antara pernyataan iman di publik dengan tindakan nyata di balik layar, maka Paskah di jalan raya tidak akan lagi menjadi sekadar tontonan yang berlalu bersama debu kendaraan, melainkan menjadi benih inspirasi yang membuahkan perubahan sosial yang nyata. Kota Kupang sebagai “Kota Kasih” harus mampu membuktikan bahwa kasih itu tidak perlu selalu diteriakkan melalui pengeras suara di atas truk trailer, melainkan dapat dirasakan melalui ketenangan, ketertiban, dan kepedulian terhadap sesama.

Kedatangan Yesus itu sudah mengajarkan kepada kita semua tentang kasih dan bagaimana cara untuk mewartakan kasih itu sendiri. Biarlah jalan raya menjadi saksi atas iman yang bekerja melalui perbuatan, bukan hanya saksi atas eksibisi yang memudar segera setelah lampu-lampu pawai dipadamkan dan fajar menyingsing di hari Senin yang kembali biasa. Setelah pawai paskah tersebut tidak akan ada perubahan bagi masyarkat. Justru itu dapat merugikan masyarakat dalam hal pemborosan dan perekonomian. Dalam pawai tersebut ada juga yang mengalami kecelakan yaitu mobil yang digunakan untuk pawai itu terbakar.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.