Paus Fransiskus dan Misi Ekologis Gereja: Seruan bagi Dunia yang Luka

oleh -1907 Dilihat
banner 468x60


Oleh: William W.J. Lamawuran

Ketika Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik Laudato Si’ pada 2015, dunia terkejut: inilah pertama kalinya seorang Paus menyampaikan seruan mendalam tentang krisis ekologis global dalam dokumen magisterial Gereja. Bagi banyak orang, itu bukan sekadar ajakan untuk mencintai lingkungan. Itu adalah pekikan hati dari seorang pemimpin spiritual yang menyadari bahwa bumi adalah rumah bersama yang sedang terluka parah.

Laudato Si’ bukan dokumen teknis, tetapi spiritual. Ia tidak hanya menyoroti perubahan iklim, polusi, dan kerusakan ekosistem, tetapi juga mengaitkan krisis lingkungan dengan krisis moral dan spiritual umat manusia. Bumi, tulis Paus, “menangis seperti ibu yang ditoreh anak-anaknya sendiri.” Ia menekankan bahwa keadilan sosial dan keadilan ekologis adalah satu tarikan napas. Yang paling menderita akibat kerusakan lingkungan adalah mereka yang paling miskin dan rentan.

Dengan pendekatan itu, Paus Fransiskus membawa Gereja Katolik keluar dari zona nyaman dan menempatkannya di garis depan gerakan global penyelamatan lingkungan. Ia menantang umat Katolik—dan seluruh umat manusia—untuk hidup lebih bersahaja, meninggalkan gaya hidup konsumeristik, dan bertobat dari dosa ekologis.

Di Indonesia, suara profetik ini sangat relevan. Kita hidup di negeri yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menghadapi tantangan ekologis besar: deforestasi, pencemaran laut, krisis air bersih, dan bencana alam yang kian sering terjadi. Ironisnya, isu lingkungan masih sering dipisahkan dari ranah iman. Padahal, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman yang otentik.

Misi ekologis Gereja, sebagaimana diwujudkan oleh Paus Fransiskus, adalah panggilan untuk membangun spiritualitas ekologis: cara pandang yang memandang bumi sebagai ciptaan Tuhan, bukan objek eksploitasi. Ia mengajak keluarga, sekolah, komunitas religius, hingga pemerintah untuk bekerja bersama menjaga bumi. Ia tidak memusuhi sains, sebaliknya, ia merangkul ilmu pengetahuan sebagai sahabat dalam perjuangan ekologis.

Kita patut bertanya: sudahkah Gereja-Gereja lokal di Indonesia menjadikan Laudato Si’ sebagai bagian dari pewartaan dan pendidikan iman? Sudahkah umat diajak untuk membentuk gaya hidup baru yang lebih ramah lingkungan? Sudahkah kita sadar bahwa mengurangi plastik, hemat energi, menanam pohon, dan memilih transportasi publik adalah juga tindakan iman?

Kini, setelah kepergian Paus Fransiskus, tanggung jawab ada pada kita. Kita dapat mengenangnya sebagai Paus yang peduli bumi, tetapi yang lebih penting adalah melanjutkan seruannya: menjadi penjaga rumah bersama. Sebab mencintai bumi, pada akhirnya, adalah juga mencintai sesama dan memuliakan Sang Pencipta.

Penulis adalah Umat Katolik Keuskupan Agung Kupang – NTT

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.