Proses Kreatif Pikiran Orang Indonesia

oleh -1832 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Sangat sulit dijelaskan ketika para mahasiswa Untirta, Banten bertanya tentang proses kreatif penulisan novel saya, Pikiran Orang Indonesia beberapa waktu lalu. Saya lebih lekat menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi psikologis masyarakat Indonesia di era kejatuhan rezim militerisme Orde Baru (1998). Ketika saya merancang plot-plot memang sengaja dibuat maju-mundur, yang membuat sebagian pembaca merasa kebingungan. Tapi pada prinsipnya, sejak awal mula, saya telah memutuskan bahwa novel itu perlu digarap dengan gaya jurnalis yang cenderung realistis.

Pada mulanya, memang saya meghimpun kliping-kliping koran, terutama koran independen yang banyak bermunculan di sekitar kejatuhan rezim Orde Baru. Saya berusaha untuk menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya dalam sebuah alur cerita. Tentu hal tersebut dapat dibilang subyektif berdasarkan penilaian dan keputusan saya pribadi. Meski demikian, karena sejak remaja saya menganggap bahwa dunia sastra lahir dari ketinggian langit, karenanya saya menganggap Pikiran Orang Indonesia maupun karya saya sebelumnya, Perasaan Orang Banten, hanyalah tafsir dari suatu pesan Tuhan (kitab suci) yang mengejawantah dalam bentuk karya sastra.

Tampaknya sebagian seniman dan sastrawan Indonesia merasa kesulitan untuk menggolongkan saya ke dalam jajaran sastrawan pendengki yang arogan. Karena, menyampaikan pesan-pesan langit, tak bisa lain, mesti harus disikapi secara bijak, santun dan rendah-hati. Mungkin ada beberapa sastrawan dan jurnalis menggolongkan novel saya, termasuk cerpen-cerpen saya di media daring sebagai jenis sastra monoteisme. Saya sendiri kurang banyak tahu peristilahan dalam penggolongan sastra semacam itu, tetapi bila dinyatakan bahwa karya saya cenderung berbeda dengan kebanyakan penulis yang berpijak pada filosofi Jawa, saya amat setuju dengan pendapat itu.

Bagaimanapun, saya lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga besar NU di Cilegon, Banten. Tidak menutup kemungkinan faktor genesis, lingkungan keluarga dan suasana religiositas, memungkinkan saya menulis dengan nafas monoteisme yang kental.

Secara pribadi, saya kurang mengenal banyak dongeng-dongeng klasik Indonesia di masa kecil. Beberapa yang saya kenal mengandung unsur-unsur tesis dan antitesis, protagonis melawan antagonis, bahkan tidak jarang cerita-cerita kutukan seperti Malin Kundang atau Tangkuban Parahu dan seterusnya. Itu membosankan bagi saya, hingga suatu fase dalam kehidupan saya, ingin saya melarikan diri dari semua itu, dan karenanya saya kuliah dengan mengambil jurusan Filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Hubungan saya dengan filsafat kemudian mengantarkan saya pada ketertarikan terhadap karya-karya Naguib Mahfouz, Leo Tolstoy, Solzhenitsyn, Y.B. Mangunwijaya hingga Pramoedya Ananta Toer. Di era tahun 1990-an saya pergi ke Yogyakarta untuk menemui Romo Mangun, ke Jakarta menemui H.B. Jassin, beberapa hari kemudian saya berjumpa Pramoedya Ananta Toer di Bojong Gede, Bogor. Dalam obrolan dengan mereka, saya berusaha menepiskan isu dan pembicaraan mengenai konflik kebudayaan Indonesia, terutama tarik-menariknya kubu Lekra dan Manikebu di tahun 1960-an.

Ketika penyair Taufiq Ismail meluncurkan buku “Prahara Budaya”, saya anggap sebagai himpunan dokumen yang keliru untuk diperuncing kembali, karena validitasnya sudah tidak mewakili tantangan universalitas di dunia sastra dan kebudayaan. Buku itu tidak menarik, bukan hanya tendensi Orde Baru-nya yang teramat kental, tetapi lantaran saya sudah melanglang buana dengan berbagai sastra dunia yang menjanjikan universalitas, ketimbang hanya urusan lokalitas semata.

Ketika menggarap Perasaan Orang Banten, gaya penuturan saya sengaja dengan menggunakan dialek khas ibukota Jakarta. Gaya lelucon dan banyolan lebih dipengaruhi karya-karya Idrus, Mangunwijaya, Remy Sylado hingga Arswendo Atmowiloto. Gaya penulisan Pramoedya yang terlampau serius nampaknya kurang dipakai dalam novel yang berlatar masyarakat Cilegon, wilayah Banten Utara, yang merupakan tanah kelahiran saya itu.

Tidak jarang penulis muda yang menilai saya kurang mengenal banyak seniman dan sastrawan dalam negeri, terutama yang senior. Perlu saya tegaskan di sini, bahwa saya memang cenderung introvert dan penyendiri. Jarang saya menghadiri acara-acara kerumunan atau pertemuan para sastrawan, apalagi yang didanai dan diselenggarakan pihak pemerintah. Ketika saya menjadi pembicara untuk acara bedah buku Perasaan Orang Banten, baik di lingkungan kampus, Rumah Dunia Serang, maupun Alun-alun Rangkasbitung, saya tidak terampil untuk menyebut nama-nama sastrawan Indonesia di depan panggung. Karena, saya memang tidak tahu satu-persatu nama-nama yang hadir, bahkan yang dikatakan kaliber dan pakarnya sekalipun.

Bahkan, ketika saya menjadi pembicara di Denpasar, Bali, kemudian dihidangkan berbagai masakan kuliner dari Jepang maupun Amerika, saya hanya memilih sejenis pecel atau gado-gado. Tidak jarang pada momentum itu para seniman dan jurnalis yang bicara lantang soal kesusastraan Indonesia, tetapi saya memilih diam saja di tengah kerumunan mereka.

Ketika Penerbit Hasta Mitra mengajak saya ke kediaman Pramoedya setelah pindah dari Jakarta ke tempat tetirahnya di Bogor, saya pun diam saja saat dipertemukan dengan penulis-penulis lainnya. Padahal, saya juga termasuk salah satu dari penulis muda yang dilibatkan untuk penggarapan buku 100 Tahun Bung Karno saat itu. Dalam buku Liber Amicorum Soekarno itu, saya menggarap penulisan untuk artikel Pramoedya berdasarkan oral history bersama penulis dunia yang mengagumi pemikiran Soekarno, di antaranya Ben Anderson, Bob Hering, Peter Dale Scott hingga Noam Chomsky.

Terus terang, saya memang kurang menyukai pertemuan sastra, organisasi kesusastraan, karena memang dari remaja sudah tidak menyukai aktivitas sekolah umum atau negeri. Saya berpikir bahwa saya seakan memiliki panggilan untuk mengamati mereka, memantau keseharian masyarakat perkampungan, dunia persekolahan, kehidupan masyarakat beragama, bahkan pada soal-soal lucunya kaum politisi di setiap ajang kontestasi pemilu di negeri ini. Saya memantau dan mengamati mereka, bahkan mereka yang berkecimpung menjadi kaki-tangan rezim militer Orde Baru, serta bagaimana nasib akhir kematiannya (seperti pada novel Jenderal Tua dan Kucing Belang).

Ada beberapa seniman dan intelektual yang nampaknya getol mengkritisi karya-karya saya. Terserah bagi mereka, tapi maaf saya tak begitu menyukai kritik sastra, meskipun sebagian dari tulisan mereka tetap saya baca dengan cermat, baik di harian Kompas, Republika, Solopos, Riau Pos, Kabar Madura, Radar NTT, Jurnal Toddoppuli nusantaranews.co, ruangsastra.com, alif.idrepublika.id, kompas.iddan lain-lain. Saya hanya membiarkan setiap paragraf menjadi barisan kalimat dan kata yang saya sukai, melalui pesan dari pikiran menuju tubuh saya. Saya ingin menyatakan, bahwa setiap karya sastra memang membutuhkan kritik, kalau perlu caci-maki sekalipun. Tapi, saya berpendapat bahwa karya sastra bukan sekadar untuk dibahas, dibedah atau dibesar-besarkan, dan saya sekali lagi, tak punya kapasitas untuk menjadi kritikus sastra.

Sewaktu mahasiswa di Jakarta, kadang saya bolak-balik menuju Yogyakarta, menumpang kereta dan berhenti di Stasiun Tugu. Memang banyak penulis dan sastrawan di sana, tetapi hanya beberapa saja yang saya jumpai, khususnya Romo Mangunwijaya yang paling sering. Kadang saya menginap dan tidur di sebuah masjid, setelah membeli kaset dan buku-buku murah di sekitar Malioboro. Banyak buku sastra dari para peraih nobel yang masih berbahasa Inggris, dan dijual dengan harga miring, tetapi saya masih membutuhkan terjemahannya, karena saya kurang terampil berbahasa Inggris.

Pada prinsipnya, saya belajar banyak dari buku-buku, terutama sejarah dan karya-karya sastra. Kadang saya temukan buku-buku sastra yang hanya menawarkan kesimpulan kepada pembacanya. Seakan penulisnya sendiri membiarkan endingnya menggantung. Maka, saya pun tergugah untuk membumbui ending yang cenderung religius, serta mengandung pesan-pesan harmoni dan keselarasan.

Di pagi hari, kadang saya menulis hingga lima jam di depan laptop. Kadang satu cerpen berhasil saya tamatkan dalam satu atau dua hari. Di waktu pagi, dalam udara sejuk, ide-ide segar mengalir sedemikian lancarnya, seperti ada pesan dari langit yang perlu disampaikan ke muka bumi. Kalau saya menulis untuk sebuah novel, saya bangun sekitar jam empat pagi. Ketika saya membuat karakter dalam cerpen atau novel, saya membiarkan orang-orang banyak bicara di sekitar saya, termasuk istri, anak-anak, maupun tetangga saya. Saya lebih suka mendengar daripada banyak bicara. Saya hanya mencoba untuk berpikir tentang apa yang mereka rasakan.

Mungkin banyak seniman dan sastrawan saat ini berdalih mengalami block writer, hingga tiap hari duduk-duduk di kursi dihantui halaman-halaman kosong, tanpa menggarap apa-apa. Ingin saya tegaskan, memang dibutuhkan “keselesaian” untuk menggarap sesuatu yang bermakna, hingga apa yang kita suguhkan menjadi total dan tidak setengah-setengah. Ketika Anda sudah tuntas berpikir, dan hasil pemikiran itu dirasa indah dan bermanfaat bagi umat, maka lekaslah taruh pantat Anda di atas kursi, lalu segeralah menulis.

Prinsip saya, kalau tulisan itu kurang bermanfaat dan malah menimbulkan pembaca merasa depresi, tertekan secara mental, bahkan bunuh diri, lalu Anda tuliskan juga, maka Anda barangkali menuliskan keindahan literasi, tapi Anda adalah orang yang dungu dan tolol. Meskipun Anda punya stamina menulis sekelas atlet dunia. Meskipun Anda berkeras-hati hingga jutaan kata berhamburan di kepalamu. Meskipun Anda tergolong pejuang pantang menyerah, hingga puluhan buku telah terbit dari pikiran Anda. Bahkan, Anda telah memboyong seabrek penghargaan dari pemerintah model Orde Baru.

Untuk apa menulis, jika Anda kemudian tertawa dengan penderitaan dan keputus-asaan pembaca, walaupun mereka memuja-muji karya Anda. Itu prinsip religiositas saya, dan Anda boleh memilih sepakat atau tidak sepakat. Meskipun, kesepakatan dalam hal-hal baik, akan melahirkan efek yang baik pula bagi diri Anda, dan bagi peradaban umat.

Ketika saya mengajar sastra di pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, saya lebih banyak memberi kesempatan pelajar untuk bicara dan berdialog. Saya mengamati dan memantau gerak-gerik mereka, kualitas kecerdasan mereka, hingga lelucon-lelucon yang mereka buat bersama teman-temannya.

Ada beberapa seniman muda berpendapat, untuk memahami Pikiran Orang Indonesia, katanya dibutuhkan IQ di atas rata-rata 100. Saya kira pendapat itu berlebihan. Mereka bilang, orang Kediri lebih cakap menyimak novel-novel saya lantaran IQ mereka di atas rata-rata IQ seluruh suku dan daerah di Indonesia. Saya tidak tahu apakah pendapat itu benar atau keliru, karena saya belum pernah mengadakan riset dan penelitiannya tentangnya. Memang, yang saya ketahui dari rata-rata IQ orang Indonesia hanya 78,4. Itu berdasarkan penelitian pakar neurosains, Roslan Yusni Hasan, seorang cucu ulama besar NU, Wahab Chasbullah yang selama puluhan tahun tinggal di Tokyo, Jepang.

Untuk itu, saya bisa memahami jika banyak orang Indonesia yang masih sibuk cawe-cawe dalam urusan politik dan kerumunan kebudayaan, karena standar IQ di bawah 100 nampaknya sulit untuk memahami dan menyimak karya sastra berkualitas, apalagi hanya 78,4. “Orang di bawah IQ seratus itu sulit sekali diajak berpikir rasional dan ilmiah,” tegas Yusni Hasan. Fenomena ini perlu dipahami oleh para seniman, jurnalis, intelektual dan sastrawan kita, yang sibuk mengabdi untuk proses pendewasaan manusia Indonesia.

Kita harus terus berjuang dengan penuh kesabaran, dan kita harus tetap konsisten menolak keburukan dan kezaliman. Setidaknya, kita tidak menghendaki adanya penulis maupun sastrawan ikut-serta berbaris dengan kebanyakan elit politik, yang terus berambisi menjadikan rakyat bodoh dan takut menjadi komoditas politik bagi kalanggengan kekuasaan mereka.

Pesan sentral yang ingin saya kemukakan, terkait dengan dakwah kesusastraan, pernah saya kemukakan melalui tokoh utama novel saya (Pikiran Orang Indonesia). Pesan ini tak bosan-bosan saya sampaikan melalui esai-esai di media cetak maupun daring, bahwa kekuasaan modern dari zaman ke zaman, selalu saja mengulang sejarah kegagalan mereka, karena hawa nafsu cenderung mengajak manusia bertindak agresif untuk memulai sesuatu dengan penipuan dan keculasan.

Padahal, kekuasaan manapun yang diawali dengan kecurangan, kelak akan membawanya dalam pertentangan yang tak berkesudahan. Hal itu identik dengan penolakan penguasa akan nilai-nilai kebaikan yang kelak akan menyeretnya untuk dimintai pertanggungjawaban di meja mahkamah sejarah. []

Penulis adalah Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.