Oleh: Alim Witjaksono
Di masa Perang Uhud (625 Masehi), orang sakti itu bertindak sebagai panglima kavaleri yang meluluh-lantakkan pasukan muslim bersama pasukan pemanahnya. Ia begitu sigap melihat celah kelengahan musuh, untuk memutar balik pasukan berkudanya, lalu menyerang dari balik bukit, hingga pasukan Nabi Muhammad menjadi kocar-kacir.
Serangan balik yang dikomandoinya, membuat pasukan muslim terkepung dari dua arah, mengakibatkan kerugian besar yang menimbulkan pasukan yang dipimpin Abdullah bin Ubay menjadi kewalahan, karena tergiur oleh harta rampasan perang.
Lelaki tangguh itu pernah menjalani ratusan kali pertempuran, bahkan tak pernah kalah dalam menghadapi kekuatan Byzantium. Umar bin Khattab pernah curiga perihal apa yang berada di balik topi perangnya, karena ia kerapkali menggosok-gosoknya, bahkan sesekali menggunakan alkohol (khamr). Pedang yang dimilikinya kemudian dinamakan “Saifullah”, dan ia dikenal sebagai ahli strategi militer, baik di masa Jahiliyah maupun pasca kenabian Muhammad.
Suatu kali, orang senewen ini singgah di suatu perkampungan Persia, yang dihuni oleh banyak penduduk Yahudi. Ia pernah dibisiki sahabatnya agar berhati-hati memasuki kampung itu, karena dikhawatirkan adanya persekongkolan untuk meracuni dirinya. Dan benar saja, suatu kali ia meminum suguhan air dan menenggaknya. Kemudian, orang-orang terheran-heran, karena beberapa saat kemudian ia terlihat segar-bugar dan beraktivitas seperti sedia kala.
Seseorang membisiki temannya, “Monster model apa itu? Bahkan ketika saya berikan beberapa tetes saja, sepuluh unta mati bergelimpangan akibat racun itu.” Konon, lelaki misterius ini juga pernah mendoakan minuman keras (khamr) agar menjadi madu, namun kemudian ketika orang-orang meminumnya, kontan minuman itu berubah rasanya menjadi madu.
Jenderal senewen ini pernah dipecat sebagai komandan kavaleri, karena menikahi wanita cantik, istri kepala suku yang pernah dikalahkannya di medan perang. Oleh Khalifah Umar, lelaki itu pernah dipindahkan dari wilayah Irak ke Suriah. Jabatannya diturunkan dari panglima militer menjadi komandan batalion. Umar memutuskan agar Abu Ubaidah menduduki posisi kemiliterannya, hingga ia kewalahan setelah menerima surat keputusan itu. Tetapi, bagaimana pun, ia harus taat pada perintah atasannya, dan seketika menggeser jenderal senewen itu.
Spekulasi dan desas-desus berseliweran, mengapa Umar berani memutuskan keputusan yang vital itu. Lelaki itu dituduh “korupsi” karena memberikan hadiah secara berlebihan kepada sahabatnya. Umar menuduhnya meskipun belum punya bukti yang akurat perihal tuduhannya itu. Ia paham betul tentang kejeniusan jenderal ini, dan Umar paham perihal jasa-jasa kepahlawanannya yang luar biasa. Bahkan, pembebasan Irak dan Syam dari pendudukan Romawi, jenderal ini pula yang paling berperan aktif.
Di hadapan Umar, ia pernah membela diri, bahwa hadiah yang diberikan untuk Asy’as bin Qais sebesar sepuluh ribu dirham, dinilai lumrah dan wajar saja. Karena, uang itu dari hasil perjuangannya sendiri, lagi pula Asy’as itu seorang “amir” yang memimpin rakyat banyak di Kindah, dan sangat berjasa membantunya saat pembebasan Irak. Baginya, apa arti uang sepuluh ribu dirham, ketimbang perjuangan Asy’as yang luar biasa mati-matian membela ribuan rakyat yang kemudian memeluk Islam.
Kekesalan Umar terhadap jenderal satu ini, kurang didukung Abu Bakar as-Shiddiq. Bagi Abu Bakar, keangkuhan lelaki ini ada alasannya, dan ia menilainya sebagai pahlawan yang memiliki ciri khas tersendiri. Dialah jenderal perkasa yang dengan keahliannya bertempur, telah menundukkan kabilah-kabilah bahkan kerajaan-kerajaan besar dari Romawi hingga Persia. Tetapi, apakah ia pernah berencana untuk melawan dan menjatuhkan Khalifah Umar? Sama sekali tidak. Bahkan, ia pun tak pernah tergiur untuk memberontak pada pemerintahan yang sah, serta menghargai hak-hak kepemimpinan Umar bin Khattab?
Lelaki pemabuk yang senewen ini, baru memeluk Islam pada tahun ke-8 Hijriah (sekitar 629 M), setelah Perjanjian Hudaibiyah. Didorong oleh hidayah dan surat ajakan dari saudaranya, ia pergi ke Madinah bersama Amr bin Ash untuk turut-serta menemui Rasulullah. Hidayah datang kepadanya karena terpesona oleh akhlak dan kejujuran para sahabat dan pengikut Muhammad.
Segera setelah masuk Islam, ia langsung ditugaskan Rasul untuk memimpin Perang Mu’tah, Fathu Makkah, Hunain, dan pengepungan Thaif, serta menggunakan strategi cerdas yang membuat pasukan musuh gentar. Ia pun diangkat sebagai sekretaris Nabi, karena terampil pula dalam soal literasi dan tulis-menulis.
Dalam Kitab Al-Maghzi karya Al-Waqidi, dinyatakan bahwa ahli strategi perang ini akhirnya mengakui: “Saya pernah menjalani berkali-kali pertempuran, yang semuanya melawan pasukan Muhammad. Tetapi, seusai perang, kenapa saya selalu dihantui rasa bersalah, bahwa dalam pertempuran itu justru pihak lawan yang saya anggap sebagai pihak yang benar?”Sampai akhirnya, pada masa gencatan senjata setelah Perjanjian Hudaibiyah, jenderal ini menghampiri Rasulullah hingga memohon doa agar dimaafkan segala kesalahannya.
Seketika itu, Rasulullah mengangkat tangannya untuk memimpin doa: “Ya Allah, aku memohon agar Engkau mengampuni laki-laki ini, serta segala tindakannya yang pernah memusuhi agama-Mu.”
Ketika memimpin Perang Yarmuk, jenderal perlente ini pernah kehilangan topi perangnya karena terhantam pedang musuh. Ia segera menepi dari medan pertempuran, hanya untuk menyelamatkan topinya. Ketika topi perang itu terpental dan terjatuh dari satu kaki ke ratusan kaki para musuh, ia berusaha mengejar topi itu hingga dihujani pukulan-pukulan pedang di sekitar tubuhnya. Sekali lagi ia segera menepi untuk menyelamatkan diri. Darah segar mengucur di sekujur tubuhnya. Ia berteriak memanggil anak buahnya agar segera menyelamatkan topi itu.
“Ayo, selamatkan topiku itu, ia sangat berharga!” teriaknya keras.
“Untuk apa? Topi itu tidak ada harganya! Kenapa kau mencelakakan dirimu hanya untuk mengambil topi itu?”
Tapi, apa pun yang terjadi, jenderal satu ini sangat mempercayai keberkahan dari apa pun yang ditinggalkan Rasulullah. Sedangkan, Rasulullah sendiri pernah berwasiat, bahwa ia tidak mewariskan apa pun yang lebih berharga, kecuali Al-Quran dan As-Sunnah.
Tetapi, tampaknya jenderal ini meyakini bahwa Rasulullah al-Musthafa adalah sumber keberkahan dari seluruh ciptaan Tuhan di alam semesta ini. Apa pun yang terkait dari segala sesuatu yang beliau tinggalkan, bahkan beliau sentuh, ia mengandung berkah dari segala keberkahan.
Karena itu, sekali lagi jenderal itu berteriak lantang memerintahkan anak buahnya, “Ayo segera selamatkan topi perang itu, jangan sampai hilang!”
“Untuk apa menyelamatakan topi perang? Yang penting kau harus selamat!!”
Ketika pertempuran usai, dan beberapa sahabat mendekat dan menanyakan perihal topi itu, lelaki senewen ini menjawab: “Di dalam topi perang itu, aku menyelipkan beberapa helai rambut Rasulullah, karena itu aku berusaha keras untuk menyelamatkannya.”
Jadi, siapakah lelaki dan orang sakti itu? Ya, siapakah jenderal perkasa yang tangguh itu? Kini, tidak layak bagi kita untuk menyebutnya “jenderal senewen”, karena Khalid bin Walid ini adalah pahlawan pemberani yang hebat dan tiada tandingannya. Ya, Khalid bin Walid… itulah dia orangnya! Semoga Allah senantiasa merahmati dan meridhoi jalan hidupnya. (*)
Penulis adalah Pengamat sosial politik Indonesia, juga menulis prosa dan esai di berbagai media cetak dan online








