Nomophobia: Epidemi Sunyi di Era Digital

oleh -1245 Dilihat
banner 468x60

Oleh : Yoris Pantrang

Pernahkah kita merasa panik ketika ponsel ketinggalan di rumah atau gelisah saat sinyal hilang beberapa menit? Situasi demikian merupakan ciri dari seseorang yang sudah terjangkit dalam penyakit psikologis yaitu Nomophobia. Situasi ini tentunya telah menjadi fenomena yang tidak asing lagi di era ini, sebab aktivitas manusia telah didominasi oleh klik pada layar dan ketergantungan pada telepon genggam. Hampir sebagian besar kegiatan dan aktivitas manusia terjadi pada layar handphone. Layar telepon genggam menjadi ladang manusia untuk berkerja.

Dari satu sisi hal ini sangat baik karena pekerjaan manusia semakin dipermudah dan aksesnya tidak membutuhkan ruang dan waktu yang begitu luas dan banyak, tetapi di sisi lain ketergantungan terhadap alat teknologi ini membawa dampak yang kurang baik bagi keadaan psikologis seseorang. Orang akan merasa cemas dan mungkin tidak bisa melakukan apa-apa tanpa telepon genggam.

Kecemasan itu muncul bukan semata-mata karena alatnya hilang, tetapi karena manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam menanggapi dan melihat realitas di sekitarnya. Ketika perhatian kita lebih tertuju pada dunia maya daripada percakapan nyata di depan mata, saat itulah kita sedang mengalami keterasingan yang baru, keterasingan dari relasi yang autentik dan kehidupan yang sesungguhnya kita jalani.

Martin Heideger seorang filsuf abad ke 20 membahasakan fenomena ini dengan Das man yang maknanya dapat dipahami sebagai ‘hidup ikut arus’, tidak memiliki keontentikan diri, atau Karl Marx yang menyebut fenomena ini dengan Alienasi atau keterasingan. Dari pernyataannya ini, Marx menyebut bahwa manusia dapat terasing dari dirinya sendiri, dari sesama dan dari realitas hidup ketika ia terjebak dalam sistem yang membuatnya kehilangan kontrol terhadap kehidupannya, yang dalam era digital ‘sistem’ itu dapat kita samakan dengan kebiasaan atau sering mengakses telepon genggam.

Nomophobia membuat seseorang merasa tidak lengkap tanpa gawai di genggamannya. Sebagaimana makna dari kata Nomophobia itu sendiri, yaitu no mobile phone phobia, yang kurang lebih dapat dipahami sebagai sebuah ketakutan atau kecemasan yang berlebihan terhadap telepon genggam. Istilah ini diciptakan oleh UK Post Office pada 2008, selama penelitian yang dilakukan oleh YouGov, organisasi penelitian yang berbasis di Inggris. Tujuan dari penelitian tersebut untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya gangguan kecemasan akibat penggunaan ponsel yang berlebihan. Studi tersebut menemukan bahwa hampir 53 persen orang Inggris yang menggunakan ponsel khawatir ketika mereka “kehilangan ponsel, kehabisan baterai atau pulsa, atau tidak memiliki jangkauan jaringan.”

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa sekitar 58 persen laki-laki dan 47 persen perempuan menderita kecemasan terhadap ponsel, dan 9 persen merasa tegang ketika ponsel mereka dimatikan. Sebanyak 55 persen peserta penelitian setuju bahwa mereka tidak dapat menjaga konektivitas dengan orang yang mereka sayangi. Hal itu jadi alasan utama fobia mereka. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa dari 547 laki-laki, 23 persen siswanya dicap sebagai nomophobia, sementara 64 persen siswa berisiko terkena nomophobia.

Dari data tersebut, saya melihat bahwa manusia merasa seolah-olah identitas dan eksistensinya hanya diakui ketika ia terhubung dengan jaringan internet. Padahal, hidup tidak bergantung pada sinyal dan jati diri tidak lahir dari notifikasi dan pesan yang terpampang di layar gawai. Ketika manusia terlalu larut dalam layar, ia tanpa sadar menarik dirinya keluar dari pengalaman berharga: tawa bersama keluarga, obrolan hangat bersama sahabat, keheningan yang menenangkan, dan kontemplasi diri yang mendalam.

Sehingga yang dekat terasa jauh dan yang jauh terasa dekat karena perhatian manusia lebih dicurahkan pada dunia maya daripada realitas yang sedang berlangsung di hadapannya. Kehadiran fisik tidak lagi menjamin kehadiran batin, sebab pikiran telah terikat pada layar kecil yang menguras perhatian dan energi. Kita hadir, tetapi sesungguhnya tidak benar-benar berada di sana. Tubuh duduk berdampingan, namun hati dan pikiran melayang entah ke mana, terseret arus informasi yang tak pernah berhenti mengalir.

Lebih jauh lagi, ketergantungan ini dapat menimbulkan dampak serius: menurunnya kemampuan berkonsentrasi, meningkatnya kecemasan sosial, terganggunya kualitas tidur, hingga hilangnya kemampuan untuk menikmati kesunyian. Dunia seakan bergerak begitu cepat, memaksa kita untuk terus mengikuti alur informasi tanpa pernah memberi ruang untuk berhenti dan bernapas. Perilaku FOMO (fear of missing out: takut kehilangan atau ketinggalan informasi) menjadi ciri khas. Orang selalu update di medsos tanpa memperhatikan kualitas dari postingannya. Intinya saya akses dan memiliki banyak pengikut dan likes.

Epidemi Sunyi di Era Digital

Nomophobia bergerak tanpa memberi kabar dan notifikasi pada manusia. Ia berjalan bagaikan pencuri di malam hari, datang dan merampas. Jika kita terlelap dalam alunan melodi digital, kita siap kehilangan. Perlahan-lahan, ia menggeroti ruang-ruang keheningan, menjarah perhatian kita dan mencuri waktu kita untuk berada bersama dengan yang lain. Kita tidak mendengar langkahnya, karena ia menyamar sebagai kebutuhan, sebagai kebiasaan dan sebagai gaya hidup yang dianggap lumrah.

Namun tanpa kita sadari, kita sedang terseret menuju keterasingan yang paling sunyi. Dunia digital yang kita puja sebagai ruang kebebasan tiba-tiba menjelma menjadi panggung tak kasat mata, mengekang waktu, perhatian, dan hati kita. Di saat inilah, manusia kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir, “hadir bagi dirinya sendiri dan bagi dunia yang menunggu untuk disentuh dengan kejujuran dan kasih”, kata Gabriel Marchel.

Nomophobia dikatakan sebagai epidemi sunyi karena cara kerjanya yang tak pernah disadari tetapi ia berdampak pada manusia. Hampir sebagian besar masyarakat digital terkena virus penyakit ini dan banyak orang yang menjadi korban. Salah satu cara untuk mengurangi dampak nomophobia yaitu setiap orang perlu membangun kesadaran dan kontrol atas penggunaan teknologi.

Kita dapat memulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menetapkan waktu untuk tidak menggunakan hand phone saat makan bersama keluarga atau sebelum tidur. Membatasi notifikasi yang tidak penting, mematikan ponsel ketika sedang beristirahat, atau membuat jadwal khusus untuk membuka media sosial, dapat menjadi awal yang baik untuk mengendalikan diri, bukan dikendalikan oleh layar.

Selain itu, membiasakan diri untuk menikmati aktivitas tanpa kehadiran ponsel, seperti: membaca buku, berolahraga, berkebun, atau berjalan menikmati alam. Aktivitas ini akan sangat membantu kita untuk tidak terlalu tergantung pada gawai. Pada akhirnya, saya kembali menegaskan bahwa teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan, bukan untuk memperbudak manusia.

Melepaskan genggaman sejenak tidak akan membuat kita kehilangan apa pun; justru di sanalah kita menemukan kembali keutuhan diri, keheningan yang menyejukkan, serta ruang untuk mengenali makna kehidupan yang lebih dalam, karena hidup yang sesungguhnya bukan berada pada layar yang terus bernyala melainkan pada kehidupan nyata yang kita jalani dengan penuh kesadaran.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.