Nian Tanah Sikka–Maumere Manise, Sebuah Bahu dengan Daya Pikul yang Kuat

oleh -238 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Romo Yudel Neno

Maumere Manise baginya; kata orang, datang dengan curiga, pulang dengan air mata. Mungkin karena Maumere tidak pernah menyambut dengan kemegahan yang gaduh, melainkan dengan kelembutan yang perlahan-lahan menaklukkan hati. Ia tidak banyak berkata-kata, tetapi dari sunyi bukit, dari jalan-jalan kecil, dari wajah umat yang sederhana, dari doa-doa yang naik pelan ke langit, Maumere mengajari setiap peziarah bahwa tanah yang manise bukan terutama tanah yang indah dilihat mata, melainkan tanah yang kuat memikul rindu, letih, luka, dan kenangan.

Nian Tanah Sikka–Maumere Manise membawa kami kembali ke masa kecil, ke bangku SD, ke dongeng-dongeng lama yang dahulu hanya hidup dalam cerita. Ternyata Maumere bukan sekadar nama yang pernah kami dengar. Ia adalah tanah yang benar-benar manise. Di sana, Gereja Tua Sikka berdiri dengan anggun, menjulang seolah mencakar langit, tetapi akarnya tetap tertanam dalam iman umat yang sederhana. Dinding-dinding tuanya menyimpan napas sejarah, doa para leluhur, dan kesetiaan yang tidak pernah lelah menjaga api Gereja tetap menyala.

Di sana ada Patung Nilo, dengan tatapan Bunda yang teduh, seolah menenangkan arus ombak dan badai batin setiap orang yang datang. Tatapan seorang Bunda selalu memiliki bahasa yang tidak dimiliki kata-kata. Ia tidak menghakimi, tidak tergesa-gesa menasihati, tetapi diam-diam memeluk. Dalam tatapan itu, mengalir sebuah daya pikul bahu yang kuat; bahu seorang Ibu yang sanggup menampung air mata anak-anaknya, bahu yang tidak roboh meski disandari oleh begitu banyak kecemasan.

Di sana ada Sanctuarium Wisung Maria Fatima, tempat jejak historis dan spiritual membahana dalam hening. Mendaki tangga-tangganya seperti memasuki sekolah salib. Setiap anak tangga mengajari bahwa iman tidak selalu ringan, tetapi selalu memiliki tujuan. Keringat yang jatuh di sana bukan sekadar tanda lelah, melainkan doa tubuh yang sedang belajar setia. Dalam pendakian itu, kita seakan merasakan daya pikul Salib yang tak kenal lelah, sebab setiap langkah yang berat selalu disertai rahmat yang diam-diam menguatkan.

Di sana ada replika Betlehem. Ia memang bukan Betlehem yang sesungguhnya, tetapi dalam kesederhanaannya, ia membuka jalan bagi hati untuk menemukan wajah Yesus. Kadang-kadang, wajah Tuhan tidak ditemukan dalam kemegahan yang jauh, tetapi dalam peluh yang dekat; dalam napas yang tersengal ketika mendaki; dalam kaki yang letih; dalam hati yang tetap ingin sampai. Di sana, Betlehem bukan hanya tempat kelahiran yang dikenang, melainkan ruang batin tempat Kristus dilahirkan kembali dalam setiap kerinduan manusia yang mencari-Nya.

Di sana ada Gereja Bloro, dengan pesona yang seolah menghadirkan kerohanian Eropa di rahim Nian Tanah Sikka–Maumere Manise. Pada arsitektur dan suasananya, kita merasakan bahwa iman selalu sanggup menyeberangi benua, bahasa, budaya, dan sejarah. Ia datang, menetap, berakar, lalu berbunga dalam wajah setempat. Gereja itu berdiri bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai tanda bahwa keindahan iman selalu menemukan rumahnya di mana cinta kepada Tuhan dipelihara.

Maumere menjadi kenangan yang terlalu indah untuk sekadar dikenang, dan terlalu sulit baginya untuk berkata tidak. Maumere adalah tentang iya. Iya kepada persaudaraan. Iya kepada perjumpaan. Iya kepada air mata yang tidak perlu disembunyikan. Iya kepada tawa yang pecah di antara lelah perjalanan. Iya kepada keyakinan bahwa kita tidak perlu sedarah untuk menjadi saudara, dan tidak perlu datang dari arah yang sama untuk berjalan dalam misi yang sama. Di Maumere, kami belajar bahwa saudara adalah mereka yang dipertemukan Allah dalam satu kisah, lalu pulang dengan kenangan yang sama.

Di sana, Allah seolah membentangkan kanvas kehendak-Nya pada setiap sudut hening biara-biara yang mendidik orang-orang setia. Ada Nita, yang telah menjadi cerita bahkan sejak kami masih berada dalam kandungan ibu; cerita tentang orang-orang yang berjuang pada masanya demi kesuburan kebun anggur Allah. Nama itu bukan hanya tempat, melainkan ingatan panjang tentang panggilan, pengabdian, dan kesetiaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sana ada Ritapiret, tempat hening pernah disentuh oleh kekudusan Santo Bapa Yohanes Paulus II. Kamar itu memantik tangis, sebab kekudusan ternyata tidak selalu jauh dan tinggi. Kadang ia begitu dekat, begitu sunyi, begitu lembut. Kekudusan yang sejati tidak berteriak agar dikagumi, tetapi tinggal dalam kesederhanaan yang membuat hati bergetar. Di hadapan jejak itu, kita sadar bahwa orang kudus bukanlah manusia yang tidak pernah letih, melainkan manusia yang membiarkan seluruh letihnya dipeluk oleh Allah.

Di sana ada Ledalero. Padanya dan darinya, lahir orang-orang yang telah membesarkan dunia dan Gereja dengan hati yang dalam serta budi yang cemerlang menjulang mencakar langit. Ledalero bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat di mana pikiran diasah, nurani dimurnikan, dan iman diajak berdialog dengan dunia. Dari sana, banyak orang bertolak membawa terang, bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menyalakan harapan di medan-medan kehidupan yang membutuhkan pelayan berhati lapang.

Di sana ada gelora Samador yang menggelora menembusi malam, bahkan sampai melewati jam dua belas. Ia memecah sunyi Nian Tanah, bukan sebagai keributan yang kosong, melainkan sebagai denyut kehidupan yang menarik banyak orang ke pusarannya. Dalam gelora itu, sejarah seakan hidup kembali, sebab Santo Bapa Yohanes Paulus II pernah menapakkan kakinya di tanah pertiwi ini. Jejak itu membuat Maumere tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi, tetapi tanah yang diberkati oleh ingatan iman.

Maka inilah kisah tentang Nian Tanah Sikka – Maumere Manise dalam ziarah Orang Muda Katolik Nusra Youth Day III. Lima hari yang terasa sakti seperti lima sila Pancasila: menyatukan, meneguhkan, mempersaudarakan, mengajarkan, dan mengutus. Dalam lima hari itu, kami datang sebagai peserta, tetapi pulang sebagai saudara. Kami datang membawa banyak cerita dari tanah masing-masing, tetapi pulang membawa satu kenangan yang sama: bahwa Maumere adalah bahu yang kuat, tanah yang manise, rumah yang memeluk, dan rahim persaudaraan yang akan terus hidup dalam ingatan.

Nian Tanah Sikka–Maumere Manise, terima kasih untuk cinta yang tidak banyak bicara tetapi terasa dalam. Terima kasih untuk bahu yang kuat memikul langkah-langkah muda kami. Terima kasih untuk air mata yang jatuh bukan karena sedih semata, tetapi karena hati akhirnya mengerti: ada tanah yang cukup sekali dikunjungi, tetapi seumur hidup tinggal di dalam dada.

Penulis adalah Imam Pendamping NYD Keuskupan Atambua

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.