Muhasabah Seorang Pemimpin

oleh -1484 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfakir Ahmad Rafiuddin

Dalam buku saya, “Marwah Pesantren” (2024) dijelaskan bahwa esensi kepemimpinan bukanlah tentang mengejar kekuasaan dan kemewahan, melainkan tentang pelayanan kepada masyarakat dan penciptaan kebaikan bersama. Untuk itu, para bapak bangsa sering menyebut “bagi segenap rakyat” yang identik dengan keseluruhan rakyat. Sementara, kata “rakyat” diambil dari bahasa Arab (ra’iyyah) yang berarti masyarakat secara integral dan menyeluruh.

Pemimpin di era hiper modern ini dituntut agar mampu mengelola waktu secara bijak, karena sang waktu adalah aset paling berharga dalam hidup manusia. Dengan demikian, kehidupan ini memang terasa singkat jika manusia berleha-leha serta menyia-nyiakannya. Untuk seorang Prabowo selaku presiden RI, manajemen waktu adalah kunci untuk mencapai produktivitas dan menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi.

Dengan mengalokasikan waktu untuk refleksi, perencanaan, dan evaluasi, pemimpin dapat membuat keputusan yang lebih strategis, hingga dapat mengurangi penyesalan di kemudian hari. Selain itu, seorang pemimpin juga harus pandai mengendalikan emosi dan tidak membiarkan tekanan luar menguasai dirinya. Seringkali reaksi emosional yang berlebihan dapat mengaburkan penilaian. Karena itu, pemimpin harus belajar untuk tetap tenang dan rasional, sebagaimana dicontohkan melalui teladan bapak bangsa, baik Sjahrir, Hatta, Agus Salim hingga Syekh Hasyim Asy’ari.

Fokus seorang pemimpin, meskipun keluarga besar Prabowo identik dari kasta waisya (saudagar), namun mereka tidak serta-merta bertumpu untuk mengejar keuntungan, tetapi harus memprioritaskan nilai-nilai moral dan etika. Nabi Muhammad dan Nabi Isa senantiasa menekankan pentingnya hidup bersahaja serta bersyukur atas apa yang dimiliki. Dalam konteks kepemimpinan, hal ini bukan berarti suatu keberhasilan hanya diukur dari pencapaian finansial, tetapi juga dari kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan integritas pribadi. Bagaimana pun, setiap ajaran kebajikan dari para santo, filosof maupun kaum sufi, mereka sepakat bahwa pemimpin yang menerapkan nilai-nilai kebajikan dalam pengambilan keputusan, cenderung memiliki tim yang lebih harmonis dan produktif.

Takut gagal

Kegagalan adalah bagian dari proses belajar dan tumbuh. Pemimpin yang efektif tidak akan panik, karena ia akan melihat setiap kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Di era milenial yang serba cepat ini, keberanian untuk mengambil risiko dan belajar dari kesalahan adalah aset penting. Bagaimana pun, kemampuan untuk mengubah perspektif setelah kegagalan, akan dapat meningkatkan resilien dan kreativitas.

Selain itu, sangat penting bagi Prabowo dan para pembantunya agar dapat melayani rakyat dengan hati nurani. Pemakaian frase “ndasmu” cenderung bermakna pengabaian terhadap perubahan, serta kekeh dengan kemauannya sendiri. Sedangkan, pemimpin yang baik harus memiliki empati dan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang di sekitarnya. Di dunia bisnis kita pun mengenal “servant leadership” yang bermakna serupa dengan istilah Arab “khadimul ummah”, yakni kepemimpinan yang sanggup melayani rakyatnya.

Pemimpin seperti itu, niscaya terampil mengadakan refleksi dan evaluasi diri secara berkala. Ia akan sanggup meluangkan waktu untuk merenungkan keputusan yang telah diambil, baik yang berhasil maupun yang tidak. Refleksi ini membantu mengidentifikasi area yang perlu perbaikan, serta memastikan bahwa nilai-nilai kebajikan tetap menjadi prioritasnya.

Dengan demikian, manajemen waktu secara efektif adalah hal yang patut diperhatikan. Ia akan mengalokasikan waktu secara terstruktur, perihal apa yang sampingan, penting, bahkan yang terpenting harus segera dilakukan. Dengan begitu, ia akan menghindari distraksi yang tidak produktif.

Patut juga dicermati, bahwa Prabowo selaku presiden harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kolaborasi, kreativitas, dan keterbukaan. Ia harus mengedepankan nilai-nilai seperti kejujuran, empati, dan rasa saling menghargai, serta tidak cukup hanya sekadar meningkatkan kinerja organisasi, tetapi juga menciptakan dampak positifnya di tengah masyarakat. Jika pun teknologi penting untuk dimanfaatkan, namun ia harus lebih mengutamakan bentuk teknologi yang meningkatkan produktivitas.

Era milenial

Jika menelaah hasil survei Pew Research Center (2023), kita bisa melihat bahwa pemimpin di era milenial ini, seringkali menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Tekanan untuk selalu terhubung secara digital, ditambah dengan kebutuhan untuk cepat beradaptasi dengan perubahan, membuat kemampuan pengendalian diri dan manajemen waktu menjadi sangat krusial.

Kita mengenal para CEO Startup di Silicon Valley yang sepakat untuk mengadopsi metode meditasi dan refleksi harian sebagai bagian dari rutinitas kerja. Pendekatan ini tidak hanya membantu mereka mengelola stres, tetapi juga meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam organisasi mereka. Untuk itu, konsep kebijaksanaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak kekuasaan atau kekayaan yang dimiliki, melainkan dari kemampuan untuk mengendalikan diri, memprioritaskan nilai-nilai moral, dan melayani dengan hati nurani.

Tak bisa dimungkiri, bahwa Prabowo dan para pembantunya sedang tampil dalam kepemimpinan di era hiper modern, di tengah distraksi digital dan tekanan global semakin meningkat. Pelajaran-pelajaran tentang kebajikan dari para pemimpin terdahulu, harus menjadi inspirasi untuk menciptakan perubahan positif yang berdampak luas, baik di dalam lingkungan eksekutif, yudikatif, hingga pengaruh signifikan di kalangan pers dan media.

Dalam dunia yang serba cepat dan sarat distraksi digital, kepemimpinan tidak lagi semata-mata soal pengambilan keputusan yang cepat atau pencapaian target semata. Ia tidak cukup hanya punya kemampuan mengelola tim dan memenuhi target, tetapi juga harus mampu menjaga keseimbangan emosional, mempertahankan nilai-nilai integritas, dan menginspirasi orang lain melalui contoh dan teladan yang baik.

Pada prinsipnya, keberhasilan dan kualitas kebahagiaan seorang pemimpin juga bukan bergantung pada kondisi eksternal, melainkan pada bagaimana ia sanggup memenej dan mengelola dirinya sendiri. Petuah ini sangat relevan agar pemimpin senantiasa bersikap sabar, tenang, dan tetap rasional di tengah situasi yang kadang tidak menentu. ***

Penulis Pengasuh pondok pesantren Nurul Falah (Tebuireng 09) di Rangkasbitung, Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.