Oleh: Muakhor Zakaria
Merinding saya membaca tulisan K.H. Chudori Sukra di kompas.id mengenai “Sastra, Takhayul, dan Kebuntuan Ideologis” (20 Maret 2022). Terutama ketika ia menganalogikan Jin Ifrit sebagai Iblis Mefisto dalam karya sastra Jerman (Wolfgang Goethe). Di era milenial ini, tokoh Mefisto yang mendalangi ilmuwan bernama Faust, sering diparalelkan dengan sosok “Dajjal” dalam terminologi Islam. Di sisi lain, bagi sebagian generasi muda yang terimbas oleh demam imperialisme, sosok Faust laiknya seorang eksplorator yang obsesif dan ambisius.
Mengingat kemampuan intelektual yang terbatas, Doktor Faust mulai menimba ilmu pada sang raja Iblis agar menguasai rahasia ilmu-ilmu gaib. Sang doktor akhirnya sanggup melahirkan penemuan-penemuan mutakhir, serta mampu membaca rumus-rumus misterius yang semula mustahil ditangkap oleh kemampuan otak manusia. Pada gilirannya, ia tampil ke publik sebagai salah satu ilmuwan terkenal dan terkaya di dunia.
Doktor Faust berhasil menjadi cermin dan teladan dari simbol manusia-manusia ekplorator, yang sekaligus simbol keberhasilan manusia Barat dan Timur yang keranjingan pada estetika popularitas, prestise, sebagai impian dan dambaan masyarakat imperialis di era hipermodern ini.
“Bertobatlah, Faust, bertobatlah! Tuhan masih bisa memberi ampun, asal saja kau segera menjauh dari Mefisto…!”
Demikian akhir dari kisah Doktor Faust. Dalam drama-drama rakyat yang ditampilkan di gereja-gereja kristiani (Eropa), perintah agar bertobat itu sering dilontarkan para penonton yang menyaksikan adegan langsung dalam teater kerakyatan tersebut. Di era reformasi Protestan, Dokter Faust tetap bersikeras pada nafsu eksplorasi yang bersifat duniawi (materialistik), hingga berhasillah Raja Iblis merenggut nyawa sang ilmuwan dalam ending kisahnya.
Namun, dalam drama di zaman rasionalisme dan auklaerung (pencerahan), sang ilmuwan mengalami pertobatan di masa senjanya. Ia mendapat pertolongan dari kekuatan surga, hingga akhirnya Sang Raja Kegelapan lari tunggang-langgang menuju neraka dengan penuh penyesalan, sambil menggerot-gerotkan gigi tajamnya.
Sastrawan dan filosof wanita asal Prancis, Simone Weil menanggapi pertobatan Faust sebagai keterbatasan atas kemampuan ilmu manusia yang hanya setetes air di lautan samudera yang maha luas. “Bukan kita yang mampu menemukan Tuhan,” demikian ujar Simone Weil, “sebab, mana mungkin manusia sanggup menjangkau alam semesta yang maha luas ini. Akan tetapi, berkat cinta dan kasih-Nya, Tuhan sendirilah yang pada akhirnya merangkul dan menemukan diri kita.”
Gambaran Doktor Faust meniscayakan fitrah manusia yang senantiasa menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Dengan sendirinya, kita bisa merasakan senang ketika yang baik menang dan yang jahat kalah. Kisah yang universal ini, bukan semata-mata adegan ringan yang menampilkan tokoh heroik yang bersifat hitam-putih belaka. Ia bukanlah karya picisan yang hanya gemar menampilkan sosok jagoan dan penjahatnya, protagonis melawan antagonis, juga bukan sejenis karya genit yang gemar menampilkan kehidupan glamor di era milenial ini.
Dalam suatu pertemuan kebudayaan di kalangan mahasiswa sastra, pelajar dan santri di pesantren Al-Bayan, Hafis Azhari penulis novel Pikiran Orang Indonesia menyatakan, bahwa melalui karya-karya sastranya, ia ingin membongkar memori kolektif bangsa, tak terkecuali para seniman dan sastrawannya sekalipun. “Sebagai penulis dan sastrawan, kita jangan mau ditakut-takuti, karena takut itu memasung imajinasi, dan takut itu frekuensinya Iblis. Penguasa yang zalim di masa Orde Baru, lebih menyuburkan ketakutan massa, ketimbang menentramkan rakyatnya,” demikian tegas Hafis Azhari dalam kompas.id, 14 November 2021 (baca: Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra).
Hafis menandaskan pentingnya babak baru kesastraan kita, dengan tidak melulu bertumpu pada Eropasentris atau Amerikasentris, namun harus terampil menelusuri identitas baru keindonesiaan kita. Terkait dengan itu, Pearl S. Buck (The Good Earth) telah memperingatkan para intelektual dan sastrawan Asia, yang menjadi bagian dari kegenitan watak dan perilaku masyarakat Eropa: “Mengapa para penulis Asia begitu mudah menganut paham yang didakwahkan oleh para pemikir dan filosof Eropa. Padahal, tidak sedikit dari orang-orang seperti kami, para penulis Eropa yang merasakan keterpurukan manusia-manusia Faust sebagai pahlawan dan ksatria menyedihkan, dengan hati dan jiwa-jiwa muram dan gersang.”
Untuk itu, kita memerlukan standar kita sendiri. Standar sastra manusia Indonesia, dengan beragam corak nilai-nilai aliran dan mazhab, termasuk perihal ortodoksi, konservatifisme, yang sulit menerima kemodernan. Atau bahkan sebaliknya, justru menerima mentah-mentah peradaban modern tanpa sikap kritis. Sehingga, mengandung konsekuensi terjerat ke dalam jaring absurditas manusia Faust dan Promotheus.
“Sungguh nikmat sekali melihat reruntuhan gedung-gedung bangunan, tetapi ada satu hal yang lebih nikmat dari semuanya itu, yakni menyaksikan reruntuhan jiwa-jiwa manusia.” Demikian pernyataan Franz Kafka, sastrawan kelahiran Cekoslowakia, yang bersentuhan langsung dengan negeri-negeri Jerman, Polandia, hingga Ukrania.
Kisah Doktor Faust dengan Iblis Mefisto, semestinya mudah dicermati para sastrawan dan intelektual Indonesia. Kesuksesan Doktor Faust tak ubahnya dengan kebuntuan ideologis yang dialami Oppenheimer saat berhasil menemukan bom atom, serta menguji-cobakannya di Hiroshima dan Nagasaki. Dalam film “Oppenheimer” (sutradara Christopher Nolan) tergambar jelas biografi perjalanan hidupnya yang diselubungi kebingungan dan kebuntuan ideologis. Ia merasa serba salah, rigid, dan terus-menerus dihantui oleh kekhilafannya sendiri. Demikian pula yang dialami Doktor Faust, meskipun banyak dikuasainya, namun si penjual jiwa itu hidup nelangsa dan merana lantaran diselubungi kesibukan dan keruwetan yang tak mampu ia tanggulangi.
“Kekuatan otak manusia sudah sampai ke sana,” ujar Albert Einstein, “tapi berhati-hatilah, karena apa-apa yang dicapai oleh kekuatan otak, tak boleh dilakukan sekehendak hatinya.”
Ungkapan religius itu semestinya dipahami oleh kebanyakan sastrawan dan budayawan kita. Jangan keluar dari nilai-nilai universalitas, karena seringkali kaum intelektual dan seniman gagal paham melulu. Tidak jarang, kisah spiritual itu justru banyak diterjemahkan ke urusan mistik dan takhayul yang kehilangan ruh dan esensinya. Misalnya, cerita-cerita dangkal dalam karya sineas yang menisbatkan sosok hantu Gonderuwo, Kuntilanak, Thuyul, Buto Ijo, Dedemit, Suster Ngesot dan seterusnya.
Kultus-kultus di luar nalar dan akal sehat itu, sama sekali tak mencerminkan kecerdasan dan kedewasaan masyarakat kita. Karuan saja banyak karya-karya sastra dan film yang justru bangga mendewakan hal-hal sakral, ruh leluhur, mantra-mantra sakti, hingga ramalan-ramalan dukun yang dianggap keramat, digdaya, dan penuh kharisma.
“Sebagian masyarakat kita tak mampu membedakan karakteristik seorang religius dengan orang yang percaya takhayul. Dalam pengalaman spiritual yang bersifat religius, kadang juga ditemukan keadaan yang di luar nalar dan akal sehat (khariqun lil adah), namun setelah manusia berikhtiar keras untuk mencapai kebenaran hakiki, hingga kemudian menyadari bahwa kebenaran mutlak itu berada di tangan-Nya,” tegas Hafis Azhari.
Lebih lanjut, penulis kelahiran Banten itu menambahkan, bahwa kepasrahan diri pada takhayul dan khurafat, seringkali dialami oleh jiwa-jiwa yang dangkal, gersang dan frustasi. Tetapi, penghambaan pada Yang Absolut hingga mencapai maqam makrifat, dicapai oleh pencarian dan ikhtiar yang produktif, hingga sampai pada derajat spiritual yang dapat menentramkan dan membahagiakan batin manusia. ***
Penulis adalah Dosen di perguruan tinggi La Tansa, pedalaman Banten Selatan, menulis esai dan cerpen di berbagai media nasional, luring dan daring.







