Menyoal Kreasi dan Karya Berkualitas 

oleh -1307 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Saat ini, kesibukan manusia diidentikkan dengan status sosial dan pencapaian angka-angka digital. Sementara itu, banyak orang tak tersadarkan akan pentingnya nilai, waktu, emosi hingga pilihan bakat dan profesinya. Padahal, justru dalam kesadaran itulah letak kemerdekaan jiwa dan kebebasan yang sejati.

Kita mengenal konsep mindful awareness, yang bila diindonesiakan nampaknya belum popular, yakni kesadaran aktif terhadap apa yang dipikirkan, dirasakan, bahkan yang dilakukan dalam tindakan nyata. Banyak orang yang tak sadar dampak negatif dari kesibukan menumpuk dan menimbun segala sesuatu, padahal yang menyelamatkan dan mendamaikan batin justru memilih sesuatu yang sedikit, simpel dan esensial.

Orang yang memiliki kesadaran aktif, tak mau hidup sebagai autopilot, yang sibuk mengejar sesuatu, hanya karena ikut-ikutan banyak orang yang sedang berkejaran. Tetapi, ia tahu kapan saatnya mengerem atau berhenti (cukup). Kalaupun menjadi seorang penulis atau sastrawan, orang yang memiliki kesadaran aktif takkan mau menjadi penulis pasif, atau bebas berekspresi hanya untuk kepentingan dirinya, melainkan ia akan aktif menggerakkan dan mengubah peradaban dengan karya-karya tulisnya.

Penulis yang asal-asalan menulis untuk kepuasan dirinya, boleh saja dikatakan pemikir namun ia hanyalah pemikir yang pasif. Akhir-akhir, tidak jarang kita temukan penulis dan sastrawan yang menyarungkan penanya, berhenti di tengah jalan, padahal sebelumnya ia dikenal sebagai penulis produktif bahkan obsesif. Namun, di hari-hari senjanya, ia sampai pada kesadaran, bahwa kehidupan bermakna bagi seorang sastrawan tenyata bukan pada seberapa banyak tulisan dan buku dicetak, tetapi adakah karya-karyanya yang tetap valid dan bermakna bagi perubahan peradaban milenial saat ini?

Mereka akan menyadari bahwa yang terpenting adalah kualitas karya tulis yang diperjuangkan dengan penuh dedikasi, daripada menghamburkan banyak hal yang hanya mencuri waktu dan energinya semata. Padahal, seorang penulis yang baik, sejatinya paham batasan garis akhir, bukan seperti orang yang bersaing dan berlomba tanpa mengenal garis finish. Jika seorang penulis sanggup memilih tema yang esensial, dia takkan mau direpotkan oleh segala sesuatu yang layak untuk diabaikan. Dengan sendirinya, ia pun akan legawa dan rendah hati dalam menerima kritikan, juga tak jumawa dan angkuh dalam menerima pujian dan sanjungan.

Jika seorang penulis tak sadar atau tak mengerti untuk memilah yang esensial, maka ia sedang menulis ribuan halaman bagaikan berjalan kaki ribuan kilometer menuju capek dan kelelahan. Penulis semacam ini ujungnya-ujungnya hanya menyibukkan diri dengan distraksi dan kebisingan, tanpa menghiraukan pentingnya nutrisi untuk pikiran dan perasaannya.

Di sini perlu ditegaskan, terutama bagi para penulis milenial, bahwa kesadaran aktif hanya bisa tumbuh di ruang yang tak bising dan membawa ketenangan. Bukan berarti saya menganjurkan Anda agar menjadi penulis yang anti kesuksesan dan popularitas. Tetapi, hakikat kesuksesan, bila tanpa disertai kesadaran aktif, ia akan menjebak pelakunya ke dalam kehampaan dan kekosongan.

Bagaimanapun, jati diri seorang penulis harus tetap eksis dan waras, meskipun ia hidup di tengah kekacauan dan kebisingan global. Mau dibawa ke mana peradaban anak-anak bangsa ini, jika penulisnya ikut hanyut ke dalam arus budaya dan perilaku masyarakat yang gemar tawuran, fitnah dan adu domba tak kerun. Untuk itu, penulis yang baik harus tetap fokus, tenang, tak perlu sibuk bereaksi menanggapi kebisingan, sampai-sampai energi mentalnya terkuras habis sebelum sempat digunakan untuk hal-hal yang membawa manfaat. Bukan berarti saya menganjurkan pasrah dan menyerah, tetapi kita harus memilih dengan sadar apa yang pantas dipikirkan dan diperjuangkan agar membawa maslahat bagi perubahan peradaban bangsa ini.

Di dunia manapun kita berada, dan di bumi manapun kita berpijak, akan selalu menemukan apa yang disebut krisis, berita buruk, konflik, serta perubahan yang cepat. Justru karena itulah, pikiran kita harus semakin kuat dan terlatih. Penulis yang baik, sejatinya tetap menjaga kejernihan pikirannya, serta harus menyadari bahwa perubahan ke arah perbaikan harus diperjuangkan, meskipun kita harus berpikir realis bahwa ia tak mungkin terwujud hanya dalam hitungan hari.

Sebagaimana cerpen fenomenal di harian Republika (Sebatang Pohon yang Ditanam Menjelang Kiamat), bahwa kita harus melakukan yang terbaik, dimulai dari diri kita, saat ini juga. Itulah terapi mental yang dapat membawa kejernihan pikiran dan jiwa, hingga dampak positifnya kita serahkan pada ketentuan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Memenej dan Mengatur segalanya.

Jadi pada prinsipnya, suatu karya berkualitas, pada waktunya akan menjadi filosofi atau peta moral yang dapat menuntun pembaca, meskipun ia hidup di tengah kekacauan. Untuk itu, penulis yang baik harus memiliki jiwa yang tenang, dan untuk meraih ketenangan, tak perlu Anda berambisi untuk mengubah seluruh dunia, tetapi cukup dengan mengubah cara Anda dalam merespons dunia ini. []

Penulis adalah Alumnus Untrita Banten, pegiat organisasi Gema Nusa, pemenang lomba penulisan Cagar Budaya Nasional, juga peraih nominasi cerpen terbaik Litera pada 2021 lalu

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.