Oleh: Hafis Azhari
Dalam film peraih nominasi Oscar, “Lion” (2016) nampak prediksi Ibu Saroo (Priyanka Bose) di India, setelah puluhan tahun terpisah dengan anaknya yang diadopsi seorang ibu angkat di negeri Australia. Prediksi itu seakan dimiliki orang yang khusus memiliki mata batin, sehingga ia meyakini sesuatu yang akan terjadi, seperti dalam pepatah Jawa “weruh sak durunge wineruh” (tahu sebelum terjadi). Secara religius, keyakinan itu dimiliki pula oleh Nabi Yakub setelah puluhan tahun terpisah dengan anaknya, Yusuf, yang kemudian berjumpa kembali ketika Yusuf sudah menduduki tampuk kekuasaan sebagai Raja Mesir.
Orang yang mempunyai mata batin pada umumnya memiliki karakteristik sama, meskipun mereka menganut agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. Bahkan juga dimiliki oleh orang yang memiliki derajat kewalian, baik mereka yang hidup di era pra Islam maupun pasca kenabian Muhammad. Salah satu ciri yang menonjol adalah perilaku dan cara hidupnya yang zuhud dan sederhana, memiliki kekuatan iman dan takwa, dari segala pengaruh tantangan, godaan dan syahwat duniawi.
Ketika kualitas kesabaran sudah terpateri dalam dirinya, setelah bertubi-tubi diterpa ujian hingga malapetaka, maka sampailah ia pada derajat kewalian yang pada hal-hal tertentu (dengan izin Allah), ia bisa mengetahui apa-apa yang belum terjadi.
Bila kita setback ke masa lalu dalam kehidupan Nabi Adam dI surga. Ia pun bakal mengetahui dampak buruk yang ditimbulkan jika melanggar aturan Allah dengan memakan “buah khuldi”. Namun, karena sifat manusia yang serba ingin tahu, apapun risikonya, maka dimakanlah buah khuldi tersebut bersama Hawa, sehingga keduanya diturunkan dari kenikmatan surgawi dalam keadaan terpisah. Mereka tahu barangnya haram, tetapi mereka merasa perlu mengisi perut mereka dengan buah itu.
Suatu peristiwa yang pasti sudah dipahami dan diketahui Allah, karena sebelumnya toh keduanya sudah dipersiapkan selaku khalifah. Jikapun mereka tidak melanggar perintah Allah, entah melalui jalan apa keduanya harus diturunkan ke muka bumi?
Jikapun, seandainya, bila saja… bolehlah menjadi bahan perdebatan, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Keduanya sudah termakan godaan Iblis, dan keduanya pun terjatuh ke muka bumi dalam keadaan menderita. Nabi Adam kemudian dirundung kegelisahan seraya meratapi dan menyesali perbuatannya sambil berdoa: “Wahai Tuhan kami, sungguh kami telah berbuat zalim terhadap diri sendiri. Jika Kau tidak memaafkan dan menyayangi kami, sungguh kami ini tergolong hamba yang merugi.”
Sesuatu yang termakan oleh keduanya adalah barang haram. Barangsiapa mengkonsumsi barang haram atau yang dilarang oleh aturan agama (Tuhan), ia akan terjatuh dalam kegelapan dan kenistaan, kecuali jika kemudian ia bertobat kepada Allah, dengan sebenar-benarnya tobat.
Mata batin
Jika manusia sudah benar-baner bersih dan suci, atau disucikan oleh Allah, maka dengan sendirinya (atas izin Allah), ia memiliki pendengaran dan penglihatan yang bersifat ilahiyah. Ia memiliki perasaan dan firasat tajam, hingga mampu membaca tanda-tanda zaman. Tokoh ibunya Saroo dalam film “Lion” seringkali menolak pemberian makanan dari sang anak, jika dihasilkan dari sesuatu yang haram atau syubhat (remang-remang). Untuk sekadar membeli minuman atau makanan yang bergizi, Saroo dan kakaknya kadang menaiki kereta api sambil mencuri sekarung batu bara, kemudian ia berangkat ke pasar untuk menukarkan barang curiannya dengan sekaleng susu segar.
Ibunya selalu menolak pemberian susu dari anaknya, karena ia hanya mau memakan makanan dari hasil usaha dan jerih-payah sendirinya.
Ibunya tentu memahami bahwa segelas susu segar adalah jenis minuman berkualitas dan bergizi (thayyib) dan sangat baik untuk kesehatan tubuh. Akan tetapi, makanan yang halal menjadi prioritas utama bagi ajaran agama yang dianutnya. Pantangan bagi sang ibu yang sejak kecil menganut ajaran Hinduisme untuk memakan makanan yang dilarang oleh tuhannya.
Konon, mereka yang memiliki mata batin, pada umumnya hidup dalam kezuhudan dan kesederhanaan, yang juga dimiliki oleh para sufi dan waliullah yang rajin bertirakat dan berpuasa, sehingga kecenderungan materi (duniawi) sudah tak lagi masuk ke dalam hatinya. Mungkin saja seorang sufi atau waliullah adalah seorang yang kaya-raya, tapi kekayaan materi hanya cukup sebatas dalam kantongnya, tidak merasuk ke dalam jiwanya. Ia memiliki tanggung jawab moral, bahwa kekayaan yang dimilikinya hanya sebagai titipan (amanat) yang akan dinafkahkan kepada mereka yang berhak menerimanya.
Mungkin saja waliullah dari kalangan pengusaha, cendekiawan, rakyat jelata, maupun pemimpin umat yang tegas (seperti Umar bin Khattab), tetapi keangkuhan dan kesombongan tidak merasuk ke dalam kalbunya. Kekuasaan dan kekayaan materi yang dimilikinya hanya cukup dialokasikan sebatas kemaslahatannya, serta berpantang untuk memakainya demi kesenangan dan kemegahan duniawi (hedonisme).
Mensyukuri takdir
Kemampuan membaca dan melihat apa yang akan terjadi, bukan berarti manusia memiliki kewenangan untuk mengubah dan membelokkan jalannya takdir yang sudah menjadi catatan-Nya (di Lauhil Mahfudz). Semasa hidupnya, Rasulullah sempat melintasi Padang Karbala, serta menyaksikan apa-apa yang akan terjadi di wilayah itu seraya meneteskan air matanya. Dalam beberapa tahun kemudian, setelah beliau wafat, peristiwa pembunuhan Husein terjadi di tempat itu, menimpa cucu tersayang yang kerap ditimang dan digendongnya sewaktu masih balita.
Pernah pula beliau memperingatkan istrinya Aisyah agar berhati-hati dengan suara lolongan anjing di sekitar mata air “Hau’ab”. Kemudian, beberapa tahun setelah wafatnya beliau, terjadilah peristiwa perang saudara (Perang Jamal) antara pengikut Aisyah yang memberontak kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib (menantu Rasulullah), terutama setelah ia mengabaikan lolongan anjing di sekitar Hau’ab, untuk meneruskan hasrat dan ambisinya.
Seandainya Rasulullah memiliki kewenangan untuk membelokkan jalannya takdir, tentu beliau tak menghendaki pertempuran Uhud yang meluluh-lantakkan pasukannya. Juga akan menghindari puteri-puterinya, Ruqayah dan Umu Kultsum agar tidak berjodoh dengan anak-anak Abu Lahab (Utbah dan Utaibah bin Abi Lahab) yang terang-terangan membangkang dan memerangi dakwah Rasulullah.
Allah Sang Sutradara Yang memiliki kewenangan mutlak (absolut) hingga berhasil merancang dan menyeting sekenario perjalanan hidup kita di jagat raya ini. Bahkan, Dia Yang Maha Sempurna merancang segala yang terjadi dalam jagat mikro dari milyaran sel-sel unik dalam tubuh kita. Oleh karena kita percaya dan yakin akan penjagaan dan pemeliharaan-Nya, bahkan Dia Yang Menggenggam dan mengatur satu helai daun yang jatuh di kegelapan malam, baik daun kering maupun yang masih basah, lalu apa lagi yang perlu kita khawatirkan dan risaukan?
Dulu, ketika negeri Kan’an dilanda paceklik dan kemarau panjang, sementara negeri Mesir memiliki stok gandum yang berlimpah, maka anak-anak Nabi Yakub diperintahkan menukarkan barang-barang berharga yang mereka miliki, dengan beberapa karung gandum untuk kebutuhan pangan mereka. Dalam perjalanan berhari-hari menyusuri bukit-bukit padang pasir, akhirnya mereka pun dipertemukan dengan saudaranya, Yusuf, yang kini sudah menduduki kursi kepemimpinan (raja Mesir).
Apa yang menjadi sekenario Allah seakan sudah terbaca dalam puluhan tahun lalu oleh mata batin Nabi Yakub, melalui mimpi anaknya (Yusuf), yang pernah melihat sebelas bintang, matahari dan bulan yang bersujud kepadanya. Jika saja ia tidak konsisten di jalan kesabaran, lalu menjadi frustasi dan putus asa, boleh jadi akan menurun kualitas kemanusiaannya, sehingga Allah tidak akan memilihnya selaku hamba yang menjadi utusan dan nabi-Nya.
Orang yang bersih jiwanya, seakan mampu menerawang dan memprediksi apa-apa yang akan terjadi (dengan izin Allah). Jika kita konsisten untuk memelihara rasa syukur dan kesabaran dalam hidup kita, niscaya perjalanan hidup akan berakhir dengan kebaikan dan husnul khatimah (happy ending).
Meskipun bertubi-tubi cobaan dan ujian kita hadapi, namun di akhirat nanti para malaikat akan menyambut kehadiran kita dari pintu-pintu surga, sambil berucap: Salamun alaikum bima shabartum (“Selamat atas kesabaran kalian dalam mengarungi perjalanan hidup di muka bumi.”).
Penulis adalah Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten







