Sosok Pembaharu Pendidikan Pesantren di Banten

oleh -1110 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Achmad Faisal Hadziq

Dalam kultur dan tradisi masyarakat Banten yang masih konservatif, sosok Kiai Rifa’i Arief muncul dengan membawa misi pendidikan pesantren modern. Pesantren itu dinamainya Rumah Literasi (Daar el-Qolam), yang dalam perjalanannya, bukan saja mengajarkan baca-tulis tetapi sekaligus literasi percakapan (muhadatsah) bahkan juga literasi mendengar dengan baik (muhadlarah).

Sebagian masyarakat yang terbiasa dengan kultur pesantren kobong (tradisional) kontan kebakaran jenggot. Mereka bertanya-tanya heran: untuk apa pesantrennya Rifa’i Arief mengajarkan para santrinya berbahasa Inggris? Lalu, mengapa para gurunya juga mengenakan celana panjang? Bahkan, pada acara tertentu mereka serempak mengenakan jas dan dasi?

Bukankah yang namanya pesantren itu cukup dengan kopiah dan sarung, kitab kuning yang diterjemahkan dengan bahasa Jawa Kuno, sorogan, dan seterusnya? Mengapa juga sebuah pesantren harus menyediakan sarana untuk berolahraga dan berkesenian segala-macam?

Pemikiran Kiai Rifa’i

Sebelum berdirinya pesantren Daar el-Qolam dan La Tansa di Banten (sejak 1968), dunia pesantren belum bersarana kurikulum, tingkat-tingkat, kelas-kelas maupun ijazah. Pada mulanya, pesantren sendiri merupakan bagian dari pendidikan tradisional yang diselenggarakan oleh para orang tua atau kolektivitas suku melalui jalan adat-istiadat. Kedatangan Islam di Indonesia sangat berperan dalam penggunaan sistem asrama (ashram) atau surau, yang kemudian orang sunda Banten menyebutnya dengan istilah “kobong”.

Meskipun mengadopsi sistem yang ada di Gontor (Jawa Timur), perjalanan Kiai Rifa’i Arief untuk menerapkannya di Banten bukanlah perkara mudah. Sentimen primordial yang kental, mistik dan takhayul yang kawin dengan Islam konservatif, jelas memposisikan Kiai Rifa’i dan para muridnya sebagai sasaran amarah dan kedengkian massa. Label tokoh pesantren modern yang disematkan di pundak Kiai Rifa’i menjadi beban tersendiri. Sebab, kata “modern” tak pernah memiliki makna tunggal. Ia mengandung makna kompleks, hingga sebagian besar masyarakat Banten pada masa itu mengaitkannya dengan “barat” yang identik pula dengan “kafir”.

Di sisi lain, Kiai Rifa’i terus mengumandangkan pentingnya masyarakat Banten agar memahami modernitas dan perkembangan zaman, melalui kata-katanya yang revolusioner: “Pesantren dituntut tidak hanya mampu mencetak pemikir dan intelektual yang faqih fiddin, tetapi juga faqih fi masailil khalqi, sehingga mampu mengaktualisasi diri di tengah-tengah masyarakat yang majemuk dan maju.” (baca: “Filsafat Hidup Rifa’i Arief”, Fikra Publishing, Jakarta 2012).

Kiai Rifa’i sendiri berpendapat bahwa perubahan dan perkembangan adalah suatu keniscayaan. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi akibat dari transformasi global, interaksi sosial, serta pesatnya dunia sains dan teknologi yang melahirkan berbagai persoalan hidup yang diakibatkan dari keniscayaan perubahan itu sendiri.

Dengan prinsip hidup yang kokoh itu, Kiai Rifa’i menyadari pentingnya dunia pesantren menginovasi diri, demi untuk menyiasati pembaharuan dan perkembangan zaman. Ketika Gontor belum mengadakan santri puteri, Kiai Rifa’i justru memadukan pentingnya generasi Kartini di Banten, agar mendapat hak yang sama dalam menempuh jalur pendidikan. Untuk itu, Prof. Dr. Zakiah Daradjat melalui pesan psikologi pendidikannya pernah menyarankan pentingnya pengajaran dan pengasuhan agar dibenahi dan ditingkatkan kualitasnya. Jika tidak, kaum perempuan Indonesia akan terjebak dalam kebodohan dan keterbelakangan.

Ihwal Kiai Sjam’un

Sebelum era munculnya pesantren modern Daar el-Qolam dan La Tansa, dua dasawarsa sebelumnya seorang kiai, militer, dan tokoh pendidikan, Brigjen Kiai Sjam’un (1894-1949) pernah menggagas pentingnya perubahan bagi sistem pendidikan pesantren di Indonesia, khususnya Banten. Maraknya mitologi dan mistisisme yang membelenggu masyarakat, membuat Kiai Sjam’un pernah berkomentar lantang: “Membangun manusia tidak cukup dengan jampi-jampi dan air kendi, tapi harus dengan ilmu pengetahuan, karena itu jika umat Islam tidak menguasai ilmu, hidup mereka hanya akan menghabiskan beras di pendaringan.”

Melalui berbagai upaya dan perjuangan dari para intelektual, jurnalis, akademisi dan ulama Banten selama bertahun-tahun, akhirnya berhasil juga Kiai Sjam’un dianugerahi tokoh pahlawan nasional oleh pemerintah RI. Sebagai tentara dan pejuang Indonesia, ia lebih kental dengan nuansa pendidikan ketimbang kemiliterannya. Sehaluan dengan perjuangan Kiai Rifa’i yang sama-sama memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap kualitas pendidikan, dan bukan sekadar kuantitas semata.

Jejak-langkah kedua tokoh pendidikan itu, mengingatkan kita tentang pentingnya kualitas ilmu yang pernah disabdakan Rasulullah (HR Imam Tirmidzi) bahwa: “Keutamaan seorang ahli ilmu ketimbang ahli-ahli ibadah, bagaikan terangnya cahaya bulan purnama, melebihi ribuan Bintang-bintang di angkasa.” ***

Penulis adalah Akedemisi dan pengasuh pondok pesantren La Tansa 2 di Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.