Mensyukuri Nikmat Hidup Saat Ini

oleh -706 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Pengajian Alumni Tebuireng telah digelar beberapa waktu lalu di pesantren Nurul Falah (Tebuireng 09), dengan beberapa penceramah dari Banten dan Jombang, Jawa Timur. Banyak persoalan yang dibahas para ulama dan cendekiawan muslim, di antaranya mengenai pentingnya silaturahmi untuk mempererat persatuan dan kesatuan NKRI kita.

Islam sangat menekankan pentingnya ukhuwah dan kekeluargaan. Di samping itu, hubungan manusia secara vertikal dengan Ilahi Rabbi harus terus ditingkatkan melalui dzikir atau riyadlah, agar manusia senantiasa terkoneksi dengan kebesaran dan keagungan Allah Sang Pencipta.

Konsep yang dikenal dalam terminologi Islam adalah “berserah diri sepenuhnya” pada kebesaran dan keagungan Allah (mutu qabla an tamutu). Dengan itu, manusia dapat leluasa untuk menerima realitas apa adanya. Berserah diri itu sangat identik dengan “penerimaan”, bukan berarti pasrah secara pasif dan skeptis. Tetapi, dengan jiwa yang penuh kesadaran tentang apa-apa yang terjadi, tanpa ada penolakan atau perlawanan batin. Sebab, dengan itu, manusia akan konsisten berpegang-teguh pada kekuatan makro Yang Maha Memiliki hak prerogatif atau tercapainya rencana manusia dan semua makhluk ciptaan-Nya.

Seringkali dengan egonya, manusia merasa diri lebih baik dan lebih penting ketimbang yang lainnya. Padahal, semua itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh pikirannya sendiri. Akibat ilusi yang dipupuk tersebut, menurut K.H. Fahmi Amrullah (yang membahas kitab At-Tibyan), manusia seringkali terperangkap oleh hawa nafsunya, hingga mengabaikan pentingnya makna silaturahmi dan kekeluargaan.

Ego dan hawa nafsu membuat manusia lebih mementingkan dirinya sendiri, karena ia belum sanggup menemukan kebahagiaan dalam batinnya. Menusia modern kebanyakan merasa menderita dalam imajinasinya daripada kenyataan yang sebenarnya. Semakin ia melekatkan diri pada egonya, semakin besar penderitaan yang ia alami. Untuk itu, hidup dengan penuh kesadaran akan membantu manusia agar dapat melepaskan diri dari ikatan ego yang membelenggu.

Di sisi lain, ketika manusia merasa kecewa dengan masa lalu, serta cemas akan hari esok, dapat dipastikan ia dalam keadaan galau dan stres dengan hari ini. Jadi pada prinsipnya, penderitaan manusia bersumber dari ketidaksadaran atau ketidakhadirannya pada saat ini, lantaran dirinya tidak terkoneksi dengan kebesaran Tuhan Yang Maha Besar (Allahu akbar). Rasulullah menegaskan akan pentingnya hari ini, agar dapat menanam kebaikan hingga kelak dapat dipetik hikmahnya di kemudian hari. Seakan alam semesta berhutang pada kebaikan-kebaikan kita, meskipun hakikatnya tidaklah sebanding antara kebaikan manusia ketimbang banyaknya nikmat yang dikaruniakan Tuhan kepadanya.

Kekecewaan manusia modern akan masa lalu, tetaplah membuat masa lalu tak bakal kembali. Ia hanyalah memori yang terlewatkan. Saat ini adalah sesuatu yang riil, nyata, dan dapat dipastikan mau diapakan oleh kita. Sedangkan masa depan adalah proyeksi pikiran pada saat ini. Ada kemungkinan terjadi, dan sangat mungkin juga tak akan terjadi. Satu-satunya momen yang nyata dan dapat kita kendalikan adalah saat ini. Ketika kita hadir saat ini, dengan penuh kesadaran, maka kita dapat membebaskan diri dari beban masa lalu dan kecemasan di hari esok.

Ditegaskan oleh hadis Nabi yang diriwayatkan Imam al-Hakim, bahwa manusia selayaknya memanfaatkan masa mudanya sebelum datang masa tuanya, sehat sebelum masa sakit, kaya sebelum miskin, masa luang sebelum datangnya kesibukan, bahkan masa-masa hidup sebelum datangnya ajal kematian.

Sumber penderitaan, secara emosional muncul karena kita terlalu melekat pada pikiran kita sendiri. Padahal, hakikat manusia bukanlah sekadar pikiran dan proyeksinya. Tetapi, jika kita berhasil mengamati pikiran tanpa terikat padanya, kita dapat menciptakan jarak dan menghadirkan ketenangan. Di sisi lain, kita perlu menyadari bahwa kesadaran adalah kunci bagi kebebasan jiwa  Karena itu, di saat kita menyadari bahwa kita bukan pikiran, emosi, atau cerita yang kita ulang di kepala, maka muncullah ruang batin yang menghadirkan ketenangan, hingga kita dapat mencapai transfomasi spiritual.

Saat ini, terlampau banyak orang yang hidup sebagai autopilot, tanpa menyadari kehadiran dan eksistensi dirinya. Mereka membuang-buang waktu untuk sekadar mengejar ilusi, notifikasi, bahkan validasi eksternal. Padahal, jika mereka menyadari setiap langkahnya, bahkan setiap gerak tubuh dan tarikan nafasnya, kemudian mensyukuri Sang Penciptanya, mereka akan merasa bahwa kehidupan ini begitu melimpah-ruah akan nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Untuk itu, menurut Kiai Fahmi Amrullah selaku cucu dari Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asy’ari (Jombang), manusia modern perlu banyak tafakkur dan riyadlah dalam keheningan, solat tahajud di waktu sepertiga malam. Dengan demikian, maka akan terbuka pintu-pintu gerbang kesadaran di balik kebisingan notifikasi dan distraksi informasi yang berseliweran. Momen yang sunyi ini, akan melampaui pikiran dan memasuki kesunyian dan keheningan batin, hingga kita dapat bersentuhan langsung dengan sumber sejati ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Pada prinsipnya, manusia takkan mampu mengendalikan segalanya, tetapi cukup baginya untuk aktif mengendalikan dirinya sendiri. Manusia bisa melakukan perubahan dan dapat belajar dari masa lalu tentang apa yang diinginkan dan apa yang ditolaknya. Namun, ia tak boleh terlampau mengkhawatirkan masa depan hingga melupakan kenikmatan saat ini. Padahal, yang paling penting bagi dirinya adalah momen saat ini, serta mensyukurinya dengan khusyuk.

Sebenarnya sebagai individu, orang bisa menilai segala sesuatu yang menjadi tugas pikiran dalam proses memahami. Misalnya, setelah bangun tidur hingga menyongsong matahari terbit. Apakah kita akan memilih tidur lagi, ataukah menyegarkan tubuh dengan berjemur dan berolahraga, sehabis melakukan solat subuh. Manakah yang lebih baik dari kedua pilihan itu, serta manakah yang akan berdampak baik bagi kesehatan tubuh kita? Ketika kita harus memilih kopi-gula ataukah teh hangat, manakah yang lebih baik bagi pencernaan tubuh kita? 

Di satu sisi, kita sudah berusaha seoptimal mungkin untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Kadang di sisi lain, ada saja kejadian yang tak menyenangkan datang di luar kontrol dan kendali kita. Namun demikian, kita sudah memiliki kesiapan dan ketangguhan mental untuk dapat menerima apa adanya. Di sinilah, lagi-lagi konsep “penerimaan” atau “berserah diri” tanpa adanya penolakan atau perlawanan batin, hingga manusia akan lebih nyaman dan leluasa untuk menerima realitas apa adanya. Bukankah kita semua bermula dari-Nya, dan hanya akan kembali kepada-Nya? ***

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Nurul Falah (Tebuireng 09) Rangkasbitung, Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.