Menilai Karakteristik Seorang Penulis

oleh -1493 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Eeng Nurhaeni

Sulit sekali kita menemukan karya tulis yang tulus dan jujur, yang mengupayakan kedewasaan dan pencerdasan masyarakat. Namun demikian, terkadang kita menjumpai satu-dua tulisan yang otentik dan tajam menyuarakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, meski tidak diberi makna oleh penulisnya untuk dipublikasikan.

Perspektif lain justru menilai, bahwa karena tak dimaksudkan untuk tampil ke publik itulah yang membuat kualitas tulisan begitu apik, langka, dan menarik. Penulisnya terkadang merasa perlu untuk mengingatkan siapa pun, tetapi justru ingin mengingatkan diri sendiri. Karena tidak ditujukan pada orang lain, justru tulisan itu menjadi kuat, menyentuh, dan relevan sepanjang zaman.

“Menulis tanpa topeng, akan membuat setiap kata dan kalimat terasa nyata,” ujar Hafis Azhari, penulis novel Perasaan Orang Banten . Seorang penulis yang tak mengenakan “topeng”, ia akan mudah mengakui kekurangannya, dan tidak sibuk menyangkal demi menjaga kesempurnaan dirinya.

Hafis banyak menyarankan penulis milenial, agar mereka mau berkarya dan berkreasi dengan kejujuran total, terlepas apakah karya tersebut diterbitkan media atau tidak. Ia juga mengingatkan, bahwa esensi keakuan orang Indonesia, akan tampak ketika menulis sesuatu melalui refleksi pribadi, tanpa perlu validasi dan sorotan publik.

Di era digital yang sarat memburu viralitas ini, kebanyakan orang menulis karena terdorong agar mendapat banyak suka, perhatian, dan validasi eksternal. Padahal, tulisan yang substantif dan bermakna, seringkali muncul dari pribadi-pribadi yang tulus, hening, bahkan berani untuk menggambarkan kekurangan diri apa adanya. Tulisan yang bernuansa abadi, tidak hilang oleh waktu, seringkali muncul tanpa diniatkan untuk pamer. Tanpa agenda untuk diterima, hingga yang keluar adalah inti dari kepribadian sang penulis itu sendiri.

Pikiran jujur

Penulis yang baik akan pandai mengatur dan mengelola dirinya, demi melatih batinnya, sebagai percakapan internal dengan dirinya sendiri. Tidak perlu bertele-tele dengan kalimat-kalimat yang rumit dan sulit Dipahami, atau menggunakan bahasa-bahasa puitis mendayu-dayu, yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri dan orang-orang di komunitas lembaganya. Atau, hanya bahan menjadi cengengesan di kawanan dan kroni sesama satrawannya belaka (baca Kompas.id : “Menilai Karya Sastra secara Obyektif”).

Dengan menuangkan pikiran secara jujur melalui karya tulis, seorang penulis akan mudah menguraikan emosi, egoisme, dan keangkuhan dalam dirinya. Ia pun dapat menenangkan kegelisahan batinnya, hingga dapat memperjelas arah hidupnya. Terkait dengan ini, kadang seorang sastrawan besar mengakui bahwa salah satu karyanya dibaca oleh jutaan orang, padahal ia tidak menghendaki karya tersebut untuk ditampilkan ke publik. Jadi, tulisan terbaiknya lahir ketika ia tidak berusaha menulis sesuatu yang hebat.

Seperti seorang pemain bola yang melatih kelincahan kedua kakinya, demikian pula dengan penulis yang harus pandai mengelola waktu untuk berlatih berpikir. Bahkan, latihan memahami sesuatu atau merespons kejadian-kejadian di sekitarnya. Setelah itu, ikatlah dengan tulisan, karena memori di kepala akan mudah melayang tanpa kemahiran untuk mengikatnya dengan rapi.

Para mentor di kelas-kelas menulis, seperti yang sering dikemukakan Gola Gong selaku Duta Baca Indonesia, selalu menekankan pentingnya menulis dengan pena untuk melatih keterampilan jari tangan, dari menulis catatan harian, puisi hingga cerpen terlebih dahulu. Bukan untuk terburu-buru agar diunggah ke media sosial. Juga bukan untuk buru-buru dinilai orang lain. Tetapi, untuk diri sendiri terlebih dahulu.

Tulisan jujur

Mulailah berpikir dari hal-hal yang simpel dan sederhana, tetapi sekaligus filosofis dan mendalam, misalnya: Apa yang saya sesali dalam hidup ini? Mengapa harus aku sesali? Lalu, kelebihan apa yang saya miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain? Bukankah kita patut mensyukuri sesuatu yang dianugerahkan Tuhan bagi hidup kita? (baca cerpen: “Hidup Ini Begitu Indah” di Nusantaranews.co)

Akhir-akhir ini, ketika marak karya-karya manipulatif, kabar-kabar hoaks yang serba mengandalkan validasi dan pencitraan, para pembaca milenial justru membutuhkan dan mencari-cari tulisan yang jujur dan bicara apa adanya. Terkait dengan ini, penulis novel Pikiran Orang Indonesia (POI) berpesan agar terus memperkuat kesabaran bagi para penulis milenial, “Tulislah yang terbaik menurut kalian, lalu sampaikan ke publik dengan niat-niat demi perbaikan dan kedewasaan bangsa ini.

Tak usah sibuk memikirkan apakah masyarakat akan menerimanya saat ini, tahun depan atau dekade mendatang. Baginya, novel POI tidak diniatkan untuk bergumul dengan teori kesusastraan, tetapi ia merupakan karya sastra dengan kekuatan data-data sejarah yang valid, dan dapat dibuktikan kebenarannya oleh para sejarawan dan budayawan bangsa ini ke depan.

Pada awalnya, novel POI hanya menjadi catatan-catatan pribadi berdasarkan pengalaman batin sang penulis. Tetapi kemudian sebagai syiar untuk menyampaikan kebenaran dan keadilan, ia merasa perlu untuk mempublikasikan dan membagikannya kepada publik.

Bagi Hafis Azhari, menulis yang baik bukanlah semata-mata pelarian dari ego dan hawa nafsu, tetapi ia dapat menjadi obat bagi pemulihan dan kejernihan hati nurani. Dari tulisan-tulisan yang jujur dan apa adanya, kelak bangsa ini akan tertolong karena sang penulis berhasil membantu dirinya sendiri. Sebab, menulis bukanlah semata-mata dikenal sebagai “penulis” atau “sastrawan”, tetapi bagaimana sang penulis dapat menyadari pikirannya, keakuannya, hingga kemudian dapat memperoleh dan menyadarkan dunia dan semesta ini.

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten, juga penulis untuk media nasional seperti harian Kompas, Media Indonesia, Republika, NU Online, Tokoh.id, Nusantaranews.co, Ruangsastra.com dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.