Mendengarkan dan Berpuasa: Sebuah Refleksi Filosofis di Tanah Sabana

oleh -2429 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Matheus Tnopo

Ada sesuatu yang sangat dalam ketika Gereja mengajak umatnya untuk mendengarkan dan berpuasa di tengah-tengah zaman yang semakin riuh. Dua kata ini tampak sederhana, bahkan terasa lama dan usang di telinga generasi digital. Namun justru di sinilah paradoks besar itu hadir: semakin keras dunia berbicara, semakin langka manusia yang sungguh-sungguh mendengar. Semakin berlimpah makanan informasi dan konsumsi tersaji, semakin kosong jiwa yang sejati.
Dalam konteks Nusa Tenggara Timur tanah yang kaya tradisi, namun juga menanggung beban kemiskinan struktural, migrasi tenaga kerja, dan krisis identitas budaya. Tema Prapaskah 2026 ini bukan sekadar ajakan rohani. Ia adalah sebuah provokasi filosofis yang menggugat cara hidup kita secara menyeluruh.

Mendengarkan: Lebih dari Sekadar Diam

Filsuf Martin Heidegger pernah berkata bahwa mendengarkan (Hören) adalah cara manusia membuka diri terhadap kebenaran yang lebih besar dari dirinya. Mendengarkan bukan pasivitas ia adalah keberanian untuk membiarkan “yang lain” mengubah dirimu. Dalam tradisi Timor, Flores, Sumba, dan pulau-pulau NTT lainnya, ada kearifan serupa: nuba nara, duduk bersama dalam lingkaran, mendengar tetua berbicara tanpa menyela, karena kata-kata yang keluar dari mulut orang tua mengandung benih kebijaksanaan leluhur.

Namun hari ini, gereja-gereja di NTT menghadapi situasi yang kontradiktif. Di satu sisi, umat Katolik dan Kristen di tanah ini dikenal sebagai masyarakat yang religius secara kuantitatif jumlah jemaat besar, kebaktian ramai, gereja-gereja penuh pada hari Minggu. Namun di sisi lain, ada kesunyian yang mengkhawatirkan: suara orang miskin di pelosok Malaka dan Sabu dan pulau-pulau lainnya tidak didengar oleh kebijakan; jeritan anak-anak yang gagal sekolah karena kemiskinan tidak cukup menggetarkan struktur pastoral; doa ibu-ibu di pinggiran kota Kupang yang anaknya menjadi korban sindikat perdagangan manusia terasa seperti angin yang dilepas begitu saja ke langit tanpa ada yang sungguh-sungguh menampungnya.

Maka, ajakan mendengarkan dalam Prapaskah 2026 menjadi sangat radikal dalam konteks ini. Berpuasa dari kebisingan status sosial dalam gereja. Berpuasa dari kesibukan program pastoral yang megah namun tidak menyentuh luka terdalam umat. Gereja di NTT dipanggil untuk kembali duduk diam, seperti Elia di mulut gua Horeb, bukan menunggu angin topan atau gempa, melainkan mendengar suara angin sepoi-sepoi yang halus (1 Raja-Raja 19:12), suara Allah yang hadir justru dalam kelemahan dan keterpinggiran.

Berpuasa: Pertobatan yang Berdimensi Sosial

Secara filosofis, puasa dalam tradisi Kristen berbeda dari asketisme Stoik yang semata-mata melatih daya tahan pribadi. Puasa Kristiani memiliki dimensi sosial yang tajam. Yesaya 58 menegaskan bahwa puasa yang dikehendaki Allah bukan menundukkan kepala seperti ilalang, melainkan melepaskan belenggu ketidakadilan, membebaskan yang tertindas, memberi makan orang lapar.

Di NTT, “berpuasa” dalam makna yang paling profetis adalah berpuasa dari menormalkan kemiskinan. Selama ini, ada bahaya besar yang menyelinap masuk ke dalam spiritualitas masyarakat NTT: kemiskinan diterima sebagai takdir, sebagai bagian dari kehendak Tuhan, bahkan dipuja sebagai kesalehan. Ini adalah teologi berbahaya yang perlu dikritisi secara keras. Berpuasa sejati adalah berpuasa dari narasi fatalistik itu, menolak menerima bahwa anak-anak di pedalaman Sumba wajar tidak memiliki akses pendidikan yang layak, menolak menerima bahwa ibu-ibu di Flores harus menanggung beban ganda kemiskinan dan patriarki sebagai hal yang lumrah.

Lebih jauh, berpuasa adalah berpuasa dari fragmentasi sosial yang kian menguat. NTT adalah kepulauan, secara geografis terpisah, namun sesungguhnya terikat dalam satu identitas budaya dan iman yang kaya. Namun kita menyaksikan bagaimana fragmentasi partai politik, persaingan antar suku, dan kesenjangan antara kota dan desa semakin membelah umat. Gereja dipanggil untuk berpuasa dari kepentingan institusional yang sempit dan menjadi jangkar persatuan yang sejati.

Sunyi yang Produktif: Menemukan Kembali Diri

Ada dimensi ketiga yang muncul dari perpaduan mendengarkan dan berpuasa yakni keheningan produktif. Filsuf Simone Weil menyebutnya sebagai attention (perhatian penuh): suatu kondisi di mana kita mengosongkan diri dari ego dan prasangka, sehingga kita bisa sungguh-sungguh hadir bagi orang lain. Ini adalah mistisisme yang tidak lari dari dunia, melainkan masuk lebih dalam ke dalamnya.

Dalam konteks budaya NTT yang kaya ritual, ada sumber daya spiritual yang sesungguhnya belum sepenuhnya digali oleh Gereja. Tradisi tara bandu di Timor, tradisi pela gandong di Maluku yang meluas ke NTT, kearifan mosaik dalam relasi antarumat, semua ini adalah bentuk-bentuk “mendengarkan” dan “berpuasa” yang telah ada jauh sebelum bahasa teologi formal masuk ke tanah ini. Prapaskah 2026 seharusnya menjadi momen di mana Gereja merendahkan diri untuk mendengar suara tradisi ini, bukan sekadar menggunakannya sebagai ornamen liturgi.

Penutup: Pertobatan sebagai Perubahan Cara Memandang

Pada akhirnya, mendengarkan dan berpuasa adalah undangan untuk mengubah cara kita memandang realitas. Dalam bahasa filsafat fenomenologi, ini adalah sebuah epoché menangguhkan asumsi-asumsi lama tentang siapa kita, apa yang kita miliki, dan ke mana kita sedang berjalan. Di NTT yang sedang berubah cepat dengan masuknya teknologi, pergeseran nilai, dan tekanan globalisasi, Gereja tidak dipanggil untuk menjadi benteng nostalgia, melainkan menjadi ruang pertobatan yang hidup dan bergerak.

Mendengarkan dan berpuasa, dalam makna terdalam, adalah tindakan pembebasan. Ia membebaskan kita dari ilusi bahwa kita sudah cukup tahu, sudah cukup punya, sudah cukup benar. Dan justru dalam kekosongan itulah seperti benih yang harus mati dulu di tanah kering sabana NTT, kehidupan yang baru bisa tumbuh.

Selamat memasuki Masa Prapaskah. Marilah kita mendengar, dan dalam mendengar, kita bertobat. Ditulis dalam semangat refleksi pastoral-filosofis untuk umat Kristiani di Nusa Tenggara Timur, Prapaskah 2026.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.