Mendambakan Sosok Istri yang Ideal 

oleh -1238 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Pembantu atau asisten rumah tangga yang cakap melayani kaum pria, tergambar jelas dalam film “Wifelike” (2022) yang disutradarai James Bird, dengan pemeran utama seorang detektif bernama William (Jonathan Rhys Meyers). William membeli robot pendamping AI (artificial intelligence) yang wajahnya mirip dengan Meredith mendiang istrinya (Elena Kompouris). Robot Meredith kemudian diprogram sangat ideal ketimbang karakter Meredith manusia yang telah diciptakan Tuhan. William berpretensi bahwa Robot ciptaan manusia yang melayani sang suami dengan setia, justru dapat hidup kekal dan abadi, ketimbang struktur organ tubuh manusia yang mudah rapuh dan menua.

Meredith melayani William, menyediakan sarapan di pagi hari, menuruti apa-apa yang menjadi kemauan dan kehendak sang suami, bahkan dapat melayani William di tempat tidur melampaui kemampuan pelayanan istri sebagai manusia. Meredith mempelajari dan semakin menguasai seluk-beluk hubungan intim, serta memenuhi segala hasrat yang diinginkan William di tempat tidur.

William merasa senang dan gembira, hingga sampai pada kesimpulan bahwa manusia ternyata mampu menciptakan robot AI yang dapat berperan aktif, ketimbang sosok manusia (sungguhan) yang sulit diatur, enggan melayani kebutuhan suami, bahkan dikhawatirkan dapat mencelakakan suami atas dorongan hawa nafsu kegelapan yang bersumber dari kekuatan di luar dirinya. Tetapi, dengan pendamping robot, ia dapat dengan mudah disetel dan dikendalikan, demi untuk melayani apa-apa yang menjadi kehendak dan keinginan William, mengerjakan urusan rumah-tangga dengan rapi, terampil di tempat tidur, bahkan dalam soal mempelajari dan menyediakan menu masakan yang paling disukai sang suami.

Film Wifelike mengangkat pertanyaan mendasar tentang kebebasan otonom dari sifat dan tuntutan atas hak-hak manusia yang dapat merasakan segala hasrat dan kenikmatan duniawi, tanpa direcoki oleh urusan hukum dan aturan agama yang dianggap membelenggu nalar dan kebutuhan dasar manusia. Bukankah Tuhan sendiri yang mengadakan manusia untuk hidup di muka bumi, tanpa keinginan dan kehendak sang makhluk? Kemudian, mengapa hidup manusia (yang tanpa diminta) justru dibatasi oleh aturan-aturan baku di mana hak prerogatifnya mutlak dibikin oleh kemauan Sang Pencipta? Lalu, di mana letak kasih sayang-Nya, jika kehidupan yang diadakan secara sepihak, justru tak diberi kewenangan untuk mengatur dirinya sendiri, sebagai hak otonom kebebasan manusia yang memiliki keunggulan dan kecerdasan atas makhluk-makhluk lainnya?

Kekuatan gelap

Pertanyaan mendasar yang melatari film Wifelike, sangat terkait dengan simbol kemegahan negeri Israel, dengan kota Tel Aviv sebagai pusat ekonomi dan peradaban manusia yang menghendaki “dunia bebas” sebagai anutan yang dibanggakan hedonisme dengan kemegahan duniawi yang tak tertandingi oleh negeri manapun.

Dalam iklim dunia bebas, moral dan etika yang dipakai adalah etika AI. Ayat-ayat kitab suci dianggap kuno dan usang, tak perlu lagi dipakai demi kemaslahatan manusia. Bahkan, nilai kemaslahatan dan kemanfaatan hidup juga sudah diatur regulasinya oleh undang-undang artificial intelligence, melalui perasaan dan pikiran kaum hedonis yang merajai jagat ekonomi dan politik di dunia ini.

Lalu, siapa sebenarnya sosok Meredith? Apakah William dapat hidup leluasa dan nyaman dalam pendampingan dan pelayanan robot Meredith, yang wajahnya telah didesain sedemikian mirip dan persis mendiang istrinya yang telah tewas?

Apakah benar Meredith telah mati secara wajar, hingga William dapat hidup sebebas-bebasnya, seakan telah meraih kemenangan atas impiannya menciptakan robot Meredith yang lebih ideal ketimbang sosok mendiang istrinya yang bawel dan sulit diatur? Mampukah William memahami dan mengendalikan kekuatan gelap yang melingkupi kehidupan sang robot AI, meskipun ia telah didesain sebagai wujud perempuan cantik jelita, yang dapat memuaskan hasrat birahinya?

Tetapi, apakah esensi kehidupan manusia sebatas soal hasrat biologis, kenikmatan makanan, serta keunggulan dan kecerdasan AI yang hak-hak kewenangannya hanya boleh dinikmati bangsa-bangsa kaya-raya? Dari mana harta kekayaan mereka diperoleh, kalau bukan dari hasil mengorbankan bangsa-bangsa miskin (termasuk Indonesia), yang pemerintahannya masih menjadi budak dan jongos-jongos, di bawah bayang-bayang imperialisme dan kolonialisme mereka?

Bukankah sederet pertanyaan ini masih identik dan valid dengan proyek-proyek raksasa rezim Zionisme yang terus berambisi menyingkirkan, bahkan membungihanguskan warga pribumi Palestina yang dianggap merintangi obsesi mereka untuk menciptakan Israel Raya, bersama program-program AI yang menjadi impiannya?

Film Wifelike merupakan jawaban religiusitas sebagai transformasi spiritual yang diniscayakan oleh kekuatan kitab suci Islam, sebagai agama terakhir, bahwa Nabi Muhammad pun tetap diuji dengan cobaan iman dan kesabaran, ketika menghadapi istrinya (terutama Aisyah) yang kadang ceriwis dan merasa diperlakukan kurang adil oleh pihak suami.

Al-Quran menegaskan, bahwa kehidupan dunia ini adalah ujian dan cobaan, tempat bercocok-tanam, berikhtiar seoptimal mungkin, namun hasil endingnya tetap harus dipasrahkan pada ketentuan Allah Swt.

Manusia harus selalu ingat, bahwa sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu menjadi baik dalam pandangan Tuhan. Sebaliknya, sesuatu yang buruk menurut kita, juga belum tentu dipandang buruk oleh penilaian Tuhan. Lalu, apakah sesuatu yang dipandang baik oleh sang detektif William, yang sedang menikmati kehidupan duniawi bersama robot Meredith (dengan etika AI yang otonom) akan dinilai baik dalam pandangan Tuhan?

Rencana Tuhan

Mungkin dibutuhkan berpuluh-puluh halaman untuk secara detil mengulas film Wifelike ini. Tetapi, kiranya cukup saya menangkap esensinya yang terkait dengan maraknya transformasi spiritual akhir-akhir ini.

Hukum karma (qishash) akhirnya berlaku atas kehendak Tuhan. Sehebat apapun William menutupi aib dan kesalahannya, bahkan dengan bantuan seribu jin dan teknologi canggih sekalipun. Tampaknya rencana Tuhan berlaku melampaui seluruh rencana dan konspirasi umat manusia. Kematian Meredith yang tidak wajar, kemudian menuntut balas sebagai ahli waris atas perlakuan terhadap dirinya. Arwah mendiang Meredith seakan menjelma dan bersemayam dalam tubuh robot bionik ciptaan manusia, yang pada hakikatnya adalah ciptaan pikiran yang dianugerahkan oleh Tuhan semesta alam.

Sejahat dan sekeji apapun rencana manusia sebagai makhluk, sesungguhnya takkan mampu mengendalikan rencana Tuhan sebagai manifestasi hukum alam yang pasti berlaku.

Akhirnya, kartu bergambar burung yang pernah ditunjukkan laki-laki bertopeng di suatu acara pesta yang dihadiri Meredith, tiba-tiba membuat memorinya setback ke masa lalu, bahwa ternyata kematian dirinya lantaran disekap dan disumpal oleh William suaminya, dengan bantal burung yang mirip ditunjukkan oleh lelaki misterius tersebut.

Kepanikan William yang telah membaca tanda-tanda bahaya, membuat ia berusaha mengembalikan boneka robot ke perusahaan yang merancang replika android, serta memintakan agar memori tentang gambar burung itu segera dihilangkan.

Tetapi hasilnya tetap, bahwa rencana Tuhan tak mungkin tertandingi oleh sehebat apapun rencana William sebagai detektif yang jenius. Robot Meredith yang telah memiliki rasa diri yang independen, kemudian naik-pitam, ingin membalas apa-apa yang telah diperlakukan sang suami terhadap dirinya. Sampai kemudian, terjadilah baku-hantam antara robot melawan tubuh manusia, yang tentunya tidak sebanding dengan fisik manusia yang hanya terdiri dari tulang dan otot. Sementara, robot Meredith memiliki kekuatan super, karena tercipta dari seperangkat besi, karet silikon, hingga dermis sintetik.

Tampaknya, kehendak manusia sehebat apapun, tetap dalam kendali Sang Pencipta. Bahkan, robot yang dikendalikan oleh pikiran manusia, pada akhirnya mutlak dalam kendali Sang Pencipta manusia dan alam raya ini. ***

Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.