FRANSISKUS Pati Herin tidak sekadar menulis berita. Ia menulis hidup, menulis perjalanan, menulis harapan yang ditemukan di jalan-jalan setapak Indonesia Timur. Di kalangan wartawan Kompas, namanya dikenal sebagai sosok yang tenang, tekun, dan bersahaja — tetapi di balik ketenangan itu tersimpan kisah luar biasa tentang keberanian dan dedikasi.
Lahir dan besar di Adonara, Flores Timur, Frans Pati Herin tumbuh di lingkungan yang sederhana. Ia mengenal kerasnya hidup sejak kecil, di tanah di mana air adalah kemewahan dan listrik adalah impian. Sebelum menjadi wartawan, ia pernah menjadi guru matematika. Dunia angka menempanya untuk berpikir teratur dan logis, tetapi jurnalisme kelak mengajarinya sesuatu yang lebih dalam: empati.
“Matematika mengasah logika, tetapi jurnalisme mengasah hati,” katanya suatu kali dalam diskusi literasi di Kupang.
Tahun 2012 menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia memutuskan mengikuti seleksi penerimaan wartawan Kompas. Dari Adonara ia menyeberang menuju Kupang dengan kapal feri. Di tengah perjalanan, kapal yang membawanya hampir tertinggal. Ia benar-benar harus melompat kapal agar tidak kehilangan kesempatan. Aksi itu kemudian menjadi kisah nyata yang ia abadikan dalam tulisannya berjudul “Frans Lompat Kapal demi Bekerja di Kompas” di Kompas.id (8 Januari 2018). Kisah tersebut menjadi simbol semangatnya: melompat keluar dari kenyamanan demi mengejar panggilan dan impian hidup.
Sejak resmi bergabung dengan Kompas pada tahun 2012, Frans langsung menapaki jalan jurnalistik yang tidak mudah. Ia jarang berada di kota besar. Tugas-tugas liputannya lebih sering membawanya ke wilayah terpencil — dari pegunungan dan rawa-rawa di Papua hingga kampung kampung di Timor dan Sumba. Ia menulis tentang apa yang jarang dilihat: pelayanan kesehatan di pulau-pulau terluar, akses pendidikan yang terbatas, penderitaan akibat kekeringan, dan nasib masyarakat yang jauh dari sorotan media nasional.
Salah satu liputan yang paling dikenal publik adalah tulisannya berjudul “Ketika Tiga Wartawan Kompas Tumbang oleh Malaria dari Asmat” (Kompas.id, 22 Februari 2018). Dalam liputan itu, Frans dan timnya datang ke Asmat saat daerah tersebut mengalami krisis gizi dan malaria. Mereka sendiri akhirnya terjangkit malaria di tengah tugas. Namun dari pengalaman itulah lahir tulisan yang menyentuh hati pembaca: sebuah kesaksian tentang penderitaan masyarakat di ujung negeri dan perjuangan jurnalis untuk tetap mengabarkan kenyataan di tengah bahaya.
Dari tahun ke tahun, Frans menunjukkan konsistensi yang jarang ditemui di dunia jurnalistik modern. Ia bukan tipe wartawan yang mengejar sensasi atau kecepatan publikasi. Ia lebih suka menulis dalam-dalam, memastikan setiap nama dan cerita yang muncul di tulisannya benar-benar hidup.
Pada tahun 2022, dedikasi itu mendapat pengakuan nasional. Ia meraih Juara 1 Lomba Karya Jurnalistik BPJS Kesehatan untuk kategori media cetak nasional. Karya yang membawanya menang berjudul “Layanan Kesehatan untuk Warga di Ujung Negeri” — sebuah laporan panjang tentang upaya pelayanan kesehatan di daerah-daerah terpencil yang kerap terabaikan oleh kebijakan pusat. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh BPJS di Jakarta, tetapi Frans tetap memilih kembali ke Kupang beberapa hari kemudian. “Saya hanya menjalankan tugas. Penghargaan itu milik mereka yang kisahnya saya tulis,” katanya merendah.
Karya-karya Frans sering membawa dampak nyata. Salah satu contohnya adalah liputannya tentang krisis air bersih di Pulau Timor. Setelah tulisan itu terbit di Kompas, perhatian publik dan pemerintah daerah meningkat, dan sejumlah sumur bor kemudian dibangun untuk membantu warga yang selama bertahun-tahun bergantung pada air tadah hujan. Di titik ini, jurnalisme yang ia jalankan menjadi lebih dari sekadar profesi — ia menjelma menjadi bentuk pelayanan.
Di sela liputannya, Frans menulis buku berjudul Lompat Kapal ke Amerika (2025). Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi refleksi hidup tentang keberanian, pengorbanan, dan rasa ingin tahu yang tiada henti. Dalam peluncuran buku itu di Aula Rektorat Unwira, Kupang (9 Oktober 2025), Frans berbagi kisah tentang masa-masa awalnya sebagai wartawan muda, termasuk perasaan ragu dan minder . Buku itu ditilik oleh sejumlah akademisi, jurnalis dan para sahabat seperti Rm. DR. Leo Mali, Dr. Marsel Robot, Dion DB Putra dan diapresiasi sebagai salah satu karya penting seorang jurnalis yang mampu menulis dengan kedalaman naratif dan kesadaran sosial.
Frans kemudian melanjutkan penulisan bukunya yang kedua berjudul Deadline; Kisah di Balik Liputan Jurnalis Kompas. Buku ini memuat pengalaman liputannya selama satu dekade — dari 2014 hingga 2024 — terutama di kawasan timur Indonesia. Dalam buku itu, ia menulis tentang tantangan, dilema, dan risiko yang dihadapi wartawan lapangan. “Deadline bukan hanya batas waktu, tapi garis hidup sebuah cerita,” tulisnya di pengantar naskah.
Meski banyak karyanya dikenal secara nasional, Frans tetap memilih tinggal dan berkarya di Kupang. Sejak 2021, ia resmi ditempatkan sebagai koresponden Kompas untuk wilayah Nusa Tenggara Timur. Dari sini, ia menulis dengan kedekatan yang sulit ditandingi wartawan dari luar daerah. Ia mengenal nama-nama orang yang ia tulis, bahkan sering kembali ke lokasi yang sama untuk melihat apakah ada perubahan setelah laporannya diterbitkan. “Tugas wartawan belum selesai ketika berita dimuat. Kadang justru baru dimulai,” ujarnya.
Selain menulis, Frans aktif dalam kegiatan literasi. Ia kerap hadir di taman bacaan masyarakat dan sekolah-sekolah untuk berbagi tentang pentingnya membaca dan menulis. Tahun 2024, ia menyumbangkan sejumlah buku termasuk karya tulisnya sendiri ke Taman Bacaan Masyarakat Gading Taruna di Kupang sebagai bagian dari gerakan literasi NTT. Aksi kecil ini menjadi inspirasi bagi banyak anak muda di daerah. “Kalau tidak bisa membangun gedung sekolah, setidaknya kita bisa menyalakan pelita lewat buku,” katanya di sela kegiatan itu.
Nama Frans Pati Herin juga tercatat di situs Pulitzer Center sebagai kontributor dari Indonesia Timur — sebuah pengakuan atas kualitas liputan dan kemampuan naratifnya dalam menyampaikan isu-isu kemanusiaan. Ia menulis dalam kerangka jurnalisme yang berpihak kepada orang kecil, tanpa kehilangan ketelitian fakta.
Rekan-rekannya di Kupang sering menggambarkan Frans sebagai sosok yang pendiam, tapi dengan ketajaman observasi yang luar biasa. Ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, mencatat lebih banyak daripada berdebat. Mungkin karena itu, tulisannya terasa hidup dan menyentuh. Ia tahu bagaimana memotret penderitaan tanpa mengeksploitasi, dan bagaimana menulis harapan tanpa melebih-lebihkan.
Dalam perjalanan kariernya, Frans telah menjadi bagian dari wajah jurnalisme daerah yang jarang disorot. Ia membuktikan bahwa berita dari pelosok bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari keberagaman Indonesia. Ia menulis bukan dari atas podium, melainkan dari jalan tanah yang sama dengan mereka yang kisahnya ia bawa ke halaman Kompas.
Kini, setelah lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik, Frans Pati Herin tetap setia pada prinsip yang ia pegang sejak awal: kebenaran tidak selalu berada di pusat, kadang justru ada di pinggiran. “Saya menulis untuk mereka yang tidak punya suara,” katanya pelan, hampir seperti doa.
Dalam setiap tulisannya, dari Ambon hingga Asmat dari Lembata hingga Malaka, selalu ada satu benang merah yang tak berubah: kemanusiaan. Ia menulis agar bangsa ini tidak lupa bahwa di ujung negeri ada kehidupan yang tetap harus dihargai. Dan dengan setiap paragraf yang ia kirim, Frans Pati Herin seolah mengingatkan kita — bahwa jurnalisme sejati bukan tentang siapa yang lebih cepat, tetapi siapa yang lebih peduli.
Tim Redaksi







