Melihat Kebenaran Iman akan Eksistensi Allah Perspektif Anselmus Canterbury

oleh -355 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Febrianto Burak

Kehidupan masyarakat globat pada abad ke -21 ini ditandai oleh menguatnya dua kecenderungan utama, yaitu ateisme dan fundamentalis (agama). Dua kecenderungan ini secara substansial memiliki aksentuasi yang berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain, tetapi pada akhirnya bergerak pada satu titik temu, yaitu sama-sama menyinggung status ontologis Tuhan Yang Maha Esa. Ateisme memeluk erat suatu kebenaran bahwa Tuhan tidak ada, dan karena itu, tidak ada alasan rasional dan ontologis untuk beriman kepada-Nya. Sementara fundamentalisme mangabsolutkan suatu kebenaran yang lain bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada sebagai Realitas Tertinggi, asal sekaligus tujuan segala ciptaan, dan karena itu, beriman kepadanya adalah suatu pilihan yang benar. Fundamentalisme kemudian menjadikan kenyakinan ini sebagai kebenaran tunggal dan mutlak, yang kerap diikuti sikap tertutup dan koersif terhadap yang lain.

Dua paham ini sema-sama memiliki keekstriman yaitu: ateisme menolak Tuhan, tetapi lebih terbuka terhadap yang lain, seperti fundamentalisme menerima status ontologis Tuhan, tetapi cenderung menolak yang lain juga seperti ateisme. Pembuktian ontologis Anselmus, yang berisikan buah permenungan teologis dan filosofisnya, berada di tengah kedua bentuk kebenaran.

Pandangan Anselmus, status ontologis Tuhan itu dapat dibuktikan secara rasional – logis, dan karena itu, pilihan untuk beriman kepada-Nya dapat dipertanggungjawabkan secara saintifik. Pembuktian ontologis ini, kita lantas diingatkan bahwa beriman itu sejatinya membuat kita semakin bijaksana (rendah hati, terbuka, dan sangat mendalam) dalam hidup ini, bukannya tertutup, picik, dan fundamentalistis. Titik tolak pembuktian ontologis Anselmus tentang eksistensi Allah, sebagaimana tertuang dalam karyanya proslogion dikonstruksikan berdasarkan sebuah kenyakinan fundamental bahwa pengetahuan yang benar tentang Allah akan mampu membawa manusia pada kebenaran iman yang sejati. Atas dasar itu, pembuktian ontologis ini dilihat sebagai metode ilmiah – filosofis untuk membuktikan kebenaran iman akan eksistensi Allah. Hal ini dikembangkan berdasarkan pendekatan rasional–logis, bukan berdasarkan otoritas dan sentralisasi Kitab Suci.

Anselmus menetapkan iman, menjadi titik pangkal pembuktian ontologis ini melalui doa- doanya. Dari doa ini, kita bisa melihat bahwa pendekatan rasional digunakan Anselmus untuk mengurai misteri kebenaran iman. Hal ini bertujuan utama untuk menunjukkan bahwa beriman kepada Allah itu bukan suatu pilihan ilusif, melainkan sebuah pilihan yang sadar dan masuk akal. Pada tataran ini, Anselmus membawa kita pada sebuah kebenaran imam tentang eksistensi Allah, yaitu sebagai Yang Mahatinggi dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia. Untuk mengenal Allah dan misteri-Nya, kita perlu terlebih dahulu mengerti defenisi yang diberikan Anselmus, berarti mengerti itu berada di dalam pikiran–logis.

Anselmus mengembangkan gagasannya bahwa Yang Mahatinggi dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia itu tidak mungkin dan tidak boleh hanya berada di dalam pikiran saja. Hal itu dikarenakan orang bisa saja memikirkan dan menemukan sesuatu yang lebih besar dan tinggi lagi dari pada itu, yaitu sesuatu yang tidak hanya berada dalam pikiran, tetapi juga berada dalam kenyataan. Oleh karena itu, mesti dikatakan bahwa sesuatu yang kita sebut sebagai Yang Mahatinggi itu harus ada, baik dalam pikiran maupun dalam kenyataan, agar Yang Mahatinggi itu makin menjadi yang tertinggi. Konsep ini perlu diterima sebagai bentuk kebenaran fundamental agar kita memiliki kerangka awal yang jelas dalam menyelami sedikit kebenaran tertinggi akan Allah yang kita imani. Sehingga hal inilah, yang menjadi titik tolak pembuktian ontologis Anselmus tentang kebenaran iman akan eksistensi Allah.

Menurut Anselmus, adanya Allah, baik dalam pikiran maupun dalam kenyataan, menegaskan kebenaran iman bahwa Allah yang merupakan Yang Mahatinggi itu, sungguh-sungguh ada secara aktual. Di sini Anselmus menguraikan dua jalan pembuktian yaitu: pertama, kemampuan akal budi manusia sangat terbatas untuk memahami segala sesuatu secara penuh, utuh, dan sempurna. Sesuatu yang berada secara mutlak itu tak lain dan tak bukan adalah Allah. Kedua, berkenyakinan bahwa sesuatu yang kita sebut Allah memiliki suatu pengertian yang lebih besar dari segala sesuatu yang bisa kita pikirkan. Dalam hal ini, apa yang di dalam pikiran ada sebagai yang tertinggi dan yang terbesar tentu harus berada sebagai yang tertinggi dan yang terbesar pula di dalam kenyataan. Itulah cara berada yang benar, utuh, dan sempurna.

Allah yang kita pahami itu, menurut Anselmus, berbeda dengan pengertian-pengertian atau pemahaman yang lain. Allah tidak bisa dipahami seperti suatu pemahaman yang semu, seperti pulau terindah yang dipikirkan atau dikhayalkan orang, yang belum tentu benar-benar ada dalam kenyataan. Allah tidak hanya berada dalam pikiran, tetapi juga dalam kenyataan. Jadi Allah sungguh-sungguh ada dalam kehidupan secara rasional–logis. Akal budi manusia bergerak pada tingkatan kebenaran itu, dari kebenaran keputusan-keputusan menuju kebenaran pikiran, lalu dari kebenaran pemikiran menuju kebenaran benda-benda, dan dari situ, bergerak ke atas menuju ide-ide ilahi yang menyatu dengan Allah. Oleh karena itu, atas dasar inilah, Anselmus mengatakan bahwa adanya Allah dalam realitas aktual adalah sebuah kebenaran ontologis pada dirinya sendiri. Kebenaran ontologis inilah yang kemudian kita terima sebagai kebenaran iman dalam kehiduapan hari-hari.

Dialektika Iman dan Akal Budi

Akal budi manusia dapat naik dari pengetahuan akan yang kurang baik ke pengertian tentang sesuatu yang lebih baik dan besar, dari kesadaran akan benda-benda yang kurang sempurna ke ide tentang suatu pengada yang lebih sempurna, dan lantas menyususun suatu konsep tentang “pengada yang dari padanya tidak ada yang lebih besar dapat dipikirkan”. Pengetahuan Anselmus yang memadai dapat membantu dalam menjelaskan dan mempertanggunngjawabkan kebenaran-kebenaran iman Kristiani secara rasional–logis dan sistematis. Misalnya tampak dalam silogisme-silogisme yang ia gunakan untuk membuktikan kebenaran iman akan eksistensi Allah.

Belajar tentang cara beriman yang benar, di mana kita dituntut untuk tidak sekedar percaya (mengatasi ateisme), tetapi juga memahami kebenaran iman kita secara aktif dan terbuka (mengatasi fundamentalisme). Beriman berarti selalu melibatkan nalar agar tidak terjebak pada penghayatan iman yang sempit dan eksklusif yang mengabsolutkan suatu kebenaran Iman sambil membangun sekat ketertutupan terhadap yang lain. Maka pilihan untuk beriman kepada Tuhan membuat semakin bijaksana dalam hidup ini, dalam artian semakin baik, benar, mendalam, terbuka (toleran) dan penuh gairah positif. Ini nilai positif yang hendak ditawarkan Anselmus kepada kita yang hidup di zaman ini.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.