Melihat Jaringan Sosial Terhubung Bersama Sherry Turkle

oleh -2048 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfred Lanang

Jaringan sosial terhubung itu berwajah ambigu. Sekejab ia menjadi sarana yang sangat mendukung dan menguntungkan bagi siapa saja. Namun tak diduga, ia juga menggerus keutuhan dan kemandirian pribadi manusia yang mempunyai nalar untuk berpikir dan hati untuk merasakan serta menimbang-nimbang (Pando, SJ, 2014:23). Secara khusus, jaringan sosial terhubung begitu terlihat dalam kebiasaan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok di era digital ini.

Adapun jaringan sosial terhubung sendiri telah menyediakan begitu banyak ruang bagi setiap individu dan kelompok sebagai lokus untuk mempermudah komunikasi, mengekspresikan diri, mengeksplorasi banyak hal, pelarian dari dunia nyata, dsb. Dapat dikatakan bahwa di dalam situs jaringan sosial terhubung, individu-individu dapat bergerak melewati batas geografi. Contoh dari situs jaringan sosial terhubung yang merajalela di era digital saat ini ialah, facebook, instagram, telegram, whatsapp, tiktok, twiter goegle dll. Situs-situs tersebut hadir sebagai ruang yang membentuk indentitas seseorang hingga menjadi rumah maya yang nyaman.

Kini, terdapat dua dunia yang dihuni oleh seorang individu yakni dunia nyata dan dunia maya. Selain itu, apa yang benar di dunia nyata, rasa-rasanya begitu berbeda dengan yang tampak di dunia maya. Seakan-akan yang ada di dunia maya adalah Aku yang nyata namun realitanya amat berbeda. Ya, beragam situs jaringan sosial terhubung begitu menarik perhatian banyak orang hingga pada tataran tertentu seseorang lupa akan versi Aku yang nyata dan begitu yakin dengan versi Aku ada pada maya. Semacam situs-situs yang ada perlahan menarik fokus masyarakat kontemporer.

Namun yang mesti disadari ialah bahwa jaringan sosial terhubung dapat dengan mudah membuat seseorang kehilangan fokus pada dunia nyata, mempersempit ruang gerak, minus dalam pemaknaan, tidak memperhatikan yang lain dsb. Ini tidak berarti bahwa situs-situs jaringan sosial terhubung itu semata-mata buruk melainkan ia sendiri bersifat netral – kembali pada individu yang menggunakannya.

Kenyataan sekarang, eksistensi seseorang seperti judul buku karya F. Budi Hardiman, ditentukan oleh “Aku Klik Maka Aku Ada.” Aku di dalam dunia maya sibuk dengan menatap layar, menekan tombol like, membalas komentar, skip video, singkatnya jaringan sosial terhubung merupakan ruang bagi siapa saja untuk menumpahkan perasaan, isi pikiran, dan dirinya.

Sherry Turkle dan Alone Together

Sherry Turkle adalah seorang sosiolog, psikolog klinis, sekaligus professor di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Dia ahli dalam mempelajari hubungan antara manusia dan teknologi digital. Salah satu konsepnya tentang jaringan sosial terhubung ialah alone together. Konsep ini berangkat dari sebuah bukunya yang berjudul, Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (2011). Alone Together artinya “sendirian bersama”, namun dalam pengertian Turkle alone together mencerminkan fenomena sosiologis di mana manusia mengharapkan lebih banyak dari teknologi tetapi mengharapkan lebih sedikit dari satu sama lain, sehingga menciptakan ilusi kebersamaan dalam kesendirian, (Turkle, 154).

Alone Together sendiri menunjuk kepada orang-orang yang telah dibombardir oleh beragam informasi dari banyaknya keterhubungan dan ke orang-orang yang merasa seperti ada yang hilang ketika terlepas dari telepon genggam dan laptop (Pando, SJ, 2014:77). Secara sederhana, konsep tersebut merujuk pada suatu fenomena di mana orang-orang hadir secara fisik di tempat yang sama, namun secara mental terisolasi karena setiap orang sibuk dengan perangkat digitalnya. Dalam hal ini turkle melihat alone together sebagai “sendiri dalam kebersamaan”, di mana mereka berada dalam ruangnya masing-masing meskipun duduk secara berdampingan.

Fenomena Alone Together Masa Kini

Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian hidup manusia zaman ini dihabiskannya di depan layar, dengan beragam alasan seperti pekerjaan, rekreasi, hobi, mood dsb. Memang sejak semula, setiap manusia terlempar sekali ke dalam dunia nyata dan kini manusia sendiri berkali-kali melemparkan dirinya ke dunia maya. Kini perlahan namun pasti orang-orang telah berada dalam budaya always online (selalu terhubung), lalu menuju budaya share comment (berbagi komentar) hingga pada momen-momen tertentu tiba pada kebiasaan alone together.

Lagi-lagi fenomena alone together melahirkan krisis perhatian, krisis kepedulian, krisis kepekaan dan masih banyak krisis lagi terhadap mereka yang ada di sekitar aku. Fokusku lebih dalam terarah pada situs jaringan sosial terhubung sampai lupa kalau aku sedang berada dalam kebersamaan. Contoh sederhana ketika sedang makan bersama, sebagian orang bahkan tidak fokus dengan makanannya apalagi orang yang ada di hadapannya karena pandangannya tertuju kepada gadget. Momen makan bersama seperti di dalam keluarga merupakan waktu yang tepat untuk berbagi pengalaman hidup sambil menikmati makanan bukan sibuk dengan dunia maya di dalam kebersamaan.

Ada juga yang senyum-senyum sendiri hingga ketika ada yang menanyakan dirinya sedang apa melalui chating, ia menjawab sedang belajar kelompok. Spontan muncul pertanyaan, orang ini belajar kelompok atau bermain ponsel? Seperti pada kesempatan lain ketika ada yang sedang memprosentasikan materinya di depan namun sebagian tidak memberikan perhatian penuh terhadap pemaparannya oleh karena sibuk dengan peranti terhubungnya yang terkoneksi dengan wi-fi.

Turkle melihat bahwa dalam alone together ada banyak orang yang secara fisik berada bersama namun masing-masing orang berseliweran di dalam perantinya sendiri. Sehingga tak jarang fenomena ini mengakibatkan di banyak tempat seperti warkop, terminal, restoran dan tempat rekreasi lainnya semacam kehilangan karakteristik publiknya hingga berubah menjadi tempat yang meskipun umum namun orang merasa sendiri dalam kebersamaan. Banyak kali orang mengorbankan percakapaan hangat bersama yang lain demi selalu terhubung ke media sosial sekedar mencari hiburan.

Selain itu, budaya selalu terhubung dapat menyita perhatian seseorang terhadap kebersamaan yang ada. Tentu datang dan hadir bersama secara fisik begitu kelihatan baik namun ada yang lebih penting lagi ialah terhubung dengan yang ada di gadget. Memang saat ini, kemajuan teknologi digital memiliki daya tarik tersendiri yang begitu kuat hingga merebut perhatian users untuk terus klik maka aku ada. Di samping itu, algoritma yang kini menguasai jaringan sosial terhubung mambuat banyak orang menjadi sibuk dengan berbagai pilihan yang ditawarkan secara menggiurkan sehingga membuat banyak orang sulit untuk terlepas darinya. Alhasil, fenomena alone together kini dapat dijumpai dimana-mana terutama pada konferensi-konferensi umum dan inilah yang terjadi saat ini.

Aku Bermakna Sebab Ada yang Lain

Tentu jaringan sosial terhubung memiliki nilai positif seperti, menyediakan beragam informasi, akses yang cepat tehadap informasi, sarana komunikasi yang praktis, senjata untuk membantu ekonomi dsb. Namun itu semua tidak berarti bahwa kita menjauhkan yang dekat dari diri kita dan lebih serius dengan tawaran nikmat dari algoritma. Dari fenomena alone together yang dikemukan oleh Turkle ini, kita bisa bertanya pada diri kita masing-masing. Apakah saya sudah memberikan perhatian dan kepedulian kepada sesama yang ada di sekitar saya? Mengapa saya sibuk dengan dunia maya sehingga tidak masuk ke dalam momen kebersamaan secara fisik? Apakah saya masih menginginkan suasana kebersamaan? Apakah saya hanya memenuhi syarat untuk hadir secara fisik dalam kebersamaan namun justru saya memilih hidup alone together?

Fenomena alone together mengajarkan kita untuk senantiasa memberi ruang dan waktu bagi sesama yang hadir secara fisik di sekitar kita. Perhatian, kepekaan dan kepedulian kita kepada sesama yang ada di hadapan kita merupakan bentuk pemberian diri kita yang otentik dan nyata. Banyak kali kita merasa sendiri di dalam kebersamaan karena kita kurang memberi diri secara penuh dalam momen itu. Kita yang berada dalam kebersamaan mencoba untuk lari dari momen itu sekedar untuk menyendiri, mencari kenyamanan pada situs sosial yang terkadang membuat kita cemas dan depresi. Perlahan kita akan menjadi sadar bahwa kehadiran mereka membuat kita sadar siapa identitas kita- aku ada untuk yang lain. Meskipun sederhana namun seringkali fenomena ini disepelekan begitu saja.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.