Meja yang Bagus Tidak Akan Berguna jika Tidak Ada Tangan yang Memegang Pena

oleh -671 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Dr. Don Bosco Doho

Ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan Pontius Pilatus kepada Yesus di ruang pengadilan dua ribu tahun yang lalu sebuah pertanyaan yang hingga hari ini masih menggantung di udara peradaban manusia tanpa pernah benar-benar dijawab tuntas oleh mereka yang berkuasa: “Apa itu kebenaran?” (Yohanes 18:38) Pilatus bertanya. Tetapi ia tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan pergi. Dan dalam kepergiannya itulah terletak tragedi terbesar bukan hanya dari Jumat Agung itu, tetapi dari seluruh sejarah manusia yang lebih memilih kenyamanan keheningan daripada ketidaknyamanan kebenaran.

Kita hidup di zaman di mana pertanyaan Pilatus itu diulang setiap hari bukan di ruang pengadilan, tetapi di grup WhatsApp, di kolom komentar media sosial, di warung kopi, di ruang-ruang pertemuan komunitas. Orang bertanya, berdebat, berargumen, berkomentar tetapi ketika tiba saatnya untuk menuliskan kebenaran yang mereka yakini, tangan mendadak berat. Lidah fasih, tetapi pena membeku.

Budaya Lisan yang Nyaman, Budaya Tulis yang Menuntut

Kita adalah bangsa yang kaya tradisi lisan. Bercerita, berdongeng, berdiskusi, bergosip semua mengalir deras dan alamiah. Tidak ada yang salah dengan itu. Tradisi lisan adalah akar budaya yang mulia. Tetapi ada sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh tulisan yang tidak bisa dilakukan oleh percakapan yakni melampaui batas waktu dan ruang. Obrolan di warung kopi mati bersama asap rokok yang mengepul. Cerita lisan pudar bersama ingatan yang menua. Tetapi tulisan bahkan yang ditulis di atas kertas lusuh, bahkan yang dimuat di blog sederhana, bahkan yang dibagikan di platform digital yang penuh sesak tulisan itu tinggal. Ia menunggu pembaca yang belum lahir. Ia berbicara kepada generasi yang belum datang.

Injil sendiri adalah bukti paling agung dari kekuatan ini. Yesus tidak menulis satu kata pun yang tercatat dalam Alkitab. Tetapi murid-murid-Nya menulis dengan keberanian, dengan risiko, dengan darah sekalipun. Dan itulah mengapa kita masih berbicara tentang Yesus hari ini, dua ribu tahun kemudian. Bukan karena ada rekaman suara-Nya. Bukan karena ada video khotbah-Nya. Tetapi karena ada tangan yang memegang pena dan tidak membiarkan kebenaran mati bersama tubuh yang disalibkan.

Meja yang Bagus, Tetapi Tangan yang Absen

Di era digital ini, meja tempat menulis tersedia lebih melimpah dari kapan pun dalam sejarah manusia. Ada blog, ada media sosial, ada platform menulis terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja dengan telepon genggam sekalipun. Teknologi kecerdasan buatan kini bahkan hadir sebagai meja yang bisa membantu merapikan gagasan, memperkuat argumen, dan mempercantik diksi. Tidak ada lagi alasan teknis untuk tidak menulis.

Namun paradoksnya justru semakin banyak meja tersedia, semakin sedikit tangan yang mau memegang pena. Yang terjadi sebaliknya malah lebih memprihatinkan: banyak orang yang tidak pernah menulis satu paragraf pun justru menjadi komentator paling vocal atas tulisan orang lain. Mereka mencari kekurangan, mengoreksi ejaan, mempertanyakan motivasi penulis semua dari posisi yang paling aman: posisi orang yang tidak pernah mengambil risiko untuk bersuara. Ini adalah ironi yang menyedihkan.

Mereka seperti Pilatus: tahu ada kebenaran di hadapan mereka, tetapi memilih berbalik dan pergi sambil menyerahkan penulis untuk “disalibkan” oleh kritik yang tidak konstruktif. Mengkritik tulisan orang lain tanpa pernah menulis sendiri adalah seperti menghakimi seorang atlet dari tribun penonton sambil tidak pernah sekalipun turun ke lapangan. Mudah. Nyaman. Dan tidak menghasilkan apa-apa bagi kemanusiaan.

Menulis adalah Tindakan Keberanian

Menulis, menulis yang sungguh-sungguh, menulis yang jujur, menulis yang mewartakan kebenaran bukan pekerjaan yang nyaman. Ia menuntut keberanian yang tidak kecil. Keberanian untuk mengambil posisi. Keberanian untuk salah dan dikoreksi. Keberanian untuk menyakiti perasaan demi kebenaran yang lebih besar. Keberanian untuk tidak populer di hadapan orang-orang yang berkuasa.

Pilatus tidak berani menulis kebenaran meskipun ia menyatakannya dalam mulutnya sendiri: “Aku tidak menemukan kesalahan apa pun pada orang ini.” (Lukas 23:4). Ia tahu. Ia berkata. Tetapi ia tidak bertindak sesuai dengan apa yang ia ketahui dan katakan. Ia mencuci tangan dan itulah bentuk pengecut yang paling elegan sepanjang sejarah.

Penulis sejati adalah orang yang tidak mencuci tangan. Ia menulis apa yang ia yakini benar, bahkan ketika massa berteriak sebaliknya. Ia tidak menjamin tulisannya sempurna tetapi ia menjamin bahwa ia sudah meletakkan kebenaran yang ia miliki di atas kertas, dan menyerahkan sisanya kepada pembaca dan kepada waktu.

Kebenaran yang Menyakitkan, Harapan yang Tidak Mengecewakan

Kebenaran yang sejati sering kali hadir dengan wajah yang tidak menyenangkan. Ia mengganggu kenyamanan. Ia mengusik kemapanan. Ia memaksa kita untuk melihat hal-hal yang lebih mudah diabaikan. Tetapi justru di situlah letak kemuliaannya.
Spes non confundit harapan tidak pernah mengecewakan (Roma 5:5). Ini adalah prinsip yang harus menjadi roh dari setiap tulisan yang kita hasilkan. Tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang berani mengungkap kebenaran tetapi tulisan yang di ujungnya membawa pembaca kepada harapan. Bukan harapan yang naif. Bukan optimisme yang buta. Tetapi harapan yang lahir dari kejujuran yang sudah melewati penderitaan seperti Paskah yang hanya bisa datang setelah Jumat Agung.

Tulislah tentang luka tetapi tunjukkan jalan menuju pemulihan. Tulislah tentang ketidakadilan tetapi nyalakan lilin keadilan di ujung tulisan itu. Tulislah tentang kegelapan tetapi jangan biarkan pembaca menutup halaman terakhir tanpa membawa setitik cahaya.

Undangan

Hari ini, di Jumat Agung ini, ada undangan yang sederhana tetapi menuntut bagi setiap orang yang membaca tulisan ini. Berhentilah hanya menjadi penonton. Berhentilah hanya menjadi komentator. Ambillah pena atau ketiklah dengan jari-jari kita dan tuliskan satu hal yang Anda yakini benar. Satu pengalaman yang layak diwariskan. Satu kebenaran yang selama ini hanya Anda simpan dalam obrolan lisan yang akan menguap bersama waktu. Meja sudah tersedia. Teknologi sudah memudahkan. Waktu terus berjalan. Satu-satunya yang belum hadir adalah tangan Anda.

Dan ingatlah, meja yang bagus tidak akan berguna jika tidak ada tangan yang memegang pena. Peganglah pena Anda. Dunia menunggu kebenaran yang hanya Anda yang bisa tuliskan..”Kebenaran akan memerdekakan kamu.” — Yohanes 8:32. Spes non confundit — Harapan tidak pernah mengecewakan. — Roma 5:5.

Selamat Jumat Agung. Semoga Paskah membangkitkan bukan hanya iman, tetapi juga keberanian untuk bersuara melalui tulisan.

Penulis adalah Umat Keuskupan Bogor

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.