Media Sosial Tantangan Perkembangan Pendidikan Modern

oleh -1776 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Febrianto Burak

Pendidikan merupakan usaha dasar dan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Seorang Filsuf sekalian tokoh dalam pendidikan, John Dewey berargumen bahwa pendidikan harus melibatkan pengalaman nyata, bukan hanya transfer pengetahuan untuk mengembangkan potensi pengetahuan individu.

Dunia saat ini telah berhasil menciptakan terobosan baru di bidang ilmu pengetahuan. Kehidupan manusia dipermudah atau boleh dibilang diper – instan. Perubahan yang ada seolah-olah memper-instan-kan semua aspek kehidupan manusia, bahkan juga kemampuan kodratinya untuk bernalar. Namun hal ini bukan suatu hal yang mengagetkan bagi kehidupan manusia karena sudah terbawa dalam arus perkembangan saat ini.

Kemajuan teknologi yang ada tanpa disadari turut “meninabobokan” kesanggupan rasional kita. Pendidikan adalah proses berkesinambungan yang dimulai dari keluarga, sekolah, hingga pada masyarakat. John Dewey menyoroti pentingnya pengalaman belajar dan metode aktif serta laboratorium kehidupan demokratis yang menanamkan nilai-nilai intelektual yang bermanfaat dan berguna dalam kehidupan hari-hari belajar.

Namun dengan hadirnya media sosial dalam pendidikan sangat membawa pengaruh. Dalam hai ini orang tidak lagi menggunakan akal pikiran untuk berpikir melainkan teknologi untuk menyelesaikan suatu problema yang dihadapi dalam masyarakat. Pola pikir yang problem akan menjadikan suatu dampak, karena manusia sudah dikuasai oleh teknologi. Melihat bahwa manusia adalah makhluk yang bernalar atau makluk yang (ens rationale) dipandang secara latten, namun pikiran manusia saat sudah mulai terjajah oleh perkembangan dan kemajuan teknologi di dunia modern sekarang ini.

Dengan hal seperti ini juga dapat mempengaruhi pola pendidikan di dunia modern ini, karena para pendidik atau pelajar di zaman yang sekarang ini sudah menjadikan media sosial sebagai bahan referensi mereka bukan lagi menggunakan buku untuk berpikir tetapi para pendidik lebih menyatukan hidupnya denga media sosial untuk mengerjakan sesuatu sehingga dalam proses pendidikan akal pikiran yang ada akan terus dijajah atau dikolaborasikan supaya para pendidik tidak menggunakan akal sehat mereka melainkan selalu bergantung pada media sosial.

Media Sosial Tantangan Pendidikan

Kehidupan sekarang atau dunia saat ini sudah mengalami banyak perubahan. Globalisasi dan modernisasi media sosial menjadi tantangan baru bagi pertumbuhan pendidikan di dunia sekarang. Media sosial yang terus berkembang menjadi juga tantangan bagi para pendidik. Mengapa demikian karena dengan adanya terus perkembangan media sosial para pelajar atau pendidik tidak lagi menggunakan pola pikir sehat untuk menyelesaikan tugas sebagai seorang pelajar tetapi mereka lebih memilih menggunakan media sosial untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang diberikan dosen atau guru untuk membuka wawasan mereka supaya dapat menambah pengetahuan baru dalam otak atau akal pikir yang terus dibentuk.

Perkembangan teknologi terkhusus pada media sosial dapat membawa tantangan baru untuk para penerus bangsa dan negara ini karena sudah mulai jatuh dalam zona nyaman sehingga kodrat asal yang dimiliki pun dilupakan karena sudah terlalu jauh jatuh dalam kenyamanan dalam media sosial. Kita dapat melihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa, segala sesuatu yang dikeluarkan oleh media sosial semua dapat menarik perhatikan kehidupan semua orang mulai dari anak SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, sampai pada orang tua.

Iklan-iklan yang dikeluarkan media sosial begitu menarik sehingga mulai tumbuh dalam diri seseorang untuk ingin memiliki barang tersebut, walau barang yang diiklankan oleh media sosial tidak begitu dibutukan dalam kehidupan sehari-hari namun dengan keindahan yang ditawarkan media sosial mulai tumbuh keinginan besar untuk memperoleh barang tersebut.

Misalkan iklan pakaian yang bermotif batik. Umumnya produk itu diiklankan menggunakan seseorang yang berparas ganteng atau cantik dengan tubuh yang pas serta memiliki kecakapan dalam hal style. Dengan memakai pakaian batik tersebut terlihat begitu cantik dan ganteng.

Dengan kepercayaan diri yang begitu besar mengatakan bahwa saya harus memiliki pakaian tersebut karena ketika memakai pakain tersebut saya akan terlihat ganteng dan cantik. Dengan hal seperti ini yang membuat perkembangan media sosial menjadi tantangan karena manusia tidak lagi menggunakan akal pikir untuk berpikir bahwa dengan postur tubuh atau style saya seperti ini cocok tidak untuk memakai pakaian tersebut.

Sama halnya dengan pendidikan. Para pendidik atau pelajar di dunia sekarang lebih banyak menggunakan media sosial sebagai proses pertumbuhan pendidikan mereka dari pada harus membaca buku sebagai bahan referensi untuk menambah wawasan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pelajar atau pendidik.

Para pendidik di jaman yang terus berubah ini sudah menjadikan media sosial sebagai barang utama dalam proses belajar, mengapa demikian karena media sosial sudah menyamankan otak pikir sehingga mulai jatuh dalam hal kenyamanan yang diberikan oleh media sosial. Dengan nyaman dalam pemberian media sosial, maka mulai lupa denga kodrat asalnya sebagai manusia yang berpikir atau manusia yang bernalar dalam kehidupan sehari-hari di dunia.

Media Sosial: Jaman Modern

Jaman modern, jaman dimana semua orang sudah mulai mengubah hidup sesuai dengan perkembangan yang terus terjadi baik itu dalam hal apa saja karena dengan terus adanya perkembangan manusia terus jatuh dalam hal-hal tersebut. Media Sosial di Jaman Modern membawa perubahan bagi semua orang baik itu mulai dari yang kecil sampai pada orang tua sehingga pola pikir begitu terpengaruh dalam proses pertumbuhan baik dalam hal yang positif maupun dalam hal negatif dalam proses hidup.

Jaman modern jaman dimana melahirkan banyak aneka ragam yang menarik seluruh perhatian sehingga menjadi bahan tontonan semua orang untuk merekayasa kehidupan masing-masing. Jaman yang menumbuhkan perubahan-perubahan sehingga budaya yang khas dalam daerah pun mulai perlahan menghilang nilai-nilai leluhur sebagai penghormatan untuk orang-orang yang berada di daerah setempat. Budaya-budaya baru mulai perlahan mengikis tradisis-tradisi sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan kehidupan juga baik itu secara kelompok maupun secara individu.

Pendidikan Jaman Modern

Pendidikan di jaman modern pendidkan yang sudah mulai berubah mengikuti alur perkembangan dunia. Para pelajar atau pendidik lebih bergantung pada perkembangan sekarang yaitu media sosial yang dijadikan barang utama untuk pertumbuhan pendidikan. Para pendidik tidak lagi bergantung pada buku sebagai bahan referensi untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan melainkan lebih menggunakan media sosial sebagai bahan pertumbuhan untuk menghadapi masa depan yang terus berubah.

Pendidikan di jaman modern ini tidak lagi menggunakan akal sehat untuk menyelesaikan suatu tugas melainkan lebih bergantung pada media sosial karena menganggap media sosial adalah sumber utama, sumber segala pengetahuan. Manusia tidak memikirkan bahwa dibalik semua yang serba instan ini akan mengakibatkan masa depan yang buruk atau gelap karena seluruh pikiran sudah dijajah oleh teknologi dan juga sudah berhasil meninabobokan pikiran yang sehat setiap orang untuk berpikir dan berproses.

Manusia kodrat aslinya adalah berpikir dan bernalar seperti yang dikemukakan oleh filsuf, Rene Descartes “saya berpikir maka saya ada” dengan berpikir maka pikiran kita tidak akan jatuh atau terbawa oleh hal-hal yang instan atau hal-hal yang menutup atau mempersempit pikiran kita sebagai manusia berpikir atau bernalar seperti yang dikemukankan di awal tulisan. Sebagai pelajar dan juga penerus bangsa dan negara harus bijak dalam berpikir supaya bangsa dan negara yang dibangun tidak jatuh dalam hal yang fana atau hal yang buruk.

Namun di jaman modern ini tidak lagi menggunakan hal yang baik untuk menuntut pertumbuhan hidup, akan tetapi lebih memilih hal yang mudah untuk menyelesaikan tugas tersebut yaitu bergantung pada media sosial sehingga ini menjadi suatu tantangan baru bagi para pendidik.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Calon Imam Keuskupan Atambua

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.