Oleh: Irawaty Nusa
Semarak perbincangan mengenai karya-karya Hafis Azhari, saya memandangnya bahwa ia banyak menulis tentang kondisi Indonesia atau identitas keindonesiaan, baik melalui novel, cerpen maupun esai-esainya. Saya tidak tahu, kenapa dia tidak tertarik menulis orang asing di luar negeri. Gayanya sama sekali tidak kebarat-baratan, meskipun dialek-dialeknya sangat mudah diakses oleh dunia Barat. Seting lokasi yang dibangunnya sangat khas Indonesia, misalnya di sekitar warung baso, mie ayam, toko kelontong, kios pangkas rambut, restoran Padang, lingkungan pesantren hingga bioskop twenty one.
Bagi saya, tokoh-tokoh yang ditampilkannya berikut karakteristik dan tindakannya, cara sang tokoh berpikir, berbicara, melemparkan banyolan di gardu ronda, juga cara sang lawan bicara bereaksi, sangat khas Indonesia. Setidaknya sangat khas Jakarta sebagai pusat ibukota. Setiap kata dan kalimat yang digoreskannya adalah persoalan kita semua, di sini dan saat ini.
Tokoh utama dalam novelnya Pikiran Orang Indonesia, ditulis melalui orang pertama. Tugas utama protagonisnya adalah untuk mengamati hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Melihat kenyataan yang ada, bahkan apa yang seharusnya diperhatikan dan diperbuat. Meskipun sang protagonis terlihat netral, tetapi narasi yang disuguhkannya tampak berpihak pada kebenaran dan keadilan, karenanya tokoh Haris seakan menjaga diri agar selalu bebas dari kekerabatan, maupun hubungan sistem keluarga yang cenderung konservatif.
Di sisi lain, Hafis pun tak lepas dari narasi-narasi yang mewakili ketimuran, bahwa keluarga telah memainkan peran yang sangat signifikan. Tokoh-tokoh muda dalam novel Perasaan Orang Banten, selalu ingin memberontak dari belenggu sistem keluarga, namun pada akhirnya toh terpanggil kembali untuk memasuki kultur yang dinilai lebih etis dan humanis. Bagi Hafis, untuk konteks era milenial ini, buku seilmiah apapun tak lepas dari narasi-narasi imajinatif, ketimbang hanya teori-teori ilmiah semata. Ia seakan memiliki jenis baru cerita rakyatnya, sebagai akibat dari maraknya iklim modernisasi yang digaungkan melalui media massa, elektronik hingga media sosial akhir-akhir ini.
Dalam novel Perasaan Orang Banten, tampak berbeda dengan Jenderal Tua dan Kucing Belang. Di situ, ia seakan menginginkan pembaca tertawa, bahkan terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah polah kaum politisi dan kedunguan orang yang terobsesi pada kekuasaan. Sesekali ia pernah bercerita, dalam perjalanan kereta dari Merak menuju Rangkasbitung, seorang pembaca salah satu novelnya (Perasaan Orang Banten) tiba-tiba terpingkal-pingkal melihat wajah sang penulis di dalam gerbong kereta. Padahal menurutnya, “Muka dan wajah saya biasa-biasa saja. Kalau saya berkaca, sama sekali tidak menyiratkan raut yang lugu, polos maupun kocak.”
Suatu kali dalam acara bedah bukunya, ia berorasi secara jenaka, bahwa negeri ini bagaikan panggung komedi. Kehidupan masyarakat Banten, Jakarta dan seluruh wilayah Indonesia, bagaikan panggung guyonan yang sibuk menyaksikan teve sebanyak 70 saluran, menampilkan sosok-sosok politisi ingusan, selebritas kelas kampung yang membayar iklannya sendiri, serta kaum akademisi yang dungu karena terpergok membeli gelar kesarjanaan. Untuk itu, dalam Pikiran Orang Indonesia, Hafis seakan mencoba menulis dengan sikap yang serius. Rentetan peristiwa politik setelah tahun 1965 adalah waktu-waktu yang serius, kedunguan dan kebebalan politisi harus disikapi secara serius.
Anda yang pernah menikmati novel jenaka karangan Remy Sylado, Seno Gumira Adjidarma, Gerson Poyk maupun Arswendo Atmowiloto, takkan pernah ditemukan kembali dalam keseriusan Hafis Azhari dalam penggarapan Pikiran Orang Indonesia. Generasi saat ini, dalam pengamatannya adalah generasi yang serius. Tapi bila kita mengambil jarak dari keseriusan menanggapi iklim politik di negeri ini, tampaknya hal itu menjadi lucu. Baginya, momentum saat ini adalah waktu-waktu yang sangat ambigu di negeri ini.
Arti kebahagiaan
Dalam acara bedah bukunya di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta beberapa waktu lalu, Hafis mengakui dirinya sering terbawa emosi saat menuangkan pengalaman hidup dari tokoh protagonisnya. Narasi yang tertuang dalam Pikiran Orang Indonesia terbilang sangat valid, aktual, bahkan tak tergoyahkan hingga meletusnya kasus Sambo, kemudian menyusul kasus-kasus hukum bagi para koruptor kelas kakap, selaku pewaris-pewaris militerisme Orde Baru.
Saat ini, banyak kompetisi yang sebanding bahkan mengalahkan dunia sastra, terutama dalam hal memberi edukasi yang menghibur. Ada musik, film, sinetron, bahkan pesan-pesan singkat melalui YouTube, TikTok dan lain-lain. Dulu orang masih sempat membaca novel-novel tebal seperti Bumi Manusia, Arus Balik maupun Hotel Prodeo, tapi saat ini orang-orang semakin sibuk, dan berkejar-kejaran dengan waktu.
Sangat jarang kita temukan dalam karya Hafis, suatu cerita bertema kutukan seperti pada Calon Arang atau Arok Dedes dalam karya Pramoedya Ananta Toer. Karena dalam konsep Islam (monoteisme), orang yang melakukan keburukan dan kezaliman, sebenarnya ia telah mengutuk dirinya sendiri.
Dalam opini di kompas.id, “Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra” (14 November 2021) ditegaskan bahwa Hafis menolak ending cerita yang hanya mengandalkan kemenangan sang protagonis dalam menyaingi dan menumbangkan sang antagonis. Baginya, kebanyakan genre sastra Eropa-Amerika yang menyandarkan diri pada eksistensialisme, lebih sibuk memperebutkan kemenangan semu, bahwa sang tokoh harus gembira dan senang, apabila ada pihak lain yang menderita atau tersakiti.
Bagi Hafis, jika tim sepakbola atau bulutangkis mengalahkan lawannya, maka hal tersebut hanya kegembiraan yang mengandaikan adanya pihak yang terkalahkan. Jika Anda punya mobil, lantas merasa gembira karena banyak orang Indonesia yang tak terbeli mobil, maka Anda baru sebatas merasa senang atau gembira yang sifatnya sesaat. Sedangkan, karya-karya Hafis Azhari meniscayakan adanya kebahagiaan yang tidak menimbulkan adanya pihak lain yang terkutuk atau terkorbankan. Itu tercermin jelas dalam karyanya, Perasaan Orang Banten, yang pertama kali digagas peluncurannya oleh Gol A Gong selaku Duta Baca Indonesia, di Rumah Dunia, Serang, Banten.
Kota Cilegon tempat kelahirannya, dilingkari oleh jelujur pantai barat hingga utara Banten. Juga terdapat perbukitan di bagian selatannya. Jadi, karakter khas orang Cilegon terbilang lebih temperamental ketimbang wilayah-wilayah Banten dan Jawa lainnya. Memasuki era milenial ini, Cilegon masih bersikukuh sebagai kota industri (Karakatau Steel) yang memiliki lahan seluas sepertiga kota tersebut. Karenanya, masyarakat Cilegon memiliki reputasi sebagai kota duniawi yang hedonis, di tengah iklim peradaban Islam Banten, seperti yang tergambar jelas dalam Perasaan Orang Banten.
Karya yang langka
Semula saya menduga bahwa karya Pikiran Orang Indonesia seperti kebanyakan karya-karya seniman Jawa lainnya. Sebagaimana siklus pertempuran antara tesis yang harus dilawan dengan anti-tesis. Namun dalam endingnya, ternyata Hafis menawarkan kebenaran universal sebagai sintesis, bahwa ketidakadilan memang harus dilawan tetapi bukan dengan cara-cara membenci atau menyakiti.
Dalam opini di harian Kompas, “Membangun Akal Sehat” (28 April 2018), secara implisit dinyatakan, bahwa yang digugat dalam novel itu bukan semata-mata rezim Orde Baru melainkan rezim manapun yang menyandarkan diri pada penghalalan untuk bertindak korup, baik korupsi harta rakyat, intelektual maupun korupsi pemikiran. Upaya pemerintah manapun yang ingin melestarikan eksploitasi manusia terhadap manusia lain, itulah sebenarnya yang diserang dan dikritik dalam novel tersebut.
Untuk itu, ketika ada kritikus sastra yang menulis di harian Kompas, Republika hingga media-media daring yang bertajuk sastra, bahwa karya Pikiran Orang Indonesia adalah novel yang ambisius, saya kira penilaian itu terlampau dangkal dan terburu-buru. Pada prinsipnya, Hafis ingin menyuguhkan suatu bentuk sastra mengenai memori dan ingatan kolektif bangsa Indonesia. Bukan semata-mata memori aku yang menyaingi memori kamu, tetapi suatu kerja peradaban yang bahan bakarnya adalah memori masa lalu. Sekali lagi, bukan semata-mata memori segelintir elit politik bagi kepentingan partai tertentu.
Kita dapat menangkap sinyal yang kuat bahwa yang ingin dicapai dari tulisan esai, cerpen maupun novel Hafis, bukan semata-mata kegembiraan dan kesenangan sesaat, melainkan inti dari kebahagiaan yang muaranya terdapat dalam esensi religiositas (monoteisme). Jadi, percuma saja berdebat bertele-tele dengan segala-macam retorika politis, apakah karya Hafis itu mendukung suatu garis politik tertentu ataukah tidak.
Omong kosong jika Anda menghabiskan waktu untuk membahas hal-hal begituan, karena dia sebagai penulis independen tidak membutuhkan bayaran dari partai politik manapun. Ia hanya bekerja dengan mengandalkan kekuatan otak dan kecerdasan dirinya sendiri, bukan dari sponsor manapun. Ia terbangun di waktu sepertiga malam untuk menggoreskan pena bagi kepentingan pencerdasan umat, bukan untuk bualan juru kampanye dengan mulut berbusa, yang tujuannya semata-mata untuk klik kepentingan partai tertentu. ***
Penulis adalah Pengamat sastra milenial dan peneliti historical memory Indonesia, menulis esai dan prosa di berbagai media nasional, luring dan daring.







