Kufur Nikmat Bangsa Israel

oleh -110 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Kufur nikmat biasanya muncul disebabkan ego dan kesombongan manusia, karena tak mengakui anugerah dan karunia yang diberikan Allah Swt. Meskipun pelakunya tidak secara otomatis dikategorikan “murtad” tetapi dampak yang ditimbulkan akibat perilaku kufur nikmat ini, mengakibatkan kegoncangan jiwa dan hilangnya ketenangan dan akal sehat.

Ketika harta dan kekayaan diperoleh, bahkan kekuasaan diraih, namun ketika Allah mencabut “keberkahan” dari semua itu, maka semua karunia itu tidak membawa kenikmatan dalam hidupnya. Jadi, datangnya azab bagi yang tidak bersyukur, dikarenakan pelakunya jauh dari rahmat dan maghfirah Allah. Untuk itu, Rasulullah sering memperingatkan pentingnya mengingat kematian, serta dianjurkan agar melihat orang yang “di bawah” dalam urusan-urusan dunia dan kepemilikan.

Berkali-kali peringatan di dalam Al-Quran maupun Injil (Alkitab) agar Bani Israel banyak bersyukur, dan jangan sampai kufur nikmat. Namun, kebanyakan mereka menganggap kesuksesan dan keberhasilan adalah hasil dari usaha sendiri, hingga enggan untuk berderma (sedekah), serta angkuh dengan kelimpahan yang dimiliki.

Di dalam Al-Quran jelas dinyatakan bagi manusia yang bersyukur, kelak nikmat Tuhan akan ditambah dan ditambah terus. Pengertian “nikmat” ini tidak selamanya identik dengan bertambahnya uang dan pundi-pundi, namun rizki Tuhan itu meliputi kesehatan, kecukupan, ketenangan hingga kebahagiaan hidup.

Sedangkan, sikap kufur nikmat identik dengan tidak adanya kesadaran dan pengakuan bahwa segala kesenangan dan fasilitas yang dimiliki hakikatnya bersumber dari pertolongan dan pemberian Allah Swt.

Secara bahasa, kufur berarti “menutup”, yang dalam konteks ini berarti menutup-nutupi kebenaran, dengan tidak mensyukuri nikmat dan anugerah tersebut. Dalam ajaran Islam, secara eksplisit sikap “kufur nikmat” diidentikkan dengan sifat dan perilaku yang suka mengeluh, menggerutu, terlalu fokus pada apa yang tidak dimiliki, merasa sombong atas pencapaiannya hingga melupakan peran Tuhan.

Satu hal lagi, yang gemar dilakukan Bani Israel dari zaman ke zaman, yakni menggunakan nikmat Allah untuk perilaku dan perbuatan maksiat. Itu artinya, bahwa kesehatan, kedudukan, harta kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki, dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama mereka. Dengan demikian, hati mereka tertutup dan mengeras, hingga berperilaku kikir dan bakhil, serta enggan menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Beberapa varian dari perilaku “kufur nikmat”, yakni tidak adanya pengakuan dalam hati, bahwa nikmat itu hakikatnya bersumber dari Allah; juga secara lisan enggan berzikir dan memuji pemberian Allah; bahkan tak mau menggunakan nikmat Allah untuk hal-hal yang bermaslahat.

Sedangkan, perilaku “syukur nikmat” akan berefek pada sifat rendah-hati, tawadhu, qana’ah, serta merasa cukup atas pemberian Allah. Lalu, pada tingkatan “makrifat” seseorang akan merasa yakin, bahwa takdir yang ditentukan Allah adalah satu-satunya jalan terbaik yang layak disyukuri.

Karena kufur itu bersifat “menutup diri”, maka syukur itu bersifat “membuka diri”, atau membuka hati untuk berlapang dada, baik kepada manusia dan kepada Allah, bahkan rela membuka hatinya untuk memberi maaf kepada orang yang bersalah.

Peringatan tegas dalam Al-Quran, mengenai sejarah hidup Bani Israel, adalah sifat angkuh dan takabur, karena merasa dirinya sebagai “bangsa terpilih”. Akibatnya, kebanyakan telah menutup hati mereka untuk bersikap tawadhu dan rendah-hati, yang kemudian berdampak pada upaya-upaya merendahkan dan menafikan agama maupun ras dari bangsa lain.

Dalam buku Homo Sapiens, dengan jelas sejarawan Yahudi, Yuval Noah Harari, seakan menganggap Yahudi sebagai ras unggul dari manusia modern, kemudian menganggap ras-ras lainnya sebagai bangsa marjinal dan terbelakang. Akibatnya, mereka hanya mau berbagi kepada ras dan kelompoknya, karena merasa takut hartanya berkurang, serta merasa bahwa pencapaian bangsa Israel lantaran usaha dan jerih-payah perjuangan dan pengorbanan mereka.

Dengan demikian, hilanglah rasa aman dan keberkahan atas nikmat yang mereka peroleh. Batin mereka merasa resah karena kebencian dan kedengkian kepada bangsa lain, terutama kepada bangsa Iran dan para pendukungnya.

Sampai kemudian, musnahlah apa-apa yang telah mereka himpun, yang dikira dapat memberinya kesenangan hingga umur tua. Namun, jika Allah menghendaki, sangat mudah bagi-Nya untuk menarik dan mencabut kembali segala kenikmatan yang mereka peroleh, dalam sekejap mata. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Banten, juga penulis buku best seller “Marwah Pesantren”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.