Kualitas dan Keabadian Karya Sastra 

oleh -117 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Dalam opini bertajuk Memahami Skizofrnia dari Karya Sastra (Kompas.id) tertulis: “Hafis Azhari menggambarkan seorang penderita psikopat dengan kepribadian yang penuh kharismatik.” Melalui karya-karya prosanya, Hafis sering mengungkap watak dan karakteristik manusia Indonesia yang selalu mengambil keputusan yang didasari oleh emosi dan perasaan sesaat, bukan berdasarkan data dan logika yang benar.

Dalam novelnya Perasaan Orang Banten (POB), beberapa tokoh politik yang ditampilkan seakan pintar memanipulasi situasi untuk mendapatkan kepercayaan publik, meski bersikap laiknya seorang dungu yang tak pernah memahami dasar-dasar ilmu politik modern. Perilaku seperti itu telah menjadi kebiasaan yang meluas hingga membentuk budaya massal. Tak ayal, novel itu pun menampilkan beberapa tokoh yang akhirnya terjerumus pada kepercayaan mistis dan takhayul yang dibalut dengan teks-teks kitab suci, padahal sudah jelas tidak ada dasar ilmiahnya.

Tokoh-tokoh politik yang tergambar dalam POB tak lepas dari kecenderungan banyak masyarakat yang lebih menyukai sosok yang pintar bicara dan berorasi, atau karena dorongan orang terdekat. Itulah mengapa strategi kampanye di negeri ini lebih fokus pada gimmick yang merayu dan menarik perasaan pemilih.

Jalan pintas yang instan telah mewakili karakteristik para tokoh secara dominan. Rasa hormat yang berlebihan pada budaya leluhur, juga menghambat proses berpikir kritis di kalangan generasi muda yang telah melahap pola pendidikan berbasis hafalan teks, ketimbang analisis dan logika ilmiah. Tokoh dari kalangan Islam konservatif maupun mantan aktivis PKI, sama-sama hidup di tengah lingkungan yang penuh dengan bias berpikir, serta kecenderungan mencari jalan pintas dalam mengambil keputusan.

Budaya yang mendorong untuk ikut arus tanpa banyak bertanya, serta minimnya kemampuan berpikir kritis sejak dini, ditambah lagi tekanan sosial yang membuat mereka memaksakan diri agar tampil keren sesuai tren dan zaman.

Selain itu, tentu banyak nilai positif yang bisa ditemukan dalam kearifan lokal, jika pembaca sanggup menyaringnya dengan logika dan perspektif yang logis. Pada bab-bab akhir, tergambar nilai-nilai solidaritas pada masyarakat Jombang yang semakin menyadari, bahwa manusia adalah makhluk yang sarat kekhilafan, hingga sepantasnya melakukan evaluasi secara kritis.

Yang tak kalah menarik dari puluhan tokoh yang ditampilkan dalam POB yang diluncurkan di Rumah Dunia, Banten (sejak 2012) itu, adalah debat-debat kusir tentang politik di sekitar warung kopi, gardu ronda hingga warung kelontong dan kios pangkas rambut. Mereka berkoar-koar membicarakan isu-isu politik, tanpa sanggup melakukan kerja-kerja politik secara nyata dan massif. Akibatnya, hingga hari ini tetap mewariskan “tukang koar-koar” di media sosial, dengan analisis serba rigid dan dangkal belaka.

Saat ini, masyarakat kita tengah mengalami proses penurunan lintas generasi dalam hal komprehensi membaca. Karena pengaruh medsos, waktu membaca kian berkurang, ingatan mengenai isi bacaan pun berkurang, dan masyarakat semakin sulit melakukan analisis kritis. Jika tren ini terus berlanjut, risikonya adalah terjadinya kerusakan pada fondasi kebudayaan masyarakat kita.

Menurut Hafis Azhari, novel POB sengaja digarap dengan tidak mengikuti tren bahasa yang genit kebarat-baratan. Meskipun teknologi telah memfasilitasi diseminasi informasi, novel POB tetap valid dan tidak terfragmentasi oleh pola pikir Amerika maupun Eropasentris. Penulsinya seakan tak peduli, meskipun terus menerus digempur dengan kebisingan dan sensasionalisme; biarpun kebenaran obyektif seakan terkalahkan oleh perasaan subyektif dan impuls alamiah.

Pada prinsipnya, ia ingin menyuguhkan kehidupan masyarakat yang kerap terburu-buru mengambil keputusan dengan argumentasi yang urik dan dangkal; kehilangan kemampuan menganalisis isu secara menyeluruh; tak mampu berpikir kritis serta memahami ragam perspektif, hingga mereka terjerumus dalam kesesatan logika, dan tak sanggup menimbang validitas bukti. Rumor dan isu yang mereka serap, telah dibentuk oleh retorika alarmis dan bias konfirmasi, bukan oleh bukti dan fakta yang akurat.

Inilah yang membuat novel POB masih ramai menjadi perbincangan publik hingga saat ini, baik di media cetak maupun daring. Relevansinya masih tetap utuh dan aktual, bahwa sampai saat ini masyarakat kita toh masih tetap menelan informasi tanpa betul-betul mengunyah dan mencernanya. Kondisi ini masih menggerus fondasi dari demokrasi yang sehat, serta menghambat berpikir jernih dan kritis.

Sebagian masyarakat masih terlena dan membiarkan pikirannya dipengaruhi oleh suara-suara keras di media sosial, daripada diskursus logis untuk membahas karya Pramoedya, Remy Sylado maupun Y.B. Mangunwijaya. Kita telah menjadi malas secara intelektual, dan gagal menerapkan daya pikir kritis dan ilmiah.

Untuk itu, dengan membaca novel POB, hendaknya kita dapat mengekspos batin kita pada pengalaman, gagasan dan budaya baru. Karya sastra dapat membawa kita pada imajinasi, membayangkan kehidupan liyan, serta meluaskan pandangan terhadap dunia. Aktivitas membaca karya sastra, dapat menguatkan fokus, keterampilan analisis, dan daya berpikir abstrak, juga membangun empati dan kasih sayang. Melalui cerita, kita mendapatkan wawasan emosional atas kondisi manusia dari beragam peradaban.

Bahkan, dengan mencermati karya sastra dengan baik, jiwa manusia akan sanggup merancang, membangun, meregulasi, dan menggunakan teknologi untuk kebaikan dan kemaslahatan. Hilangnya kemampuan untuk memahami dunia sekitar kita dan mencerna gagasan-gagasan yang kompleks adalah sebuah krisis eksistensial yang nyata. Dengan wacana yang membuka wawasan dan kesadaran, kita akan sanggup mempraktikkan pembacaan kritis atas media modern, demi mencegah reaksi-reaksi spontan yang mengganggu nalar dan akal sehat.

Pada akhirnya, validitas novel POB yang terus menjadi perbincangan publik, telah sanggup menghadapi platform digital yang mendominasi lanskap media modern. Meskipun teknologi memampukan persebaran informasi secara cepat dan instan, juga platform digital diuntungkan dengan konten-konten pendek, tetapi novel Perasaan Orang Banten terus melanglang buana menjadi bacaan sastra yang patut menjadi contoh bagi para penulis milenial saat ini. ***

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menulis prosa dan esai untuk media-media nasional, seperti Koran Tempo, Kompas, Republika dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.