Krisis Ekologi Kian Gawat dan Ajakan Keras Ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus

oleh -791 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Febrianto Burak

Refleksi singkat terhadap krisis ekologi sebelum melihat masalah. Refleksi ini di buat untuk melihat krisis ekologi yang kian gawat ajakan keras Laudato Si.

Krisis ekologi yang kian gawat menjadi peringatan bahwa hubungan manusia dengan alam sedang berada dalam kondisi yang tidak sehat. Hutan yang terus berkurang, pencemaran udara dan air, serta perubahan iklim yang semakin terasa menunjukkan bahwa cara manusia memanfaatkan alam seringkali melampaui batas dalam kehidupan setiap hari. Alam tidak lagi diperlukan sebagai rumah bersama yang harus dijaga, tetapi lebih sebagai sumber keuntungan yang terus diambil tampa memikirkan dampak bagi kehidupan selanjutnya.

Dengan hal seperti ini situasi dapat mengajak kita untuk merenung kembali bahwa manusia sebenarnya sangat bergantung pada alam. Sehingga dengan hal seperti ini kita harus melihat kembali bahwa, krisis ekologi bukan persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesadaran dan tanggung jawab manusia terhadap bumi.

Refleksi ini membuat kita sadar dan kembali kepada keadaan di mana pentingnya perubahan sikap dan gaya hidup. Manusia harus perlu belajar hidup lebih bijak dalam menggunakan sumber daya alam, supaya dapat mengurangi perilaku yang merusak lingkungan, serta mendukung upaya pelestarian alam. Alam akan terawat jika kehidupan manusia tidak menjadi penghancur. Maka mari kita belajar dari ajaran Paus Fransiskus agar tidak menjadi pengrusak alam melainkan sebagai pemelihara alam semesta sebagai pemenuhan kebutuhan hidup setiap hari.

Krisis Ekologi Ajakan Laudato Si

Perjalanan panjang dan berliku dalam “mengendus Kebenaran, meraih Kebijaksanaan” sering kali berkutat hanya pada atau tentang nasib manusia semata-mata. Nasib Bumi sebagai common home, acapkali diabaikan. Bumi sebagai rumah bersama dalamnya manusia ada, hidup berinteraksi, dan berkelanjutan, meski makin lantang diucapkan dan dijamin masa depannya. Ensiklik Laudati Si jadi wujud konkret dan tegasnya dalam hal ini.

Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi atau hubungan timbal balik antar makluk hidup yang satu dengan makluk hidup yang lain, serta antar makluk hidup dengan benda mati di sekitarnya. Ekologi salah satu cabang ilmu biologi yang sangat penting, lunak karena selalu berhubungan dengan beberapa masalah seperti populasi manusia, penurunan sumber pangan, dan pencemaran lingkungan.

Dalam kehidupan orang selalu mempertanyakan tentang ekologi yang begitu urgen dan substansial yang terus mengalami krisis yang begitu berat ini? Namun pertanyaan ini rumit dan membutuhkan keseriusan dalam menjawab secara setuntas-tuntasnya dalam kehidupan masyarakat. Namun dengan pertannyaan ini kita bisa melihat hal yang utama atau pokok penyebab krisis ekologi yang kian gawat ini. Penyebab terberat atau yang utama dalam krisis ekologi saat ini adalah jumlah manusia yang meningkat (over population) sementara daya dukung terkait peningkatan jumlah manusia ini atau daya dukung sumber daya alam sangat terbatas. Ada juga penyebab lain yang mengakibatkan krisis ekologi seperti, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berwajah ganda sehingga mengakibatkan lingkungan yang menjadi korban karena di satu sisis terus lahir kemajuan dalam kehidupan.

Dengan terjadinya hal-hal seperti ini dampaknya kembali ke alam yaitu kehutanan alam menjadi rusak, terjadi banjir, tanah longsor, kekeringan dan juga gundulnya lahan akibat pembakaran atau pembabatan sehingga sampai pada ketidakseimbangan ekosistem global. Krisis ini kian mendesak dan menusuk, sehingga kita dipaksa untuk terus melihat krisis-krisis yang dimaksud, agar dengan hal demikian inti terdalam dari rasa sakit yang mengerikan itu dapat diketahiu dengan jelas dan juga logis.

Dalam hal ini para temuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia sebagaimana dilansir dalam siaran pers pada peringatan Lingkungan Hidup Sedunia, 5 juni 2017, yang amat mencemaskan itu. Di sini mengatakan krisis ekologi di NTT sangat mencemaskan atau mengkhawatirkan itu. Sumber daya alam yang terus dieksploitasi dan lingkungan yang terus tercemar oleh berbagai aneka jenis limbah pabrik serta tidak adanya pemulihan dari sampah lingkungan pasca tambang terus terjadi.

Laudato Si: Gereja sebagai Jawaban

Dalam pandangan ini menunjukkan bahwa Gereja diam saja atau angkat bicara dalam krisi ekologi? Alih alih membentangkan teks Kitab Suci dan semua Dokumen resmi Gereja. Dalam Laudato Si terlebih dalam kaitannya denga krisis yang telah deretkan sebelumnya. Dengan hal ini jelas menunjukkan bahwa Gereja tidak pernah bungkam atau diam tentang masalah ini. Gereja tidak tinggal diam tetapi gereja sebagi jawaban atas masalah ini sehingga Paus Fransiskus, mewakili suara hati Gereja Universal mewujudnyatakan keprihatinan yang sama akan ekologi. Ensiklik ini secara umum dan serius menegaskan keprihatinan Gereja akan ekologi ini.

Ajakan Tegas Laudato Si

Paus Fransiskus mengajukan suatu pertanyaan penting mengenai Dokumen yang ditujukn kepada semau orang yang berkehendak baik, dimuat mengenai pada suatu kenyakinan iman? Paus Fransiskus sadar bahwa dalam bidang politik ada yang tegas menolak gagsan tentang penciptaan atau menganggapnya tidak relevan lalu mengesampingkan sebagi sesuatu yang irasional kekayaan yang dapat disumbangkan oleh agama-agama kepada suatu ekologi integral dan kepada pengembangan penuh kemanusiaan. Orang melihat agama sebagai subkultur yang hanya perlu ditoleransi.

Namun ilmu pengetahuan dan agama, yang mewartakan pendekataan berbeda dalam memahami kenyataan, dapat masuk kedalam doialoq yang intes dan bermanfaat bagi keduanya. Paus mengelaborasi secara lengkap topik – topik seputar cahaya yanng ditawarkan iman, hikmah cerita – cerita alkitab, mistery alam semesta, pesan setiap makluk dalam harmoni seluruh ciptaan, persekutuan universal, tujuan utama harta benda, pun juga tatapan Yesus yang mengajak kita hidup dalam harmoni penuh cinta dengan dunia ciptaan.

Di sini Paus Fransiskus dapat menyebutkan teknologi, globalisasi, dan antroposentrisme modern sebagai akar utama atau pokok utama dalam krisis ekologi. Ekologi yang dimaksudkan di sini tidak hanya menyentuh lingkungan, tetapi juga ekologi sosial, ekonomi, budaya, dan juga keseharian seluruh hidup.

Paus juga sangat menekankan pada kesejahteraan umum dan juga menyusul keadilan antar generasi. Di sini juga seorang teolog bertanya tentang krisis ekologi yang kian gawat ini, Hans Kung. Sebagai anggota Gereja dan juga penghuni common home ini kita perlu mewujudkan kepedulian kita terhadap alam lingkungan lewat aksi-aksi kongkret. Perawatan alam lingkungan dapat dimulai di masing-masing keluarga, kampung halaman komunitas-komunitas, hingga lingkungan-lingkungan di perkotaan.

Sehingga dengan hal ini Paus Fransiskus menekankan bahwa “etika ekologis” Hans Kung menawarkan “etika rasional”. Dengan aturan-aturan khusus, sebuah etika rasional dapat menganjurkan sikap dan gaya hidup yang sangat khusus yaitu pengenalan diri, kapasitas untuk perdamaian, pembagian yang adil, peningkatan taraf hidup. Etika juga dapat menawarkan aturan prioritas khusus dan keselamatan untuk menilai untung ketika menimbang akibat dari teknologi, aturan untuk memecah masalah tanggung jawab untuk memberikan bukti yang memuaskan, bahkan kebaikan bersamadan pembalikan.

Berhadapan dengan fakta yang selalu aktual bahwa alam–lingkungan kita semakin rusak oleh sebab perilaku egois manusia dengan karakter ekploitatif. Sebagai anggota Gereja dan penghuni common home kita perlu mewujudkan kepedulian kita terhadap alam lingkungan lewat aksi aksi kongkret.

Perawatan alam–lingkungan dapat dimulai di masing-masing keluarga, kampung halaman dan juga komunitas-komunitas. Dalam bidang pendidikan diharapkan semakin besarnya perhatian pada agenda edukasi yang ramah lingkungan, yang berorientasi pada kelestarian ekologi. Dalam hal ini Laudato Si juga menawarkan solusi yang baik dalam konteks pastoral. Solusi yang ditawarkan disini ialah program Go Green yang sangat ramah lingkungan seperti yang dilakukan oleh keuskupan Bogor dan keuskupan Agung Jakarta.

Program yang dimaksudkan di sini gerakan seluruh umat dan masyarakat untuk merwat lingkungan di setiap paroki agar lingkungan tetap terjaga dan selalu konsisten dengan manusia sebagai makluk hidup. Seluruh umat dilibatkan dalam program ramah lingkungan seperti menanam pohon, memilah dan mengolah sampah, reboisasi di tempat-tempat yang gundul. Sehingga Go Green sangatlah menarik untuk dipelajari dan diikuti.

Mengendus Kebenaran, Meraih Kebijaksanaan

Gereja telah sejak lama sadar dan tanggap ditambah lagi seruan yang amat tegas sebagai termaktub dalam Laudato Si, ekologi global dan krisis yang melilitnya tetap aktual dan meminta tanggapan yang tangkas dan lebih praktis dari semua penghuni bumi ini. Wahana Lingkungan Hidup telah melakukan sikap pro aktif yang progresif untuk ditanggulani. Pesan pada bagian Laudato Si disini hendaknya membatin dalam diri dan perjuangan kita yang kita perjuangkan ini.

Spiritualitas ekologi mesti menjiwai semua penghuni bumi, yang nyata lewat perubahan menuju gaya hidup yang baru yaitu perjanjian manusia dengan lingkungan atau alam. Sehingga kita perlu pertobatan ekologis. Spiritual ekologi mesti menjiwai semua penghuni bumi.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.