Oleh: Yulius Rua
Manusia secara hakikat merupakan makhluk sosial yang tak bisa dipungkiri, dimana interaksi berkecimpung melalui saling menyapa. Menyapa adalah sesuatu yang tidak asing lagi bagi manusia. Hal ini, menjadi interaksi sosial yang paling sederhana bagi seluruh peroses kehidupan manusia dan bentuk interaksi, dapat ditemukan melalui senyum, salam dan sapaan-sapaan lainnya.
Melalui bentuk sapaan seperti ini, boleh dilihat sebagai tanda bahwa seseorang menghadirkan orang lain sebagai objek dalam interaksi. Dalam realitas hidup masyarakat tradisional, kebiasaan seperti ini tampak alami dan hubungan itu terjadi ketika orang bertemu di jalan, di pasar atau di lingkungannya sendiri.
Namun, dalam realitas hidup masyarakat yang serba modern, kebiasaan ini perlahan mulai mengalami pemudaran dan penurunan. Tidak lain, kita mengamati ketika orang berjalan bersama tapi tidak saling menatap, menyapa dan bangun komunikasi. Ketika berada di lingkungan tempat tinggal sendiripun, ditemukan bahwa banyak orang yang belum mengenal sesamanya apalagi tetangga terdekatnya. Karena Setiap orang selalu sibuk dengan tugas-tugas pribadi maka asumsinya orang tenggelam dalam dunianya sendiri.
Berangkat dari fenomena ini, pola hidup atau gaya hidup manusia sudah mengalami transformasi dalam membangun relasi sosial. Apalagi dengan perkembangan teknologi saat ini yang membuat orang semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Dengan hadirnya alat-alat digital seperti handphone, laptop, media sosial dan peralatan lainnya, dapat dilihat sebagai nilai yang positif karena mempermudah komunikasi jarak jauh.
Namun, di sisi lain teknologi bisa menjadi dampak negative dan mempengaruhi manusia jauh dari orang-orang di sekitarnya. Ironisnya, manusia memang dapat berkomunikasi secara instan bersama orang yang jauh, tetapi justru kehilangan relasi dengan orang-orang terdekat yang menciptkan individualisme dalam setiap pribadi manusia.
Sementara itu, pola hidup masyarakat modern cenderung bersifat individualistis. Seorang filsuf bernama Kierkegaard “menekankan pentingnya menjadi individu sejati, yakni suatu subjektivitas yang tidak ditentukan oleh sistem objektif, masyarakat, norma luar, tetapi diperjuangkan secara personal melalui pilihan, tanggung jawab dan kesetiaan terhadap diri sendiri di hadapan Allah”. Karena berbagai Kesibukan pekerjaan setiap individu dan aktivitas studi para pelajar atau mahasiswa, membuat orang menjadi lebih fokus pada dirinya sendiri.
Efeknya, bentuk perhatian kepada orang lain mengalami penurunan. Sikap saling menyapa yang dianggap sebagai bentuk kesopanan saat ini berasumsi sebagai sesuatu yang tidak begitu penting. di sisi lain, bentuk sapaan tidak hanya sebagai tindakan formal atau kebiasaan sosial setempat. Tetapi, mengandung nilai moral dan etika yang begitu mendalam. Sapaan merupakan bentuk eksistensial dari manusia itu sendiri.
Kebiasaan menyapa mulai hilang dan relasi dalam masyarakatpun turut sirna. Memang terlihat seperti hidup bersama, tetapi seakan-akan tidak hidup bersama. Situasi dahulu menjadi sebuah ciri khas hidup masyarakat kini sudah tergantikan oleh sikap cuek dan apatis. Mengalami peristiwa seperti ini, hubungan antarpribadi menjadi semakin tidak kuat lagi sebab tidak ada nilai perhatian sederhana untuk mengindikasikan kalau seseorang itu peduli akan keberadaaan orang lain.
Apabila situasi ini dibiarkan, manusia tak dapat dikatakan sebagai makhluk sosial, melainkan menjadi manusia yang menganut paham individualisme. Maka dari itu, setiap orang harus kembali menyadari kalau sapaan bukanlah hal yang sepele, melainkan satu-satunya cara untuk mempererat relasi antar sesama dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Meskipun demikian, membangun kembali budaya menyapa sangatlah kompleks. Tapi solusi yang dapat ditawarkan adalah dari masing-masing pribadi, membangun kesadaran seperti: tersenyum kepada orang yang ditemui, mengucapkan selamat dan menanyakan kabar.
Kemudian pada akhirnya, perkembangan zaman semestinya tidak boleh membuat manusia seakan-akan hilang nilai dasar kemanusiaannya, ditengah situasi teknologi yang semakin maju dan kesibukan setiap pribadi, perlu adanya budaya saling menyapa sebagai bentuk pengingat bahwa manusia masih membutuhkan kehadiran orang lain dan respon balik dari sesama dalam berinteraksi. Bentuk sapaan-sapaan seperti itulah dapat menumbuhkan keharmonisan dalam kebersamaan dan membuat kebahagiaan menjadi persatuan yang erat.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang









