Kajian Hafis Azhari tentang Israel-Palestina

oleh -1543 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muhamad Pauji

Film garapan Steven Spielberg, Shindler’ List (1993) adalah film satu-satunya yang memenangkan Academy Award, namun dilarang disaksikan oleh rakyat Indonesia. Film itu tidak boleh ditayangkan setelah Badan Sensor Film (Indonesia) menyatakan, bahwa Shindler’s List sangat mengandung misi ke-Yahudian. Tapi ironisnya, film tersebut sanggup meraih 7 piala Oscar dalam ajang perfilman bergengsi sedunia. Hingga tak urung, Gus Dur berseberangan dengan pendapat sebagian pakar budaya (seniman) di masa Orde Baru, karena justru ia menyatakan sah-sah saja sebuah karya sineas ditonton oleh bangsa manapun, trmasuk Indonesia.

Di tahun yang sama (1993) sutradara berdarah Yahudi tersebut menggarap “Jurrasic Park” yang kemudian ditonton secara masif oleh masyarakat dunia, termasuk jutaan penonton Indonesia membanjiri bioskop-bioskop Twenty One. Lebih ironis lagi, kebanyakan masyarakat kita abai, tak memahami siapakah sutradara dari film tersebut. Karena yang menjadi ukuran, bahwa film tersebut menggemparkan jagat perfilman dunia, mereka pun ramai-ramai mendatangi bioskop hingga antri selama berminggu-minggu, demi untuk menyaksikan film yang menghebohkan tersebut. Akhirnya, di Indonesia film Jurrasic Park mengantongi jutaan pengunjung, termasuk ke dalam salah satu tontonan sineas dengan jumlah penonton terbanyak sebagaimana Titanic (James Cameron), maupun film tentang datangnya hari kiamat, Independence Day (Roland Emmerich).

Baik film Titanic maupun Independence Day sama-sama mengisyaratkan datangnya akhir zaman (kiamat), baik kiamat kecil (shugra) maupun kiamat besar (kubra), lantaran rusaknya mikro dan makrokosmos oleh karena ulah perbuatan manusia. Namun di sisi lain, seperti kebanyakan ending dari karya seniman Amerika maupun Eropa (Barat) biasanya memiliki moral massage yang sama. Seakan-akan manusia tak bisa dipersalahkan, karena mereka tak meminta hidup dan mengada di permukaan bumi ini.

Selang beberapa tahun kemudian, Steven Spielberg menggarap film spektakuler Artifiicial Intelligence (2001), sebuah film yang memiliki daya kejut dan efek visual yang nyaris menyerupai Avatar (2009), garapan sutradara James Cameron. Kedua film tersebut mengandung misi Isra’iliyat, seakan-akan dunia keilmuan perlu didominasi oleh kekuatan militerisme Amerika, di mana ideologi Isra’iliyat mesti berada di belakangnya.

Misi Isra’iliyat tak lepas dari pencarian identitas kelompok, atau mencari penyelamatan dari kacaunya ekosistem di jagat raya ini. Setidaknya, manusia akan merasa terhibur di akhir kematiannya manakala berkumpul dengan komunitasnya, atau orang-orang yang dicintainya di suatu tempat yang dinamakan “Rumah Keselamatan” (Yerusalem). Menurut kaum Yahudi ortodoks, dari puluhan abad pengusiran oleh bangsa-bangsa lain, termasuk oleh Firaun hingga Nazi Jerman, maka negara Israel harus diproklamasikan dengan bahasa kesatuan nasional (Ibrani). Mereka meyakini, di wilayah Yerusalem (Darusalam) itulah komunitas mereka berkumpul bersama para nabi dan leluhurnya.

Di sekitar Baitul Maqdis (Betlehem), para nabi dari bangsa Israel telah dilahirkan dari zaman ke zaman. Di situ pula umat Islam pernah menghadap kiblat dalam bersembahyang, yang kemudian Rasulullah menerima wahyu agar masyarakat muslim berpindah haluan menghadap Ka’bah (Masjidil Haram), suatu bangunan kubus yang pernah didirikan oleh Nabi Ibrahim, dan disebutkan di dalam Alquran sebagai “Baitullah”.

Sikap anti Islam     

Jacques Chirac, mantan presiden Prancis pernah menyatakan simpatinya kepada umat Islam, khususnya setelah adanya aksi kerusuhan massal di kota Paris (2005) yang mengakibatkan 2.888 warga Prancis ditangkap aparat keamanan. Mengenai maraknya Islamofobia tersebut, Chirac menegaskan, “Saat ini kita semua menyadari adanya diskriminasi. Berapa banyak lamaran pekerjaan, curriculum vitae, yang dilempar ke keranjang sampah hanya karena agamanya, atau namanya berbau Islam.”

Di tahun 2009 lalu, pihak kepolisian mengumumkan adanya seorang pemuda Aljazair yang meninggal di dalam penjara. Kabar itu menyulut emosi umat Islam seakan-akan ada pihak yang membunuhnya, dan bukan karena bunuh diri. Para demonstran tidak mempercayai keterangan polisi, hingga mereka menyerbu Bastille, dan terjadilah penangkapan terhadap 240 demonstran.

Sehubungan dengan berbagai insiden, masyarakat muslim layak merasa dirinya diperlakukan secara tidak manusiawi di negeri yang memproklamirkan diri penganut ideologi liberalisme itu. Terlebih setelah terjadi peristiwa penembakan terhadap 12 jurnalis dan staf redaksi majalah Charlie Hebdo dua tahun lalu, yang justru membuat polemik semakin meruncing. Umat Islam kian terpojok, bahkan orang-orang yang tinggal di sudut-sudut Paris terang-terangan memasang stiker dan spanduk di kediaman mereka, menyatakan dirinya sebagai “penganut Charlie”.

Apa yang digambarkan dalam majalah tersebut – meskipun dalam bentuk kartun Nabi Muhammad – tak lain merupakan ejekan dan hinaan terhadap minoritas muslim yang ada di negeri itu. Dari perspektif lain, boleh jadi merupakan pancingan dan provokasi terhadap sikap dan prilaku kaum muslimin di seluruh dunia. Di balik kejadian itu, kita semua mesti menyadari bahwa setiap tindakan provokasi tentu mengandung motif dan sasaran yang ingin dicapai.

Provokasi dalam Pertandingan

Di era tahun 1970 hingga 1980-an kita mengenal petinju legendaris dunia bernama Muhammad Ali. Lelaki muslim itu dikenal jenius dan cerdas, seakan-akan mengenakan “baju” kecerdasan Yahudi. Kerapkali ia memancing amarah dan kejengkelan lawan-lawan tandingnya, hingga mereka tersulut emosi. Sasaran yang ingin dicapai Ali dalam memanas-manasi lawannya tak lain agar mereka merasa kesal dan dongkol, sehingga lupa pada teknik bertinju. Nah, ketika sang lawan dalam keadaan panas dan kalap, urusan di arena tinju menjadi mudah bagi Ali, karena sang lawan akan menjelma sebagai petarung jalanan yang mudah ditaklukkan.

Dalam pertandingan melawan George Foreman, sang juara dunia saat itu, ia diprovokasi Ali dengan kata-kata: ”Kenapa kau lembek sekali, Foreman? Jangan memukul seperti banci dong!” Di atas ring, sengaja Ali mengabaikan strategi bertinju yang diajarkan pelatihnya. Ia mempraktikkan strateginya sendiri dengan membiarkan Foreman marah, menghajar Ali dengan membabi-buta, sementara dia hanya melindungi diri dengan double cover. Wasit memperingatkan Ali agar tutup mulut, atau didiskualifikasi agar keluar dari arena tinju. Muhammad Ali justru membalas, ”Aku hanya memberitahu Foreman agar dia menjadi petinju yang baik, kenapa kau melarangku?” katanya kepada wasit.

George Foreman, juara dunia petinju kelas berat yang paling ditakuti petinju manapun di dunia, akhirnya berhasil dijatuhkan Ali pada ronde ke-8. Padahal, Foreman telah mengambil gelar juara dunia dari Joe Frazier (1973), dan pada tahun-tahun sebelumnya Ali sendiri pernah dikalahkan oleh Joe Frazier dalam pertarungan 15 ronde. Tetapi, di luar dugaan para pakar dan pengamat olahraga pada zaman itu, dengan caranya sendiri Ali berhasil merobohkan Foreman yang membuat mata dunia terbelalak kaget atas kemenangan seorang lelaki muslim dalam arena tinju kelas berat dunia.

Pada prinsipnya, apa yang dilakukan Ali bisa dibenarkan karena menyangkut dunia pertandingan yang notabene adalah permainan (game). Akan tetapi, bila aksi provokasi tersebut dilakukan umat Islam dalam kehidupan nyata, untuk memancing rasa dendam dan amarah dari pihak lain – baik Yahudi, Nasrani atau agama apapun – tentu saja tidak bisa dibenarkan, dan tidak pernah menjadi teladan yang diajarkan dalam kehidupan Rasulullah.

Di dalam Alquran, Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya agar jangan menghina tuhannya orang-orang musyrikin. Karena mereka akan menghina dan mencaci-maki Allah secara berlebihan. Hendaknya kita mengakui setiap insan sebagai saudara-saudara dalam kemanusiaan. Meskipun kita berbeda dalam agama, bahkan berbeda dalam iman, tetapi tetap kita harus mengakui keberadaan mereka sebagai makhluk-makhluk ciptaan Tuhan. Untuk itu, umat Islam perlu mengindahkan adanya solidaritas sesama manusia (ukhuwah insaniyah), bahkan juga kepedulian terhadap lingkungan (ukhuwah makhluqiyah).

 Ujian Covid-19

Dalam artikel Hafis Azhari, “Program Pemangkasan Pupulasi Manusia” (kawaca.com) dinyatakan secara gamlang, bahwa sejak zaman penemuan mesin uap hingga revolusi mesin cetak, konon tidak ada yang menyamai dahsyatnya perubahan dibanding era revolusi digital saat ini. Dilaporkan oleh badan internasional PBB, sampai awal tahun 2030 nanti, diperkirakan tidak kurang dari dua miliar manusia akan kehilangan pekerjaan di seluruh dunia. Karena itu, pemerintah Amerika Serikat selalu membahas soal pelatihan ulang SDM pada pekerjaan-pekerjaan alternatif.

Saat ini, milyaran manusia hidup di tengah inovasi besar yang menyebabkan segala hal yang diperbuat di masa lalu menjadi ketinggalan zaman. “Sejak dulu hidup manusia diperkaya dan dipermudah oleh teknologi. Namun, tak ada yang menimbulkan dampak yang hebat seperti era sekarang ini,” tegas Mary Aiken, seorang psikolog Cyber. Di sisi lain, ratusan perfilman Amerika (Hollywood) dengan tema yang sama telah diproduksi. Seumumnya memberikan solusi bahwa penyelesaian dari lompatan perubahan ini adalah upaya pemangkasan populasi manusia yang sudah mencapai 7,7 miliar lebih.

Tapi, apapun yang melatakbelakangi munculnya penyakit Covid-19 beberapa tahun lalu, faktanya hampir di setiap sudut-sudut kehidupan dunia ini, telah terimbas oleh virus corona yang mematikan itu. Bahkan, jika pun ada teori konspirasi yang bisa dibenarkan, namun sang pelaku konspirasi juga tak terbebas dari dampak penyakit yang diciptakannya sendiri.

Akhir kisah (ending) dari kemenangan umat manusia dalam melawan virus yang “nyaris” merajai permukaan bumi ini adalah solidaritas dan kerjasama dalam kemanusiaan (ukhuwah insaniyah) dan bukan lagi persaingan untuk memperebutkan kemenangan, seperti dalam teori evolusi Darwin (survival of the fittest).

Dalam ajaran Islam, yang mesti dijadikan sasaran adalah keadilan dan bukan persaingan untuk meraih kemenangan. Hidup manusia dibatasi oleh durasi waktu, kelemahan dan kekurangan. Jika yang dikejar adalah kemenangan duniawi, maka bersiap-siaplah untuk terlindas oleh sang waktu hingga mengalami kepunahan.

Makhluk kerjasama

Penemuan pakar genetika yang meraih nobel di bidang kedokteran,  Svante Paabo (2022), semakin memperjelas perbedaan genetik yang membedakan manusia yang hidup saat ini, ketimbang hominin yang sudah punah. Ia mengungkap hal-hal mendasar, serta mengeksplorasi kedalaman makna, hingga sampai pada kesimpulan mengapa manusia menjadi makhluk yang paling unik dan menarik. Paabo membuktikan adanya transfer gen dari hominin yang kini punah ke Homo Sapiens (manusia modern), ketika era migrasi besar-besaran keluar dari Afrika sekitar 70 ribu tahun lalu.

Pembahasan teori evolusi menjadi bagian penjelajahan sains yang makin memikat dalam mempelajari manusia dan peradabannya. Teori Paabo semakin mementahkan gagasan Dawkins tentang Gen Ego (selfish gene) sebagai kosmos semesta dan pusat evolusi. Diperkuat lagi oleh hasil penelitian dua ahli kognisi Steven Sloman dan Philip Fernbach, yang menulis buku, The Knowledge Illusions: Why We Never Think Alone (2017). Ternyata, gagasan bahwa manusia itu makhluk egois yang bersifat individual, hanyalah mitos belaka.

Faktanya, menurut mereka, manusia berpikir dan bermazhab dalam kelompok-kelompok. Fenomena antropologis yang menunjukkan hal itu membawa Sloman dan Fernbach pada kesimpulan, bahwa manusia lebih unggul daripada makhluk lainnya, serta mampu mengubah dirinya menjadi penguasa planet ini. Hal itu, bukanlah didasarkan rasionalitas individual, akan tetapi karena kecerdasan dan kemampuan mereka dalam memenej dan mengelola komunitas.

Lalu, mengapa Homo Sapiens masih eksis, sementara Neandertal, Denisovan dan makhluk purba lainnya sudah punah? Akan menarik jika perdebatan ini dihubungkan dengan rencana kemunculan “dajjal” sebagai makhluk yang berpijak pada kebenaran dan perspektif tunggal, yang disimbolisasi dengan manusia jahat bermata satu. Siapakah dia itu? Apakah dunia keilmuwan mampu menjangkau dan menafsir pernyataan teks-teks agama yang diyakini sebagai “hadits shahih” itu?

Ke mana Neandertal, Denisovan dan segala genus homo lainnya? Sampai saat ini, belum ada bukti-bukti ilmiah bahwa Homo Sapiens telah menghabisi dan memusnahkan mereka karena pertikaian dan pertumpahan darah (yasfiqu addima’i)? Untuk sementara ini, Bregman hanya menjawab, “Belum ada bukti arkeologis yang menguatkan hipotesis itu. Namun, teori yang lebih masuk akal adalah bahwa kita, Homo Sapiens, lebih mampu menghadapi kondisi iklim keras pada zaman es terakhir (115.000-15.000 tahun lalu), karena kita mampu mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan bekerjasama.”

Tanpa bekerjasama dengan baik, umat manusia bahkan tak sanggup menghadapi perlawanan makhluk sekecil partikel bernama “Corona” yang mengakibatkan Covid-19 di seluruh dunia. Dengan demikian, Bregman mementahkan teori Darwinisme Sosial, yang membanggakan manusia sebagai makhluk kuat dan kempetitif (termasuk di bidang ekonomi dan politik). Gen Egois yang digagas Dawkins juga hanya berpangku tangan menyaksikan ratusan dan ribuan ambulans yang wara-wiri mengangkuti mayat-mayat korban Covid-19. Apalagi di sekitar pertengahan tahun 2020 lalu, ketika para dokter kelimpungan menangani pasien, sementara obat dan vaksinnya belum diketemukan.

Darwinisme Sosial yang mengarah ke suatu bentuk liberalisme radikal, justru dimanfaatkan kaum politisi dan penguasa modern untuk membenarkan tingkah laku mereka menguasai dan mengeksploitasi manusia lainnya dalam bentuk penjajahan, kolonialisme, fasisme, rasialisme, dan sejenisnya.

Hal itu terjadi karena adanya permakluman atau pelumrahan mengenai pertikaian dan perseteruan antar manusia, hingga kemudian membenarkan tindak peperangan, pertempuran hingga pemusnahan massal (genosida). Permakluman itu pada gilirannya membentuk paradigma dan mindset yang tetap dalam pikiran manusia.

Terkait dengan ini, sepintas bisa saya kutipkan novel Pikiran Orang Indonesia yang ditulis pengarang kelahiran Banten sejak 2014 lalu (bab 7, hal. 36):

Dengan itulah pengalaman hidup saya makin berkembang, bahkan mengajarkan tentang siapa yang pantas saya musuhi dalam hidup ini. Dan seperti yang pernah saya kemukakan bahwa dalam berhubungan dengan manusia tak terlepas dari unsur bahasa, maka dibutuhkan konsep-konsep dan bentuk-bentuk pikiran, atau kategori-kategori yang tetap. Apa boleh buat saya berpikir dalam struktur dan pola-pola bahasa saya, yang merupakan satu-kesatuan tak terpisahkan dengan corak bahasa yang terbentuk dalam tata peradaban masyarakat kita. Mau tidak mau dibutuhkan adanya bahasa yang tetap untuk menunjukkan siapakah lawan-lawan kita, dan siapakah kawan-kawan kita.

Problem Palestina

Dalam opini Republika (27 Oktober 2023), penulis lulusan Internasional University of Africa (Sudan), Enzen Okta Rifai mengakhiri tulisannya bahwa kebencian manusia dapat berlaku secara reaktif, dari pihak yang terzalimi menjadi pihak yang menzalimi sesamanya. Itulah di dalam Islam ditegaskan, bahwa kebencian kita terhadap suatu kaum, tak boleh dijadikan alasan hingga kita berlaku semena-mena terhadap kaum tersebut.

Seperti yang dinyatakan oleh penulis novel Pikiran Orang Indonesia, bahwa masyarakat Israel dulu pernah dizalimi oleh Firaun maupun Nazi di zaman modern. Tuhan mengangkat nasib mereka, hingga kekuasaan saat ini berada dalam genggaman Israel. Semestinya mereka brsikap legawa dan berhati-hati untuk tidak melakukan tindakan militerisme yang arogan dan totaliter. Sebab, dalam sejarah manapun “kekuatan mukjizat” akan selalu berada di pihak yang terzalimi.

Konsep Darwinisme Sosial yang masih dipegang-teguh oleh semangat militerisme Israel, pada gilirannya akan membenarkan, bahwa kemenangan harus diraih dengan jalan apa pun. Ia terdorong oleh prinsip dasar yang salah, lantaran menganggap bahwa sifat dan pikiran manusia pada dasarnya adalah jahat. Inilah yang mendorong World Economic Forum (WEF) 2021 mencetuskan gagasan “Great Reset”, upaya menafsir ulang dan menata kembali kehidupan kita, dengan keharusan mengubah mindset dalam memaknai hakikat kehidupan dunia ini.

Gagasan brillian itu terinspirasi dari pemikiran Rutger Bregman yang berdasarkan atas studi sejarah panjang umat manusia. Bahwa manusia sebagai Homo Sapiens, justru memiliki sifat dasar baik, dan keberlangsungan kehidupan manusia bukan dikarenakan kompetisi yang saling menjatuhkan lawan. Bukan karena yang kuat mengalahkan yang lemah, juga bukan karena egoisme yang menutup diri dan bersifat individual.

Namun sesungguhnya, daya tahan keberlangsungan hidup manusia, karena kecerdasan dan kemampuannya bekerjasama, saling berbagi dan mencintai sesamanya.

Bregman, sang intelektual dan sejarawan abad ini, mengungkap penemuan mutakhirnya, bahwa ternyata Neandertal, makhluk purba sebelum Homo Sapiens justru tergolong lebih cerdas, karena memiliki otak lebih besar 15 persen ketimbang otak-otak manusia modern. Tetapi, teori Yuval Noah Harari menampik itu bahwa, justru lantaran manusia modern lebih kuat, cerdas dan berani, mereka mampu memenangkan persaingan dengan genus-genus homo yang sudah punah itu.

Namun, seandainya terjadi pertemuan antara Homo Sapiens dengan Neandertal – dalam hipotesis Harari – mungkin akan terjadi pertumpahan darah, hingga pembersihan etnis besar-besaran dalam sepanjang sejarah dunia.

Penemuan Svante Paabo terkoneksi dengan gegap-gempita sains dan Artificial Intelligence (AI) di era milenial ini. Segala persaingan kemegahan teknologi itu telah disinyalir dalam teks-teks Alquran, khususnya pada surat al-Humazah, bahwa ia akan mencelakakan dan “membakar” hati dan jiwa manusia. Terkait dengan itu, Herbert Spencer, sang filosof dan pakar sosiologi Inggris pernah menyatakan, bahwa seleksi alam, kini telah bermutasi dalam persaingan ekonomi, politik dan kebudayaan. “Siapa dan kelompok mana yang terkuat dan tercerdas, merekalah yang akan mengendalikan kekuasaan, dan dengan sendirinya berhak menentukan kebijakan ekonomi dan budaya,” ujar Spencer.

Pendapat Spencer tersebut, akan mengandung konsekuensi permakluman, bahwa masyarakat Palestina yang termarjinalkan seakan perlu dianggap sebagai kelompok masyarakat yang harus punah dan menyingkir. Hal ini sudah diwanti-wanti oleh analisis Hafis Azhari dalam artikel “Program Pemangkasan Populasi Manusia” seperti yang saya sebutkan di atas. Upaya untuk menampik konsep “Darwinisme Sosial” yang dikemukakan Hafis, senada dengan pernyataan seorang profesor biologi Rusia, Alexeyevich Kropotkin (1842-1921), yang menerbitkan buku Mutual Aid: A Factor of Evolution. Ia memiliki pandangan yang revolusioner, bahwa dalam evolusi itu ada kecenderungan makhluk hidup saling bekerjasama, dan itulah yang justru melahirkan kekuatan-kekuatan yang menguntungkan kedua belah pihak, baik di pihak Palestina maupun Israel.

Kropotkin menafsir kembali teori evolusi Darwin dan membalikkan asumsi, bahwa sesungguhnya hakikat evolusi manusia sangat ditunjang oleh kemampuan saling menolong, berbagi dan saling melindungi sesamanya. Jadi, bukan karena lebih kuat dan cerdas, hingga Homo Sapiens sanggup bertahan ketimbang makhluk-makhluk purba lainnya. Tetapi, justru karena kemampuannya bekerjasama untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan.

Ramses II (Firaun) maupun Nazi (Hitler) telah berupaya keras untuk memusnahkan warga keturunan Yahudi di muka bumi ini. Tapi faktanya, kepunahan itu hanyalah ilusi belaka. Namun saat ini, terdapat kecenderungan reaksi-balik bagi pendirian militerisme Israel yang menganggap warga Palestina layak untuk dipunahkan. Dengan kecanggihan persenjataan hiper-modern, seakan mereka memiliki hak untuk mengelabui dan mengkhianati dunia. Tapi dalam sepanjang sejarah peradaban manusia, mukjizat Tuhan akan selalu berpihak kepada kaum yang terzalimi dan termarjinalkan. (*)

Penulis adalah Alumnus jurusan Biologi, Untirta Banten, pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), menulis artikel dan prosa di berbagai media nasional cetak dan online

Aktivis organisasi kepemudaan OI (Orang Indonesia), menulis opini dan sastra di berbagai media nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.