Peran dan Kontroversi Rekayasa Genetik

oleh -721 Dilihat
banner 468x60

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof. Suseno Amien mengatakan bahwa rekayasa genetik tanaman dapat dimanfaatkan untuk desain prototipe tanaman untuk masa depan.

Rekayasa genetik dapat berperan untuk mengisi kebutuhan karakter baru dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan spesifik.

Meski demikian, Prof. Suseno mengatakan bahwa rekayasa genetik jangan melupakan faktor lingkungan dan interaksi tanaman dengan lingkungannya. Indonesia memiliki keragaman geografis yang sangat kaya dengan berbagai faktor spesifik yang membuat setiap daerah menjadi unik.

Hal ini semestinya menjadi keunggulan dari setiap tanaman yang ditanam di setiap daerah. “Saya kira teman-teman (di bidang) pertanian kita juga menyadari bahwa wilayah itu sangat berbeda, spesifik, itu yang harus kita pertahankan dan itu menjadi keunggulan yang tidak bisa digantikan,” kata Prof. Suseno.

Terkait keamanan pangan, Prof. Suseno meyakini pangan dari hasil rekayasa genetik tidak menimbulkan bahaya sepanjang prosedur yang dijalani, di laboratorium, maupun lingkungan, dilakukan dengan benar.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Suseno mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan masih menjadi tantangan.

Perubahan iklim dan hadirnya bencana alam juga perlu diantasipasi untuk terjaminnya kesediaan pangan yang cukup.

“Salah satu metode untuk untuk memuliakan atau memperbaiki tanaman atau membuat varietas baru itu adalah bioteknologi dan salah satu di dalamnya adalah rekayasa genetik,” kata Prof. Suseno.

Dengan rekayasa genetik, dapat ditentukan kandungan spesifik, misalnya tambahan vitamin. Selain itu juga dapat diubah sifat tanaman yang diinginkan, seperti lebih tahan perubahan cuaca, buah yang tidak gampang busuk, ukuran yang lebih besar, dan sebagainya.

Prof. Suseno mengatakan, rekayasa genetika dapat dimanfaatkan melengkapi metode lainnya untuk desain prototipe tanaman spesifik masa depan. Perlu adanya penetapan kebutuhan karakter baru, ketersediaan sumber gen, dan metode transfer gen yang sesuai. Selain itu, penting juga adanya SOP produksi tanaman berbasis rekayasa genetik dan mitigasi risiko.

Rekayasa genetika adalah transplantasi satu gen ke gen lainnya baik antara gen dan lintas gen untuk menghasilkan produk yang berguna bagi mahluk hidup hidup.

Pada awalnya, rekayasa genetika hanya dilakukan pada tanaman untuk memecahkan kekurangan pangan penduduk dunia, dan dalam pengembangannya rekayasa genetika tidak hanya berlaku untuk tanaman dan hewan yang serupa, tetapi telah berevolusi pada manusia dan lintas jenis.

Prinsip dasar teknologi rekayasa genetika adalah memanipulasi perubahan komposisi asam nukleat DNA atau menyelipkan gen baru ke dalam struktur DNA mahluk hidup penerima, hal ini berarti bahwa gen yang disisipkan pada mahluk hidup penerima dapat berasal dari mahluk hidup lain.

Saat ini, penyebaran dan penggunaan produk rekayasa genetika telah mengundang kontroversi masyarakat, oleh karena itu Mahrus dari Program Studi Pendidikan Biologi mengatakan perlu meninjau kontroversi rekayasa genetika mahluk hidup pada beberapa aspek kehidupan masyarakat.

Kontroversi tersebut terkait dengan kemungkinan resiko terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti: kesehatan, lingkungan, agama, budaya, etika, psikologi, dan lain-lain. Suatu teknologi dapat memberi manfaat yang besar bagi kesejahteraan masyarakat, akan tetapi tidaklah mutlak tanpa resiko, begitu juga dengan rekayasa genetika.

Beberapa contoh dampak positif rekayasa genetika sebagai berikut: meningkatnya derajat kesehatan manusia dengan diproduksinya berbagai hormone manusia seperti insulin dan hormone pertumbuhan; tersedianya bahan makanan yang lebih melimpah; tersedianya sumber energi terbaharui; proses industri yang lebih murah; dan berkurangnya polusi.

Menurut Epstein (2001), sebagian besar efek dari rekayasa genetika yang mampu mengubah sifat fisik mahluk hidup belum diketahui. Salah satu masalah utama dalam rekayasa genetika adalah apakah gen yang disisipkan dalam suatu mahluk hidup akan diwariskan atau tidak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?

Meskipun dengan penggunaan teknologi transgenik diakui memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gen asing dan membuka opsi untuk memproduksi sejumlah besar produk industri seperti industri farmasi komersial, tetap saja masih menyisakan kekhawatiran (Singh et al., 2006).

Kekhawatiran munculnya dampak negatif dari penggunaan GMO di Indonesia sangat beralasan karena Indonesia telah mengimpor berbagai komoditas yang diduga sebagai hasil dari rekayasa genetika maupun yang tercemar dengan GMO yang berasal dari negara-negara yang telah menggunakan teknologi rekayasa genetika, mulai dari tanaman, bahan pangan dan pakan, obat-obatan, hormon, bunga, perkayuan, hasil perkebunan, hasil peternakan dan sebagainya diduga mengandung atau tercemar GMO (Agorsiloku, 2006).

Diakui bahwa GMO telah menguasai pasar dunia, karena telah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia meskipun juga disadari memberi dampak negatif yang tidak bisa dianggap sepele, tetapi sangat disayangkan hingga saat ini rasa-rasanya belum pernah dilaporkan adanya dampak negatif dari penggunaan GMO.

Jangankan mendeteksi dampak negatif penggunaan GMO, mendeteksi apakah komoditas yang diimpor mengandung GMO saja belum pernah dilakukan di Indonesia. Biasanya kalau sudah ada kejadian seperti apel impor dari Amerika Serikat memunculkan sejumlah bakteri yang diduga sangat berbahaya bagi kesehatan konsumen, baru dilakukan pengujian laboratorium.

Sutardi (2007) mengatakan percepatan dan penerapan inovasi teknologi rekayasa genetika di bidang pertanian seperti Genetically Modified Organism (GMO), Living Modified Organism (LMO), Genetically Modified Crops (GMC) dan Genetically Engineered Crops (GEC) telah mengundang pro dan kontra di tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia, baik yang terjadi di negara di mana produk itu dikembangkan maupun di negara-negara pengguna.

Penerapan teknologi rekayasa genetika di bidang pertanian akan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Faktor dampak yang ditimbulkan GMO baik positif dan negatif inilah yang menyebabkan kontrorversial di tengah-tengah masyarakat. Kontroversi masyarakat terhadap penerimaan dan penggunaan produk GMO baik dalam bidang pertanian, lingkungan, kesehatan, agama, budaya, dan etika.

(Kompilasi dari berbagai sumber)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.