Jejak-Langkah Keturunan Rasulullah

oleh -2046 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Eeng Nurhaeni

Imam Ja’farAash-Shodiq (selanjutnya disebut Jafar Shodiq), tumbuh dewasa di tengah keganasan kekuasaan Al-Walid I dalam dinasti Bani Umayah. Namun, ia pun masih sempat menyaksikan keadilan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz (99-101 Hijriyah) hingga kejatuhan dinasti Bani Umayah.

Jafar Shodiq dikenal sebagai orang yang mewarisi derajat (maqam) kenabian. Ia bukan hanya fasih menguasai ilmu-ilmu agama yang diwariskan para sahabat hingga generasi tabi’in, melainkan juga terampil dalam mempelajari ilmu-ilmu umum (kauniyah). Ia memiliki pemikiran yang visioner, jauh memandang ke masa depan. Ia juga memiliki karomah-karomah yang sulit dipahami secara ilmiah dan rasional tulen.

Ia lahir di Madinah pada tahun 702 Masehi (83 Hijriyah). Ayahnya adalah Imam Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, kemudian Jafar Shodiq berjodoh dengan seorang wanita cantik bernama Fatimah dan dikaruniai 15 anak.

Ajarannya yang paling menonjol adalah soal muhasabah dan introspeksi diri. Baginya, tobat adalah perilaku merendahkan diri di hadapan Allah, serta menimbulkan efek kerendahan-hati di hadapan makhluk-makhluk-Nya. Ia selalu mengingat petuah Rasulullah, bahwa jika Allah menghendaki manusia dalam kebaikan, Dia akan senantiasa membukakan segala dosa dan kekhilafannya di masa lalu.

Bagi Jafar Shodik, fisik dan tubuh manusia harus “dizakatkan” dengan rajin menjalankan puasa, khususnya di bulan Ramadhan. Dengan menzakatkan tubuh, maka anugerah dan karunia Allah akan terasa kenikmatannya. Mensyukuri nikmat Allah, tanpa disertai dengan amal-amal baik, ibarat manusia menembakkan anak panah tanpa disertai busur. Jafar Shodiq menganjurkan pentingnya bersedekah (berdonasi), serta mengajarkan zakat sebagai benteng dan pagarnya harta-harta yang kita miliki. Baginya, sunah Rasul sudah memberi teladan bagaimana kita harus berhati-hati (wara), tak boleh boros, serta merencanakan apa-apa yang kita miliki sebagai amanat dan titipan dari Allah Swt.

Sebagaimana kakeknya, Ali Zainal Abidin, Jafar Shodiq kembali menekankan bahwa musuh utama adalah kebodohan. Orang-orang bodoh itu tak punya rasa takut (khauf) kepada Allah, juga selalu mengumbar emosi dengan berbagai ucapannya. Padahal, sejatinya Rasulullah memerintahkan umatnya agar meninggalkan hal-hal yang tak berguna dan bermaslahat. “Penyakit serius yang seringkali menghinggapi masyarakat adalah fitnah dan kebohongan, dan itu bersumber dari otak-otak yang bodoh,” tegas Jafar Shodiq.

Lebih lanjut, ia menandaskan, jika muncul ucapan-ucapan tegas dan lantang dari orang-orang yang berjuang menyampaikan kebenaran dan keadilan, seandainya kalian mampu, telitilah sumber utamanya. “Jika kalian belum mengerti apa yang disampaikannya secara ofensif, maka katakanlah dalam hati Anda bahwa saya belum paham apa yang dia bicarakan,” tegas Jafar Shodiq. Hal itu dinyatakan, agar kita dapat menjaga keharmonisan dalam solidaritas kemanusiaan, serta hubungan ukhuwah islamiyah maupun wathaniyah.

Ciri-ciri ketakwaan, menurut Jafar Shodiq adalah “diam” jika kita tidak tahu duduk persoalannya. Jika manusia terus-menerus menyebar dosa dengan melakukan kebohongan (hoaks), ia akan bermutasi pada kebohongan-kebohongan baru yang sulit mendapatkan pertobatannya. Kesalahan yang tak diampuni, ketika seseorang semakin dijauhkan dari tobat dan ampunan Allah Swt.

Perbanyak tobat

Jafar Shodiq menekankan agar kita memperbanyak tobat dan beristighfar. Rasulullah melakukan tobat hingga mencapai 70-100 kali per hri. “Barangsiapa rizkinya lambat, perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh kesuksesan seseorang, ucapkanlah ‘Masya Allah, la haula wala quwwata illa billah. Sungguh Allah telah memerintahkan pada dunia, wahai dunia, tunduklah kepada orang yang tunduk kepada-Ku, dan buatlah susah orang yang hanya tunduk kepadamu.”

Dalam hubungan keharmonisan dengan keluarga dan sudara-kerabat, jika kita menjumpai satu hal yang tidak disukai, kita diperintahkan agar mencari satu-dua alasan, bahkan tujuhpuluh alasan, agar bisa memakluminya. “Jika kalian belum mendapatkan kebenaran yang dimaksud, maka katakanlah dalam hatimu, bahwa aku tidak tahu banyak. Barangkali apa yang dikatakannya itu adalah benar.”

Empat ciri khas dari karakteristik “orang mulia” dalam penilaian Jafar Shodiq, antara lain, rasa hormatnya kepada orang tua, sangat menghargai tamu-tamunya, tak mau merepotkan orang bahkan binatang tunggangan, serta penghargaannya yang tinggi kepada orang yang bertanya (menuntut ilmu) kepadanya.

Jafar Shodik menekankan pentingnya ridho dan ikhlas dengan pemberian Allah. Manusia hendaknya merasa cukup dengan segala karunia dan rizki yang diberikan Allah. Orang yang merasa kabita (kemaruk) dengan apa yang didapat oleh orang lain, hidupnya akan selalu sengsara dan nelangsa. “Orang yang selalu merasa keberatan dengan rizki yang dianugerahkan, berarti dia telah menuduh Allah berbuat tidak adil kepda hamba-hamba-Nya,” tegas Jafar Shodiq.

Di sisi lain, tidak jarang orang yang menganggap remeh kesalahannya dan enggan bertobat. Hal itu tercermin jelas dari sikapnya yang gemar mencari dan mengorek-ngorek kesalahan orang lain. Dalam suatu kesempatan, Jafar Shodik bahkan menandaskan, “Barangsiapa membuka kesalahan orang lain, Allah akan membukakan kesalahnnya, bahkan kesalahan keturunannya. Barangsiapa senang menghunuskan pedang kezaliman, niscaya ia akan terbunuh dengannya. Dan barangsiapa menggali lubang agar saudaranya terjerumus, niscaya lubang itu akan menjerumuskan dirinya sendiri.”

Kritik atas penguasa

Terkait relevansinya dengan pasca pemerintahan Orde Baru, kita diperintahkan untuk menghindari pembicaraan dengan orang yang mengklaim dirinya “ulama” namun tidak paham apa-apa tentang sejarah Indonesia. Jika kita masuk ke tempat-tempat orang bodoh, niscaya mereka akan memandang “bodoh” terhadap kita. Jika kita bersahabat dengan orang berilmu, niscaya mereka akan memandang mulia siapapun yang diajak bicara olehnya. Jika kita memasuki “majlis” orang-orang yang mengumbar fitnah dan kedengkian, niscaya kita akan dituduh pelaku dari perilaku keji tersebut. Suatu hari, Jafar Shodiq mengingatkan para muridnya, “Wahai anak-anakku, beranilah berkata benar, biarpun kebenaran itu berdampak baik kepadamu, bahkan berdampak buruk sekalipun.”

Ia memerintahkan kita agar menghindari perbincangan yang tidak memberi manfaat, yakni dengan orang-orang yang gemar mengumbar fitnah dan mengadu-domba. Mereka akan senantiasa mengambil keuntungan dari kebiasaannya mengadu-domba, memetik laba dari memfitnah para pedagang lain. Mereka akan menanam kedengkian di hati lawan bicaranya, dengan teori yang dimilikinya bersilat lidah, serta mengumbar aib dan kesalahan orang.

Suatu hari, di tengah siasat Khalifah Manshur al-Abbasi yang sangat ambisius menjadi penguasa, serangan fitnah dan adu-domba dilayangkan kepada Imam Jafar Shodiq. Dengan tuduhan palsu dari seseorang yang tak punya rasa takut kepada Allah (khauf), Jafar Shodiq diseret ke muka meja hijau.

Seorang saksi memperkuat tuduhan dengan besumpah bahwa ia telah melihat Jafar Shodiq melakukan perbuatan itu. Di tengah suara lantangnya yang menyentak-nyentak, ketika ia melontarkan tuduhan palsu itu, tiba-tiba pembohong itu jatuh tersungkur dan mati seketika itu juga. ***

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Bantan Selatan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.