Islam “Versus Law of Attraction”

oleh -298 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Film yang diadaptasi dari buku Rhonda Byrne, The Secret: Dare to Dream (2020) berkisah tentang hukum tarik-menarik atau Law of Attraction (LoA), ketika seorang janda muda mempelajari cara bagaimana ia terus berjuang untuk memperbaiki dan mengubah hidupnya. LoA sendiri merupakan kombinasi pemikiran filsafat, spiritual, hingga ajaran mistik kuno dari Mesir, yang menekankan penggunaan energi positif, visualisasi, dan afirmasi untuk memanifestasikan kehendak dan keinginan manusia. Terlepas apakah keinginan itu akan berdampak baik ataukah buruk.

Bagi para filosof dan pemikir LoA, alam semesta ini dipenuhi energi yang merespons pikiran dan niat-niat manusia. Lalu, kekuatan pikiran itu dapat dikembangkan sedemikian rupa, hingga mampu dan berhasil menarik realitas yang diimpikan. Untuk itu, mudah dipahami jika di abad ke-19 lalu telah muncul gerakan New Thought yang terkait dengan ajaran spiritual kuno tentang kekuatan pikiran untuk mewujudkan hasrat dan kehendak manusia.

Ditekankan berbagai slogan dan adagium dari LoA, bahwa “proses tidak akan mengkhianati hasil”. Itu artinya, bahwa niat dan usaha manusia, serta konsistensi untuk menekuninya, dapat dipastikan akan mencapai jalan keluarnya. Prinsip ini menekankan bahwa keberhasilan jarang terjadi instan, melainkan hasil dari dedikasi dan perjuangan keras. Dan di era milenial ini, marak sekali generasi muda tergiur oleh nafsu dan kehendak, bahwa impian-impian jangka panjang, serta-merta dapat diwujudkan dalam jangka pendek, jika manusia bersikeras meraih dan menggapainya.

Konsep Islam

Ajaran Islam senantiasa mengingatkan, bahwa perkara rizki bukanlah semata-mata soal uang. Karena itu, konsep mendapatkan rizki dalam Islam, bukan hanya soal usaha dan ikhtiar sebagai amal saleh, tetapi juga hasil akhirnya harus dipasrahkan pada ketentuan Allah. Jadi, kita boleh berupaya dan bekerja keras, tetapi seberapa banyak rizki yang akan diperoleh, sepenuhnya mutlak dalam keputusan Allah Swt.

Sampai saat ini, banyak generasi milenial berkoar-koar di media sosial, bahwa “Magnet Rizki” sering kali digambarkan sebagai penarik kekayaan yang dapat dimanifestasikan dengan pikiran-pikiran positif. Padahal, ditekankan dalam Islam, bahwa konsep “tawakkal” harus pula dibarengi dengan niat-niat baik untuk menghasilkan sesuatu (kekayaan, popularitas maupun kekuasaan), namun harus disertai dengan sikap takwa dan kebaikan.

Menarik kekayaan melalui afirmasi positif dalam LoA mengindikasikan, bahwa energi positif yang dipancarkan akan menarik hal-hal positif ke dalam hidup kita. Sebaliknya, jika kita memancarkan energi negatif, kita akan menarik hal-hal buruk. Banyak orang yang menghubungkan LoA dengan manifestasi positif, lalu membayangkan atau mengucapkan hal-hal yang kita inginkan agar terrealisasi dengan segera. Ini berbeda dengan konsep “doa” dalam ajaran agama (Islam), karena bagaimana pun doa bukan semata-mata punya impian, kehendak, lalu berjuang untuk mewujudkannya. Akan tetapi, doa juga sebentuk pengabdian, kedekatan, bahkan komunikasi intensif, serta pengakuan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Bahkan, Dia menganugerahi sesuatu yang terbaik untuk hidup kita, termasuk segala hal dari kenikmatan yang tidak kita minta.

Sedangkan LoA berfokus pada visualisasi atau afirmasi positif, dengan membayangkan atau mengucapkan hal-hal yang kita inginkan, terlepas apakah keinginan itu baik menurut kita ataukah menurut Allah. Untuk itu, saya berani menekankan dalam opini ini, bahwa konsep LoA yang sedang digaungkan oleh ribuan generasi milenial di media sosial, jika mengabaikan konsep takwa dan tawakkal, sungguh sangat membahayakan bagi dirinya, juga bagi peradaban umat manusia.

Karena bagaimana pun pengertian “positif” dalam afirmasi LoA, bukan bermakna “baik” dan “bermaslahat” bagi kelangsungan peradaban manusia. Tetapi, hanya semata-mata kehendak dan nafsu eksplorasi demi untuk melangsungkan keinginan, obsesi dan cita-cita pribadi.

Sebagaimana kita berdoa agar Tuhan menurunkan hujan, sementara kita tidak tahu bahwa di kampung seberang banyak masyarakat yang sedang menjemur gabah padi, dan akan bermaslahat jika terik panas bertahan hingga sore hari. Alangkah obsesif dan angkuhnya jika kita memaksakan diri agar Tuhan mengabulkan permintaan kita, sementara masyarakat di kampung seberang banyak yang dirugikan karena guyuran air hujan tersebut.

Jadi, kita boleh berharap yang terbaik, tetapi pada akhirnya, kita harus percaya bahwa apa yang Allah berikan adalah yang terbaik, meskipun mungkin berbeda dengan apa yang kita inginkan.

Esensi Kekayaan

Seorang pengusaha besar dan sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, paham betul tentang hakikat kekayaan dan makna kelimpahan. Baginya, hidup manusia di muka bumi ini hanya singgah sebentar untuk minum seteguk air. Setiap manusia akan dicukupkan airnya walaupun hanya seteguk, guna untuk melancarkan kembali perjalanan dan pengembaraannya, hingga sampai ke tujuan akhir (kematian).

Bagi Abdurrahman, Tuhan sudah menakar-nakar setiap bagian manusia. Memang ada yang mendapatkan air dalam satu gayung, atau satu ember berukuran kecil hingga besar. Tetapi, semakin banyak air dalam ember,
justru semakin merepotkan bekal dan beban perjalanan hidup manusia.

Sebab, pada akhirnya, setiap diri kita hanya membutuhkan satu kali dua meter lahan tanah untuk menguburkan jasad-jasad kita, meskipun kita memiliki ratusan hektar lahan yang tak mungkin dibawa mati. Bahkan, air dalam ember besar itu pun tak mungkin dibawa sampai ke liang lahat.

Yang menarik dari jejak perjalanan hidup Abdurrahman bin Auf, ketika suatu hari ia menangis tersedu-sedu di depan Multazam, berdoa dan meminta pada Allah agar segera dimiskinkan. Karena ia merasa khawatir dengan kekayaan yang melimpah-ruah, justru akan mempersulitnya menyeberangi tangga-tangga hisab yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat nanti.

Tetapi kemudian, apakah doa dan permintaan agar dimiskinkan itu diijabah dan dikabulkan oleh Allah?

Justru tak lama kemudian, Allah menambah dan menambah kembali pundi-pundi kekayaan yang dimiliki sahabat Nabi itu. Pasalnya, dulu ia pernah memiliki cita-cita dan keinginan, bahwa jika Allah memberinya kekayaan yang melimpah, ia berjanji pada dirinya untuk menanggung biaya dan kesejahteraan hidup bagi mantan istri dan janda-janda Rasulullah setelah beliau wafat.

Untuk itu, Allah Maha Tahu kepentingan dan kebutuhan hidup bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa, ketimbang si hamba itu sendiri. Untuk itu, dalam kasus yang unik ini, terlepas apakah Abdurrahman mengucap doa maupun tidak, tetap saja Allah berkepentingan untuk menambah pundi-pundi kekayaannya, lantaran kebutuhan hidupnya yang banyak, serta jiwanya yang betul-betul adil dan amanah.

Karena itu, aktivitas berdoa sebagai amal saleh dan penghambaan kepada Tuhan, harus selaras antara kehendak dan permintaan sang pendoa, dengan apa yang menjadi agenda dan kehendak Tuhan. Jadi, dalam kasus Abdurrahman bin Auf ini, menunjukkan bahwa berdoa pada suasana hati yang tidak tepat (meskipun di tempat istijabah), dapat membawa hamba pada suatu perasaan yang keliru dalam menyikapi kehendak Tuhan, meskipun ia paham bahwa hakikat doa adalah inti dan kuncinya ibadah (mukhul ibadah).

Sedangkan, dalam konsep Law of Attraction, seorang hamba memaksakan kehendak dirinya agar selaras dengan kehendak Tuhan. Padahal, Tuhan lebih Tahu kebutuhan kita, bahkan Maha Tahu kebutuhan milyaran sel-sel yang bersemayam dalam jagat mikro tubuh kita.

Di sini, ada unsur pemaksaan kehendak, agar rencana dan impian yang hidup dan dihidupkan di pikiran kita, selaras dengan rencana dan agenda Tuhan. Seakan proses tak bakal mengkhianati hasil, tetapi masalahnya… jika Allah tidak (belum) menghendaki, mampukah kita mendikte Tuhan agar menuruti kemauan kita?

Bagaimana pun Islam memiliki konsep yang lebih unggul, agar senantiasa kita bersabar dan bertawakkal dalam mendapatkan hasil akhir. Dan jika pun kehendak itu sudah tercapai, Islam mengajarkan kita agar ber-istiqomah dalam mensyukurinya? (*)

Penulis adalah Peneliti historical memory, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.