Oleh: Philip Gobang
Suatu hari pada semester kedua 1984. Para siswa kelas 3 SMA Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur, yang terbagi dalam kelas A dan B, dikumpulkan dalam satu kelas. Hari itu ada pelajaran tambahan untuk persiapan menghadapi pekan EBTANAS atau Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Pak Yonas Gelly, guru pengampu mata-pelajaran Tata Buku dan Hitung Dagang, memberikan pelajaran tambahan dengan beberapa pertanyaan.
Mata pelajaran Tata Buku dan Hitung Dagang ini terbilang unik ketika itu, melengkapi mata pelajaran Ekonomi dan Koperasi. Unik dan bikin pening tepatnya, karena para siswa dituntut mampu menguasai rumus-rumus hitung dagang yang cukup rumit. “Kalian jangan anggap pelajaran ini tidak penting,” ujar Pak Yonas Gelly memulai nasihatnya. “Nanti kalau kalian menjadi imam di paroki atau menjadi misionaris di mana pun, kalian sudah punya bekal untuk mengelola kehidupan ekonomi dan sosial umat. Bagi yang tidak menjadi imam, pelajaran ini juga penting untuk mengelola kehidupan ekonomi keluarga,” tutur Pak Yonas. Ruang kelas hening, para siswa hanya diam dibalut wajah tegang karena sedang “pusing” mengutak-atik rumus-rumus hitung dagang untuk menjawab lima pertanyaan.
Di tengah keheningan itu, Pak Yonas berujar, “Saya perhatikan kalian semua serius mengerjakan soal. Saya doakan semoga banyak yang menjadi imam. Tapi dari kalian semua, ini Budi… dia bisa jadi Uskup.” Suasana hening seketika pecah dengan senyum gembira. Wajah tegang pun sirna. “Betul itu e, Pak Guru,” sahut beberapa teman bersemangat.
Pak Yonas kemudian meminta Budi menjelaskan di papan tulis rumus-rumus yang digunakan untuk menjawab dua pertanyaan. Dengan melihat penjelasan Budi, teman-teman seisi kelas pun bisa menjawab tiga pertanyaan berikutnya.
Medio 1982. Pertama kali ketemu Budi di Seminari Hokeng. Nama lengkapnya Paulus Budi Kleden yang akrab disapa Budi atau Polce atau No Poce—dalam dialek orang Nagi/Larantuka. Bersama beberapa teman dari SMP Seminari Yohannes XXIII Lela, Maumere, kami bergabung di kelas 1 dengan Budi dan teman-teman dari Larantuka, Lembata, Adonara, dan Solor.
Perjalanan pengalaman di Seminari Hokeng menguatkan persahabatan yang tak lekang. Kehidupan dalam komunitas bertumbuh dalam suasana sanctitas, scientia, sanitas, sapientia, dan solidaritas bersama para Pembina/Formatur, Bapak Asrama/Prefek, dan para guru. Diselingi warna-warni suasana tegang, kesal, kecewa misalnya karena salah paham di lapangan sepakbola, kamar makan atau di kebun contoh. Sangat khas anak-anak asrama.
Di antara teman-teman, Budi memang terlihat sangat menonjol, tidak hanya cerdas tetapi juga bersahaja. Pembawaannya tenang, santun, rendah hati, dan sederhana. Dengan pembawaan dirinya yang demikian, teman-teman sekelas pun merasa sungkan untuk menggodanya. Apalagi yunior, pun kakak-kakak kelas. Kesempatan untuk “menggoda” itu biasanya terjadi di lapangan sepakbola atau basket, ada peluang melakukan gerakan tanpa bola dengan “menyapu” atau “menyikut”.
Di lapangan sepakbola, Budi termasuk tim penggembira yang ikut berlari mengejar bola untuk mendapat keringat. Tapi dia selalu menjadi wasit yang andal di setiap pertandingan sepakbola, volley, atau basket.
Suatu kali, diadakan audisi memilih sejumlah siswa untuk bergabung dalam kelompok paduan suara. Cukup banyak yang masuk kelompok “subur” alias suara buruk, termasuk Budi. Namun dia bisa memainkan pianika atau flute dalam tim orkes yang mengiringi paduan suara.
Budi adalah seorang teman yang terbuka mendengarkan sharing teman lain tentang apa saja. Misalnya terkait pelajaran di kelas, dia selalu menjadi sumber informasi. Alih-alih mengajari, Budi malah lebih suka mendengarkan apa yang ingin diketahui. Barulah berdiskusi. Dia menjadi panutan teman-teman seangkatan bahkan menjadi “model” seorang seminaris Hokeng ketika itu.
“Bersekongkol” dengan Polce
Kebiasaan di asrama seminari, setiap kali kembali dari liburan, para siswa yang lebih dahulu tiba akan mencari tempat tidur “strategis” di bangsal: cukup berjarak dari pintu ke kamar Perfek tapi dekat dengan pintu ke loker dan kamar mandi. Nah, saya selalu “titip” tempat tidur pada Budi untuk mendapat tempat “strategis” itu. Jarak rumah Budi di Waibalun ke Hokeng lebih dekat, kira-kira 2 jam dengan kendaraan/bemo, daripada jarak dari Maumere ke Hokeng bisa sekitar 3-4 jam dengan kendaraan/bis antar-kota. Budi akan tiba lebih dahulu di asrama.
Suatu kali, Prefek Pater Hilarius Moa Nurak SVD—yang kemudian menjadi Uskup Pangkalpinang—mengecek tempat tidur para siswa yang baru tiba kembali dari liburan. Ada nama saya pada tempat tidur tingkat bagian bawah. Di tempat tidur bagian atas tertera nama Budi. Sementara saya belum tiba di asrama. Ketika baru tiba sore harinya dan bertemu Pater Hila, beliau tersenyum. “Engko punya tempat tidur sudah ada, bersekongkol dengan Polce e…” Saya pun tersenyum. Dan “persekongkolan” itu terjadi hingga kami meninggalkan lembah Hokeng.
Semester pertama 1984 di kelas 3, Budi terpilih sebagai Ketua OSIS. Teman-teman seangkatan mendukung penuh kepemimpinan Budi dengan melibatkan diri dalam berbagai seksi. Pada masa ini ada beberapa kegiatan besar yang berhasil diselenggarakan. Pentas seni dalam Pesta Keluarga Seminari Hokeng menjadi ajang unjuk talenta dan kreativitas yang dikemas menarik. Salah satu kegiatan yang tercatat menjadi sejarah adalah pentas drama Nabi Yeremia. Semua teman seangkatan terlibat dalam pentas drama ini. Mulai dari para pemeran tokoh-tokoh, pelukis/penata dekorasi, asisten sutradara, penyedia logistik, hingga pembisik naskah.
Drama Nabi Yeremia diangkat dari kisah Perjanjian Lama ketika Yeremia sebagai seorang prajurit dipanggil oleh Yahwe/Tuhan menjadi Nabi dalam masa pemerintahan raja-raja Yehuda. Pada masa itu, Yehuda sedang berada dalam situasi krisis: moral, kepemimpinan, bahkan agama. Dalam situasi itulah Yeremia dipanggil menjadi Nabi. Drama ini mengisahkan suasana pergumulan batin Yeremia sekaligus pernyataan kesetiaannya untuk menunaikan tugas pelayanan demi menyelamatkan umat Tuhan.
Selain dipentaskan di Hokeng, drama Nabi Yeremia juga dipentaskan di Larantuka, Lewoleba, Lela, dan di sebuah gedung pertunjukan di Maumere. Bahkan dalam komunitas kecil para siswa seminari berinisiatif mementaskan drama ini dalam versi mini pada liburan sekolah di kampung-kampung mereka. Pendek kata, drama Nabi Yeremia menjadi trending topic pada masa itu.
“Ordo Watowoko”
Sudah menjadi “tradisi” di Seminari Hokeng—juga di seminari lainnya—menjelang akhir masa belajar, para siswa kelas 3 mesti menentukan pilihan untuk meneruskan pendidikan di Seminari Tinggi. Selama berpuluh tahun hanya ada dua pilihan, yaitu ke Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero untuk SVD (Societas Verbi Divini/Serikat Sabda Allah) atau ke Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret untuk Projo/Keuskupan di wilayah NTT.
Medio 1984, datanglah sebuah kabar gembira sekaligus mengejutkan. Bapak Uskup Larantuka ketika itu, Mgr. Darius Nggawa SVD, memberi “kebebasan” kepada para seminaris yang akan melanjutkan pendidikan di seminari tinggi, boleh memilih ordo, kongregasi, serikat atau keuskupan apa saja di Indonesia.
Sejumlah teman memilih bergabung ke beberapa seminari tinggi seperti: Serikat Xaverian (SX), Oblat Maria Immaculata (OMI), Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu (MSC), Keuskupan Sibolga, Keuskupan Manado, dan Keuskupan Amboina.
Pada misa penutupan tahun ajaran sekaligus pelepasan para siswa lulusan 1985, Bapa Uskup Darius Nggawa SVD, menyebut para siswa yang memilih ke seminari tinggi di luar Flores adalah pengikut “Ordo Watowoko”. Entah apa yang dimaksudkan oleh Bapa Uskup Darius? Jangan-jangan.. gara-gara “kebebasan” itu tidak banyak teman yang memilih Keuskupan Larantuka? Watowoko sering digambarkan sebagai arus atau pusaran air ganas di permukaan laut yang muncul di selat antara Pulau Adonara, Lembata, dan Solor.
Berbilang puluhan tahun kemudian, pada 2018, bersama beberapa teman bertemu Budi di Rumah Soverdi Jakarta. Ketika itu Budi baru saja terpilih menjadi Superior General SVD berkedudukan di Roma. “Sebagai pemimpin SVD sejagat, janganlah jalan sendiri, musti ada pengawal,” seorang teman menggodanya. “Ei.. engko ni, saya biasa saja le..” senyum Budi.
Beberapa bulan sebelumnya, dalam komunikasi online, Budi bercerita bahwa selepas tugasnya sebagai Anggota Dewan Umum SVD, dia berencana menjadi misionaris di Liberia, pesisir Afrika Barat. “Di sana setiap hari ada banyak orang minta dibaptis tetapi tenaga imam kita sangat sedikit. Saya mungkin akan ke sana,” ungkapnya.
Budi kemudian bercerita bagaimana dia menerima kepercayaan sangat besar untuk memimpin lebih dari 7.000 imam/bruder/misionaris SVD yang tersebar di 80-an negara di 5 benua. Pada sesi terakhir, ada tiga calon diminta mengungkapkan kemampuan atau keunggulan diri masing-masing. Kedua calon lainnya memiliki keahlian yang mumpuni di bidang teknologi digital dan manajemen.
“Keunggulan saya adalah mendengarkan siapa saja tentang apa saja,” tutur Budi sambil berharap bukan dia yang dipilih. “Karena mendengarkan ini terlalu sederhana. Di tengah tantangan zaman, kita butuh orang yang ahli,” ujarnya. Namun, umat dan dunia membutuhkan pemimpin yang memiliki keutamaan mendengarkan dengan hati dan mengayomi dengan kasih persaudaraan.
Ketika menerima berita perutusannya sebagai Uskup Agung Ende, Budi berbagi pesan singkat ke teman-temannya, “Mohon terus doakan saya.” Pesan singkat ini seakan berputar ulang menembus waktu sekitar 40 tahun silam di lembah Hokeng. “Ini Budi… dia bisa jadi Uskup.” Dan hari ini, Kamis, 22 Agustus 2024, menjadi nyata “Providentia Dei” – Penyelenggaraan Ilahi Tuhan.
Teman-temanmu bangga padamu dan terus mendukungmu dalam doa. Berkat Tuhan senantiasa berlimpah bagi karya kegembalaanmu di Keuskupan Agung Ende. “Caritas Fraternitatis Maneat in Vobis” (Ibrani 13:1) – “Peliharalah Kasih Persaudaraan.” Proficiat Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.







