Iman yang Dikorbankan: Refleksi Teologis Kekerasan Struktural Boko Haram Terhadap Umat Kristen di Nigeria

oleh -2412 Dilihat
People walk in a street as smoke rises after Boko Haram Islamists attacked a military base in the northeast Nigerian city of Maiduguri on March 14, 2014. The gunmen freed dozens of insurgents from custody, the military said of the latest raid in the embattled city. The attack is another blow to the military's campaign against the extremist group, which has been blamed for thousands of killings since 2009 in Africa's most populous country and top oil producer. AFP PHOTO/STRINGER (Photo credit should read STR/AFP via Getty Images)
banner 468x60

Oleh: Fridolin Denri Bria

Kadang saya berpikir, betapa mahal harga sebuah iman. di satu sisi, kita berbicara tentang kasih dan damai. Tapi di sisi lain, ada orang-orang yang harus kehilangan rumah, keluarga, bahkan nyawa, hanya karena memilih tetap percaya. Di Nigeria, kenyataan pahit itu hidup setiap hari. Menjadi orang kristen di sana bukan sekadar soal keyakinan, tapi juga keberanian untuk tetap bertahan di tengah ancaman.

Kelompok Boko Haram sering kita dengar di berita. Tapi di balik nama itu ada kisah manusia yang mana anak-anak kehilangan ayah, ibu yang berdoa sambil memeluk abu suaminya, dan orang-orang yang setiap minggu tetap datang ke Gereja meski tahu bom bisa meledak kapan saja. Mereka hidup dalam ketakutan, tapi mereka tidak menyerah. Di tengah luka, mereka masih menyalakan lilin. Di tengah teror, mereka masih berdoa.

Saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah iman memang harus sesakit itu? Mengapa Tuhan selalu membiarkan umat-Nya dicincang oleh kekerasan? Tapi semakin saya renungkan, mungkin justru di situlah wajah iman yang sesungguhnya dan bukan iman yang nyaman, tapi iman yang setia meski semua hal lain runtuh. Iman yang tidak dibangun di atas rasa aman, tapi di atas cinta yang tidak pernah habis, bahkan segalanya terasa gelap.

Kekerasan struktural seperti yang dilakukan Boko Haram sebenarnya bukan sekadar persoalan senjata. Itu juga tentang cara dunia memperlakukan manusia. Tentang bagaimana sistem, politik, dan ideologi bisa mematikan nurani. Mereka bukan hanya menyerang Gereja, mereka menyerang kemanusiaan itu sendiri. Dan ketika kemanusiaan dilukai kita semua terluka.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat Gereja terbakar atau mendengar tangisan orang yang kehilangan segalanya karena nama Kristus. Tapi saya tahu satu hal yaitu cinta sejati tidak pernah bisa dibunuh. Mereka bisa menghancurkan tubuh, tapi tidak bisa memadamkan iman. justru dari reruntuhan itulah, kasih sering tumbuh paling murni.

Kita di sini, ditempat yang jauh lebih aman, mungkin tidak perlu menghadapi peluru, tapi kita juga diuji, yang mana diuji oleh ketidakpedulian. Kadang kita terlau sibuk dengan urusan sendiri, sampai lupa bahwa ada saudara-saudara seiman yang menderita hanya karena tetap percaya. Luka mereka seharusnya menjadi panggilan bagi kita untuk lebih manusia, lebih peka, lebih berani berdiri bagi kebenaran dan cinta kasih.

Iman yang dikorbankan bukan berarti iman yang kalah. Ia justru tanda bahwa kasih masih hidup. Dalam setiap tangis di Nigeria, saya percaya ada doa yang naik ke langit, doa yang tidak sia-sia, doa yang menyalakan harapan di hati dunia yang mulai kehilangan rasa.

Mungkin dunia memang gelap, tapi selama masih ada satu lilin kecil menyala, masih ada alasan untuk percaya. Dan mungkin, lilin itu menyala di tangan umat kecil di Nigeria yang mengajarkan pada kita semua bahwa iman sejati bukan tentang kata-kata, melainkan keberanian untuk tetap mencintai, meski harus terluka.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.