Oleh: Eeng Nurhaeni
“Kalau tak sanggup dikerjakan semuanya, jangan tinggalkan semuanya.” Inilah pepatah Arab yang sehaluan dengan adagium, bahwa jika kita ingin membasmi seekor tikus, maka jangan membakar lumbung dan isinya.
Di tengah budaya yang mementingkan kenyamanan dan kesenangan instan, senantiasa kita berpikir bahwa dalam hidup ini adakalanya kita menghadapi sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Seseorang menjadi hebat bukan karena terus-menerus termotivasi, tetapi karena ia memiliki keberanian untuk menyelesaikan apa-apa yang perlu diselesaikan.
Pada prinsipnya, profesionalisme bukan tentang gairah dan semangat yang menggebu-gebu, melainkan tentang tanggung jawab manusia. Ketika kita bangun pagi dan mengerjakan tugas-tugas yang perlu dikerjakan secara bertahap, maka kita sedang membentuk karakter yang kokoh. Untuk itu, terhadap hal-hal yang tak kita sukai bukan berarti kita harus berhenti melakukannya. Justru di situlah kesabaran kita sedang diuji dan ditempa hingga bertumbuh dengan kuat dan kokoh.
Kadang kita mempersoalkan kesiapan mental dulu untuk mengerjakan sesuatu, padahal jika pekerjaan itu penting dan bermaslahat, tak perlu khawatir akan kesiapan mental yang belum teruji. Justru di situlah upaya menempa diri akan terwujud dan terlatih dengan baik. Di dunia yang kadung memanjakan emosi saat ini, kita perlu menyadari bahwa kualitas kedewasaan akan terwujud jika kita bertanggungjawab untuk melakukan sesuatu yang perlu dan penting untuk dikerjakan.
Kehidupan tidak memberi penghargaan kepada siapa yang paling enak dan nyaman, tetapi kepada siapa yang paling bertanggungjawab. Kadang kita mengulur-ulur waktu untuk menyelesaikan membaca buku, padahal buku berkualitas adalah investasi terbaik. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib menegaskan, bahwa menumpuk harta, manusia akan merasa takut untuk terus menjaganya, sedangkan dengan kekayaan ilmu, maka ilmu-ilmu itulah yang akan menjaga hidup kita.
Kualitas Ilmu
Kualitas ilmu yang tertuang dalam buku, termasuk bagaimana ia diterjemahkan, disunting, dan diterbitkan, dapat menentukan apakah pembaca akan tersentuh atau justru kehilangan intisari dari pesan yang disampaikan penulis. Di Indonesia, kadang buku masih dianggap barang mewah. Tetapi, jika kita mau mengeluarkan uang untuk membeli rokok dan kopi, kuota internet hingga streaming, kenapa kita pelit sekali untuk sekadar membeli buku yang berkualitas?
Pendangkalan dan pemiskinan ilmu yang dipropagandakan para penguasa (sejak era Orde Baru) membuat masyarakat kita kurang menyadari, bahwa buku adalah investasi moral dan mental yang dapat mengubah peradaban manusia. Kalau manusia Indonesia punya pikiran baik dan kaya (tangan di atas), maka ia akan bermental kaya dan senang membantu. Tetapi, jika pikirannya miskin, maka kekayaan sebanyak apapun akan mudah hilang dan menguap tak ada artinya.
Masyarakat Indonesia hingga memasuki era reformasi dan milenial saat ini, masih belum beranjak untuk mengubah paradigma tentang pentingnya buku dan ilmu pengetahuan. Padahal, belanja buku tak bisa dikategorikan sebagai pengeluaran yang konsumtif, tetapi justru merupakan investasi jangka panjang bagi akal budi, karakter dan moralitas bangsa.
Mentor Diam
Buku tak ubahnya sebagai mentor hening dan diam yang bisa menemani kita dalam segala situasi. Dalam pepatah Arab dinyatakan, bahwa buku adalah sahabat terbaik. Satu kutipan dari buku berkualitas, kadang dapat mengubah pandangan hidup seseorang, hingga ia merasa tegas dan optimistis untuk melangkah ke masadepan. Jika hanya satu kalimat bisa mengubah keputusan penting, apakah itu tidak lebih berharga daripada ponsel terbaru, tiket bioskop atau konser musik?
Sesungguhnya, investasi pada buku dan ilmu pengetahuan, merupakan return on investment (ROI) yang tak mungkin ditakar secara finansial. Namun, dampaknya tentu sangat besar bagi kehidupan manusia. Kita mengenal tokoh besar seperti Lincoln, Bung Karno hingga Abdurrahman Wahid, yang selalu mengandalkan buku untuk mencari solusi serta menjawab problema penting yang harus segera diputuskan.
Di era digital yang banjir informasi saat ini, kita harus yakin bahwa kualitas hidup manusia sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang dipilih dan diserap bagi kepentingan dan kualitas hidupnya. Untuk itu, memilih buku terbaik, bahkan menerbitkan buku dengan standar tinggi adalah tanggung jawab kaum cendekiawan dan intelektual kita. Mereka harus mendorong penerbit dan pembaca untuk tidak meremehkan kualitas terjemahan, karena hakikat ilmu bersumber dari pemikiran manusia di manapun, kemudian dikonsumsi oleh seluruh umat manusia tanpa batas.
Untuk itu, jangan pernah meremehkan satu buku pun yang ditulis oleh anak bangsa ini, dan jangan ragu untuk menerjemahkan buku berkualitas yang membawa maslahat bagi kemajuan budaya dan peradaban. Buku berkualitas tak ubahnya suatu bentuk asketis untuk melatih moral dan mentalitas bangsa. Ia adalah sarana penting untuk melatih pikiran, sebagaimana kecakapan para olahragawan yang melatih kelincahan tubuh dan fisiknya. Saya kira, hanya orang dungu dan bodoh yang membaca buku tanpa bermaksud untuk mengembangkan pemikirannya.
Pada prinsipnya, buku harus dijadikan warisan terbaik bagi bangsa ini. Para founding father telah banyak menulis dan meninggalkan karya-karya terbaik dan bersifat universal. Hendaknya anak-cucu kita nanti memahami, bahwa di tengah kebisingan dan kegaduhan saat ini, tampaknya masih ada manusia-manusia langka yang berhasil menemukan tempat yang tenang pada halaman-halaman buku berkualitas. Mereka menyadari bahwa hakikat buku adalah investasi penting, bukan hanya bagi pikiran, tetapi juga bagi jiwa-jiwa manusia Indonesia. []
Penulis adalah Pengasuh pondok psantren Al-Bayan, Lebak, Banten, juga penulis opini untuk media-media nasional, di antaranya Kompas, Media Indonesia, Republika, dan lain-lain.








