Ihwal Media Sosial dan Dajjal Digital

oleh -195 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Sering kali kita saksikan di media sosial, orang-orang yang sibuk memamerkan harta kekayaannya yang melimpah ruah, bahkan tak segan menyatakan bahwa uang itu adalah hasil pasugihan atau dana gaib. Tidak jarang juga yang memamerkan mobil dan rumah megah, untuk menunjukkan bahwa kekayaannya berlimpah-ruah, seakan baru memenangkan lotere atau perjudian.

Sepintas muncul pertanyaan dari netizen atau komentator yang tergiur oleh ulah perbuatan mereka: “Mengapa Tuhan berbelas-kasih kepada mereka yang terang-terangan berbuat dosa dan maksiat? Bahkan, pamer kekayaan itu sendiri adalah perbuatan riya dan takabur yang dilarang oleh agama?”

Ingin saya tegaskan di sini, bahwa istilah “dajjal digital” mengilustrasikan bagaimana perangkat digital dan internet telah digunakan sebagai instrumen yang menyerupai fitnah Dajjal sebagai penipu ulung. Ia membangun ilusi kebenaran yang memutarbalikkan fakta. Di era digital ini, disinformasi, hoaks bahkan Deepfake Artificial Intellience (AI), dengan entengnya memanipulasi persepsi publik. Seakan Tuhan mengizinkan fitnah Dajjal itu menguasai berbagai aspek kehidupan manusia.

Hal ini tercermin jelas dari ketergantungan masyarakat kepada medsos, algoritma, dan teknologi yang dapat mengontrol privasi, hingga mengadu domba dan memecah-belah opini publik. Teknologi masif yang menawarkan fitnah visual yang bersifat materialistik, hiburan tanpa batas, gaya hidup konsumtif dan hedonistik, yang seakan menantang dan berupaya untuk menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama dan spiritual.

Untuk itu, berhati-hatilah, karena ajaran Islam dengan tegas memperingatkan konsep “Istidraj” yang kadang terabaikan atau dipalingkan oleh isu-isu dangkal yang bersifat khilafiyah dan furu’iyah semata. Di dalam konsep Istidraj, mereka yang terus menerus menerima nikmat duniawi, seperti harta, kekuasaan, atau popularitas, meskipun pelakunya tenggelam dalam dosa dan maksiat, biasanya Tuhan membiarkannya bergelimang kesenangan dalam beberapa waktu.

Jadi, Tuhan memberikan mereka nikmat tersebut bukan karena cinta, melainkan sebagai ujian. Mereka mungkin merasa diberkati, padahal sebenarnya sedang dijauhkan dari rahmat Allah. Misalnya, seorang elit politik yang merasa aman dengan melakukan korupsi berskala ratusan juta. Tak lama kemudian, korupsinya terus meningkat dalam skala milyaran hingga triyunan. Kekayaan yang diperolehnya tentu tak membuatnya hidup berkah, meskipun ia merasa aman dengan terus-menerus memakan uang rakyat. Ia tak ubahnya dengan kemenangan seorang bandar judi atau bandar narkoba, yang merasa dirinya memperoleh keuntungan berlipat, padahal hakikatnya kekayaan yang didapat adalah Istidraj yang sangat membahayakan.

Salah satu tanda Istidraj adalah ketika seorang pelakunya terus-menerus diberikan nikmat dunia tanpa ada rasa takut atau penyesalan. Mereka merasa terbebas dari hukuman dan pengadilan Tuhan. Meski hidupnya penuh dengan dosa, mereka tetap merasa aman karena azab tidak kunjung tiba. Ironisnya, harta haram yang melimpah dan terus mengalir itu dipamerkan di media sosial, seakan kekayaan dan kekuasaan itu akan abadi, sentausa, dan tak tergoyahkan.

Padahal, sebenarnya adalah penundaan azab yang semakin dekat. Tuhan membiarkannya sementara waktu merasakan kenikmatan duniawi sebagai bentuk hukuman yang pasti akan datang pada waktunya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Istidraj juga merupakan ujian nikmat dan karunia, biarpun dirasakan oleh mereka yang bergelimang dosa dan kemaksiatan. Bahkan, jika pun kekayaan itu diperoleh dengan cara-cara halal, tetapi jika pemakaian dan pemanfaatannya bertentangan dengan perintah Tuhan, maka sangat mudah bagi Tuhan menariknya kembali dalam sekejap mata. Apalagi jika harta itu diraih dengan cara-cara haram yang dimurkai oleh Tuhan.

Biasanya, kekayaan atau kekuasaan yang diberikan sebagai Istidraj, membuat pemiliknya merasa jumawa dan takabur dengan nikmat yang diperolehnya. Tetapi ironisnya, sering kali mereka yang mendapat Istidraj itu merasa dirinya dicintai oleh Allah, karena nikmat yang terus-menerus mengalir. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah dengan tegas memperingatkan: “Ketika kamu melihat seseorang yang terus-menerus diberi oleh Allah segala yang diinginkannya, padahal ia seorang yang sombong dan pelaku maksiat, ketahuilah bahwa pemberian itu tak lain adalah Istidraj.”

Sering kali mereka yang memperoleh Istidraj, biasanya merasa bahwa nikmat yang mereka terima adalah bukti bahwa Allah mencintai dan meridhoi jalan hidupnya. Padahal kenyataannya, nikmat tersebut hanyalah penundaan azab, serta “jebakan” yang akan membawa mereka pada kehancuran dan kebinasaan.

Di dalam Al-Quran, Allah kadang memberi peringatan tentang umat terdahulu yang hidup dalam kelalaian karena mendapatkan kenikmatan duniawi. Kaum yang menolak ajaran para Nabi sering kali diberi kekuasaan atau rizki melimpah hingga mereka merasa pongah dan sombong. Namun, ketika azab Allah datang, mereka dihancurkan secara tiba-tiba, hingga terperangah dan memekik ketakutan.

Untuk itu, di akhir zaman ini jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan duniawi. Setiap nikmat yang datang harus disertai dengan rasa syukur, muhasabah dan introspeksi diri. Apakah nikmat ini mendekatkan kita kepada Allah, ataukah justru sebaliknya? Ketahuilah bahwa harta, kekuasaan, dan kenikmatan dunia hanyalah ujian sesaat. Jangan sampai kita terpedaya oleh kesenangan yang menipu ini. Selain itu, hendaknya kita banyak bertobat dan beristighfar, sebagai jalan untuk kembali kepada Allah dan meninggalkan segala dosa dan kesalahan.

Allah sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang bertobat, bahkan jika kita telah melakukan dosa sebesar apa pun. Hendaknya kita banyak bercermin dari jejak langkah kehidupan para Nabi dan umat-umat terdahulu, yang memberikan hikmah dan pelajaran tentang bahaya Istidraj. Misalnya, kaum ‘Ad, Tsamud, Firaun, Qarun, Namrud, telah memperoleh rizki berupa harta dan kekuasaan yang melimpah. Namun, mereka menolak kebenaran dan terus-menerus hidup dalam gelimang dosa dan kemaksiatan. Akhirnya, Allah menurunkan azab yang menghancurkan dan membenamkan mereka berikut tahta dan harta yang dimilikinya.

Pelajaran ini berlaku juga bagi kita saat ini, di era digital ini. Jika kita merasa mendapatkan kenikmatan duniawi tanpa mempedulikan perintah Allah, bisa jadi kita sedang mengalami Istidraj. Terlebih bagi orang-orang yang sering kita saksikan di media sosial, yang merasa bangga dengan kemegahan harta duniawi mereka. Ketahuilah, bahwa mereka yang tidak segera bertobat, pasti akan menghadapi akhir yang sangat menyakitkan. Sungguh, azab Allah bisa datang kapan saja, dan ketika hal itu terjadi, mereka tidak akan punya kesempatan lagi untuk bertobat.

Di era medsos ini, Istidraj telah menjadi fenomena berbahaya yang tidak disadari, dan sering kali dipertontonkan secara kasatmata. Banyak orang yang merasa diberkahi dengan kemenangan harta, kuasa dan popularitas, padahal mereka sedang mengalami ujian dan cobaan berat dari Allah.

Jangan sampai kita menjadi salah satu dari mereka. Sekali lagi, mari kita introspeksi diri, bertobat, dan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai kita terlena menunggu sampai azab itu datang. Sebab, bagi siapa yang lalai dan terus-menerus bergelimang dosa, nikmat yang dia peroleh justru akan berbalik menjadi malapetaka. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09, Rangkasbitung, Banten, juga penulis buku best seller Marwah Pesantren (2024)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.