Filsafat, Sastra dan Ketenangan Jiwa

oleh -2250 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muakhor Zakaria

Semarak perbincangan mengenai novel Hafiz Azhari, Pikiran Orang Indonesia (POI) membuat hati saya terketuk untuk melibatkan diri di dalamnya. Pada prinsipnya, penulis Banten lulusan Filsafat UIN Jakarta itu, ingin membuktikan bahwa dunia filsafat takkan pernah mati. Tema sentral yang diusungnya seakan menyusup masuk ke ruang-ruang kelas pesantren dan kampus perguruan tinggi. Tanpa banyak sensasi, novel POI telah mengubah perspektif, serta cara kebanyakan orang berpikir, merasa, bahkan bertindak.

Tokoh utamanya (Haris) memutuskan keluar dari kesatuan militer yang dibentuk rezim penguasa Orde Baru. Ia berusaha menulis puisi di saat Dokter Jiwa mendiagnosanya tengah menderita delusi skizofrenia. Ia berkesimpulan, bahwa kekuatan sejati dimiliki oleh orang yang sanggup menguasai dan mengendalikan dirinya. Haris berusaha hidup normal dan waras di tengah ketegangan sistem, serta kekecauan yang membuatnya terjerat dalam ketidakwarasan dalam fase hidupnya.

Perjalanan hidup bersama kekasihnya, Ida Farida, perlahan dapat mengantarkannya pada keheningan dan ketenangan batin. Bagi Haris, dunia hiper modern saat ini butuh filsafat bukan sebagai teori, melainkan sebagai alat navigasi di tengah kegaduhan dan kekacauan. Filsafat bukan hanya sekadar materi kuliah di ruang-ruang kampus, tetapi untuk sandaran dan pegangan hidup sehari-hari. Ia mengantarkan manusia ke dasar pemikiran, agar dapat fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.

Penulis novel POI hidup di perkampungan sederhana di tengah pesawahan, dekat monumen Multatuli, Rangkasbitung. Kadang sekelompok mahasiswa dan para santri mendatangi kediamannya, membicarakan masalah sastra, agama, sosial-politik, hingga transformasi spiritual yang sedang marak akhir-akhir ini. Ia berpendapat, adakalanya seorang Nakhoda mulai dikenal saat badai datang. Orang-orang baru tahu, bagaimana cara kerja kapal, arah angin, bahkan upaya untuk menghindar dari bahaya.

Sejenak kami membicarakan kandungan dalam novel “Jenderal Tua dan Kucing Belang”, hingga kemudian Hafiz menegaskan, bahwa dalam hidup yang diselimuti degradasi moral, kita harus memiliki kendali atas pikiran dan tindakan. “Kita harus mampu memanfaatkan rintangan sebagai bahan bakar, bukan dijadikan alasan untuk menyerah.” Baginya, penulis yang hebat itu bukan jatuh gratis dari langit, tetapi hasil dari keuletan dan ketekunan.

Banyak orang memandang, bahwa ketenangan dan ketentraman itu semata-mata soal pemberian dan anugerah, padahal ketenangan itu adalah pilihan bijak dari orang-orang yang hidup berdisiplin. “Ketika dunia sedang galau dan bising, jadilah pribadi yang pendiam, namun tetap berpikir mendalam,” tambahnya kemudian.

Transformasi filsafat

Ketika seorang wartawan media daring memancing beberapa pertanyaan, penulis lulusan Filsafat itu menjawab dengan spontan, tanpa banyak berpikir. Tampaknya, ia hidup selaras dengan buah pikirannya, seakan dunia filsafat sudah menjadi aksi dalam kesehariannya. Ketika seorang seniman muda berkelakar, bahwa filsafat telah mati, justru Hafiz membalas dengan tenang, “Justru dunia filsafat sedang bertransformasi saat ini.” Kepada para penulis muda, ia pernah berpesan, bahwa jika penulis ingin menciptakan perubahan dengan karya dan kreasinya, mulailah dengan mengubah cara berpikir dan berfilsafat terlebih dahulu.

Memang, banyak penulis mengalami writer’s block, seakan terjebak dalam ritme hidup yang sibuk tanpa menyadari bahwa ketenangan adalah kunci untuk berpikir jernih. Dalam ketenangan batin, seorang penulis dapat mengambil keputusan yang lebih baik, serta menjalani hidup yang lebih bermakna. Ia mampu berkarya dengan lebih dulu menciptakan perspektif baru untuk mendapatkan kedamaian di tengah keriuhan dan kegaduhan saat ini (baca kompas.id: “Sastra, Takhayul, dan Kebuntuan Ideologis”).

Di dunia yang terus bergerak cepat, banyak penulis yang merasa cemas, stres, dan kelelahan. Mereka terlampau sibuk mengejar validasi dari media sosial, atau terganggu oleh berita-berita negatif yang terus-menerus menghantui ide dan gagasannya. Bagi Hafiz, solusi untuk mengatasi hal tersebut, bukan menulis dan mengejar target penerbitan buku, melainkan mencari cara terbaik untuk menenangkan pikiran, terbebas dari segala gangguan luar maupun dalam.

Mencari ketenangan di sini bukan berarti diam dan pasif sama sekali, tetapi kemampuan seorang penulis untuk hidup lebih fokus, bijaksana, dan tidak terpengaruh oleh kekacauan di sekitarnya, hingga merasuk ke dalam ide dan gagasannya.

Bagi Hafiz, penulis yang baik harus sanggup menarik diri dari distraksi dan kebisingan, karena manusia harus berbuat adil terhadap pikirannya yang juga memengaruhi ketahanan bodi dan fisiknya. Ia harus sanggup mengatur dan memperlambat ritme hidup dan tidak terburu-buru dalam setiap tindakannya. (baca janang.id: “Sastra dan Transformasi Spiritual”)

Konsep keheningan

Konsep “menyendiri” yang dikemukakan Hafiz dalam beberapa kali kajian filsafat yang saya ikuti, baik di Untirta, Unilam, maupun pesantren-pesantren di Rangkasbitung, bahwa di dunia yang sarat kegaduhan saat ini, ketenangan batin hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang memiliki kekuatan super. Ia tidak mengajarkan konsep tasawuf klasik maupun teologi kaum santo, juga tidak melarang penggunaan teknologi untuk menyepi di goa-goa bersama warga Baduy, tetapi bagaimana mendapatkan momen keheningan di tengah kesibukan manusia modern sehari-hari.

Ia menganjurkan para penulis muda agar membatasi waktu penggunaan media sosial dan konsumsi berita yang berlebihan, agar mereka dapat fokus pada aktivitas yang lebih bermanfaat, serta merenungkan hal-hal yang lebih penting dan prinsipil. Sebagaimana pesan sentral dari filsuf Nietzsche tentang pentingnya kemandirian berpikir.

Seorang penulis yang memahami dan menerapkan prinsip ketenangan batin, ia dapat hidup dan berkarya lebih nyaman dan leluasa, lebih bahagia, juga lebih terhubung dengan diri sendiri (baca: golagongkreatif.com: “Penulis Harus Rendah Hati”). Untuk itu, di tengah kesibukan dan tekanan hidup akhir-akhir ini, sekaranglah saatnya bagi para penulis untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya menemukan ketenangan dan keheningan dalam berkarya dan berkreasi? []

Penulis adalah Pengamat dan penikmat puisi dan prosa milenial Indonesia, menulis esai dan kritik sastra di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.