Oleh: Muktafi
Filsafat Nusantara adalah kajian filsafat khas Indonesia yang mempelajari berbagai aspek kebudayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Filsafat Nusantara berfokus pada pemikiran asli Indonesia yang tercermin dalam berbagai bentuk kesenian, hukum adat, dan hubungan manusia dengan alam serta menekankan kerjasama di banding individualitas. Filsafat ini berusaha memahami jati diri bangsa Indonesia melalui keragaman budaya dan corak Filsafat Nusantara merupakan sebuah konsep yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mengembangkan dan memahami kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Filsafat Nusantara ini mengajak setiap individu untuk selalu bertanya, merenung dan mengkritisi apa yang dianggap sebagai benar serta mempertanyakan persoalan-persoalan bangsa dengan tujuan untuk membangun identitas keindonesiaan. Filsafat ini didasarkan pada proses berpikir Aristoteles, seorang filsuf besar dari zaman kuno (384-322 SM), yang menyatakan bahwa pemikiran manusia melalui tiga jenis abstraksi yang melahirkan ilmu pengetahuan.
Filsafat Nusantara memandang bahwa segala sesuatu adalah objek material filsafat yang tujuan utamanya adalah untuk memahami penyebab pertama atau prinsip tertinggi dari segala sesuatu serta alasan alamiah dan kekuatan nalar yang abstraktif
Penting untuk dicatat bahwa filsafat sebenarnya adalah kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang dan setiap saat. Hal ini tidak harus rumit, karena filsafat dapat dimulai dari rasa ingin tahu, pertanyaan dan refleksi terhadap objek di sekitar kita. Setiap tindakan bertanya, merenung dan menggugat merupakan bentuk berfilsafat dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat Nusantara memotivasi masyarakat Indonesia untuk berfilsafat secara aktif dan berkontribusi dalam membangun identitas keindonesiaan yang kuat
Berangkat dari pijakan epistemologis dan historis, diskursus lama yang kembali mencuat tersebut dengan adanya dua ormas besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) saling mengindikasikan bahwa corak Islam di Nusantara identik dengan kelompok agama tersebut. Tema mengenai Islam Nusantara kembali mencuat dalam Muktamar NU ke-33 di Kota Santri Jombang, Jawa Timur pada tanggal 1-5 Agustus 2015.
Hal tersebut bukan lagi tema yang hangat, akan tetapi ada alasan kuat mengapa dalam Muktamar kali ini NU mengusung tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia, tidak hanya menegaskan ideologi namun lebih dari itu untuk menyemai peradaban yang toleran dan damai. NU kembali mencoba meneguhkan corak Islam di Nusantara.
Lantas bagaimana memahami Islam Nusantara model Nahdlatul Ulama dengan Islam berkemajuan Muhammadiyah. Menurut Akhmad Sahal, Islam Nusantara jika dilihat dari perspektif ushul fikih, “Islam dan Nusantara” kedua jargon tersebut justru mencerminkan dua sisi mata uang yang sama, yakni kontekstualisme Islam. Baik Islam Nusantara maupun Islam Berkemajuan sama-sama mempertimbangkan perubahan situasi dan kondisi masyarakat, dengan menjadikan prinsip kemaslahatan sebagai tolok ukurnya. Pertama menekankan pembaruan pemahaman Islam karena perubahan konteks geografis (dari Arab ke Nusantara), sedangkan yang kedua menyerukan pembaruan Islam karena perubahan zaman menuntut pembaruan.
Kedua ormas keagamaan terbesar di Indonesia tersebut sebenarnya merupakan representasi sejarah peradaban Islam Nusantara yang sudah berlangsung begitu lama. Bermuara dari sumber yang sama (Rasulullah SAW), NU dan Muhammadiyah menjelma sebagai organisasi keagamaan yang mencerminkan tipologi masing-masing. Tentu saja, karakter dan watak yang dimiliki dari masing-masing organisasi ibarat jalan bercabang yang muaranya sama. Pertanyaanya kemudian adalah mengapa muncul saling berbenturan antara keduanya secara lembut, seakan-akan berjalan seperti apa adanya. Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat Nusantara, khusunya di mana Dahlan dilahirkan, sangatlah ortodok dan sedang menghadapi hegomoni ajaran Jawa-Hindu. Dahlan terpanggil untuk bertindak melawan arus Islam sinkretis.
Dahlan melihat bahwa umat Islam tidak memegang Al-Qur’an dan Sunnah dalam amalan Islamnya sehingga syirik berkembang dimana-mana. Amalan-amalan tersebut tumpang tindih dan saling bercampur antara benar dan salah. Cara yang paling mungkin untuk mengatasi hal demikian yaitu dengan membentuk sebuah organisasi yang dapat membebaskan Islam dari campuran adat dan kepercayaan lokal, serta menyaring Islam dari tardisi kebudayaan pengaruh Hindu-Buddha di Nusantara. Beberapa alasan dalam berbagai banyak hal lainnya, dengan demikian Muhammadiyah didirikan oleh Dahlan. Menurut Alwi Shihab, berdirinya Muhammadiyah merupakan perkembangan logis dalam menghadapi kegiatan misi kristenisasi yang diberi dukunngan dan kekuasaan oleh pemerintah Kolonial
Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat Nusantara, khusunya di mana Dahlan dilahirkan, sangatlah ortodok dan sedang menghadapi hegomoni ajaran Jawa-Hindu. Dahlan terpanggil untuk bertindak melawan arus Islam sinkretis. Dahlan melihat bahwa umat Islam tidak memegang Al-Qur’an dan Sunnah dalam amalan Islamnya sehingga syirik berkembang dimana-mana. Amalan-amalan tersebut tumpang tindih dan saling bercampur antara benar dan salah. Cara yang paling mungkin untuk mengatasi hal demikian yaitu dengan membentuk sebuah organisasi yang dapat membebaskan Islam dari campuran adat dan kepercayaan lokal, serta menyaring Islam dari tardisi kebudayaan pengaruh Hindu-Buddha di Nusantara. Beberapa alasan dalam berbagai banyak hal lainnya, dengan demikian Muhammadiyah didirikan oleh Dahlan.
Menurut Alwi Shihab, berdirinya Muhammadiyah merupakan perkembangan logis dalam menghadapi kegiatan misi kristenisasi yang diberi dukungan dan kekuasaan oleh pemerintah kolonial saling lebel-melebel dan saling berusaha mendominasi sangatlah terlihat untuk menjadikan corak kelompoknya sebagai model Islam di Nusantara.
Berakar dari ideologi, maka pokok doktrin keislaman Muhammadiyah yang paling utama adalah memandang bahwa Tuhan merupakan realitas yang eksis dan merupakan totalitas wujud Maha Mutlak. Keberadaan Tuhan tidaklah sama dengan keberadaan ciptaan-Nya. Muhammadiyah menolak akan penggunaan takwil dalam memberikan gambaran tentang Tuhan. Keberadaan Tuhan dikatakan di Arsy, maka hal itu tidak perlu ditakwilkan, baik yang menyangkut keberadaan-Nya. Konsep-konsep demikian tidak perlu adanya penakwilan lebih lanjut, melainkan mesti diterjemahkan apa adanya. Tuhan dikonsepsikan sebagai Tuhan yang Esa, tidak terbagi dan tidak mengandung unsur yang lain. Keesaan Tuhan dipandang sebagai pemahaman lurus dan menjadi tolak ukur ketauhidan umat Islam. Ketuhanan yang satu merupakan jati diri umat Islam yang mesti dipahami secara sungguh-sungguh dan mendasar
Ormas Islam selanjutnya yang menggaungkan diri sebagai corak Islam Nusantara selalu identik dengan Nahdlatul Ulama (NU), hal itu agaknya dipertegas pada Muktamar NU ke-33 di Kota Santri, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 1-5 Agustus 2015. NU mengusung tema, Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Tema tersebut tidak hanya menegaskan ideologi namun lebih dari itu untuk menyemai peradaban yang toleran dan damai.
Tema tersebut secara tidak langsung mengindikasikan adanya keterkaitan antara corak keberislaman NU dengan warisan Islam di Nusantara. Sebagaimana diketahui bersama, nilai-nilai serta paham keagamaan dalam NU sangat dekat dengan model Islam Nusantara, mengingat NU dengan faham Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah, merupakan golongan keberagamaan terbesar di Nusantara. NU juga mencoba mempertahankan tradisi tradisional untuk menjawab tantangan modernis, disamping mereka mencoba mendekonstruksi pemikiran Islam kekinian sehingga tidak terlepas dari ajaran-ajaran Islam yang murni.
Penulis adalah Mahasiswa Hukum Tata Negara Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Ibrohimy dan Kader HMI Cakraningrat Galis Bangkalan Madura








