Filosof Muslim Vs Habib Temperamental

oleh -1575 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhar

Tidak seperti kebanyakan sufi yang biasanya sedikit menghasilkan karya literasi, Ibnu Arabi justru menghasilkan ratusan judul buku dari berbagai disiplin ilmu. Ia dikenal sebagai sufi sekaligus cendekiawan yang multidisipliner. Banyak penulis dan ulama yang mengabadikan namanya dalam bentuk biografi, di antaranya Abul Abbas Al-Ghabrini, Haji Khalifah, hingga Yusuf bin Ismail Al-Nabhani.

Dalam karya Al-Nabhani disebutkan bahwa Ibnu Arabi telah menulis risalah yang mencakup nama-nama kitab dari semua hasil karyanya. Ada sekitar 27 karya tulisnya yang hilang dan raib entah ke mana. Beberapa naskah sempat ditemukan, dan setelah ditelusuri rupanya benar bahwa naskah itu adalah hasil karya Ibnu Arabi. Terlihat jelas dari karakter tulisannya, serta penggunaan kosa-kata yang disukai olehnya. Kadang ia menitipkan tulisan pada seorang sahabatnya, karena suatu keperluan keluar kota. Tapi disebabkan oleh lupa atau hilang, sahabatnya itu tidak sempat mengembalikannya.

Al-Nabhani juga menyebutkan sekitar 235 karya Ibnu Arabi yang menyebar luas dan dibaca oleh masyarakat seluruh dunia. Dari beberapa judul buku yang tersebar itu – dalam pengakuan Ibnu Arabi – sebagian besar sudah selesai dituliskan, meski ada beberapa yang belum sempat diselesaikannya. Ada hal-hal prinsipil yang masih menggantung dan memerlukan kroscek yang akurat. Ada masalah jeda waktu atau penyebutan nama yang belum diadakan penelitian di lapangan.

Dalam menulis karya-karyanya tersebut, Ibnu Arabi pernah menyatakan adanya petunjuk yang spontan, meski pada prinsipnya tak lepas dari nur Ilahi yang mengilhami pemikirannya. Tidak jarang juga petunjuk itu muncul berdasarkan pertanyaan para muridnya, hingga ia merasa terdorong untuk menuliskan serta menunjukkan solusinya.

Di antara buku-buku Ibnu Arabi yang hilang, atau belum rampung dalam proses penulisan, antara lain Mukhtashar al-Muhalla Li-ibnil Hazm al-FarisiMukhtashar al-Musnad al-Shahih Li Muslim ibn al-HajjajMukhtashar Sunan Abi Isa al-Tirmidzi, al-Ihtifal Fima Kana ‘Alahi Rasulullah Min Sanniyy al-Ahwal, dan banyak lagi yang lainnya.

Nama lengkapnya adalah “Muhyidin Ibnu Arabi”, lahir di Andalusia (520 Hijriyah), namun sejak usia 8 tahun pindah bersama keluarganya di wilayah Seville (sekarang Spanyol), dan di situlah ia mulai mendalami ilmu-ilmu hadis dan fiqih. Ketika beranjak dewasa, ia memutuskan hijrah ke Damaskus (Syiria). Di kota itu, Ibnu Arabi semakin disegani banyak murid-muridnya, di antaranya Syamsuddin Ahmad al-Khauli, seorang pemimpin para qadli dari madzhab Syafi’i. Ia begitu menghormati Ibnu Arabi, sampai-sampai rela menyarungkan jabatannya karena ingin berkhidmat kepada sang guru.

Sekitar tahun 598 Hijriyah, Ibnu Arabi berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Namun kemudian, ia memilih tinggal di sekitar Masjidil Haram selama dua tahun. Setelah itu, ia mengembara ke Baghdad dan Mosul, kemudian tinggal di Hebron (Palestina) selama satu tahun, lalu menuju Mesir (Kairo) dan menetap selama tiga tahun. Terakhir, di usianya yang ke-87 ia kembali lagi ke Damaskus (Syiria) hingga wafatnya.

Di kalangan ahli hakikat dan para wali, berkat karya-karyanya yang monumental, Ibnu Arabi sempat dinobatkan beberapa gelar kewalian, di antaranya khatamul auliasulthanul arifin (pemimpin orang-orang bijak), barzakhul barazikh (pembeda dari yang beda), dan kibrit al-ahmar (sang belerang merah).

Karomah Ibnu Arabi     

Suatu hari Ibnu Arabi ikut menghadiri pengajian bersama ratusan murid lainnya di pojok masjid Damaskus (Zawiyah). Sang Guru Zawiyah berhalangan hadir, kemudian beberapa murid mengusulkan agar menggantikan posisi sang guru. “Saya belum lama bergabung dengan kalian, dan tidak tahu materi apa yang diajarkan guru kalian,” tolak Ibnu Arabi.

Beberapa ahli fiqih mendesaknya agar maju ke depan, lalu Ibnu Arabi menanyakan kitab apa yang diajarkan di sini, dan materi kemarin sudah sampai mana? Seseorang maju ke depan, menyodorkan kitab yang diajarkan itu. Ibnu Arabi hanya membuka-buka lembarannya, lalu ia pun dengan fasih dan cemerlang memberikan materi yang sesuai dengan kitab itu secara menakjubkan.

Karomah lainnya. Pernah suatu hari Ibnu Arabi pulang ke Baghdad (Irak), lalu mengatakan pada murid-muridnya bahwa ia baru menyelesaikan kitab yang ditulisnya di kota Mekah.

“Kitab apa itu, wahai Guru?” tanya para murid.

“Judulnya Al-Futuhat al-Makiyyah.”

Murid-muridnya menanyakan naskah kitab tersebut, akan tetapi naskahnya baru selesai ditulis, dan masih tertinggal di Kota Mekah. Namun tak berapa lama, Ibnu Arabi mendiktekan kitab yang ditulisnya kepada para murid selama beberapa hari pertemuan, dari bab pertama sampai akhir, karena ia sanggup menghafalnya di luar kepala.

Lalu, dalam perjalanan kapal layar menyeberangi lautan bersama para sahabatnya, tiba-tiba ombak mengganas di tengah laut. Kapal yang ditumpanginya oleng ke kiri dan kanan, air laut terus bergolak hingga kapal itu nyaris tenggelam. Semua penumpang mendekati Ibnu Arabi, seraya memekik ketakutan, “Syekh! Kita semua akan tenggelam, apa yang harus kami lakukan?”

Ibnu Arabi mlangkah dengan tenang ke salah satu sudut kapal menghadap ke arah lautan. Kemudian, ia berkata lembut kepada lautan: “Dengan karunia dan pertolongan Allah, tenanglah hai laut kecil. Di atasmu ada lautan ilmu.”

Ombak besar itu tiba-tiba berhenti, dan laut pun seketika menjadi tenang. Maka, hilanglah rasa takut dan panik yang dialami para penumpang.

Karomah lain lagi. Salah seorang murid Ibnu Arabi, Syekh Shadr al-Qunawi al-Rumi, pernah menyatakan bahwa sang guru mampu bertemu dengan ruh siapa pun dari para nabi dan para wali terdahulu yang dia kehendaki dengan tiga cara. Pertama, menarik ruhaninya ke alam dunia lalu berjumpa dengan fisiknya dalam wujud yang sempurna. Kedua, dengan cara menghadirkannya dalam kontak mimpi. Ketiga, dengan cara melepaskan ruhnya sendiri dari jasad, kemudian berjumpa dengan ruh yang dikehendakinya.

Habib temperamental

Dikisahkan oleh ulama terkemuka Al-Siraj, bahwa di Kota Damaskus terdapat seorang Habib (Syarif) dari kalangan bangsawan, yang nasabnya masih terhubung kepada Nabi Muhammad Saw. Habib itu menulis sebuah kitab, namun ia tidak menyukai karya-karya Ibnu Arabi. Ia menganggap Ibnu Arabi sebagai pesaingnya, bahkan berusaha menjatuhkan reputasinya kepada khalayak.

Suatu ketika, Habib itu menulis kitab yang dibayar oleh seseorang. Ia membeli kertas dan tinta emas untuk menuliskan kata demi kata dengan ukiran khat hingga selesai. Ketika naskah-naskah itu terbentang di hadapannya, ia segera mengecek ulang sebelum diserahkan kepada pemesannya. Tiba-tiba seekor kucing belang melompat dan menjatuhkan penyangga lampu minyak serta merusak sebagian dari naskah tersebut.

Habib itu tak bisa tidur karena kemelut perasaan jengkel penuh amarah. Ia bangkit dari pembaringannya menuju sungai Bardi, ingin membuang naskah yang tinggal separuhnya. Tiba-tiba di bantaran sungai ia berjumpa dengan Ibnu Arabi, sang penulis yang amat dibencinya. Ibnu Arabi kemudian mengajak duduk bersama sambil menawarkan, barangkali ia dapat membantu.

“Saya tahu, Anda cuma menebak-nebak apa yang ingin saya lakukan, iya kan?” ujar Habib keras kepala.

“Coba tunjukkan pada saya, naskah apa yang kamu pegang itu? Barangkali saya bisa membantu,” tawar Ibnu Arabi.

“Saya enggak butuh bantuanmu,” tolaknya dengan angkuh.

“Coba berikan sisa naskah itu pada saya, barangkali saya tahu solusinya.”

Sang Habib menuruti apa-apa yang dimintakan lawan bicaranya. Lalu, Ibnu Arabi mendiktekan bagian-bagian kalimat yang hilang dari naskah tersebut. Dengan terperangah, Habib itu masih saja mendongkol, bahwa apa yang dilakukan Ibnu Arabi itu sejenis klenik atau sihir yang biasa dilakukan oleh para tukang sulap ataupun orang-orang iseng.

Tiba-tiba terlepaslah kepala Habib itu dari tubuhnya dalam keadaan hidup. Kepalanya jatuh terpental ke tanah, seperti orang yang dijatuhi hukum pancung. Si kepala menyaksikan tubuhnya sendiri tergolek di atas tanah yang basah. Beberapa orang yang menyaksikan, melihat Ibnu Arabi mengucap basmalah, hingga tak lama kemudian kepala itu bersatu kembali dengan tubuhnya.

Bagi Ibnu Arabi, alangkah bijak seandainya sang Habib menyampaikan misi dakwah dengan arif dan santun, hingga masyarakat jamaahnya akan terbawa pada kualitas Islam yang rahmatan lil alamin, bukan hanya ber-Islam dengan ambisi dan hawa nafsu semata.

Sang Habib terhenyak dengan tatapan menerawang, seraya beristighfar dan mengucap: “Asyhadu alla ilaha illa Allah, wa anna Muhammad rasulullah wa annaka waliyyullah (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad Rasulullah, dan bahwa engkau Ibnu Arabi adalah wali Allah.)”

Kemudian, Ibnu Arabi memberinya peringatan, “Habib, saya hanya mengajarkan agar kamu mendapat petunjuk, karena tidak sepantasnya seorang keturunan Rasulullah berada dalam keangkuhan dan kesombongan. Jika saya tak peduli, serta tidak memberikan pelajaran kepadamu, berarti saya telah berbuat lancang kepada junjunganku Baginda Rasulullah.”

Sejak saat itu, sang Habib dan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu, segera menjadi murid-murid setia Ibnu Arabi.

Demikian beberapa karomah unik dari sang ulama, penulis, dan filosof muslim Ibnu Arabi. Beliau wafat pada malam Jumat 28 Rabiul-Tsani tahun 638 Hijriyah (26 November 1240 Masehi) di Damaskus, Syiria. Para tokoh sufi terkemuka turut mengantarkan jenazahnya di pemakaman keluarga. Ia dimandikan oleh ulama terkenal Ibnu Dzakiy, kemudian jenazahnya dibawa oleh Abdul Khaliq dan Ibnu Nahhas.

Hingga sekarang, makam Ibnu Arabi tetap ramai diziarahi para sufi dan kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru dunia. (*)

Penulis adalah Penulis novel Perasaan Orang Banten dan Pikiran Orang Indonesia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.