Danau Rana Mese: Surga Tersembunyi Manggarai Timur yang Terbelenggu Birokrasi

oleh -244 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Kristologus Ryanto de Loking

Potensi Wisata Besar, Kewenangan Terbelah antara Pusat dan Daerah

Siapa sangka, di balik rimbunnya hutan tropis kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, tersembunyi sebuah danau yang memesona. Danau Rana Mese, yang terletak di Desa Golo Loni, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), mempunyai potensi wisata yang luar biasa. Namun sayang, permata itu seakan dibiarkan terbengkalai terkendala tumpang tindih kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah.

Secara geografis, Danau Rana Mese adalah destinasi menjadi salah satu wisata pertama yang menyambut wisatawan saat memasuki wilayah Manggarai Timur dari arah Ruteng. Hamparan air tenang, dikelilingi vegetasi hutan pegunungan yang masih asri, menjadikan danau ini kandidat kuat sebagai ikon pariwisata Matim. Tak hanya indah, udara sejuk pegunungan yang menyelimuti kawasan ini pun menjadi nilai tambahan yang tak ternilai bagi para pelancong yang datang dari kota-kota besar.

Danau Rana Mese terbentuk dari cekungan alami di tengah pegunungan Flores akibat letusan vulkanik lama. Dalam bahasa Manggarai, Rana berarti danau, dan Mese berarti besar atau agung, yang keduanya sangat mencerminkan keagungan alam yang ada di sana. Selama bertahun-tahun, warga lokal telah menganggap lokasi ini sebagai tempat sakral yang memberikan kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Sungai-sungai kecil mengairi lahan pertanian di bawahnya melalui hutan lebat yang melingkupinya. Kawasan ini disebut sebagai hutan ibu, dan orang-orang di sana percaya bahwa itu adalah tempat yang aman untuk hidup. Nilai-nilai budaya yang melekat inilah yang sebenarnya menjadi daya tarik wisata budaya tersendiri di Rana Mese, melengkapi keindahan alamnya yang luar biasa.

Sayangnya, potensi besar itu masih belum dimaksimalkan. Penyebabnya bukan karena minimnya minat wisatawan, melainkan karena kawasan danau ini masuk dalam wilayah kelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT di bawah pemerintah pusat bukan di bawah kendali Pemerintah Kabupaten. Akibatnya, setiap upaya untuk membangun infrastruktur wisata harus melalui proses perizinan yang rumit dan panjang dari Jakarta. Kondisi ini berbeda jauh dengan bagaimana destinasi wisata lain di NTT dikelola langsung oleh pemerintah daerah. Misalnya, Pantai Mbawi atau wisata budaya Wae Rebo dikelola oleh komunitas lokal bersama Pemkab, tetapi ini lebih sering dilakukan oleh pemerintah daerah.

Fasilitas Terbengkalai, Wisatawan Kecewa

Fasilitas pendukung wisata di sekitar Danau Rana Mese masih jauh dari kata layak. Tidak ada pusat informasi wisata, kios-kios ekonomi kreatif milik warga lokal pun belum tertata, sementara fasilitas sanitasi dan akses jalan menuju titik pemandangan terbaik masih membutuhkan banyak perbaikan. Papan penunjuk arah pun nyaris tak dijumpai, membuat wisatawan yang baru pertama kali datang kerap bingung mencari jalur masuk ke kawasan danau.

Dilema Kewenangan: PAD, Hutan Harus Tetap Terjaga

Kondisi ini seharusnya menjadi bahan perimbangan bagi Pemkab Manggarai Timur. Di satu sisi, bisa mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) lewat sektor pariwisata, termasuk mengembangkan Rana Mese sebagai destinasi unggulan. Akan tetapi di sisi lain, status kawasan hutan lindung yang melekat pada lokasi ini membuat tangan Pemkab seolah terikat. Setiap jengkal pembangunan di dalam kawasan wajib mendapatkan ijin dari pemerintah pusat, meskipun demikian, wilayah ini memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.

Rana Mese memiliki peluang untuk menjadi salah satu penyumbang PAD terbesar di industri pariwisata Matim jika dikelola dengan baik. Apalagi, setelah pandemi, tren wisata alam dan ekowisata telah meningkat pesat di seluruh negeri. Rana Mese adalah tempat yang populer di kalangan pelancong karena menawarkan kedamaian alam dan jauh dari keramaian kota. Keanekaragaman hayati TWA Ruteng juga menjadi daya tarik. Rana Mese adalah tempat yang bagus untuk pengamat burung dan peneliti alam karena banyak spesies burung endemik Flores dapat ditemukan di hutan di sekitar danau.

Pintu Masuk yang Terlewatkan

Sebagaimana letak danau Rana Mese yang berada di dekat jalan raya lintas flores, dinama Jalan ini biasanya digunakan oleh pengunjung yang pergi ke Labuan Bajo dan wilayah Flores. Menurut data yang dikumpulkan oleh Dinas Pariwisata NTT, arus kunjungan wisatawan ke Flores terus meningkat setiap tahunnya, seiring dengan kepopuleran Taman Nasional Komodo sebagai destinasi terbaik di dunia. Wisatawan yang ingin melihat pedalaman Flores sering melakukan perjalanan darat dari Ruteng ke Borong. Sebenarnya, Rana Mese berada di jalur strategis ini.

Namun, tanpa pengelolaan yang serius, Rana Mese terancam hanya menjadi tempat singgah sebentar untuk foto dan bukan destinasi yang mampu menampung wisatawan di bumi Matim untuk waktu yang lebih lama. Menurut saya harus ada kolaborasi nyata antara BBKSDA, Pemkab, dan komunitas desa wisata setempat. Dimana pengelolaan kolaboratif adalah pilihan yang paling masuk akal dan menguntungkan untuk semua pihak. Rana Mese memiliki potensi yang luar biasa, tetapi tanpa sinergi itu, potensinya akan tetap tersembunyi dan menjadi cerita panjang tentang kekayaan yang tidak pernah dinikmati oleh pemiliknya sendiri.

Rana Mese bukan danau biasa iya adalah warisan alam yang harus kita pelihara dan manfaatkan dengan bijak. Seorang tokoh masyarakat setempat yang telah mendukung pengelolaan kawasan ini selama bertahun-tahun menyatakan bahwa jika keadaan ini terus berlanjut, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah akan semakin luntur. Sekarang, pemerintah daerah dan pusat memegang kendali. Apakah Rana Mese akan segera dibangun menjadi ikon pariwisata Nusa Tenggara Timur asli atau akan tetap tidur panjang akibat birokrasi yang tidak kunjung usai? Di pentas pariwisata nasional, jawaban yang ditunggu-tunggu oleh warga Manggarai Timur, para pelaku wisata, dan jutaan pecinta alam Nusantara yang menginginkan untuk melihat surga tersembunyi ini akhirnya muncul.

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu  Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.