Cinta dan Obsesi yang Berlebihan

oleh -373 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Banyak fitur tersembunyi yang disisipkan oleh Curry Barker, sang sutradara film “Obsession” seakan terinspirasi dari tradisi perburuan Telur Paskah (Easter egg hunt), bahwa kita perlu melihat tayangan ulang agar dapat menyimak maksud yang terkandung dari sebuah narasi. Demikian pula jika kita ingin menyimak novel atau karya sastra, kadang kita perlu masuk ke area tersembunyi, kemudian baru dipahami maksud yang terkandung di dalamnya ketika kita menelusuri dengan cara membaca ulang novel tersebut.

Sejak dirilis (2025), Obsession menjadi salah satu film horor psikologis yang banyak diperbincangkan jagat perfilman dunia. Film ini terbilang unik dan langka, bukan saja memakan anggaran yang sangat minim (kurang dari USD 1 juta), serta disutradarai oleh seorang YouTuber, juga waktu syutingnya yang hanya memakan waktu duapuluh hari saja.

Ide ceritanya terinspirasi dari episode serial animasi The Simpsons, dengan adegan-adegan sederhana yang banyak mengandalkan practical effects. Setelah diputar di festival film, Obsession langsung menarik perhatian banyak distributor besar. Beberapa studio dikabarkan ikut bersaing mendapatkan hak distribusi sebelum akhirnya dimenangkan oleh Focus Features dengan nilai akuisisi yang jauh melampaui biaya produksinya.

Selain menghadirkan elemen horor, Obsession mengangkat tema utama  tentang “bucin” yang terasa akrab di kalangan milenial saat ini. Ia menyiratkan batasan yang tipis antara cinta dan benci, obsesi dan kemelakatan, serta ketergantungan emosional di tengah masyarakat modern. Pendekatan itulah yang membuat film ini mengundang banyak diskusi dan perdebatan mengenai hubungan pertemanan yang kerapkali menimbulkan toxic relationship.

Telur Paskah

Istilah telur Paskah (Easter egg) secara eksplisit dikemukakan langsung oleh sang sutradara, bahwa Obsession dipenuhi berbagai detail tersembunyi. Misalnya, soal kostum karakter, jam yang menunjukkan waktu tertentu, hingga obyek-obyek kecil pada latarbelakang, yang kemudian memiliki makna yang baru disadari setelah penonton mengikuti ending ceritanya. Sebagaimana pembaca yang baru melek ketika membaca ulang sebuah karya sastra (novel), “Dalam Obsession, tampaknya banyak penonton yang merasa dapat memahami film itu, justru setelah mereka menonton yang kedua kalinya,” ujar Curry Barker.

Sampai saat ini, Obsession masih menjadi tren di media sosial berkat review para penonton, meme, hingga diskusi di TikTok yang membuat penasaran publik kian semakin tinggi. Kejeniusan film ini terletak pada eksplorasinya terhadap satu ekstrim menuju ekstrim lain. Bagaikan sifat membenci secara berlebihan yang kemudian bermutasi menjadi cinta yang berlebihan. Akhirnya, bukan lagi cinta yang didapatkan, tetapi kengerian dari cinta yang menempel dan melekat di luar kontrol dirinya. Tak ubahnya sang ilmuwan yang gila popularitas dari hasil penemuannya, sampai kemudian benda ciptaannya bergerak liar secara independen hingga di luar kendalinya.

Selama ini, manusia seakan dilatih, bahkan dicetak oleh media sosial untuk menyamakan arti seks dengan cinta, aktivasi emosional dengan keterikatan yang tulus. Secara sengaja, konsumen dibikin tak sadar, bahwa industri yang mendapat keuntungan dari kebingungan ini, memiliki insentif luar biasa agar terus mempertahankan kekurangan dan menunda pemenuhan kebutuhan mendasar bagi masyarakat dunia.

Alur cerita

Ketika tokoh utama, Bear (Michael Johnston) ingin mengungkap perasaan cintanya kepada Nikki (Inde Navarrette), ia terhalang oleh sifatnya yang introvert, yang terbiasa bergaul dengan Sandy, kucing kesayangannya. Di awal cerita, tidak dijelaskan secara eksplisit, apakah Sandy mati karena memakan sesuatu, ataukah ada orang yang menyusup masuk ke kediaman Bear. Dalam kesendirian dan sifat mindernya untuk mengungkap rasa cinta kepada Nikki, iseng-iseng Bear membeli sebuah mainan unik bernama One Wish Willow.

Dengan mainan ajaib itu, dia berharap Nikki membalas perasaan cintanya, hingga keesokan harinya tiba-tiba Nikki muncul, bersikap manis bahkan terobsesi secara berlebihan. Sikap Nikki terus bermutasi dan berubah cepat menjadi posesif dan manipulatif, hingga berani melakukan hal-hal ekstrem yang di luar nalar dan akal sehat manusia.

Fantasi romantis begitu memikat karena berbicara langsung tentang budak cinta (bucin), seperti laparnya anak orok yang harus segera menyusu melalui puting ibunya. Anak bayi jelas mendambakan cinta tanpa syarat. Beda dengan sistem yang selama ini menciptakan pabrik kebencian, karena kita mendambakan sesuatu yang mustahil dan mencoba untuk mengisi kekurangan itu dengan materi duniawi, seperti mobil mewah, rumah megah, wisata dan kuliner yang mahal.

Selama ini, kita menciptakan drama tentang semua itu, yang seakan membuat kita merasa berhasrat dan tergiur. Kecerdasan sang sutradara, bukan semata eksplorasinya tentang hasrat cinta yang berhasil diraih, melainkan justru suatu kekejaman cinta akibat dari obsesi dan hawa nafsu yang tak terkendali. Seakan ada sistem pemikiran berabad-abad yang telah dirancang sedemikian masif, khususnya mengenai mitos cinta romantis. Sepasang kekasih yang bernasib malang dan bunuh diri bersama untuk mengabadikan nilai-nilai cinta itu sendiri.

Impian untuk meraih apa-apa yang diinginkan juga tergambar secara mendetail, jauh-jauh hari sebelum film Obsession ditayangkan. Misalnya, dalam cerpen “Jimat dari Mayor Gibran” (Koran Tempo), mengisahkan sang tentara yang membawa jimat dari Kerator Surakarta (Solo). Setelah jimat itu diambil-alih, kontan energi dan frekuensinya selaras, hingga kemudian hasrat dan cita-cita sang Ayah, segera terpenuhi. Namun kemudian, hanya dalam hitungan jam, uang ratusan juta yang diperoleh keluarga itu membutuhkan “tumbal” dari anak sulungnya yang mengalami kecelakaan kerja.

Sedangkan, dalam cerpen “Restoran Misterius” (Radar NTT), mengisahkan bos restoran yang “memperalat” seorang karyawati di hari ulang tahunnya, untuk melampiaskan nafsu birahinya. Sebagaimana banyak kasus dukun cabul, atau para pencari pasugihan yang ramai di sekitar Gunung Kawi, Lawu, Kemukus dan lain-lain.

Ketulusan cinta

Menurut budayawan Swiss, Denis de Rougemont dalam bukunya yang fenomenal “Love in the Western World” berpendapat, bahwa konsep cinta romantis adalah penemuan khas Barat, yang dapat ditelusuri hingga budaya istana-istana kerajaan sejak abad ke-13 Masehi. Gairah seksual membutuhkan hal-hal terlarang untuk mengatasi rintangan, hingga kemudian dikembangkan oleh konsep Freudian sebagai pemenuhan hasrat yang terlampiaskan, untuk mengimbangi kesadaran (ego) dengan naluri hewani atau dunia bawah sadar (id).

Secara praktis, seorang lelaki yang mengandalkan rasionalitas, seringkali keliru menganggap intensitas emosional sebagai keintiman dan cinta romantis. Keintiman bersifat langsung, tanpa pamrih, juga meyakinkan secara kimiawi. Itulah yang membuat pasangan merasa hidup. Namun, berkat kapitalisme dan hasrat manusia yang tak terpuaskan untuk memiliki “barang”, maka tidaklah cukup materi sebanyak apa pun untuk mengisi kekosongan jiwa yang dihasilkan oleh kapitalisme. Sementara, pendidikan manusia modern tak pernah memberikan kesadaran bagi anak didik, bahwa sesuatu yang “berkah” jelas berbeda dengan angka nominal yang banyak, mewah, megah dan seterusnya.

Orang-orang yang berada di lapisan atas terus-menerus mengejar konsumsi yang berlebih, sebagaimana mereka sibuk melanglang buana untuk mencari obat-obat yang tak pernah menyembuhkan penyakit mereka. Sedangkan, kita yang berada di lapisan bawah, secara sosio-ekonomi berasumsi bahwa hidup mereka seolah-olah tenang dan bahagia.

Keintiman sejati antar dua pasangan memang membutuhkan kesabaran serta pengakuan timbal balik yang saling memercayai dengan tulus. Budaya kapitalisme sangat pandai dalam memberi teladan, bahwa intensitas akan memancarkan sistem saraf sensasi yang menggetarkan, sedangkan keintiman sejati yang secara intuitif didominasi kaum wanita seakan terabaikan. Nikki sebagai wanita Gen Z telah mempelajari banyak hal, bahwa selama ini wanita seakan-akan hanya dijadikan obyek dari kepuasan sensasi kaum pria dengan dalih romantisme cinta. []

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menulis prosa dan esai untuk media-media nasional, seperti Koran Tempo, Kompas, Republika dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.