Bumi yang Menangis di Antara Tangan Lelucon Manusia

oleh -675 Dilihat
banner 468x60

Oleh : Bernabas Haki

Membaca kitab Kejadian Bab 1 :1-2:6, ada sebuah alur ciptaan yang Tuhan paparkan dan berikan. Dapat dilihat bahwa Allah tidak menciptakan manusia terlebih dahulu, tetapi yang lebih dahulu diciptakan oleh Allah adalah alam. Sesudah alam dijadikan oleh Allah begitu baik, hal terakhir yang dilakukan oleh Allah dan menjadi penutup dalam karya ciptaan-Nya adalah menciptakan manusia. Dengan demikian metode penciptaan Allah adalah dari makrokosmos ke mikrokosmos. Secara sederhana dari ciptaan ini hendak digambarkan bahwa bumi adalah saudara sulung bagi manusia karena bumi diciptakan terlebih dahulu barulah manusia.

Seiring perkembangan zaman dan peradaban, serta berkembangannya daya pikir manusia, ada satu pola yang kurang dibenarkan jika dikaji dengan konsep sama-sama ciptaan Allah. Manusia bukan lagi melihat lingkungan atau bumi tempat ia berpijak sebagai saudara (karena sama-sama diciptakan oleh Allah), tetapi manusia mengeksploitasi alam sesuka hati. Mungkin mansuia keliru dalam memahami imago Dei (gambar dan rupa Allah), yang dalam Kitab Suci diberikan tugas untuk menaklukan bumi, serta ciptaan Allah lainya (Kej 1:26). Artinya manusia sebagai imago Dei (gambar dan rupa Allah) yaitu; manusia bergantung secara total kepada Allah (Aman, 2026, p. 8). Dengan demikian visi hidup manusia dalam menerima mandat dari Allah adalah sebagai teosentris dan bukan antroposentris.

Manusia kontemporer saat ini cenderung membentuk pemikiranya bahwa alam diciptakan untuk dieksploitasi. Ada sebuah klaim hak, bawah alam diciptakan oleh Allah untuk dikuasai serta dijadikan pemenuhan kebutuhan manusia. Ketika seseorang mengeksploitasi alam, ada dalil yang diberikan untuk membenarkan tidakannya itu yaitu ‘’kamajuan’’. Dengan adanya dalil kemajuan ini, manusia menerapkan etika ‘’cowboy’’ yang bebas, arogan, tamak dalam mengelola alam bahkan tidak peduli terhadap dampak lingkungan yang dirasakan atas tidakan yang dilakukan itu (Cahyono, 2021, p. 2).

Ketika Kerusakan menjadi Komoditas

Di tengah krisis iklim yang nyata, banyak orang menganggap itu sebagai bahan lelucon serta menilainya dengan sebelah mata. Hal ini bisa ditemukan pada perusahaan-perusahaan yang mengenakan lebel warna hijau pada kemasan produksi mereka, tetapi nyatanya masih ada limbah-limbah industri yang dihasilkan dan dibuang pada Sungai. Ada juga pertemuan-pertemuan internasional untuk duduk membahas tentang lingkungan, namun itu hanyalah janji di atas kertas yang kemudian ditiup angin dan hilang entah ke mana. Ada yang lebih ekstrem lagi yaitu menormalisasikan bencana. Banjir yang datang tiap tahun dipandang sebagai sebuah kebiasaan dengan ungkapan ‘’biasa banjir ada karena musim hujan’’.

Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas, ada sebuah seruan sederhana dan amat mendalam dari Paus Benedictus XVI ketika menyampaikan pesan ekologi sedunia pada tahun 2011: ‘’jika ingin damai lindungilah ciptaan’’ (Lake, 2026, p. 1). Dari seruan ini hendak menggambarkan bahwa jika ingin hidup damai, bukan hanya damai dengan sesama manusia, juga dengan alam tempat manusia itu berpijak, harus menjaga dan merawat alam ciptaan. Maka manusia harus berani membangun konsep dalam pemikirannya bumi adalah tempat bersama. Dengan demikian manusia dalam membangun hubungan dengan lingkungan atau alam sekitar haruslah hubungan yang saling menguntungkan. Maksudnya bawah boleh menggunakan hasil-hasil dari alam untuk memenuhi kebutuhan, namun dengan catatan bawah harus merawat jika sudah menggunakan hasil alam yang dipakai itu. Contoh kecilnya jika kita selesai menebang pohon untuk membangun rumah, maka kewajiban kita adalah menanam anakan pohon itu kembali, dan bukan hanya sekedar tanam tetapi dituntut lebih lanjut adalah menjaga dan merawatnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyatakan bahwa negara Indonesia adalah sumber sampah terbesar ke-dua di dunia, dengan catatan lebih dari 170 juta ton sampah di buang ke laut tiap tahunnya (Aritonang et al., 2023, p. 2). Dapat dibayangkan bagaimana tercemarnya air, jika tiap tahun orang membuang sampah ke laut dengan jumlah demikian. Bukan hanya air yang dicemari tetapi juga mahkluk hidup lainya yang hidup di laut seperti ikan, terumbuh karang serta hewan-hewan laut lainnya. Dalam perstiwa seperti demikian, dibenarkan apa yang dikatakana oleh Sony Keraf bahwa permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini, disebabkan oleh kekeliruan pandangan manusia tentang arti hadir dirinya sendiri di tengah alam, dan keseluruhan ekosistem di dalamnya (Patty, 2022, p. 1).

Masalah-masalah yang ada tidak bisa terlepas dari perilaku dan tindakan manusia. Manusia membangun fondasi paradigma bahwa alam yang ada harus dieksploitasi sesuka hati. Ini merupakan cara berpikir ala kapitalisme, dimana kerusakan yang terjadi tidak masuk dalam hitungan biaya produksi. Maka dengan demikian muncul sikap serakah dan tamak terhadap alam ciptaan. Ada satu hal yang menarik bahwa, dalam pemikiran ala kapitalisme ini, ketika alam atau lingkungan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan mencapai kritis, pasar hadir untuk meraup keuntungan dari situasi demikian. Misalnya saat ini, sumber-sumber mata air menjadi langka, yang kemudian menutut orang untuk membeli air bersih yang ada dalam kemasan plastik berupa; air galon atau juga air mineral dalam kemasan botol kecil maupun besar.

Dari peristiwa-peristiwa yang ada ini, dapat dilihat bahwa ada kekeliruan paradigma manusia moderen saat ini, dimana budaya kapitalisme didewa-dewakan dan menjadi lupa akan eksistensi bahwa hidup ini ada karena sedang berpijak pada alam. Maka Richard Evanoff memberikan pemahaman bahwa alam yang adalah lingkungan hidup harus berada pada berkelindan, dengan teori human ecological triangle memuat hubungan yang saling seimbang antara alam dan manusia (Gultom, 2023, p. 1). Artinya bahwa alam atau lingkungan dan manusia harus mempunyai hubungan yang sama-sama menguntungkan. Misalnya, sebuah PT dapat diperbolehkan mengelola alam untuk kebutuhan bersama tetapi dengan catatan bahwa setelah mengelola harus kembali merestorasi alam yang dipakai itu.

Tangan-Tangan yang Jenaka namun Mematikan

Manusia dari awalnya diciptakan oleh Tuhan dengan akal budi. Inilah yang membuat manusia menjadi yang paling unik dan istimewa dari ciptaan Tuhan lainya. Manusia mampu berpikir secara sadar serta dalam tindakan yang dilakukannya dipahami dengan sungguh-sungguh, sebab ia adalah mahkluk yang berakal budi. Ada dampak negatif jika melihat kondisi dan situasi lingkungan saat ini, di mana manusia yang adalah mahkluk berakal budi ini, menggunakan tangan-tangannya untuk merusak alam sekitar.

Dibenarkanlah apa yang dikatakan oleh teolog ekoteologi Indoneisa Robert Parangaan Borong, jika melihat kerusakan alam dalam konteks wilayah Indonesia, bahwa faktor utamanya adalah pertumbuhan ekonomi yang lambat laun membawa kekurangan dan kehancuran sumber daya alam (Manguju, 2022). Artinya bawah tangan yang diciptakan oleh Tuhan kepada manusia digunakan oleh manusia untuk membabat hutan yang digunakan dalam industri, adanya pembuangan limbah-limbah hasil industri ke sungai atau laut yang menyebabkan air tercemar dan lain sebagainya.

Dalam kondisi demikian manusia masih saja bersikap dan bertingkah laku seolah-olah mereka memilki cadangan minyak bumi di saku belakang. Misalnya ada yang menebang pohon dan kemudian digantikan dengan beton, menggantikan oksigen dengan polusi melalui asap-asap yang dihasilkan dari mesin-mesin perindustrian, dan juga mencemari wilayah perairan dengan membuang sampah-sampah palastik ke dalam air. Manusia berlagak, bahwa hal-hal seperti demikian seolah-olah dipandang sebagai permainan yang dapat di-reset kapan saja untuk memulihkannya kembali. Inilah lelucon manusia yang terkadang berusaha merasionalisasikan itu semua bahwa apa yang dilakukan benar.

Mendiang Paus Fransiskus dalam enseklinya Laudato Si’, mengungkapkan kegelisahanya terhadap nasib bumi yang di mana manusia telah memperlakukan bumi seolah-olah ia adalah harta benda yang tak terbatas, sehingga dapat dipakai dan digunakan sesuka hati (Ambun, 2025, p. 1). Artinya manusia dengan keterampilanya serta dengan daya pikirnya membangun sebuah konsep bahwa alam yang diciptakan oleh Tuhan adalah bagian yang Tuhan berikan untuk dikuasi dan digunakan sesuka hati. Maka timbulah tangan-tangan lelucon manusia yang dengan serakah dan tamaknya merusak alam yang adalah rumah bersama bagi semua mahkluk hidup.

Kita bisa dapat melihat bagaimana Tuhan menciptakan tangan pada manusia yang sebenarnya diperuntukan merawat dan menjaga ciptaan Tuhan lainnya, justru manusia keliru dalam menggunakannya. Keliru dalam hal ini adalah, manusia menggunakan tangan itu untuk menjamah dan merusak ciptaan Tuhan lainnya terutama alam yang adalah rumah bersama. Pencemaran yang terjadai di wilayah perairaan, hutan yang habis dibabat, udara yang tercemar, semuanya adalah hasil dari tangan manusia yang jahil dan serakah. Manusia pada hakeatnya tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki. Dengan adanya rasa tidak puas ini, maka manusia mengeruk hasil alam dan merusak alam dengan sesuka hati tanpa berpikir babwa alam juga adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang sama-sama diciptakan oleh satu pencipta yaitu Tuhan.

Dari tangan-tangan yang jahil dan serakah ini, bahwa kehancuran alam adalah sebuah cerminan hilangnya rasa hormat pada Tuhan. Dikatakan hilangnya rasa hormat pada Tuhan karena manusia merusak ciptaan Tuhan lainnya. Alam juga adalah ciptaan Tuhan yang juga dinilai oleh Tuhan sebagai sesuatu yang mulia. Dapat dikaji dalam kitab Kejadian bab 1: 25, dimana ketika Allah selesai menciptakan alam berserta dengan segala isinya (sebelum manusia diciptaakan) melihat semuanya itu baik. Dalam kondisi yang demikian ada sebuah krisis moral di mana manusia merasa berkuasa penuh atas segala yang ada di muka bumi ini. Dibenarkanlah apa yang dikatakan oleh Kearney, bahwa ketika manusia memutuskan hubungan sakral antara manusia dan alam maka yang timbul setelah itu adalah manusia mengeksploitasi alam tanpa batas, dan akhirnya memicu degradasi lingkungan dalam sekala global (Siregar & Herman, 2026, p. 2).

Berani Kembali Untuk Memulihkan Alam Sebagai Ciptaan Tuhan

Ketika alam telah rusak yang dapat memulihkannya hanyalah manusia, karena manusia pada awal mulanya diciptakan oleh Allah dengan akal budi. Alam yang adalah sebagai rumah bersama bagi semua mahkluk hidup yang ada di semesta ini, sudah seharusnya dijaga dan dirawat oleh manusia. Manusia menjadi pioner dan menjadi sebuah gerakan dari dalam diri untuk menjaga dan melestarikan alam serta lingkungan yang ada di sekitar.

Manusia dalam kehidupan sehari-hari harus berani mengubah pardigma berpikir yang dari posisi menguasai alam untuk dieksploitasi menjadi pelindung yang penuh kasih. Hal ini dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dimulai dari menumbuhkan rasa hormat yang mendalam terhadap keberadaan setiap kehidupan yang Tuhan ciptaakan. Maka saya dan kamu atau saya dan kita semua harus benar-benar menyadari bahwa alam bukanlah sekedar sumber daya komerisal, melainkan sebuah mahakarya yang memiliki nilai intrinsik. Maka kita semua akan memandang gunung, laut, dan hutan sebagai dari identitas diri, dengan demikian kita semua memperlakukan lingkungan dengan kelembutaan, mengakui bahwa setiap helai daun dan tetes air memilki peran vital dalam harmoni kehidupan global.

Adapun langkah konkret dan sederhana dalam memulihkan alam sebagai rumah bersama yaitu melalui tindakan pemulihan dan konservasi yang aktif. Kita bukan hanya bertindak dalam mengambil atau menggunakan hasil-hasil dari alam sekitar, tetapi juga bergerak dalam kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam ciptaan, melalui reboisasi hutan yang gundul, pembersihan limbah di Sungai, dan perlindungan terhadap spesies yang terancam punah. Tindakan ini bukan hanya sekedar perbuatan teknis, melainkan salah satu dari sisi pertobatan manusia dalam memperbaiki ekologis yang telah retak karena peradaban moderen.

Memulihkan dan mengembalikan kelestarian alam selain dilakukan melalui aksi fisik, juga dapat dilakukan dengan mengadopsi gaya hidup yang selaras pada ritme bumi. Maka dengan itu, manusia harus mulai membatasi diri pada sikap dan tindakan yang mengkonsumsi sesuatu dari alam secara berlebihan, juga mengurangi jejak karbon, dan berusaha untuk beralih pada penggunaan energi yang bersih. Hal ini dapat ditunjukan dengan sikap hidup sederhana yang didasari pada prinsip; saya dan kamu atau saya dan kita harus belajar untuk merasa cukup, sehingga alam yang adalah rumah bersama ini memiliki ruang untuk bernapas serta memulihkan kembali dirinya.

Maka pada akhirnya, memulihkan dan mengembalikan alam sebagai ciptaan Tuhan yang istimewa adalah tanggung jawab semua. Dengan tindakan memulihkan alam disitu ada bentuk ekspresi rasa syukur kepada sang penciptaa. Ketika alam telah pulih, dengan sendirinya keseimbangan ekosistem akan mendatangkan berkat bagi manusia yang dapat dirasakan dalam ketahanan pangan, keindahan visual, dan ketenangan batin. Semua orang termasuk saya dan kamu dipanggil untuk menjadi rekan kerja Tuhan dalam memelihara taman dunia ini, memastikan bahwa setiap sudut bumi kembali memancarkan sinar keajaiban dan dalam kehidupan yang mencerminkan kasih sayang Ilahi yang tak terbatas.

Referensi:

Aman, P. C. (2026). TEOLOGI EKOLOGI DAN MISTIK-KOSMIK ST. FRANSIKUS ASISI.
Ambun, O. F. (2025). 10 Tahun Laudato Si’: Refleksi dan Prospek Teologi Hijau di Tengah Krisis Ekologi Global. 24(2).

Aritonang, D. E., Silitonga, R. H., & Hutauruk, D. A. N. (2023). Relasi Alam dengan Eksistensi Manusia Terhadap Krisis Ekologi Berdasarkan Perspektif Filsafat-Teologis. DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika, 6(2), 138–155.

https://doi.org/10.53547/diegesis.v6i2.489
Cahyono, D. B. (2021). Eko-Teologi John Calvin: Dasar Kekristenan Dalam Tindakan Ekologi (Sebuah Respon Kekristenan Terhadap Tindakan Ekologi). Diegesis : Jurnal Teologi, 6(2), 72–88.

https://doi.org/10.46933/DGS.vol6i272-88
Gultom, J. G. (2023). Wajah Baru Danau Toba: Kajian Teologi, Ekologi, Ekonomi PT. Aquafarm Nusantara dan Masyarakat di Danau Toba. 7(2).

Lake, S. (2026). MEMULIHKAN KEUTUHAN CIPTAAN: Refleksi Teologis Ekologi dalam Dimensi.

Manguju, Y. N. (2022). Membangun Kesadaran Sebagai Manusia Spiritual-Ekologis Dalam Menghadapi Krisis Ekologi di Toraja. 3.

Patty, B. (2022). MANUSIA, EKOLOGI DAN TEOLOGI: Kajian Eko-Teologi Terhadap Krisis Lingkungan di Pantai Galala. TANGKOLEH PUTAI, 18(2), 118–128.

https://doi.org/10.37196/tp.v18i2.84
Siregar, U. M., & Herman, H. (2026). TEOLOGI EKOLOGI DAN KEARIFAN BUDAYA LOKAL: INTEGRASI NILAI AGAMA DAN ADAT DALAM MENGHADAPI KRISIS IKLIM.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.