Bukan Politik Hati Nurani

oleh -302 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Dunia politik modern adalah dunia persaingan yang saling mematahkan lawan. Ia membutuhkan inteligensia dan kecerdasan tingkat tinggi, serta membutuhkan kinerja di lapangan, dan pintar menempatkan diri dalam imajinasi publik.

Dunia politik modern adalah soal siasat dan tipu muslihat. Ia bukan hanya kecerdasan selevel kacangan yang mementingkan kelompok mazhab maupun aliran jamaahnya, tetapi meliputi keseluruhan nasion yang dapat dimanipulasi pola pikirnya. Ini memang soal perebutan kekuasaan, baik secara halus maupun terang-terangan. Ia membutuhkan sinergi antara dunia mistis dan rasional, fisik dan spiritual.

Dunia politik modern adalah soal siapa yang mahir merekrut mitra dan kawan seperjuangan, demi kepentingan klik partai berikut seperangkat kemakmuran yang dijanjikannya. Ia juga mampu memperalat sang dukun agar mendatangkan hujan, tak peduli seberapa banyak masyarakat di kampung seberang sedang menjemur gabah dan memerlukan sinar mentari. Bahkan, siapapun dapat menjadi korban dan tumbal, baik kalangan aktivis, rakyat kecil, cendekiawan, hingga agamawan dan para nabi sekalipun.

Dunia politik modern bukan soal cuap-cuap omong doang, juga bukan soal retorika spekulatif agar tayang di teve maupun media sosial. Ia meliputi perang bintang yang diprakarsai sang penguasa yang memendam luka masa lalu, kemudian bersemedi di goa dan gunung-gunung untuk bekerjasama dengan makhluk misterius yang menjadi mitra dagang. Tak peduli apakah Anda seorang calon penguasa yang bercelana jeans ataukah berjenggot dan berjubah sorban. Tak peduli apakah Anda seorang penganut kapitalis, komunis, agamis ataukah nasionalis ekstrim.

Yang terpenting adalah Anda mau diperalat dan sanggup bertransaksi, serta sanggup menjual jiwa Anda dengan makhluk misterius, dengan syarat lebih mementingkan kesenangan duniawi ketimbang kebahagiaan negeri akhirat yang bersifat kekal dan sejati. Dunia politik modern tak peduli, apakah Anda membangun kuil, gereja, masjid, ataukah tempat perjudian dan prostitusi. Bahkan merelokasi jalanan bagi manusia zombi dan pecandu obat bius bagaikan lorong-lorong sepanjang jalan Kensington Avenue di Philadelphia.

Yang lebih dipentingkan seberapa kuat rasa cinta Anda kepada harta, anak-anak dan kedudukan politik yang semuanya itu hanya titipan Tuhan yang bersifat fana dan sementara, sampai kemudian Anda dibuat lupa kepada Sang Penitipnya. Sebagaimana pemilik kebun yang berbulan-bulan mengurus dan merawat kebun-kebun indahnya, hingga ketika datang masanya waktu panen, tiba-tiba datang badai prahara secara membabi-buta, serta hancur lebur semua pohon-pohonnya hanya dalam waktu satu malam.

Dunia politik modern adalah soal pilihan hasrat dan cita-cita manusia untuk meraih tangga-tangga kekuasaan, melalui jalan apa pun yang ditempuhnya, terserah apakah halal atau haram. Mungkin saja calon penguasa diberi petuah (fatwa) dari guru sucinya agar berkalung mantra seperti dalam cerpen “Jimat dari Mayor Gibran” (Koran Tempo), juga dimungkinkan memelihara ribuan kodok di balong sekitar halaman rumah, yang setiap malam memberinya ilham dengan bunyi suaranya yang dianggap merdu, “koong, kooong!”

Sampai kemudian, ketika ia sedang menikmati puncak tangga kekuasaan, tiba-tiba ribuan biawak datang entah dari mana, lalu menyerbu balong kodok piaraannya. Hingga ia tak kuasa menghadapi para biawak yang serta-merta menyerbu rumahnya, memusnahkan segala harta kekayaan yang selama ini ditimbunnya. (*)

Penulis adalah Penggiat Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), penulis prosa dan esai di berbagai media nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.