Antara Kekuatan Fisik dan Spiritual

oleh -2317 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Perdebatan dua kubu antara yang pro dan kontra Kiai Imaduddin, sebenarnya bermuara pada perdebatan abadi tentang yang empiris dan yang spiritual. Kita menempati permukaan bumi ini memang tidak sendirian. Ada makhluk-makhluk lainnya selain unsur hewani, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa, yakni makhluk yang kasatmata dan yang tak kasatmata.

Sering kita mendengar adanya orang kesurupan atau kerasukan makhluk halus yang konon menetap dalam tubuh seorang manusia. Makhluk halus itu tak mau keluar dari tubuh si korban, sehingga dipanggillah “orang pintar” yang dapat mengusir makhluk gaib tersebut, seperti yang kerap kita saksikan dalam film-film Amerika yang bertajuk “Exorcism” (Pengusiran Hantu).

Tetapi, mengapa seringkali hantu-hantu itu justru melawan dan tak mudah untuk pergi? Dalam konteks religiusitas, manusia tidak selayaknya mengusir secara paksa makhluk halus yang mendiami tempat tertentu, baik di pohon besar, rumah kosong, maupun tubuh manusia. Ada ruwatan atau selamatan tersendiri yang mesti dilakukan oleh yang “ahlinya”. Jadi, harus ada kompromi dan musyawarah, karena bagaimanapun mereka yang gaib itu sama-sama makhluk Tuhan yang punya hak untuk menduduki permukaan bumi ini.

Kilas balik masa lalu yang tercantum dalam kitab suci, bahwa Allah pernah menawarkan seluruh makhluk ciptaan-Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Semua unsur hewani, benda-benda, hingga kalangan jin menolak semuanya, tetapi manusia sanggup memikulnya, meskipun dinyatakan tegas, bahwa manusia bersifat lengah dan khilaf.

Jadi, semua makhluk yang menolak menjadi khalifah itu juga menempati permukaan bumi yang sama, baik yang kasatmata maupun yang tak kasatmata, dan seringkali kita sebut “hantu”, “makhluk halus”, “jin”, “dedemit” dan seterusnya. Tetapi, orang yang terbisa melakukan “tirakat” dapat mempertajam mata batinnya, karena ia terlatih dalam mengelola energi kosmik. “Allah menganugerahkan kelebihan khusus (ma’unah) kepada orang yang memiliki kemampuan psikis yang luar biasa. Di antaranya kemampuan berkomunikasi dengan entitas dari dimensi lain (alam arwah), kemampuan telepati, hingga kemahiran menyembuhkan penyakit,” tegas Bazari Syam selaku ketua MUI Provinsi Banten.

Kiai Imaduddin yang saat ini menjadi sorotan publik karena penelitiannya mengenai “Nasab Ba’alawi” harus dihadapi dengan sikap legawa dan rendah hati. Sebagai putera kelahiran Banten Utara (Kresek), ia tidak bekerja sembarangan, mesti melibatkan yang faktual, empiris sekaligus yang tak kasaatmata. “Aya jelma nukadele, tapi aya jelma nu nte kadele,” demikian adagium orang Banten (baik Jawa maupun Sunda) sebagai wilayah yang terbilang keramat. Penulis Hafis Azhari kadang memperingatkan komunitas NU yang mendaku “rahmatan lil alamin”, bahwa anti x anti = pro. Jika kita memihak satu gagasan secara ekstrim, tidak menutup kemungkinan kita akan berbalik menolak secara ekstrim pula.

Selaku ketua MUI Banten, Kiai Bazari pernah menceritakan perjumpaannya dengan Abuya Muhtadi bin Dimyathi di Cidahu, Pandeglang. Beliau menanyakan dengan baik-baik perihal kejadian yang dialaminya beberapa waktu lalu, khususnya ketika Abuya tersengat listrik bertegangan tinggi. Jika saja hal tersebut dialami orang biasa, barangkali seluruh organ hingga kulit tubuhnya sudah gosong dan melepuh.

Namun kemudian, tanya Pak Bazari: “Abah, saya ingin tahu, bacaan wirid dan ajian macam apa yang membuat Abah bisa bertahan dan tetap segar-bugar setelah peristiwa sengatan listrik itu. Apa rahasianya, Abah?”

Pertanyaan yang diajukan serius itu, justru ditepisnya: “Wirid apaan? Udah, yang penting kita ta’dzim dan hormat sama orang-orang tua kita. Insya Allah, kita bisa selamat dan berumur panjang.” Dan saya pun tersenyum dengan tatapan berkaca-kaca.

Terkait dengan itu, memang ada berbagai macam karomah yang dimiliki orang-orang khusus, dan seringkali disandang oleh seorang indigo atau yang memiliki mata batin. Salah satunya adalah “Psikometri”, yakni seseorang yang dapat dinisbatkan sebagai arkeolog spiritual. Orang seperti itu memiliki kepekaan yang tinggi, hingga mampu membaca dan menyelidiki suatu kasus kriminal yang sedang ditangani oleh pihak kepolisian, namun sulit ditelaah secara ilmiah dan empiris.

Kiai Bazari lantas menyebutkan, bahwa di lingkungan kepolisian Amerika (seperti FBI atau CIA), mereka memiliki tokoh-tokoh Psikometri yang cukup andal, seperti Allison Dubois atau Sally Headding, yang telah sanggup memecahkan ratusan kasus kepolisian, yang sulit dipahami dengan akal sehat. Mereka seakan mampu membuka portal waktu, menjelajah masa lalu, hingga mengintip masa depan, seperti yang tergambar dalam film “Star Wars”. Ketika seorang Psikometri menyentuh suatu benda tertentu, maka dia akan dapat menebak siapa pemilik sebenarnya dari benda tersebut.

Bagi Kiai Bazari, hal tersebut serupa dengan penerawangan atau “intelijen kasyaf”, bahwa ketika seorang Psikometri mampu menerawang suatu tindak kriminal berdasarkan penyelidikan kasyaf, maka pihak penyelidik lain yang berpikir empiris akan sanggup membuktikannya secara realistis.

Kiai Bazari menekankan pentingnya kehati-hatian bagi masyarakat Banten, khususnya kaum muda milenial yang terlampau gagap dan genit dalam mencari sesuatu, berdasarkan hasrat dan hawa nafsu yang tak terkendali. “Pada prinsipnya,” tegas Kiai Bazari, “kita harus mengacu pada teks-teks suci Al-Quran, bahwa kebaikan yang kita lakukan pasti akan dipetik hikmahnya di kemudian hari. Namun, jika keburukan yang dilakukan, dapat dipastikan dampaknya akan kembali kepada pelakunya sendiri.”

Oleh karena itu, kesabaran, kecakapan ilmu dan kekuatan iman, harus senantiasa dipupuk dalam jiwa kita. Sebab, lanjut Kiai Bazari, kemampuan Psikokinetik, atau jenis ilmu kebatinan apapun yang dianugerahkan Allah, jika manusia memaksakan diri untuk memilikinya, sebelum matang kedewasaannya, tak ubahnya bunga-bunga yang dipaksakan mekar sebelum waktunya. Ia akan dipaksakan dewasa secara prematur. Ia akan membawa pelakunya pada nafsu al-ammarah, hingga pada akhirnya Allah akan mengambilnya kembali, merasa kesepian, gelisah, bahkan terjebak dalam kegersangan batin.

Mengenai “intelijen kasyaf” yang banyak dikuasai orang Banten, baik kelompok pro maupun kontra Kiai Imaduddin, saya ingin menganalogikannya dengan peristiwa di masa para sahabat Nabi, terutama pada kasus hilangnya baju perang yang dialami Ali bin Abi Thalib, yang ternyata telah dicuri oleh seorang jenius berketurunan Yahudi.

Pencuri jenius itu telah memenangkan perkara di pengadilan, karena ia menyoal bukti-bukti empiris, bahwa sang pemilik benda berharga itu adalah Ali bin Abi Thalib. Kesaksian Hasan dan Husein (putera Ali) telah dipatahkan oleh pihak pengadilan, karena menurut undang-undang, seorang anak kandung tidak berhak memberi kesaksian di depan pengadilan.

Secara kasyaf yang sifatnya “gaib” jelas-jelas Ali melihat perlakuan si Yahudi tersebut. Tentu saja para sahabat Nabi lainnya, yang juga memiliki pandangan non-kasatmata, karena punya keahlian melihat melalui mata batinnya (bashar). Akan tetapi, pihak pengadilan tidak membenarkan pandangan kasyaf dijadikan alat pembenaran untuk memenangkan suatu perkara. Harus ada bukti-bukti ilmiah yang memenuhi syarat formal hingga suatu perkara hukum dapat dimenangkan.

Lalu, langkah apa yang dilakukan Ali sebagai pemimpin negara (Amirul Mukminin)? Tidak ada lain, selain harus mengalah dan bersikap sabar. Ali harus tunduk pada ketetapan hukum yang berlaku. Meskipun ia sadar ketetapan hukum itu hanya bersifat duniawi, nisbi dan sementara. Untuk apa bersaing sengit untuk memenangkan kebenaran duniawi yang bersifat fana dan sekejap mata saja. Toh, ada kebenaran yang nanti akan ditampakkan oleh Yang Maha Benar dan Maha Pasti.

Bagi Ali, pengadilan akhirat-lah yang paling layak dijadikan sandaran utama. Untuk apa memenangkan perkara duniawi, dengan melakukan sikut kiri dan kanan, hanya semata-mata meraih kenikmatan sekejap mata, sambil mengorbankan negeri akhirat yang bersifat abadi dan selamanya? Hanya dengan sikap sabar dan rendah hati, citra Islam akan tetap terjaga otentisitasnya.

Maka, berhati-hatilah menghadapi kekuatan pro dan kontra Kiai Imaduddin. Baik mereka yang mengandalkan pandangan empiris maupun yang mistis dan spiritual. Banyak karomah para sesepuh Banten yang memiliki kemampuan “telepati”, yang membuat seseorang mampu berkomunikasi dalam jarak jauh, bahkan tanpa adanya kata-kata maupun gerakan tubuh. Di sisi lain, bila salah dalam memanfaatkan “kelebihan” yang dianugerahkan Allah ini, lalu dihadapi dengan keangkuhan dan kesombongan (baik yang pro maupun kontra), maka ma’unah dan karunia Allah ini dapat menjelma sebagai “istidraj” layaknya para pembuat parit atau pemasang ranjau yang kelak akan meledakkan dirinya sendiri.

Dalam istilah sains, Henry Holt psikolog Amerika sering memaparkan pengalaman batin orang yang memiliki kelebihan Psikokinetik. Orang semacam ini punya keahlian dalam memanipulasi materi, menggerakkan benda dari jarak jauh, menutup pintu atau membuat lampu merah berubah menjadi hijau.

Pihak aparat kepolisian harus berhati-hati menghadapi tipikal semacam ini, karena Psikokinetik jika disalahfungsikan pada upaya-upaya balas-dendam oleh pihak yang merasa tersakiti, ia dapat menggunakan cara-cara yang kotor untuk menyalurkan energi negatif.

Untuk itu, kesabaran, kecakapan ilmu dan kekuatan iman, harus senantiasa dipupuk dalam jiwa kita. Sebab, kemampuan Psikokinetik, atau jenis ilmu kebatinan apapun yang dianugerahkan Allah, jika manusia memaksakan diri untuk memilikinya, sebelum matang kedewasaannya, tak ubahnya bunga-bunga yang dipaksakan mekar sebelum waktunya.

Ia akan dipaksakan dewasa secara prematur. Ia akan membawa pelakunya pada nafsu al-ammarah, hingga pada akhirnya Allah akan mengambilnya kembali, merasa kesepian, gelisah, bahkan terjebak dalam kegersangan batin. ***

Penulis adalah Alumnus UNTIRTA Banten, pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.