Pada 8 Juni 2025, dunia akademik kehilangan salah satu sosok paling berpengaruh dalam studi sejarah Asia Tenggara. Anthony Reid, sejarawan kelahiran Selandia Baru tahun 1939 wafat dalam usia 86 tahun. Ia bukan hanya akademisi brilian, tetapi juga sahabat intelektual bagi banyak bangsa di kawasan ini, termasuk Indonesia. Melalui karya-karya ilmiahnya, Reid telah membuka cakrawala baru dalam memahami sejarah sebagai ruang hidup yang kompleks, kaya, dan manusiawi.
Di tengah semangat Indonesia menata ulang sejarah nasional, meninggalnya Reid mengundang duka sekaligus refleksi mendalam. Ia datang dari luar Indonesia, namun begitu dalam mencintai tanah ini melalui keuletannya memahami pengalaman sejarah rakyatnya. Di balik gelar-gelar dan penghargaan akademik yang menyertainya, Reid tetap teguh pada prinsip dasar seorang sejarawan sejati: rendah hati terhadap masa lalu, terbuka terhadap perbedaan, dan jujur dalam mengungkapkan kenyataan sejarah, seberapapun rumit dan tidak nyamannya.
Menolak Narasi Tunggal, Merangkul Keragaman
Anthony Reid menempuh pendidikan doktoralnya di Universitas Cambridge dan mengajar di berbagai kampus ternama di Asia dan Australia. Namun warisan terbesarnya justru lahir dari keberaniannya menolak narasi-narasi tunggal tentang sejarah Asia Tenggara. Ia menantang cara pandang kolonial dan pascakolonial yang sering merendahkan kawasan ini sebagai pelataran konflik kekuatan luar. Lewat karya utamanya, Southeast Asia in the Age of Commerce (1450–1680), Reid menempatkan Asia Tenggara—dan Indonesia di dalamnya—sebagai aktor sejarah yang aktif, dinamis, dan saling terhubung.
Ia menampilkan wilayah ini sebagai medan interaksi lintas budaya, ekonomi, dan agama, jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Dalam sejarah maritim yang ia susun secara cermat dan holistik, pelabuhan-pelabuhan di pesisir Nusantara menjadi pusat inovasi, bukan sekadar obyek penaklukan. Ia menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia bukan korban pasif sejarah global, melainkan bagian dari jejaring dunia yang membentuk modernitas awal dengan caranya sendiri.
Sejarah dari Akar Rumput
Warisan Anthony Reid juga sangat berarti bagi berkembangnya pendekatan sejarah “dari bawah.” Ia menaruh perhatian besar pada rakyat biasa, perempuan, dan kelompok-kelompok yang kerap terlupakan dalam buku pelajaran dan dokumen resmi negara. Dengan menggali sumber lokal, catatan pelancong, dan arsip-arsip alternatif, Reid memperlihatkan sisi kemanusiaan dalam sejarah—yang tak hanya tentang perang dan kekuasaan, tetapi juga tentang keseharian, perjuangan ekonomi, perubahan budaya, dan semangat bertahan hidup.
Dalam The Indonesian National Revolution 1945–1950, Reid menulis sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai proses sosial yang penuh gesekan, kreativitas, dan partisipasi akar rumput. Ia menolak romantisasi yang membekukan revolusi menjadi kisah elite semata. Ia menulis tentang desa-desa yang mendirikan laskar, tentang kaum muda yang mendambakan dunia baru, dan tentang kegamangan yang menyertai pembentukan identitas nasional. Inilah sejarah yang tidak hanya layak dibaca, tetapi juga direnungkan—karena ia mengajak kita untuk mengakui luka, merayakan keberagaman, dan belajar dari perjalanan yang tak selalu linear.
Penulisan Sejarah sebagai Tindakan Etis
Meninggalnya Anthony Reid pada saat Indonesia sedang mencuatkan proyek ambisius menulis ulang sejarah nasional terasa begitu simbolis. Sebab Reid adalah pengingat bahwa sejarah bukanlah alat propaganda atau legitimasi kekuasaan, melainkan ruang refleksi kolektif. Ia menulis bukan untuk mengagungkan masa lalu, melainkan untuk menghidupkannya—agar kita belajar, bertanya, dan membentuk masa depan dengan kesadaran yang jernih.
Dalam dunia yang kerap tergoda menyederhanakan sejarah demi kepentingan politik, Reid hadir sebagai penyeimbang. Ia tidak alergi pada konflik dan kontradiksi dalam sejarah. Justru di sanalah ia menemukan kejujuran akademik—bahwa sejarah sejati tidak pernah steril dari pergolakan, dan tugas kita bukan memutihkannya, melainkan memahaminya.
Warisan yang Hidup
Lebih dari sekadar menulis buku, Anthony Reid membangun ekosistem pengetahuan. Ia mendirikan dan membina lembaga riset seperti Asia Research Institute di Singapura, membuka jalan bagi kolaborasi lintas negara, serta membimbing generasi sejarawan muda Asia Tenggara. Banyak sejarawan Indonesia hari ini—yang menulis dengan pendekatan lintas disiplin, terbuka pada sumber lokal, dan berani menggali narasi alternatif—adalah murid langsung atau tak langsung dari jalan yang Reid buka.
Warisan intelektual Reid kini menjadi milik kita bersama. Ia mengajarkan bahwa menulis sejarah adalah tindakan etis—ia menuntut kejujuran, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap yang berbeda. Dalam konteks Indonesia yang majemuk dan terus berubah, semangat itu sangat relevan.
Anthony Reid telah berpulang, namun warisannya tak akan padam. Ia telah memberi Indonesia dan Asia Tenggara cara baru untuk melihat diri sendiri, bukan dari mata penjajah atau elit semata, tetapi dari kekayaan pengalaman warganya. Ia mengingatkan bahwa di balik tiap peristiwa besar, ada suara-suara kecil yang perlu didengar. Di balik tiap garis waktu, ada denyut kehidupan yang perlu dirayakan.
Selamat jalan, Prof. Anthony Reid.







